Tentang Persimpangan-Persimpangan 14

Minggu, 1 Agu '10 01:43

Perjalanan hidup emang banyak banget simpangan-simpangannya. Tempat dimana kita harus ngambil keputusan dan pilihan. Coba pikirin deh, gak usah jauh-jauh, seharian ini aja, ada brapa persimpangan yang kalian lalui? Baik yang harfiah di jalan-jalan macet yang rutin dilewatin itu...atau yang sekedar persimpangan tentang "gue mo sarapan apa ya pagi ini, roti, bapau atau singkong asem manis?". 

Sebagian kecil dari persimpangan dalam perjalanan hidup kita benar-benar punya dampak besar dalam mendefinisikan situasi kita hari ini. Itu adalah saat-saat dimana keputusan-keputusan besar diambil. Misalnya keputusan memilih menikahi seseorang, keputusan memilih jurusan di kuliahan, atau malah keputusan beralih dari minyak tanah ke gas 3kg (see how big is the impact to some people's life when it exploded). Beberapa dari jalan yang kita pilih ketika berada di persimpangan semacam ini benar-benar jalan yang kita pilih sendiri dengan ikhlash. Beberapa lagi mungkin kita pilih dengan terpaksa karena takut terhadap sesuatu atau kita pilih untuk menyenangkan orang lain. 

Ya apapun latar belakangnya, jalan yang dahulu kita pilih membuat kita berada di tempat kita sekarang ini. Kini dan di sini, sedang kita hadapi. 

Dan ketika menghadapi situasi sekarang, pasti pernah terpikir, walau sekilas, sebuah (atau sejumlah) pengandaian. Pengandaian tentang apa sih yang terjadi kalo dulu kita pilih jalan lain.

Kayak apa hidup saya sekarang andai saja dulu saya...?

Apa jadinya kalau saya tetap bersama dia dan apakah dia masih ingat saya? 

Syukurlah saya tidak memilih untuk .... barangkali semua akan berantakan sekarang kalau saya begitu...

..dan masih banyak lagi perandai-andaian..

Dari pengandaian-pengandaian yang muncul, ada lho orang yang terus bener-bener milih puter balik ke persimpangan yang sama dan memilih jalan yang berbeda. AT ALL COST! 

Saya mengenal seorang mantan senior manager di sebuah perusahaan tambang asing yang cita-cita sebenarnya adalah jadi guru agama atau guru ngaji. Saat ingin mendaftar ke IAIN pasca lulus SMA, klise, keluarganya nggak setuju. Beberapa kekerasan psikologis terjadi yang membuat kenalan saya ini akhirnya ikut keinginan bapaknya untuk kuliah di fakultas ekonomi. Dan akibat keputusan itu ternyata ya gak jelek-jelek amat sebenernya. Karir dia oke banget... di perusahaan tambang kelas dunia dia mencapai jabatan elite di usia yang gak terlalu tua. 

Oke sih...secara karir. Tapi hatinya nggak oke. Emang dasar ya...kalo udah jadi obsesi mo gimana juga tetep membayangi. Ya dan bisa ditebak, begitu bapaknya meninggal, dia resign dari karir nya. Lalu dia, jualan obat-obat herbal ala penyembuhan Nabi dan kuliah di IAIN :p . Sekarang udah mulai ngajar ngaji. Waktu ketemu saya cuma bisa bilang: "dasar gilak!" he he he

Kalo saya pikir-pikir, ya mungkin transformasi dia dari menejer ke tukang jual jinten item bukan situasi yang sangat dilematis. Situasi yang bisa dia putuskan dan resikonya bisa dia tanggung. So, puter balik ke persimpangan di masa lalu dan memilih jalan yang diimpikannya terlihat cukup mudah. 

Situasinya beda dengan seseorang lain lagi. Ini dari cerita temen. Orang ini tidak benar-benar kembali ke persimpangan yang dulu. Dia cuma menciptakan imajinasi seolah dia kembali dan menjadi seseorang yang berbeda karena memilih jalan yang berbeda juga. Cara dia menghidupkan imajinasinya adalah lewat media internet. 

Di facebook orang ini menciptakan "diri" berbeda yang sangat menipu. Identitas jadi-jadiannya bahkan dijalankan sedemikian rupa sehingga nampak nyata. Banyak orang yg terlanjur jadi temennya dan percaya bahwa dia itu "ada". 

Ya di kasus terakhir itu masih ada beberapa informasi yang hilang. Tapi saya pernah menemukan kasus-kasus serupa dimana lewat internet seseorang menciptakan dirinya yang baru. Yang "seolah-olah". Dan ketika digali lebih lanjut, banyak dari mereka adalah para pemutar balik semu. Mereka nggak pernah bener-bener keluar dari jalan hidup-nya yang sekarang. Mereka cuma berlaku "seumpamanya" bukan "sebenarnya". 

Di satu sisi saya memandang buruk perilaku tersebut, tapi di sisi lain saya merasa bisa mengerti. Mungkin mereka ini nggak ada di situasi yang mudah untuk betulan milih jalan lain dari yang emreka pilih dulu. Terlalu banyak konsekuensi di masa kini yang harus ditanggung membuat mereka cuma jadi pemutar balik semu. Dan Internet nawarin banyak hal untuk akomodasi hal itu. 

