Gambar Kamu Kurang Bagus 31
Senin, 30 Jan '12 08:55
Beberapa hari ini sebenarnya nongkrong di warung Mbok Darmi kurang begitu menenangkan, yang berarti kehadiran saya di situ jadi sedikit keluar dari konsep awal, saya ngopi adalah dalam rangka mencari nuansa. Menyesap kopi sambil mencoba mengecap apa yang mungkin masih terserak di hati. *halah!*
Sebab utama tentu karena akhir bulan adalah tanggal tua, saat tiap receh yang tersisa harus diperhitungkan secara cermat demi mempertahankan asap dapur. Penyebab lainnya adalah angin kencang yang beberapa hari terakhir makin menggila, kadang saya agak kuatir warung Mbok Darmi yang banyak make bahan dari bambu ini bakal ambruk.
Tapi ngopi di warung Mbok Darmi buat saya adalah sebuah ritual, rasanya ada yang hilang kalo ndak saya jalankan. Walaupun resikonya tanggal tua jadi makin terasa tua berkat bantuan Kang Noyo yang masih rajin menjarah batang demi batang rokok saya.
"Piye Le? Menang kemaren?" Tanya Kang Noyo sambil dengan santainya mengambil batang kedua dari bungkus rokok saya.
"Menang opo Kang?" Saya agak bingung.
"Itu, yang lomba hari bapak."
Ooh, yang itu. Jadi ceritanya saya dapet surat dari TK-nya si Barra, bilang kalo hari Sabtu di sekolah akan diadakan lomba finger painting dalam rangka memperingati Father's Day, pesertanya ayah dan anak. Saya ndak ngerti, apakah beneran ada Hari Bapak di Indonesia, atau cuma sekedar penyeimbang saja, biar bapak-bapaknya ndak iri karena Desember kemaren sudah diadakan lomba memperingati Hari Ibu.
Dan lagi kenapa harus pake finger painting? Apakah kata-kata melukis dengan jari kurang terdengar intelek? Kurang berstandard internasional?
Yang jelas dalam lomba tersebut saya sedikit merasa kecewa.
"Kalah yo?" Tanya Kang Noyo tanpa basa-basi.
"Bukan soal kalah menang Kang." Ujar saya.
Dalam lomba kemaren itu pihak sekolah menyediakan selembar kertas dan tiga kaleng cat air dengan warna merah, kuning, dan biru. Sekilas yang saya tangkap dari pengumuman, salah satu kriteria penilaian adalah komposisi warna. Mbuh lah, sebagai orang yang sudah terkontaminasi judgement gambar jelek dan gambar bagus, saya sudah lama menilai diri sendiri sebagai orang yang ndak bisa nggambar.
Di sebelah kanan saya sang ayah sudah mulai meratakan warna biru di kertas, sambil memberi perintah ke anaknya yang kebingungan, "Ayo kamu ikut ratakan, buat warna dasar."
Di sana-sini saya liat beberapa ayah sudah mulai menyuruh si anak untuk mengeksekusi konsep yang dimilikinya, yang ndak sabar malah mulai mendemonstrasikan bakatnya, membiarkan si anak menonton dan membantu sekedarnya. ![]()
Saya?
Bingung, karena saya memang ndak ngerti harus mulai dari mana. Saya tanya anak saya, "Kamu mau nggambar apa mas?"
"Aku mau nggambar luar angkasa!" Katanya dengan penuh antusias.
"Jadi kita gambar apanya dulu?" Tanya saya, bukan ngetes, tapi memang beneran bingung.
"Langitnya dulu ayah, pake warna biru." Dia mulai meratakan warna biru.
"Ayo, ayah juga bantu." Walah, saya malah disuruh-suruh.
"Lalu kita gambar planet, warna hijau." Dia ngasih komando lagi.
"Warna hijau itu apa dicampur apa mas?" Lagi-lagi bukan ngetes, saya memang ndak ngerti. ![]()
"Kuning campur biru, ayo ayah campur." Dan lagi-lagi saya dalam posisi disuruh.
