Hearing is Not Like Seeing 29
Kamis, 26 Jan '12 08:38
"Bu, saya ditegur Direktur. Dia complain, mengapa surat permohonan perusahaan kami ditolak? Staf saya bilang, katanya ada berkas A, B, C, D yang harus kami lengkapi," tanya pak Taufan di ujung sambungan telepon."Maaf, Pak. Bapak yakin sudah lengkap?"
"Yakin, Bu. Makanya, tolonglah diterima. Staf saya masih menunggu di kantor Ibu."
"Maaf. Saya tidak punya wewenang untuk membantu, kecuali Direktur Bapak menelpon Direktur saya." Nora pun menutup gagang telepon penuh keyakinan bahwa penolakan yang dilakukan divisi lain perusahaannya sudah benar. Tak berapa lama kemudian sang atasan mendatangi ruang kerja Nora dan memerintahkannya untuk menyelesaikan kekacauan itu. Arti menyelesaikan disini sama saja dengan pernyataan bahwa Nora telah bersalah karena menolak berkas. Dengan sigap Nora menghubungi Pak Taufan kembali.
"Suruh staf Bapak datang menghadap saya," pintanya menahan geram. Terbayang di benaknya Pak Taufan tersenyum penuh kemenangan, karena terkesan Nora tunduk pada "tekanan" perusahaannya.
"Baik, Bu."
Apa yang terjadi kemudian? Ketika sang staf dari perusahaan itu datang menyodorkan permohonannya, Nora segera menelpon Pak Taufan. Kali ini, Nora yang tersenyum penuh kemenangan.
"Pak Taufan, saya sudah memeriksa ulang suratnya. Pantas saja permohonan ditolak. Surat yang Bapak klaim sudah lengkap, ternyata kurang. Saya bicara ini di hadapan staf Bapak. Sampai lebaran semut pun tak akan kami proses."
"Astagaaaaa! Maaf, Bu. Maaf. Maaf sekali." Dia terpaksa menelan ludah. Malu.
Ilustrasi di atas membuatku berpikir. Memang amatlah mudah meminta maaf. Sayangnya, kesimpulan salah (yang terlalu prematur) telah melukai harga diri. Bukan itu saja. Sikap seperti ini bisa membuat orang lain menerima "catatan buruk" untuk kesalahan yang tidak diperbuatnya. Kebenaran kalimat yang diawali dengan "katanya" ditelan mentah-mentah tanpa mau bersusah payah memeriksanya terlebih dahulu.
Justru karena sudah mendengar, kita sebaiknya memeriksa ulang apa yang kita dengar itu. Pernahkah Anda melihat tuna netra yang berjalan dengan tongkat putihnya? Ia akan mengetukkan tongkatnya berulang kali ke atas-bawah, kiri-kanan, demi meyakinkan pendengarannya. Maksudnya, mengkaji ulang apakah jalan itu berlubang, datar, rendah, membentur tembok, dan lain sebagainya, barulah kemudian ia melangkah. Jika tak yakin tembok yang diketuknya, maka tangan pun akan turun membantu meyakinkannya.
Tidaklah sama orang yang mendengar dengan yang melihat
Hearing is Not Like Seeing
Jadi kalau mau marah-marah, ingat-ingat dulu, ya?
Selamat pagi, Ngerumpiers...
Tag: berbagi, pengalaman
Terkait:
-
Terima Kasih Tuhan
Jumat, 16 Mar '12 15:26 -
Menulis Profil (Seolah-olah)
Minggu, 11 Mar '12 01:46 -
Nyaman itu ?
Jumat, 17 Feb '12 12:33
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
sawitri: Menggoda
-
Yuken Kolmi Intan: Megang banget
-
miayam: Inspiratif
-
lala_lili: Inspiratif
-
nawakuci: Megang banget
-
nunik99: Inspiratif
-
woo: Inspiratif
-
suaminya ina: Menggoda
-
Siu thok: Megang banget
-
eir: Megang banget
-
Anie84: Inspiratif
-
d'angel: Inspiratif
-
belukar: Menggoda
-
si muda berkualitas: Megang banget
-
Ngai: Megang banget
-
venus: Megang banget
-
fräulein kyu: Megang banget
-
nien4yu: Megang banget
-
nduendue: Megang banget
-
naussea: Inspiratif
-
Lele doang: Megang banget
-
Payung Kuning: Menggoda
-
Arian Silencer: Megang banget

Komentar:
saya mu marah2 sama mba.
eh tp ga jd karena kata mba kalau mu marah2, inget2 dulu
kenapa saya mau dimarahin mba
#tsaahhh sedih bgt kayaknya saya
karena bos selalu benar
mo salah mo benar pokoke benar
ada boss yang mau mendengar kritik, tapi saya sih yakin, 89% atasan di atas bumi ini, jengah dengan kritik, dan menganggap boss adalah benar...
yakin banget dah saya, kalo ada yang bezza
ya itu 11% nya aja
ntar klo udah jadi boss... harap gak cuman melihat, dan mendengar, tapi juga bisa mengerti
diterima semua deh komennya dengan segala kerendahkan hati
sama sama
#semuanya pasti akan dimengerti
#brg yg sudah dipinjam harus dikembalikan... apalagi tuh punya om warm
pokoknya nendang banget
jadi kalo ada orang mau marah, sruh diinget dulu yah, takut dia lupa mau marah apaan gituh
Silahkan login untuk memberikan pendapat