Lelaki yang Laki-laki 28
Selasa, 31 Jan '12 16:30
Kemaren pas kumpul-kumpul dengan para sodara, membahas topik yang cukup panas. Mereka yang notabene para orangtua dan anaknya notabene sudah pada gede-gede (usia nikah gitu) pada mecucu, gara-gara ulah anak-anak mereka.
Yang anak laki-laki karena notabene punya maderah (masa depan cerah) jadi rada kemenyek dikit-dikit putus, dikit2 putus hanya gara-gara sepele. Yang anak perempuan juga gitu, padahal ya cantik, berbudi halus, sopan dan tidak sombong, putus cinta juga. Putus cinta jaman sekarang semudah menolak tawaran bakul sayur buat beli tempe. Haisshhh...
Tapi sayanya jadi mikir beneran...saya amat-amati emang iya.
Pembicaraan para orang tua tadi jadi lebih seriyus, beliau-beliau itu jadi teringat jaman-jaman mereka muda dulu, bagaimana berjuang *eaaa, untuk mendapatkan pendamping hidupnya. Ada yang ndak disetujui orantuanya karena bibit bobot bebetnya kurang, tapi karena si lakinya dengan jentel meyakinkan kedua ortunya bahwa pilihannya yang terbaik dan dia sanggup bertanggungjawab, nyatanya terbukti. Istrinya bisa ndampingi sang suami sampe jadi jendral. Ada juga yang putus nyambung, tapi karena sang lakinya yakin dengan pilihannya, sampe saat si wanitanya pacaran sama orang lain ditungguin, beneran ditungguin K. Dan karena ngglibet terus, jadilah takdir mempersatukan mereka ke pelaminan, dan sekarang sudah jadi orang pentinglah gitu.
Benang merahnya adalah, bahwa menentukan pasangan ndak perlu ribet-ribet, karena sebenarnya insting memilih dan siapa dia itu sudah built-in dalam diri kita. Asalkan kita ndak malu-malu mengakuinya. Mengakui rasa kita, bahwa Cinta ndak pernah salah. Itu poinnya.
Hanya kadang kita mau-maunya direcokin dengan hal-hal remeh temeh, 'ndak cocok, kumisnya ketebelen, suka ngupil, selera fashionnya nggilani, kikir amat, duitnya cekak, dsb, dsb. Dan urusan cinta menjadi urusan nomor sekian. Sekali lagi cinta tidak pernah salah memilih.
Dari contoh diatas tadi, saya yakin tidak sertamerta laki-laki yang yakin dengan pilihannya, tidak melalui proses berpikir yang matang. Nah kematangan berpikir inilah yang sepertinya mulai jarang dipunyai anak-anak muda sekarang. It's not judgement, mungkin sampeyan tidak, saya bicara yang dibicarakan para orangtua diatas *nyengir golek slamet*.
Mungkin era sekarang dimana segala urusan menjadi sangat mudah, termasuk mencari calon pendamping. Sehingga terkadang fokus yang harus menjadi tujuan tiba-tiba gagal ditengah jalan ya karena sesi memilih tadi semudah membeli sayur di emperan pasar. Belum sampe melibatkan hati dan rasa, ternyata diujung sana sudah ada yang lebih manis, menarik-narik untuk dipilih. Jadilah gonta-ganti calon pendamping menjadi hal yang tidak tabu lagi. Malah keren kali ya? Menurut sebagian orang.
Sehingga sekarang ini sangatlah jarang menjumpai lelaki yang laki-laki dimana itu menjadi trendsetter jamannya Abah saya ato contoh 2 diatas tadi, yang sungguh simpel mencari pasangan tapi kok ya ndak mbleset. Dimana mereka sangat meyakini dan betul-betul jentel untuk memperjuangkan keyakinannya tadi. Ndak peduli topan badai, hidup toh mereka yang akan jalani, jadi bagaimana dia berjuang dan mempertanggungjawabkan keyakinan itu tadi. Kalaupun ada badai dan topan ya tetep teguh dan utuh untuk bersama dijalani, nah menurut saya itu baru laki-laki bung!
Kalau menurut sampeyan gimana?
Selamat soreeee...
Terkait:
-
Lelaki berNRP 11100004840584
Rabu, 18 Apr '12 19:17 -
Kenapa Mesti Gatot Koco??
Minggu, 4 Mar '12 20:24 -
Cinta Seorang Perempuan
Sabtu, 11 Jun '11 13:55
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
mas stein: Megang banget
-
d'angel: Menggoda
-
Ngai: Megang banget
-
PLUM: Inspiratif
-
eir: Menggoda
-
suaminya ina: Megang banget
-
Ladypiano: Megang banget
-
Arian Silencer: Megang banget
-
miayam: Nggemesin
-
naussea: Megang banget
-
woo: Megang banget
-
ridul: Nggemesin
-
Sky High: Megang banget
-
Si Badung: Megang banget
-
NuigeL Mama Macan: Nggemesin
-
si muda berkualitas: Menggoda
-
Penari Hujan: Megang banget

Komentar:
saya sih gak berani ngusik ya,takut dibacok..
jangan milih-milih ndak kepilih...
hehehe...