Saya juga baru tau kalo ungu itu merah dicampur biru. Jujur, saya terkagum-kagum melihat antusiasme dan rasa percaya diri anak saya. Dia tau apa yang mau dia gambar, dia punya inisiatif, tau sedikit tentang campur-campur warna, dan sama sekali ndak mengandalkan saya untuk menyelesaikan gambarnya.![]()
"Trus, kamu kalah?" Tanya Kang Noyo lagi, sadis. ![]()
Seperti yang sudah-sudah, lomba selalu dimenangkan oleh hasil terbaik. Sama seperti bulan kemaren waktu lomba Hari Ibu, ndak masalah kalo anak cuma terbengong-bengong liat kemahiran ibunya melipat kertas, yang hasil karyanya paling bagus, itulah yang menang.
Ndak ada nilai untuk antusiasme, inisiatif, kemandirian, dan usaha si anak.
Sungguh, bukan kecewa karena ndak menang yang saya permasalahkan di sini. Ada ketakutan yang lebih besar, yaitu saat judgement karya bagus dan karya kurang bagus lebih diutamakan daripada antusiasme, inisiatif, kemandirian, dan usaha si anak.
Saat sampeyan lebih menghargai hasil daripada proses, secara pelan-pelan tanpa sadar sampeyan sudah membunuh antusiasme dan rasa percaya diri anak.
Tapi cukuplah saya membahas orang-orang itu, saya tetep bangga dengan anak saya. Saya bilang, "Mas Barra, kamu hebat!"
"Kowe iki yo aneh kok Le, sekolah kan yo ndak salah waktu nilai kemaren." Kata Kang Noyo lagi.
"Ndak salah piye Kang?" Tanya saya bingung.
"Kalopun yang ngerjain bapaknya semua yo ndak masalah tho, kan peserta lomba memang ayah dan anak."
Lho iya ding, jadi saya keliru?
Jiyan!
Tag: gak jelas
Terkait:
-
Kopdar Di Langsat
Selasa, 15 Mei '12 15:04 -
jlebb
Jumat, 20 Apr '12 23:55 -
Mbakar Jagung Bareng Mbak Silly
Senin, 26 Mar '12 16:36
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Yuken Kolmi Intan: Menggoda
-
belukar: Menggoda
-
nawakuci: Menggoda
-
si muda berkualitas: Megang banget
-
woo: Menggoda
-
Ngai: Megang banget
-
kira kira gitu: Inspiratif
-
Ladypiano: Inspiratif
-
miayam: Inspiratif
-
pu3ku: Menggoda
-
nien4yu: Nggemesin
-
nduendue: Megang banget
-
sawitri: Menggoda
-
Siu thok: Inspiratif
-
real life: Menggoda
-
fräulein kyu: Megang banget
-
suaminya ina: Menggoda
-
Penikmat Senja: Menggoda
-
PLUM: Inspiratif
-
kedua: Megang banget
-
naussea: Inspiratif
-
zam: Inspiratif
-
d'angel: Menggoda
-
Hadi Kurniwan: Menggoda
-
Bukan Nicholas :D: Menggoda
-
NuigeL Mama Macan: Nggemesin
-
dd hidayanti: Inspiratif

Komentar:
baiklah.. saya baca dulu, mas stein
ajarin bikin tulisan begini dong mas stein:....
apalagi sama-sama nganter lomba sendirian.
situ ndak sama istrih, sana ndak sama suamih.
its me thatha: gampang, pertama bikin anak dulu *eh*
belukar: jiyah!
jadi....
SAMPEYAN KALAH YO MAS???
=====================
[judgement karya bagus dan karya kurang bagus lebih diutamakan daripada antusiasme, inisiatif, kemandirian, dan usaha si anak]
judgement itu kan relatif mas, bagus lebih bagus, kurang bagus, tetep gak bisa jadi patokan, itu karya terbaik ato bukan, judgment itu soal selera... iya kan ya?
