Perlahan dan pelan-pelan 31
Kamis, 26 Agu '10 04:39
Awalnya adalah gerimis, terlukis putus-putus tak beraturan, pelan-pelan menghias jalan, atap, daun, pohon, sungai, dan semua yang tak luput dari titik-titik bening yang saing berlomba membasahi apa yang bisa ditujunya. Semua terlihat serba pelan, dan selalu saja berkawan udara yang juga perlahan turun beberapa titik, merendah.
Semua tak jua membuat sepasang langkah itu mempercepat meninggalkan jejak-jejak di atas jalanan yang mulai membasah. Malam belum terlalu larut, memang, dan berharap waktu tetap pada porosnya, terhenti dan sejenak tak melanjutkan episode di detik depan.
Sepasang langkah yang beriringan, dua tangan yang bertautan, berharap tak ada kata lepas, untuk malam ini, untuk esok pagi, untuk esok hari dan sampai kapanpun.
Tak lama saja, ribuan, jutaan, atau entah berapa jumlah titik-titik air yang sekarang seperti tak lagi membentuk garis putus, langit sedang menangis puas-puas, memaksa keduanya sejenak terhenti.
Tak begitu banyak kata, hanya dua tatap yang sering beradu tajam, mencuri-curi pandang, saling menilai kagum, saling bertukar tanya yang tak terucap : 'sanggupkah kau mencintaiku lebih dari apa yang bisa kuderaikan pada jiwamu ? '
Malam semakin menuju titik terhitamnya, hujan menghampiri titik dinginnya, dan kedua jiwa itu tak jua henti berpacu saling berlari ke titik hangatnya, seraya berharap malam tak cepat usai, hingga lebih banyak waktu yang bisa dilewati dengan segenap rasa yang terus menyergap, mengalir dalam aliran denyut nadi yang tak jua mereda.
Inilah malam, yang sepasang jiwa di bawahnya tak mau malam melepaskan hitamnya menuju terang, yang mengeratkan peluk perlahan, yang tak putus berharap akan menguasai masa depan,perlahan saja, ya pelan-pelan.
Karena waktu tak kan bisa terulang, maka biarkan saja mereka menikmati napas yang sama, saat jemari lelakinya pelan mengusap lembut rambut sebahu disisinya, perempuan yang tak putus ingin dimilikinya, seperti juga titik-titik bening yang masih jua tak putus menghunjam bumi, seperti itu juga harap yang diinginnya, tak pernah putus mengiringi segala imaji indah yang diberikannya, semua harap yang bisa dipasrahkannya.
Terus saja, semua tak terputus, dan tak ingin terhenti lalu menepi.
Tak mau lagi sesaat terpikir mengingkar lingkar janji,
karena perlahan, mereka berhasil memaknai arti satu hati..
*Jogja, suatu malam yang hujan di agustus dua lima
Tag: Hati
Terkait:
-
Menulis Isi Hati
Senin, 7 Mei '12 21:04 -
Masuk Saja, Tidak Terkunci!
Selasa, 1 Mei '12 08:23 -
Pake Hati, Sesederhana Itu!
Selasa, 24 Apr '12 01:46
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
paper plane: Menggoda
-
arcenciel: Megang banget
-
venus: Megang banget
-
anaknyamamak: Megang banget
-
MasIs: Nggemesin
-
anak kecil: Menggoda
-
uul: Menggoda
-
Hanik: Megang banget
-
TalkToJono: Menggoda
-
Siu thok: Megang banget
-
nonamerah: Megang banget
-
Bomi: Megang banget
-
hilang: Megang banget
-
ferra_fz: Megang banget
-
NuigeL Mama Macan: Megang banget
-
PLUM: Megang banget
-
novel aiiu triatmajaya novella: Lucu
-
trickylove: Menggoda
-
gulajawa: Megang banget
-
lilliperry: Megang banget
-
cyraflame: Megang banget
-
Penonton kerusuhan: Megang banget
-
Mawar Ungu: Nggemesin
-
fla: Menggoda
-
.mya.: Megang banget
-
satsuki: Megang banget
-
cherry fruit: Menggoda
-
Juuichi: Megang banget
-
tiieee: Megang banget
Komentar:
venus: waduh, baju saya rasanya menyempit dipuji sampeyan, mbok
hujan dan jogja
pis om...
MasIs: kmaren, mas
anak kecil: nganu, makasih
hanggaady: sampe basah kuyup beneran lhoh
capella: makasih makasih makasih
cake lover: *nyodorin sapu tangan*
nonamerah: tsaahh, ngikik apa menangis haru *halah*
novel aiiu triatmajaya novella: makasih
L'Revolution: halo sarjana ! selamat ya
*menjura*
adhem banget suhu, eniwei...
Penonton kerusuhan: wogh, tersanjung sayanya
nonamerah: siap
Bacanya aja udh bikin adem apalagi mengalami langsung.
fla: bayangan saya akan kejadian nyata
MedGirL: thx
Silahkan login untuk memberikan pendapat