Contohnya gini, seseorang menyesal karena telah menikah. Ternyata kehidupan pernikahan bukan untuk dirinya. Nah, tapi sekarang dia udah punya beberapa anak. Ini bukan situasi yang gampang untuk ditinggalkan. Beda sama "sekedar" situasi kerja-di-perusahaan-tambang. Jadinya, orang ini gak bener-bener puter balik dan ninggalin keluarganya. Dia "berkompromi", lalu "berimajinasi", lalu menciptakan sebuah akun fb baru yang menjadi representasi dirinya yang "lain". Dan dari situ dia mulai berkenalan sama perempuan-perempuan dari berbagai tempat di fb. Menampilkan diri yang seolah tidak menikah dan tidak mau menikah, just fun... fun only... nothing but fun... etc 

So... silahkan kalau mau mengunjungi persimpangan-persimpangan masa lalu...

 


Tag: pilihan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Tukang Nasgor 0 0
silahkan kalau mau mengunjungi persimpangan-persimpangan masa lalu...

contohnya kita ambil yang punya akun fb, dengan kondisi yang ditulis di atas, lalu pengandaian pertama hanyalah just for fun, bukankah ada pengandaian berikutnya yang mungkin jadi jalan menuju yang baru.. bisa buruk bisa juga sebaliknya

*saya cuma berandai-andai* : D
dirga 0 0
Menurut saya om...

Setiap persimpangan bukan hanya tentang pilihan. Tapi juga sudah merupakan sebuah pilihan yang telah melalui kajian hati dan pikiran. Sehingga ketika kita sudah memutuskan jalan di sebuah persimpangan itu. Maka pantang kita memikirkan kemungkinan dari pilihan yang lain dari persimpangan itu. Toh apapun pilihannya pada saat itu, pasti ada konsekuensinya.
Tukang Nasgor 0 0
tidak ada pilihan yang salah, yang salah adalah menyesali pilihan
Tukang Nasgor 0 0
btw saya suka picnya, jadi pengen kembali ke persimpangan.. ; ))

*nyetel crossroadnya bon jovi* : D
warm 0 0
ini semacam curcol, pak ? : D
l kakak syn l 1 suka | 0


crossroads..

seperti "livin' on a prayer" sebenernya, harus selalu "keep the faith" atas apa yang kita yakini, walau gak jarang kita beranggapan "someday I'll be saturday night", tapi "always" ingat resiko berpura2 adalah suatu hari kita bisa jadi "wanted dead or alive".

kadang kita bisa aja "lay your hand on me" dan dengan pengandaian2 yang penuh kepura puraan, tapi ujung2nya sebenarnya "you give love a bad name", kalo semua udah terjadi paling cuma bisa menyesali dan terbaring di "bed of roses"

mau jadi apa kita tergantung "in these arms", alter ego mungkin solusi sementara, tapi jangan sampe itu jadi "bad medecine" yang menyemukan batas realita dan maya hingga selalu merasa "I'll be there for you" .. terperosok "in a out of love" hingga gak bisa "runaway"

walau kadang hati ini sering merasa nyaman di dunia maya, tetep saja..."never say goodbye" kepada apa yang ada di dunia nyata, tempat kita sebenarnya ada...

ya...

crossroads memang album bon jopi paling oke menurut saya....
: D: D: D
chiil 0 0
setuju sama Tukang Nasgor

tidak ada pilihan yang salah, yang salah adalah menyesali pilihan

yang ada juga salah memilih.. tapi yang paling penting kan berani menanggung konsekuensi dari pilihan kita
dan udahlah.. ga usah sibuk berandai2 : )

terkadang kita harus melalui jalan yang salah sebelum akhirnya menemukan jalan yang benar : )



euh.. nyambung ga sih komen saya?: ((
clingakclinguk 0 0
sebaiknya mikirin persimpangan-persimpangan ini ndak cuma di kala lagi sedih, karena akan hanya membawa penyesalan, pikirkanlah di kala senang juga, dan kita pun akan mensyukuri karena telah melalui semua persimpangan itu hingga sampai pada titik bahagia ini : )

dan perjalanan masih panjang, bung, bisa jadi titik ini juga hanya persimpangan, siapkan fisik dan mental untuk melanjutkan perjalanan yang tak terduga : )
deyya kurniawan 0 0
om...kadang2 berandai2 adalah salah satu manifestasi dari ketidakmampuan kita untuk merubah kenyataan...tsaaaaahhh...
Laila MAJNUN 0 0
beranda-andai sama nggak ya dengan menghayal?
deyya kurniawan 0 0
Laila MAJNUN: tergantung isi khayalannya mba...
deepblue 0 0
setiap pilihan memiliki konsekuensinya masing2, dan ketika kita telah membuat suatu pilihan, maka konsekuensinya juga harus kita terima satu paket : )
Ayah Air 0 0
Thanks temans untuk komen-nya. Itu semua membuat saya memasuki alam tidur saya lebih dalam,hehehe. Maksudnya bikin saya merenung lebih dalam...

Saya jd mikir,kalo di tiap persimpangan kita harus mulai milih, bisa jg gak ya kita memilih persimpangan mana yang mau kita lewati? Pernahkah kita menghindari satu atau lebih situasi pilihan?






queeny o corner 0 0
katanya kalo udah milih ndak boleh nyesel

kalo mau putar arah boleh

yg gak boleh itu

nyesel

teteup

; ))

Silahkan login untuk memberikan pendapat