[menghargai hasil daripada proses, secara pelan-pelan tanpa sadar sampeyan sudah membunuh antusiasme dan rasa percaya diri anak]
nah disini tugas simas margarin buat menanamkan ke anak pengertian hasil tidak sama dengan antusiasme +percaya diri semata
yang penting mungkin orang yang dinilai (dh. anak, iki sepurane yo mas, soale aku gurung nduwe wkwkw... jadi yo jek kiro2) .. memahami, bahwa dalam suatu proses ada banyak komponen yang menghasilkan sebuah output
nah
sekarang tinggal memilih, apa yang mo ditanam? (pepaya? mangga? pisang? jambu? jambu? juambuuu?
mau orientasi hasil? atau orientasi proses?
bagusnya memang orientasi proses... awalnya itu...
dan mungkin memang itu yang harus diutamakan pada usia dini (sekali lagi, yo iki jek nebak nebak
nahhh entar klo udah besarrr
baru diberi pengertian, pentingnya sebuah output ... over efforts
=======================
aku sakjane wedi lek komen nang postingan sampeyan, mesti ngongkon rabi...
males aku
misalnya sampeyan punya anak buah, sampeyan ngepush sampe akhirnya dia dapet hasil maksimal, berhasil, meskipun tanpa rasa antusias. tapi kira-kira sampe berapa lama dia mampu bertahan menjaga ritme tanpa rasa antusias?
saya setuju sama sampeyan, antusias+PD ndak selalu berbanding lurus dengan hasil, tapi sampeyan bisa berharap apa sama orang yang sudah sampeyan bunuh rasa PD dan antusiasnya?
makane ta, ndak rabi!
mas stein: setuju
pakde
*polos
si mas ajib, ngerti komposisi warna
kalo aku dulu cuma bisa gambar pemandangan gunung dua + jalan + sawah + rumah + pohon sama gambar bis.. tu doang
mas didi: karena kita diprogram untuk nggambar seperti itu
iyo mas... kembali pada pilihan... walau sakjane aku bukan pilihan
[hidup tanpa antusias apakah masih pantes disebut hidup?]
dijakarta banyak zombie artinya mas
aku yo termasuk...
antusiasme satu satunya adalah... tanggal gajian
[tapi sampeyan bisa berharap apa sama orang yang sudah sampeyan bunuh rasa PD dan antusiasnya]
ini harusnya dijawab sama boss saya
kira kira jawabanya adalah
boss : "budak belian, robot dengan target, karyawan yang efektif dan efisien"
kiro2 ngono
rabi? ..... serabi maksute yo?
*ngunyah serabi*
Tapi cukuplah saya membahas orang-orang itu, saya tetep bangga dengan anak saya. Saya bilang, "Mas Barra, kamu hebat!"
Setujuuuuu...
Aku juga lebih bangga dengan mas stein dan putranya...
Slamet Pokijan: betul, mari ngopi
wis bener kabeh, aku setuju...
yen bapake melu ngebantu anake, masalah pewarnaan sing pas mesti bisa menang ~
kadang bocah cilik kan, asal campur bae sing penting jare dewek apik yo wes. selese.
hahahaha just my opinion.
tapi kan dari judul Hari Bapak, so bapak dan anak yg saling kerjasama, lah bapane mlongo ndeleng anak e nge lukis sekepenak e wudel. Apa daya hasile seanane.
Berarti dari cerita diatas, Bapak e sing ora antusias, dan tidak ada gereget e.
Hahahaha just my opinion.
Maaf Dopost*
tapi, antusias akan sesuatu bisa memupuk keinginan besar akan sesuatu tersebut. hasil akhir yg tidak sesuai rencana mungkin bisa menjadi momok menakutkan.
yah, yang penting punya rasa antusias dulu sih,
bener banget
kedua: komentar yang menarik *berasa lagi blogwalking*
naussea: katanya kan "kerjakan yang kamu sukai" atau paling ndak "sukai yang kamu kerjakan"
maksude yang smpeyan lakukan buat Barra aku setuju, yang penting berproses yang baik, ibaratnya kita menanam buah yang baik, insyaallah akan tumbuh pula buah yang baik, semoga....
ttg pak dahlan aq yo setuju mas...
*ket mau setaja-setuju thok ae...
integritas dan antusias...
MelonMelon: ah, makin ndak bisa ngomong saya
Silahkan login untuk memberikan pendapat