Sejuta Kepak Kupu-Kupu (1) 9
Jumat, 9 Des '11 00:26
Tulisan ini merupakan bagian pertama dari rangkaian cerita bersambung yang ditulis bersama Ladypiano. Semoga berkenan :)
Bulan separuh. Malam belum sepenuhnya melebur bersama kerlip gemintang yang memancar pudar. Malu-malu. Kinan meregangkan kedua lengannya sembari memejamkan mata. Dihirupnya nafas dalam-dalam lalu dihembuskannya melalui bibir yang membentuk huruf O.
Sesaat wanita itu melempar pandang ke luar jendela ruang kerjanya yang terletak di sayap utara sebuah bangunan restoran. Sudah enam tahun tempat ini dikelolanya sepenuh hati. Restoran dengan konsep taman nan asri yang ia rintis demi mewujudkan cita-citanya sejak lama. Ia memang sangat mencintai dunia memasak. Ada kebahagiaan tersendiri bila racikannya berhasil menciptakan kepuasan bagi setiap orang yang memakannya.
Pukul tujuh petang. Waktunya makan malam. Saat ini setiap meja telah terisi oleh pengunjung yang ingin menikmati sajian istimewa dari restorannya. Kebanyakan pelanggannya memang dari kalangan atas, meskipun Kinan sendiri tidak bermaksud mengkotak-kotakkan pelanggan. Mereka yang pernah berkunjung ke restorannya, mempromosikan dari mulut ke mulut. Dengan cepat restoran "Marina" berkembang pesat. Menyadari hal itu, Kinan selalu menjaga kualitas pelayanan restorannya.
Dilihatnya lahan parkir di depan restoran telah disesaki oleh berbagai mobil. Senyum bangga tersungging di bibirnya yang tipis. Tidak sia-sia jerih payahnya selama ini. "Bu Kinan?" tiba-tiba terdengar suara seseorang disusul dengan ketukan perlahan di pintu ruangannya. "Ya, silahkan masuk," jawab Kinan. Dion, manajer restorannya, memasuki ruangan dengan gugup. "Maaf Bu, di depan ada pelanggan yang marah-marah karena tidak mendapat tempat duduk. Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena semua meja memang sudah penuh, sedangkan beliau tidak melakukan reservasi terlebih dahulu. Kami sudah berusaha menenangkannya, namun beliau tetap tidak peduli. Beliau malah ingin bertemu dengan Ibu." Tampak jelas ekspresi kesal di wajah Kinan. "Ya sudah, saya ambil alih. Orang kaya kadang mau seenaknya sendiri!" "Nggg... Tapi, Bu..." "Ya? Kenapa lagi?" sahut Kinan cepat. "Beliau pemilik tanker minyak ternama. Andrew Soebrata," terbata Dion menjelaskan pada Kinan. "Saya tidak peduli dia pemilik tanker minyak atau tambang berlian sekalipun! Kalau dia tidak mau menunggu giliran, silahkan cari restoran yang lain."
Kinan sering merasa jengkel dengan orang-orang kaya yang bersikap sombong semacam ini. Apa mereka pikir semua yang ada di bumi bisa dibeli? Sukanya bikin ribut saja. Padahal masih banyak orang yang lebih kaya darinya namun bersikap lebih bersahaja.
Bergegas Kinan melangkahkan kaki menuju lobi restorannya. Dion tergopoh-gopoh mengikutinya dari belakang. Ruangan itu tidak terlalu luas, hanya terisi sebuah meja akar jati utuh berbentuk bundar dengan sebuah vas yang berisi rangkaian bunga lily merah tua. Di atasnya tergantung lampu kristal dengan pancaran cahaya yang lembut. Pada salah satu dindingnya terdapat aquarium air laut lengkap dengan ikan dan beberapa spesies laut lainnya.
Seorang pria berbadan tegap dengan jas hitam perlente sedang berdiri memunggunginya. Kedua tangan pria itu diselipkan ke dalam saku celana panjangnya. Rambutnya klimis dan aroma parfum Bvlgari samar menyeruak ke dalam indra penciuman Kinan. Jadi ini Andrew Soebrata, milyuner yang sering muncul di pemberitaan media massa itu?
Tampan. Gumam Kinan.
Tag: fiksi, cerita bersambung
Terkait:
-
sembunyi...
Selasa, 28 Feb '12 11:32 -
Di Balik Layar: "Sejuta Kepak Kupu-Kupu"
Selasa, 20 Des '11 08:34 -
Sejuta Kepak Kupu-Kupu (Tamat)
Senin, 19 Des '11 09:08
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
suaminya ina: Menggoda
-
Rhein: Megang banget
-
belukar: Menggoda
-
Siu thok: Menggoda
-
masolank: Nggemesin
-
NuigeL Mama Macan: Menggoda
-
woo: Menggoda
-
ikki jk: Menggoda

Komentar:
#eh...?
*dikeplak
Ada beberapa kalimat yg kepanjangan dan bikin ngos2an yg baca
Ayo lanjutkan
masolank..menunggu ...!! dimana-mana aj deh...
ditunggu tobe continue-nya....
ikki jk: saya juga nunggu transferannya
Emang lebih ngos-ngosan mana sama jalan dengan buku yang berkaki?
Eh, mana manaaaaa kalimat yang kepanjangan? Kamu copasin donggg, nanti aku edit ulang
masolank: bisa sambil ngamen tuh, nungguinnya
Ga bisa copas
capella: yaaahh, ga bisa kuedit dong
Silahkan login untuk memberikan pendapat