Ingin Kubunuh Lelaki Pacarku 50

Senin, 30 Agu '10 13:29

1.

Ah, baby, listen now. Ive made up my mind. Im tired of wasting all my precious time. Youve got to be all mine, all mine. Begitulah, kekasihku, Foxy Lady mengalun dari pemutar MP3-ku dan serempak kita nyanyikan bersama. Kamu tersenyum nakal seraya menyemburkan asap rokok dari mulutmu. Aku merengkuh kepalamu sembari mereguk wiski berlabel Jack Daniels langsung dari mulut botol. Lalu kita bercinta lagi. Semalaman.

; Aku tak mengerti hubungan macam apa yang sedang kita jalani; apa yang aku cari, apa yang kamu cari, dan mengapa kita kerap bermesraan dalam suasana psikedelik yang kelam. Kamu simpanan orang, pengusaha kaya raya yang memberimu lima juta rupiah setiap hari. Sedangkan aku hanya pekerja serabutan dengan pundi-pundi yang kosong melompong. Tak sanggup aku menandingi lelakimu itu.

Menjalin cinta mungkin juga hanya nafsu denganmu memang terlalu berisiko untukku. Juga untukmu. Lelakimu itu bisa sekonyong-konyong datang dan memergoki kita di kamar gelap ini. Lalu, dengan lengannya yang pejal, ia bakal memukuliku hingga wajahku berdarah-darah dan tubuhku penuh lebam. Dan, ia akan menatapmu dengan mata menyala-nyala lalu mengusirmu dengan semena-mena. Kamu akan kehilangan segala-galanya. Apartemen, mobil, uang. Relakah kamu membarter semua itu dengan diriku yang tak punya apa-apa ini?

Ingatkah ketika aku berinisiatif mengakhiri hubungan kita sebulan silam? Raut mukamu mendadak berubah menjadi begitu sedih. Begitu terpukul. Dengan mata berkaca-kaca, kamu merengek seperti anak kecil, memintaku mencabut kembali niat itu. Semua akan baik-baik saja, katamu. Aku menghela napas. Setan, umpatku, aku tak tega melihat perempuan yang menangis.

Jika semua memang baik-baik saja, mengapa kini kamu lenyap bagai ditelan bumi?

 

2.

 

BBs Bar. Suasana riuh. Lagu-lagu blues berteriak mengiringi canda tawa pengunjung yang menggelak lepas. Botol-botol alkohol berserakan di mana-mana, tak mau kalah dengan kepulan asap rokok yang menyesaki udara.

Di sudut ruangan, seorang perempuan muda berbalut jaket kulit berwarna hitam kamu terhanyut dalam hingar bingar itu sembari meneguk bergelas-gelas bir. Kamu ikut bernyanyi manakala lagu-lagu favoritmu dibawakan oleh band yang tampil. Untuk penggila Jimi Hendrix, Janis Joplin, sampai Tracy Chapman, tempat itu memang sanggup memindahkan surga ke dunia.

Aku duduk dua meja di sebelah kananmu. Jujur saja, aku sudah mengintaimu lima belas menit terakhir. Mataku melirikmu tiga puluh kali; dua kali dalam satu menit. Demikian juga mata sebagian lelaki di situ yang jelalatan seolah ingin menggiringmu ke toilet dan menelanjangimu. Jika saja saat itu kamu telah menjadi kekasihku, mata mereka pasti sudah kucungkil satu demi satu.

Suka Tracy Chapman, ya? tanyaku ketika bibirmu melantunkan Give Me One Reason. Kamu menatapku ramah, namun matamu tetap berkilat-kilat. Kamu memang bukan perempuan cinderella yang menantikan seorang pangeran tampan dengan kereta kudanya; kamu adalah perempuan rockstar yang tak mengemis cinta lelaki. Perempuan paling menggairahkan, menurut seleraku. Kamu berbicara padaku, Kamu tadi duduk di meja sebelah kanan saya dan merhatiin saya kira-kira sepuluh sampai lima belas menit. Waduh

 

3.

 

Kairava itulah namamu. Berasal dari kata Sansekerta yang berarti cahaya rembulan. Kamu baru mengatakannya ketika kita beranjak keluar dari BBs dan menyantap sate ayam di pelataran Hotel Formula. Bayangkan, kita mengobrol setengah jam di dalam bar dan kamu sama sekali tak mau menyebutkan namamu.

