Saya Berbakat [?] 31
Rabu, 25 Jan '12 23:16
Malam ini saya memikirkan dan merenungkan kembali tentang bakat saya. Karena menurut saya, saya harus mencari apa sebenarnya bakat dan minat saya, dan apa benar hal yang saya kerjakan sekarang ini (membuat roti, dan beternak, serta berkebun) adalah benar bakat saya, yang bisa saya andalkan.
Sebenarnya bisa saja saya mengesampingkan hal ini, tapi ini bagi saya ini terlalu serius untuk diabaikan, karena saya adalah tipe orang yang tidak bisa dipaksa mengerjakan hal-hal yang benar-benar tidak saya suka. Beberapa hari yang lalu tepatnya hari minggu saya berkumpul dengan teman-teman SMA, yah, semacam reuni kecil-kecilan. Tak lupa saya membawa sample roti untuk dicicipi. Semua menikmatinya, tapi saya juga tidak tahu apakah mereka benar-benar menyukainya. Diselingi dengan obrolan ringan meyangkut pekerjaan yang sedang di geluti sekarang ini. Akhirnya giliran saya, bercerita tentang usaha kecil-kecilan yang saya coba rintis ini.
Teman saya bilang saya terlalu idealis [?] hah? apa iya sih? mungkin ada benarnya, tetapi selama ini saya tidak pernah memaksakan kondisi saya harus bisa meraih cita-cita saya, karena hal itu juga terlalu berat untuk saya. Teman yang lain bilang saya tidak realistis [?] mungkin benar, tetapi saya juga masih bingung sampai mana batasan realistis itu. Kalaupun mengenai hasil yang saya dapat, memang hasilnya tidak besar. Tetapi toh selama ini usaha saya masih bisa berjalan, catatan keuangan sederhana (saya tidak terlalu pintar dalam membuat catatan keuangan) saya juga tak pernah menunjukan hasil yang merugi (paling banyak laba yang di dapat juga tak terlalu banyak), saya bisa memenuhi kebutuhan makan layak sehari-hari, dan itu bagi saya lebih dari cukup dan lebih dari realistis :) .
Lain lagi kakak saya, dia bilang saya terlalu ngoyo, karena bakat saya pas-pasan dalam hal memasak "Mbak tau kamu suka masak, tapi kamu terlalu ngoyo, terlalu terobsesi untuk bisa masak, suka sama bisa itu beda". Dan perkataan kakak saya itulah yang meyakinkan saya harus merenungkan hal ini.
Pertama, sore tadi saya mencoba membuat riset kecil untuk mencari kelemahan roti saya dari orang-orang yang sering, atau baru pertama memesan roti saya, jadilah saya telepon beliau-beliau untuk menanyakan rasa, komentar dan alasan memesan roti dari saya. Memang sih tidak objektif, masalah rasa itu hal yang relatif, di setiap orang berbeda, tapi saya terlanjur penasaran :D. Hasilnya, sebagian besar adalah karena mereka sudah langganan ke ibu saya. Kalau saya tanya lagi tentang rasanya, mereka tidak mengeluhkan tentang rasa, bagi mereka rasanya sama, hanya teksturnya saja yang sedikit lebih lembut. Well, bagi saya itu sangat menenangkan saya. Nah, beda lagi bagi mereka yang baru pertama pesan, kata mereka roti buatan saya murah. Hmm, bukankah murah atau tidak itu juga relatif. Tapi jujur saja untuk masalah penentuan harga, saya menurut ajaran ibu saya, "Tak perlu menetapkan laba yang terlalu banyak, biar pun sedikit produksi bisa jalan terus, semua butuh proses, dan itu artinya kamu perlu belajar bersabar".
Then, "Suka masak dengan bisa masak itu beda." Memang sih saya nggak seahli kakak saya atau ibu saya apalagi artisan di toko bakery. Saya juga paham, semua yang bisa masak belum tentu suka masak. Kakak saya yang cerewet itu bisa masak, handal malah, menanak nasi saja bisa pas pulennya, tetapi dia lebih memilih minta tolong asistennya untuk menanak nasi. Saya paham ada beberapa yang suka masak itu tidak semua bisa masak. Saya sepenuhnya paham kemampuan saya didasarkan kesukaan saya dalam memasak, bukan keahlian.
