Racun Lima Kata 28
Kamis, 23 Feb '12 16:15
Ide dan mengembangkan ide. Itulah dua pokok masalah yang paling banyak dilontarkan peserta dalam berbagai sesi pelatihan menulis kreatif yang pernah saya ampu. Ide memang masalah yang laten, dan celakanya, dipercaya sebagai masalah. Padahal, jika tidak dijadikan masalah, maka persoalan ide tidak akan pernah jadi masalah :D. Karena, sekali lagi, kita tak pernah mencari-cari ide ketika bicara. Dan tak pernah jadi masalah, obrolan bisa terus terjadi, dan pasokan kata untuk ngerumpi datang terus di kepala. Lalu mengapa ketika menulis ide justru jadi problema?
Tapi ya sudahlah, karena ide sudah jadi masalah dalam ''sejarah'' penulisan kreatif, kita terima sajalah. Dan, harus kita cari cara agar ide itu nongol atau tercipta dengan sendirinya. Apa bisa ya? Ya harus bisa. :D
Banyak sudah kiat untuk memancing ide ditelurkan para penulis. Dan esensinya satu, merangsang agar kreativitas otak terpacu untuk memperanakkan kata dan kalimat.
Nah, cara yang paling mudah dan acap saya anjurkan adalah kiat yang saya sebut ''racun 5 kata''. Caranya? Pilih lima buah kata, dan gunakan kata tersebut sebagai racun yang menyebar sebagai daya untuk melahirkan satu atau dua alinea pembuka cerita. Biar lebih efektif, seperti yang juga disarankan AS Laksana, gunakan kata pertama sebagai awal kalimat.
Apakah selalu berhasil? Ya! Dengan racun lima kata, setidaknya peserta pelatihan penulisan kreatif jadi punya bahan mentah yang dapat langsung mereka olah. Racun lima kata juga membuat daya kreativitas kita tidak memajal, sehingga pembukaan cerita yang usang dan umum secara mudah terhindarkan. Racun lima kata membuat kita tak akan lagi memulai alinea dengan, ''Di siang yang terik..." atau, ''Embun masih menetes ketika..." dan ''Pada sebuah senja yang temaram...''
Berikut adalah contoh alinea-aline pembuka yang ditulis dengan memakai racun 5 kata: rumah, kopi, kaki, khayalan, dan anak, dengan waktu yang secepat-cepatnya...
Rumah itu selalu memanggilnya pulang, seperti seorang ibu yang tak pernah mau kehilangan anaknya. Namun ia tahu, tak ada apa pun di rumah itu selain khayalan tentang sebuah keluarga. Ia sudah kehilangan semuanya, istri, anak, dan harapan. Itulah sebabnya, setiap sore dia akan melangkahkan kaki, melewati rumah itu, hanya agar hidungnya dapat merasai lagi udara yang dicermari aroma kopi masa lalu. (Contoh pertama)
Kopi. Itu yang terpikir di kepalanya, ketika melihat dengkul anaknya yang berdarah. Dengan sigap, dia pegang kaki Amir, dan setelah memberi ludah di atas luka, kopi itu dia taburkan. Dia rasakan gelinjang tubuh Amir, menahan perih, yang menggoyang rumah reotnya. Sambil menahan air mata, dia berbisik, ''Nak, kita terbiasa memperpanjang hidup dari khayalan, jadi jangan rasakan sakitnya ya...'' (Contoh kedua)
Kaki hujan itu, Lita, menghampiri lagi rumah kita, menjarumi gentengnya, dengan rintik yang pernah kita khayalkan akan kita dengar bersama. ''Aku akan menghangatkan tubuhmu dengan peluk dan cium, segelas kopi hangat, atau cerita tentang Luka, anak kita,'' katamu di suatu senja yang basah, yang aku tak ingat lagi tanggalnya.
Tapi khayalan memang selalu lebih manis dari apa pun. Di rumah ini, rumah yang kita khayalkan akan kita tempati bersama, aku terbaring sendiri, menikmati curah hujan yang begitu ritmis, yang menghantarkanku pada kenangan tentangmu. (Contoh ketiga)
Bagaimana? Terasa berantakan? belum tahu akan mengarah ke mana? Memang, pada kali pertama, tulisan akan terlihat sedikit acak, belum punya arah, dan tak tahu akan berakhir di mana. Tak mengapa. Tapi percayalah, dengan racun lima kata itu, kita akan mampu membentuk satu cerita. Hal itu karena setiap kata memiliki kausalitas sintakmatik, yang selalu memperhubungkan dengan kata lainnya. Jadi, ketika otak mendapat satu kata maka secara otomatis akan merespon dengan memberi kata lainnya. Kaitan sintakmatik inilah yang membuat 5 kata tadi akan melahirkan ribuan kata, yang pada akhirnya membentuk rimba cerita.
Nanti, setelah lima alinea atau satu halaman, akan mulai tergambar jalan dari cerita dan belokan-belokan yang membuat kita kian larut dalam petualangan bahasa. Dan, hoppla!! tiba-tiba saja kita sudah merasuk dan mendapatkan sebuah cerita yang memikat. Berikutnya tinggal mengedit dan menyempurnakannya.