Dengar, kalau yang kamu mau hanya one night stand, lupakan. Ada dua aturan untuk berhubungan dengan saya: satu, bilang kalau kamu cinta; dua, bilang kalau kamu bosan, maka saya akan langsung pergi. Saya benci terkatung-katung karena laki-laki. Jadi, apa alasan kamu datang dan kenalan sama saya? Waduh…

Aku jarang menemukan perempuan seperti kamu. Perempuan yang tidak berusaha sempurna demi laki-laki; perempuan yang aman dengan diri sendiri. Sungguh, bertahun-tahun aku mencari perempuan seperti kamu. Dan kini, kamu menanyaiku secara blak-blakan dan menuntut jawaban saat itu juga. Tentu saja aku tak mau termakan permainanmu. Apa alasan kamu menghabiskan lebih dari satu jam bersama laki-laki yang baru kamu kenal? Jawabanku sama dengan jawabanmu.

Kamu tertawa kecil. Wajahmu berpendar-pendar bagai kembang api yang berkeredap di malam tahun baru. Aku tahu kamu tertarik padaku, Kairava.

Kamu lalu melanjutkan fase perkenalan kita ke tahap berikutnya. Saya tinggal sendiri di apartemen saya. Ada laki-laki yang datang setiap Senin sampai Rabu. Saya ga cinta sama dia. Waktu kamu dari Kamis sampai Minggu. Dan untuk kamu, saya akan belajar mencintai. Waduh, cespleng banget ini perempuan…

Jadi, kamu simpanan seorang laki-laki. Tak masalah bagiku. Memang ada orang-orang tertentu yang tak mau dimiliki; orang-orang yang menjunjung tinggi kebebasan meski sering kebablasan; orang-orang yang dicap menolak untuk jadi dewasa oleh kaum konservatif. Ah, siapa yang peduli dengan kaum konservatif yang kolot dan selalu merasa benar itu. Persetan dengan mereka.

Kamu adalah pacarku mulai hari ini, Kairava. Aku juga akan belajar mencintai kamu.

 

4.

 

Demikianlah, sejak hari itu kita resmi berpacaran. Aku mulai mengenali sisi lain dirimu yang tak begitu keras, yang lebih perempuan. Siapa nyana orang sepertimu ternyata pintar masak. Aku ingat ketika kamu menghidangkan ayam goreng dan sayur asam sebagai menu makan malam kita. Ini aku yang bikin, loh, ujarmu. Awalnya, aku tak percaya. Maka, aku mencari-cari alasan agar dapat melihatmu memasak, setidaknya meracik bumbu, di depanku. Ayam goreng kurang sedap kalau ga pakai sambal, nih. Kamu melihatku sesaat, dengan pandangan menyelidik, dan langsung mengulek sambal. Persis di depanku.

Aku juga masih ingat obrolan kita tentang musisi-musisi idolamu dan misteri yang melingkupi kehidupan mereka. Kamu begitu penasaran dengan Club 27, kumpulan rockstar gila yang mati di usia 27, sengaja atau tidak disengaja. Brian Jones, gitaris Rolling Stones, mati tenggelam di kolam renang. Jimi Hendrix diperkirakan mati karena muntah-muntah dan sesak napas setelah menggabungkan wine dan obat tidur. Janis Joplin mati karena kelebihan heroin. Mereka bertiga mati di usia 27 secara tidak wajar. Masih ada sederet nama musisi yang bisa mengisi daftar itu.

Sebenarnya mereka itu punya perkumpulan khusus atau ga, ya? tanyamu saat itu. Aku berpikir sejenak sebelum menjawab, Aku pikir, mereka memang terkait satu sama lain, tapi bukan secara fisik, melainkan metafisik. Secara spiritual. Lihatlah, Kurt Cobain mati 24 tahun setelah Jimi Hendrix. Tentunya mereka tidak berhubungan secara fisik. Namun, entah bagaimana, ide gila itu hinggap di kepala dua orang yang berbeda generasi itu.

Terus, apa tujuannya mati semuda itu? Kamu mencoba merenungi. Mungkin demi kebebasan. Demi misteri yang melingkupi kehidupan mereka, jawabku. Mereka toh sudah mendapatkan semuanya di dunia ini: kekayaan, ketenaran, dan pencapaian. Yang belum mereka rasakan hanyalah kematian. Kamu terdiam.