*ngeloyor keluar lapak*
kata orang bijak turun temurun : bukannya keindahan seni bercinta ada pada usaha mempertahankan agar cinta itu tetap ada? Definetely yes!
itu mba masalahnya, masalahnya disitu itu, makanya jadi masalah yg itu2 aja..
itu lah mba
tp hatiku spt abis makan krupuk 'renyah' krn jarang2 dikomenin sesepuh
buat mbak Kyu selamat nunggu pejuang smg sukses
nadiakarisya : nah itulah mbak
demikian
Rushed kl bilang bahasan ini berat brrti sampeyan bukan laki2 yang penuh perjuangan ... egh
*sungkem, sampeyan medeni
PLUM : waduh gawat sampeyan bahasannya sdh seni bercinta, egh
jd kapan rabi?
*melu2 bahasane mas stein
eir : kl masalah itu solusinya ya itu2 saja, jadi mending ndak usah membahas masalah itulah
*iki mbahas opo se?
wah, kalo yang gini kayaknya harus tambah doa yang kenceng deh biar dapat...
nice posting Siu thok
>>>
"Yang anak laki-laki karena notabene punya maderah (masa depan cerah) jadi rada kemenyek dikit-dikit putus, dikit2 putus hanya gara-gara sepele."
*tirakat = bosone jaman simbahku dulu
sptnya...
cecil: gitu ya? emang apel dan blekberi sekarang sdh jadi apa?
Slamet Pokijan: ya sudah tentu erat sekali kangmas
seperti ilmu ekonomi semakin langka semakin dicari sehingga harga jualnya menjadi tinggi,
pada akhirnya mereka punya bargaining power yang tinggi untuk memilih calon pendamping, n then bila hal itu tidak dibarengi sikap 'kematangan lelaki yang laki-laki' dalam bahasa saya diatas, ya akhirnya mereka seenak jidat gonta ganti calon, semudah mata memandang gitu deh. Tentu konteks itu bukan nggebyah uyah sama asinnya *eaaa boso opo ikiii...
demikian
CMIIW
berarti....berarti...postingann ya ndak bagus gitu...
*golek goro2..
miayam:
Mbak, mungkin masalahnya bukan di kematangan berpikir. Tapi memang tujuan cari pasangannya yang beda.
Dulu mungkin, tujuannya memang cari pasangan pendamping hidup. Makanya perlu keteguhan hati luar biasa untuk dapat memenangkan "pertempuran".
Sementara sekarang, tujuannya mungkin hanya sekedar punya pasangan untuk saat ini. Bukan untuk jadi istri/suami. Jadi, ya ndak masalah tho kalau nggak harus punya sikap teguh kukuh berlapis baja
*ngeloyor pergi*
lebih karena salah satu alasan yang diungkap di paragrap 6
[Hanya kadang kita mau-maunya direcokin dengan hal-hal remeh temeh, 'ndak cocok, kumisnya ketebelen, suka ngupil, selera fashionnya nggilani, kikir amat, duitnya cekak, dsb, dsb.]
yaitu...
KUMISNYA KETEBELEN...
oalah mbak..
boso mu kuwi
saya setuju sekali.
insting memilih pasangan sejatinya memang sudah built-in dengan diri kita sendiri.
mmm kalo pegangan saya se, memilih pasangan ya perlu ada vibrating alert, butuh ada getar deg deg deg nya juga.
baiklahhh...kita lanjutkan....
Hadi Kurniwan: baiklah.... kenalan dulu...
lanjutkan kuliah...egh..
miayam: iyo tp masih dipending dulu nontonnya masih ngelanjutin Merlin, gemes'e...
*ketauan..
NuigeL Mama Macan: iki kok yo teko2 langsung komen langsung ngloyor...
pertanyaan saya la kok bisa beda? opo itung2annya krn skrg lebih mudah menjangkau calon, -cukup diujung jempol liat FB-, trus berbanding lurus dengan ketahanan sesrg dlm menentukan pendamping gitu?
gampange : semakin mudah dicari semakin rentan pula untuk diganti?
*nyegat bemo...
si muda berkualitas: iki komen kok yo ngereni....
lha awakmu kumisen ra Syn?...
*ada apa dengan bosoku?...
Penari Hujan: aihhh sampeyan pinter
[butuh ada getar deg deg deg nya juga] itu boso indianya 'kuch2 hotahai'...
*nyapu lapak...
mmmm dari bahasa sampean, sekarang posisi di kota pahlawan kah??
Silahkan login untuk memberikan pendapat