Oke saya memang tidak berbakat memaak, tetapi saya suka memasak. Bukankah Auguste Gusteau (seorang tokoh Chef dalam film kartun Ratatoulie) pernah bilang semua orang dapat memasak. Mungkin saya termasuk didalamnya. Saya setuju dengan Thomas Alva Edison yang pernah bilang Jenius adalah 1% bakat, 99% kerja keras. Mungkin saja kali ini saya hanya sebatas suka memasak, tetapi dengan kerja keras, dan doa tentunya saya ingin menjadi seseorang yang jenius yang bisa memasak.
Kalimat yang terakhir memang lebay, tetapi berharap boleh kan? :D
Tag: bakat
Terkait:
-
Kalo ndak bakat jadi fotografer
Rabu, 10 Nov '10 12:00 -
INDONESIA MENCARI BAKAT...(bukan bakat dicari tapi untung)
Senin, 4 Okt '10 00:54 -
Tidak Berbakat untuk Menikah
Minggu, 1 Agu '10 12:20
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
titian pelangi: Megang banget
-
kira kira gitu: Megang banget
-
Ngai: Menggoda
-
suaminya ina: Menggoda
-
woo: Megang banget
-
eir: Megang banget
-
pu3ku: Megang banget
-
miayam: Menggoda
-
si muda berkualitas: Menggoda
-
Anie84: Megang banget
-
nduendue: Megang banget
-
Aurora Borealis: Nggemesin
-
Ladypiano: Megang banget
-
d'angel: Megang banget
-
belukar: Menggoda
-
nien4yu: Megang banget
-
Slamet Pokijan: Inspiratif
-
fräulein kyu: Megang banget
-
Reza Nufa: Nggemesin
-
ridul: Menggoda
-
Hadi Kurniwan: Inspiratif

Komentar:
tetap semangat!!!
kira-kira kapan dapet kiriman rotinya
kira kira gitu: iya memang om, semua orang itu punya bakat masing-masing, ini karena sayanya aja yang kelewat penasaran apa iya bakat saya di masak
ntar kapan2 aku mampir
aah andai saja dirimuw buka kuenya disinisawitri, pasti saya juga kebagian mencicipi kue masakanmu
Saya pesen roti buaya dong (epek belom sarapan)
eir: belum bisa bikin roti buaya om, yang laen aja
memasak bagi perempuan itu bakat, bukan kewajiban
nyicipinn masakann,,eh ngabisin lebih suka
aih.. gak usah deh..
meskipun malas/gak suka masak, kata ayah saya kalau saya masak, masakan saya enak
tapi orang kantor bilang kalo bkat saya itu nangis mulu
lebih penting
NEKAD!
cuma kadang nekat tanpa bakat...
ujung ujungnya memang....
ambyarrr....
1% usaha, 1%bakat... sisanya HOKI = MANUSIA MARIYO
Yuken Kolmi Intan: ok dh,
lala_lili: Manusiawi kok
nawakuci:
si muda berkualitas: nekat juga perlu lho, tp sampeyan bener juga, nekatnya nggak usah byk2
suka kalimat ini ..... semangaaat ya de
berbakat menitip pesan...
walau kadang disalah artikan...
nice post..mbak yuo...,beosk kita joint buka warung lesehan...hehheheh
d'angel: masakin apa nih? ah.. saya kan nggak 'bisa' masak, cuma suka masak
nien4yu: iya mbak makasih
Slamet Pokijan:
masolank: boleh..
Saya nggak bakat gambar, ternyata malah milih masuk jurusan desain, sampe akhirnya keteteran sendiri pas mata kuliah yang perlu gambar tangan.
eh tapi ada mata kuliah lainnya, fotografi, nah disini saya lumayan "bisa" walopun nggak jago2 amat tapi saya yakin kemampuan diatas rata2.
kalo nggak merasa bakat bikin kue, nggak mungkin orang lain bilang enak toh? tinggal nyari aja, keahliannya bikin kue apa. Bakat ada yang alami ada yang harus di eksplorasi lagi, nggak usah buru2, toh nggak masuk neraka kan kalo gak nemu bakatnya
mb sawitri suka masak juga?
masak itu ngilangin stress, mengusir penat syukur2 bisa dapat duit dari hasil karya
Silahkan login untuk memberikan pendapat