Aku juga ingat yang satu ini aku tak mungkin lupa sebab kita melakukannya hampir setiap hari gaya bercintamu yang kasar. Pagutanmu yang liar. Kamu senang bergulat denganku, lalu menunggangiku. Kamu bilang, tak mungkin kamu melakukan ini dengan lelakimu. Maka, aku yang jadi pelampiasan naluri kebinatanganmu itu. Bersamaku, kamu bercinta seperti wanita jalang.

Dan, ingatkah kamu bahwa ada saat-saat menegangkan ketika kita sedang memuaskan nafsu birahi kita? Saat itu hari Senin, pukul enam pagi. Kita sedang mengobrol dan saling memesrai setelah bercinta semalaman. Tiba-tiba ponselmu bergetar. Sebuah sms masuk. Saya lima menit lagi sampai, mau sarapan. Lelakimu. Kita sama-sama tak menyangka ia akan singgah di apartemenmu sedini itu. Aku lantas mengenakan seluruh pakaianku dan bergegas menuju lift. Siang harinya kamu mengirimiku sms. Dia datang dua menit setelah kamu pergi. Haha…

 

5.

 

Satu tahun terlewati. Tidakkah kamu jenuh dengan semua ini, Kairava? Kita sesungguhnya tidak ke mana-mana; kita berjalan di tempat. Sepuluh tahun dari sekarang, wajah kita akan mulai berkerut. Tubuh akan menjadi renta. Aku tak akan seperkasa hari ini, kamu akan memasuki masa menopause. Lantas, apakah kita harus begini-begini saja dan menunggu semua itu datang?

Kamu tak mau meninggalkan lelakimu. Kamu juga tak mau aku tinggalkan. Lalu, apa yang kamu mau? Hidup ini adalah tentang memilih, memutuskan, dan melangkah maju, Kairava sayang. Ini bukan tentang perasaan. Kamu tahu bahwa aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu. Namun, manakala cinta membuat kita terpuruk dan jatuh terperosok, tidakkah kita harus mengesampingkannya?

Jumat malam. Kamu menyandarkan kepalamu di bahuku. Jemariku kuselinapkan di antara helai-helai rambutmu yang hitam dan wangi. Aku kembali mengutarakan niatku untuk meninggalkanmu, dan kamu kembali membujukku untuk membatalkan niat itu. Aku sebenarnya frustrasi padamu, Kairava. Dalam hal ini, kamu seperti bocah ingusan, tak bisa berpikir untuk kebaikanmu sendiri.

Kenapa kamu merasa hubungan kita ga berarti hanya karena ada laki-laki selain kamu? Dia itu hanya sapi perah untukku. Aku ga cinta dia sedikit pun. Aku cinta sama kamu. Tidakkah itu yang paling berarti? ujarmu membela diri. Kalau aku sedemikian berarti, kenapa kamu ga mau putusin dia dan hidup sama aku? tanyaku. Kamu butuh pembuktian seperti apa sih? Kita sama-sama tahu bahwa kita saling cinta. Ga perlu pembuktian lagi, kan?

Tiba-tiba pintu kamar ditendang dari luar. Lelakimu berdiri seraya menatap kita dengan mata menyala-nyala, seolah bakal memindahkan neraka ke kamarmu. Kamu pelacur! Ia mengatai kekasihku, yang adalah kekasihnya juga, dengan sebutan pelacur. Kita tidak siap akan kemunculannya yang tak disangka-sangka. Mukamu pucat. Bibirmu terkatup rapat, menyembunyikan lidahmu yang kelu.

Lelakimu itu lalu berjalan menghampiriku dan menghantam wajahku dengan kekuatan yang berasal dari lengannya yang pejal. Aku terjatuh. Ia menendangku hingga tubuhku membentur tembok. Namun, ekor mataku sempat melihat ada sebilah pisau di atas piring kecil di sudut ruangan. Maka, aku merangkak secepat halilintar, meraih benda tajam yang berkilat-kilat itu, lalu berbalik dan menikam dada lelaki itu. Kucabut dan kutusuk-tusuk perutnya sampai organ-organnya terburai. Aku berteriak setiap kali kutancapkan pisau itu di tubuhnya.

Kamu terdiam kaku seperti patung, melihat lelakimu, yang adalah sainganku, mati mengenaskan. Kenapa kamu bunuh dia? Suaramu bergetar. Demi kebebasan. Demi misteri yang melingkupi hubungan kita.

