hakikat perjalanan 5

Minggu, 11 Jul '10 19:19

Perjalanan adalah keputusan yang ku pilih saat kemelut yang membuat jiwa kadang meradang. Kata orang kehidupan manusia itu telah diatur, bahagia dan sedih, senang dan sengsara, baik dan jahat, adalah jodoh takdir kehidupan yang tidak dapat dihapuskan, seperti adanya siang dan malam, atau laki-laki dan perempuan. Tak ada istilah kebaikan tanpa ada kejahatan, bahkan aku pernah membaca judul buku yang mendadak lupa siapa pengarangnya “Setan yang Berjasa” Ironis, tapi begitulah, Dunia ini tak akan di huni oleh manusia tanpa adalah Setan yang membuat Adam salah melangkah.

 

Terlepas kalian setuju atau tidak, aku sendiri kadang kala kurang setuju, manusia itu seperti wayang (minjam istilah dalam addurunnafis) bergerak sesuai dengan keinginan dalang, dan dalang kehidupan adalah yang Maha Menciptakan, dan kini mungkin sedang menjeling mengawasiku menliskan ini.

 

Kembali pada hakikat perjalanan (aku bahkan hampir lupa bahwa judul tulisan ini tentang perjalanan), Imam Syafi’i pernah berkata “Orang berilmu dan beradab tak akan diam di kampung halaman. tinggalkan negerimu dan merantaulah, kau akan dapat pengganti dari kerabat dan kawan. berlelah-lelahlah,manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa. anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran. bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang. By. Imam Syafi'I” setelah sekian lama aku terpekur untuk meresapi makna ucapannya beberapa ratus tahun yang lalu, ternyata hanya perjalananlah yang bisa memberikan arti dari perjalanan itu sendiri.

 

Tahun lalu aku nekat pergi ke tanah Jawa, tempat kelahiranku yang tidak pernah ku temui hampir 21 tahun yang lalu, dengan keuangan yang pas-pasan, aku nekat pergi sendiri dengan kapal Mabuhai Pontianak Jakarta, dua hari dua malam di dalam kapal membuat isi perutku seakan keluar dengan usus-ususnya, mabok laut.. begitulah orang menyebutnya, tapi tetap menyenangkan bagiku, apa lagi saat berada di tengah-tenah laut tak bertepi, aku jadi membayangkan Kapal yang ku tumpangi adalah kapal Tetanik, tenggelam di tengah laut, dan mati tenggelam, ada rasa ngeri.. tapi itu adalah bagian dari resiko kehidupan.

 

Yah… gak cukup waktu, kayanya nyambung aja deh…

 


Tag: jalan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

deepblue 0 0
wah bikin mini seri ya om : D
deepblue 0 0
yes pertamax...
gulajawa 0 0
wew..ditunggu kelanjutannya ya..: )

anak kecil 0 0
waw...jd pengen naik titanic...tp dah gak mungkin : ((
number-23 0 0
argggggg......jagoannya gmn nih nantinya? hehheh

Silahkan login untuk memberikan pendapat