Cita-cita 10
Minggu, 11 Des '11 21:30
Tadi siang saya dikelilingi para pemimpi. Para anak yang tengah asik berkutat dengan harapan masa depan.
"Cita-cita saya menjadi dokter." ucap seorang anak yang duduk persis di sebelah saya.
Ketika ditanya kenapa. Ia menjawab, agar orang tak mampu tetap bisa mendapat pelayanan yang memadai. Ia mengucapkan itu sambil tertunduk. Saya membayangkan, ia menghadapi suatu situasi tidak menyenangkan berkenaan dengan alasan yg dikemukakannya. Entah. Saya tak mau bertanya. Karena setelahnya ia lalu kembali mengangkat kepala dan tersenyum. Anak hebat.
Yang lain bergilir menceritakan cita-citanya. Ada yang ingin jadi guru, bahkan menjadi seorang pengusaha.
"Aku mau jadi guru. Supaya banyak anak Indonesia yang pinter-pinter." ucap salah seorang anak. Diikuti tepuk tangan riuh oleh semua yang hadir.
Cita-cita, keyakinan, dan harapan adalah milik semua orang. Karena yang dibutuhkan hanya keteguhan, komitmen, dan tentu saja kerja keras. Maka, mereka pun tumbuh dengan mimpi-mimpi yang indah. Mimpi yang kelak menjadi titik tujuan mereka melangkah.
Membahagiakan sekali rasanya, mendapati diri berada pada titik yang sesuai dengan cita-cita semasa kecil. Tapi ternyata, banyak juga yang akhirnya tak sampai pada titik itu. Banyak pada akhirnya melepas mimpi yang telah lama ia perjuangkan. Bukan karena ia lelah bermimpi. Tapi pada kenyataannya, terkadang mimpi terbentur banyak hal.
Hidup selalu saja menempatkan kita pada pilihan-pilihan sulit. Seorang krucil, Plum, bercerita mengenai bagaimana ia harus melepas cita-citanya karena dihadapkan pada pilihan yang sulit. Pilihan di mana ia bisa saja terus menelusuri mimpinya. Tapi lalu kemudian ia meninggalkan dan mengejar sesuatu yang begitu ia yakini.
Yakin, katanya. Apa pun keputusan yang diambil. Terus terbang mengejar mimpi, atau memilih lekat menjejak bumi. Pada akhirnya semua hanya mengenai keyakinan yang kuat. Pilih, lalu yakini. Itu saja. Maka kau akan bahagia.
Pilihan adalah hak kita untuk menentukan. Keyakinan adalah kuasa kita sepenuhnya. Saya percaya, dalam setiap pilihan yang kita ambil akan selalu ada campur tangan Tuhan. Tuhan yang kemudian membenahi benang takdir kita. Maka, apa yang kemudian harus kita takutkan?
Setiap orang tentu mempunyai mimpi. Mimpi yang tinggi. Mimpi dengan harapan bisa terwujud. Lalu jangan takut ketika dihadapkan pada situasi yang mengharuskan kita memilih. Toh, mimpi tak hanya satu. Toh, kita hanya perlu yakin dan percaya dengan apa yang kita pilih. Itu saja.
Jadi, terwujud atau pun tidak. Yakini saja jika apa yang kita dapat saat ini adalah yang terbaik. Adalah pilihan yang mengikut sertakan campur tangan Tuhan.
Lalu, apa cita-citamu ketika dulu ditanya semasa kecil? :)
*ah iya pas saya tanya sama cinta, putrinya mba alfa, dia bilang cita-citanya ingin jadi putri duyung :|
Tag: cita-cita
Terkait:
-
Cintaku terhempas ombak lautan
Sabtu, 7 Jan '12 17:20 -
Mimpi itu Hidupku
Sabtu, 8 Okt '11 20:22 -
Tuhan Mendengar Lagi
Rabu, 27 Jul '11 09:36
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Dew drops: Megang banget
-
dan: Megang banget
-
ikki jk: Megang banget
-
Asahira Callysta: Megang banget
-
suaminya ina: Megang banget
-
woo: Megang banget
-
beta-inspire: Inspiratif
-
Ladypiano: Megang banget
-
miayam: Megang banget
-
belukar: Megang banget
Komentar:
*lirik artikel sebelah
*kemudian ngakak
Sering nntn kartun masalahnya...
*gantian ngakak ah...
Dew drops : ga seruuu. Seruan ngasih penyuluhan kb ama sistem kalender.
*duduk manis
#soalnya hanya itu yg kepikiran di kepala
dan sekarang setelah dewasa, saya memiliki banyak mimpi yang ingin diraih, tapi pada belum kesampaian
*tpi klo sekarang di pikir" gk jdi deh jdi Presidenya,
soalnya tugas presdn berat bnget.. apalgi banyk mslah ini mslh itu '''
pusing deh
#ngakak...
Silahkan login untuk memberikan pendapat