Kamu menangis. Itu adalah terakhir kali aku melihatmu.

 

6.

 

Kini, kamu lenyap bagai ditelan bumi. Aku tak pernah melihatmu lagi. Jika boleh aku menarik kesimpulan dari hubungan kita, dengarlah. Aku mencintai dengan tindakan, kamu mencintai dengan ucapan. Cintaku nyata, cintamu maya. Karena namamu, Kairava, berarti cahaya rembulan, padahal rembulan tak memiliki cahaya yang bersumber dari dirinya. Tak heran kamu begitu maya, takut dengan kenyataan.

 

*Cerpen ini saya kirim ke Kompas. Dipublikasikan atau tidak, serahkan pada yang mau diserahkan :p


Tag: cerpen

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

warm 0 0
kereenn
mudah2an dimuat mas


baca nama Kairava
knp malah teringat Shrivastava ya ?
*eh
: D
si muda berkualitas 0 0
"Aku mencintai dengan tindakan, kamu mencintai dengan ucapan. Cintaku nyata, cintamu maya. Karena namamu, Kairava, berarti cahaya rembulan, padahal rembulan tak memiliki cahaya yang bersumber dari dirinya. Tak heran kamu begitu maya, takut dengan kenyataan."

ini mantaf sekale....
: )
elia bintang 0 0
warm thanks, om warm! haha.. mau nitip salam? : p

@syn thanks, syn! : D
warm 0 0
elia bintang: eh tawaran yg menarik tuh *halalh*
: ))

oh iya, tadi saya edit dikit. mas
ada kode html aneh di postingan sampeyan,
jadinya tadi page ini terlihat aneh
gpp toh ?
makasih
: D
elia bintang 0 0
warm: haha.. makasih banget malah. soalnya saya juga bingung knp page ini terlihat aneh. *nasib ga ngerti html* : ))
cake lover 0 0
KEREN...!!
elia bintang 0 0
cake lover: terima kasih! : D
djghina 0 0
elia bintang: brother, pintar sangat kamu memainkan emosi pembaca, dua jempol

this is my killer line:
Aku jarang menemukan perempuan seperti kamu. Perempuan yang tidak berusaha sempurna demi laki-laki; perempuan yang aman dengan diri sendiri.

#haru
venus 0 0


keren, sayang : )
Dqueen 0 0
elia bintang: : )

Ada alasan untuk menjadi maya dan takut dengan kenyataan. : )

*mlipir
PLUM 0 0
so sexy ; ))
uul 0 0
alurnya mantafff...
Goy Si Ababil 0 0
keren. sekaligus dalam. artikel ini ndak pantas di rusuhi.

diperbesar, dibingkai dan ditaruh di ruang tengah rumah.

kompas pasti gila kalo tidak memuat kisah ini.
Goy Si Ababil 0 0
btw mas elia ini ajegile bener yak.

buat musikalitas mantap, bikin tulisan gini pun sedap.

ini baru kualitiii..

*melirik sinis ke si muda berkualitas [ -(
ferra_fz 0 0
Setuju sama Tuan Muda si muda berkualitas : D : D palagi yg "Tak heran kamu begitu MAYA, TAKUT dengan KENYATAAN.." nampool abiss critanya ; ) nice post : )
anak kecil 0 0
kok keren banget ya ; ))

mantef dah : ))

takut dengan kenyataan : ))

saya banget ini : ((
tukang odong-odong 0 0
woow..cerpen yang menghentak dan keren abis !

Salut buat Elia !
Ayah Air 0 0
keren euy....

asik baca duluan sbelom dimuat : D
mawarbiru 0 0
keren pisaann.

"Aku mencintai dengan tindakan, kamu mencintai dengan ucapan. Cintaku nyata, cintamu maya. Karena namamu, Kairava, berarti cahaya rembulan, padahal rembulan tak memiliki cahaya yang bersumber dari dirinya. Tak heran kamu begitu maya, takut dengan kenyataan."

ough.. : ((
Bomi 0 0
keren banget...ga ada yang terlewat sedikit pun : )
elia bintang 0 0
djghina: thanks, ghin!

venus: makasih, sayang : D

Dqueen: misalnya apa?

PLUM: ahaha.. thanks ya!

uul: terima kasih!

Goy Si Ababil: thanks ya! kompas itu menerima ratusan cerpen setiap minggunya. jadi, peluang untuk terpilih emang kecil banget.. jadilah saya anggap ini iseng2 berhadiah : p

ferra_fz: thanks ya!

anak kecil: haha.. makasih ya!

tukang odong-odong: thanks, mas!