Tapi ingat, syarat utama keberhasilan racun ini adalah kerelaan kita untuk melepaskan kata apa pun yang tersergap otak. Jangan terlalu banyak menimbang, memilih-milih, dan akibatnya waktu terbuang percuma. Biarkan saja segala fantasi melambung, dan ikutkan saja jerat sintakmatik itu. Jangan khawatir, karena serimba apa pun kata-kata yang lahir kemudian, kita masih punya waktu untuk menatanya, menjadi wana-wisata kata yang memikat.
Tertarik mencoba? Ayoo, saya berikan lima kata: Ibu, Kota, Dusta, Sakit, dan Gila. Tulislah tidak lebih dari 15 menit, dan lihat hasilnya. Oke?
copyright@lbl untuk KuasaKata
Terkait:
-
Sekali Lagi, Liarkan Imajinasi!
Jumat, 9 Mar '12 13:13 -
Jangan Durhakai ''Deadline''
Senin, 13 Feb '12 13:17 -
Pas De Titre
Jumat, 11 Mei '12 12:08
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Sky High: Inspiratif
-
nien4yu: Inspiratif
-
NuigeL Mama Macan: Inspiratif
-
Siu thok: Inspiratif
-
strawbery: Inspiratif
-
si muda berkualitas: Menggoda
-
kira kira gitu: Inspiratif
-
titian pelangi: Inspiratif
-
sawitri: Inspiratif
-
suaminya ina: Inspiratif
-
fräulein kyu: Menggoda
-
girl roses: Biasa
-
Cantiq: Megang banget
-
Penikmat Senja: Menggoda
-
Pena Cinta : Inspiratif
-
nawakuci: Inspiratif
-
Rinaii Hujan: Inspiratif
-
PLUM: Inspiratif

Komentar:
yang sudah di grup ya di sana saja...
*dasare males.....
ini om 5 menit stlh baca postingan, boleh di taruh disini ya?...
Ibu adalah sebuah kerajaan semesta. Yang selalu memeram rindu ketika saya harus jauh di kota. Saya tak tahu kenapa saya mampu mencipta dusta kepada semesta. Bahkan hingga detik ini dusta itu menciptakan rasa sakit yang tak terperi. Ya karena aku mampu menciptakan dusta. Semakin aku tenggelam dengan rasa sesal, rasanya akan semakin membuatku gila.
strawbery: mana? bagi dongs.. hihihihi
Kota itu sudah lama ku tinggalkan. Bersama kenangan dan seorang ibu yang tua renta. Sakit memang. Namun diriku hanyalah gadis remaja yang bersaing dengan kelam dan dusta untuk bertahan. Gila? Aku terlanjur tenggelam di dalamnya.
# aafffaaaahhhh ini..?
bayangkan kemungkinan-kemungkinan di alinea berikutnya, pasti akan lahir kalimat yang lebih dahsyat..
jadi, terus aja ikutkan fantasimu, aline berikutnya tak perlu lagi terpaku pada racun lima kata itu..
dan tak lelah mencoba, tentunya..
cepat? kok kadang jadi ngga nyambung jadi satu kesatuan cerita, dari 5 kata tadi cuman mentok pada 1 atau 3 kata doang
emang itu ga papa ya?
semoga membantu
klo saya terusin...
bisa runyam ceritanya
ayohh
lanjut pun!!!
tdnya mau rating inspiratif tapi malah kepencet biasa
maaf banget yaaaaa
Kota pun tersenyum, “Lihatlah mereka bukankah aku telah mewujudkan mimpi mereka? Aku tahu itu hanya sekedar dusta, tapi salahkah aku menghibur jiwa-jiwa yang sakit dengan membuat sedikit asa mereka jadi nyata? Dan sangat wajar bila mereka harus membayar dengan cara menyingkirkanmu”
Ibu dari segala rasapun menangis. Melihat jiwa-jiwa yang menggila dipermainkan kota.
eh kalo gini bisa ngga?
“Lihatlah mereka bukankah aku telah mewujudkan mimpi mereka? Aku tahu itu hanya sekedar dusta, tapi salahkah aku menghibur jiwa-jiwa yang sakit dengan membuat sedikit asa mereka jadi nyata? Dan sangat wajar bila mereka harus membayar dengan cara menyingkirkanmu”
ada tanda baca yang kelewat tuh *ngilang*
dan, untuk yang mencapai 5-8 alinea, akan ada gift cantik deh..
Dalam gemerlapnya kota ini aku mengingat sosoknya. Ibu yang selalu menemani saya selama 23 tahun. Kini dalam hinanya dusta saya merasa laknat telah merangkai imajinasi indah untuknya, agar merasa saya masih baik-baik saja. Rasa sakit saya pendam sendiri. Semoga tak lantas menjadikan saya gila.
Gitu yak?
beuuh...
bingung saya rangkainya
tadi saya liat komen2 diatas gak berurutan makanya saya ngasal juga
ikut grup penulisan kreatif yuks..
seret saya kesana
agar saya bisa belajar banyak, guru..
iyya, banyak guru di grup, dan kita akan jadi anak-anak yang liar
Ibu, yang kutahu hanyalah kenangan di kota tua tempat aku meninggalkan luka. Dan kemudian aku terpaksa meretaskan dusta hingga penjuru dunia. Tak ingin seorangpun tahu akan rasa sakit yang mencabik-cabik hatiku hingga mereka menganggapku gila.
bingung sendiri baca tulisan yang bahkan ditulis sendiri ini, ah.. masih perlu banyak belajar sepertinya.
ndak diajak
Silahkan login untuk memberikan pendapat