Ayah Air: thanks, ndry! moga2 aja dimuat hehe : p

mawarbiru: terima kasih!

Bomi: makasih ya!
riuusa 0 0
dasyaaaat.....
fiuuuh
membacanya hampir gak nafas....hosh hosh hosh hosh hosh....


*bernafas dulu ah*
lilliperry 0 0
woo.. panjang dan bagus sekali...

gak ada bosannya, setiap scenenya membuat kita bertanya endingnya seperti apa hingga tidak bisa lepas membaca keseluruhannya

keren yang ini.. : D
elia bintang 0 0
riuusa: lilliperry: thanks ya! : D
warm 0 0
lilliperry: komen sampeyan jg bagus,
inspiratip !

saya setuju
tiieee 0 0
Hwow!

Speechless, but, ini keren banget @elia !!!
EkstrakHati 0 0
si muda berkualitas: setuju sama mas syn...edaaannn itu kalimatnyaa!!!
anak kecil 0 0
elia bintang: iyah...ini benar2 keren banget...gak bosen saya baca berkali2 : ((
cecil 0 0
like this.... sekelas lah sama cerpen2 kompas hari minggu...

kalo menurut saiaaa.



HARUS DIMUAT!!!!


maksa : D
MasIs 0 0
ikutan nungguin honor pemuatan: D
anonymous 0 0
wah, tulisannya bagus ya mas...
tapi kata "waduh..." yg muncul 2 kali dalam paragraf yang berdekatan, terasa agak mengganggu.
selain itu, kalimat ini : "Kamu tertawa kecil. Wajahmu berpendar-pendar bagai kembang api yang berkeredap di malam tahun baru." analoginya nggak cocok (menurutku pribadi).

saya jatuh cinta sama tokoh wanitanya, ingin tahu lebih banyak tentang dia. hahahaha...

semoga sukses ya mas. kalau sampai dimuat di kompas, berarti tulisan ini memang benar2 bagus.
Goy Si Ababil 0 0
setuju dengan MasIs : D
fla 0 0
Aku mencintai dengan tindakan, kamu mencintai dengan ucapan

Keren cerpennya, nama tokohnya juga unik.
chiyuki 0 0
keren..... : D
chameleon 0 0
si muda berkualitas: setuju banget sama om badut.....!!! nice words.....
capella 0 0
wow menggoda ; ))
Day 0 0
Merinding bacanya.... sumpah..
cherry fruit 0 0
deg deg-an bacanya, keren... dan megang abis.... suer...
ridul 0 0
LIKE THIS *jempol


: D
weirdaft 0 0
ini.... keren!!!
kucingsapi 0 0
keren! hem seperti gaya bercerita siapa ya? seperti pernah baca... *garuk2 jenggot* : D
penyiar geblek 0 0
aw .... tulisaaaan apaaah inih? .... kok kereeen sekali : D : D
elia bintang 0 0
tiieee: anak kecil: cecil: MasIs: Goy Si Ababil: fla: chiyuki: chameleon: capella: Day: cherry fruit: ridul: weirdaft: penyiar geblek: thanks ya semuanya! saya juga berharapnya sih dimuat.. tapi setau saya, kompas itu bisa terima 300-500 cerpen setiap minggunya. jadi, persaingannya ketat banget. sukur2 cerpen yg saya kirimin ini dibaca.. hehe : D

kucingsapi: thanks, pied! seperti gaya bercerita siapa ya? hmm.. ipied sekarang jenggotan? : p

anonymous: thanks untuk koreksinya ya : D
Goy Si Ababil 0 0
*tetep setia nungguin traktiran dari honor* : p
anak kecil 0 0
@elia : iye didoain mudah2an keterima deh...bagus banget ini : D
madammoisellen 0 0
like this : D
kucinghitam 0 0
keren...

sudah lama gk ngences...

: D
dd hidayanti 0 0
uuuh ngena.. sampai tak berkata2... serem endingnya
Han Pratanu Putra 0 0
A-Z, gak cukup di gambarkan dengan hanya kata

TOP, BAGUS OK BANGET

POKOKNYA... KEREN ABIS
miauwcantik 0 0
kereeen bagus banget,,,, semoga dipublish,,,,,

Silahkan login untuk memberikan pendapat