Semacam Self Note 5
Senin, 15 Mar '10 22:58
Matahari mengintip malu-malu. Rumput hijau yang ujungnya dibahasi embun. Pohon-pohon menjulang tinggi yang hijaunya menyegarkan mata pemandangnya. Langit biru tempat burung-burung terbang, dan awan membentuk lukisan indah di hamparan birunya. Bunga-bunga mekar yang dihinggapi kupu-kupu aneka warna. Jabatan tangan teman-teman disertai sapaan selamat pagi sebagai semangat memulai hari. Manusia-manusia mulai bertebaran di hamparan bumi Tuhan, bekerja tanda syukur pada Tuhannya.
Bukankah pagi ini begitu indah?
Matahari berpendar terang di tengah langit yang dipenuhi asap deru kendaraan. Memacu semangat mereka yang berjuang menggali rejeki di tengah laju manusia yang berlomba-lomba mencari jatahnya di bumi hamparan Tuhan. Sepiring makanan yang mengisi kembali tenaga dan peluh yang terkuras seharian. Obrolan ringan antar teman yang menghapus sedikit penat di setengah hari yang terlewati.
Bukankah siang ini begitu penuh berkah?
Matahari mulai bersembunyi malu-malu. Membuat langit bersemburat jingga. Pelukan selamat datang dan teriakan kerinduan bocah yang menyambut orang tuanya yang seharian pergi demi menafkahinya. Senyuman hangat para istri yang menyambut suami mereka yang datang dengan peluh di dahi. Aroma secangkir kopi yang terhidang di meja untuk teman bercerita keluh kesah hari yang melelahkan. Elusan menguatkan di punggung yang membuat semua seolah tak lagi menjadi masalah.
Bukankah sore ini begitu hangat?
Bulan hadir menggantikan matahari. Ditemani hamparan bintang-bintang menghiasi gelap langit. Tawa dan candaan hangat keluarga di tengah meja makan. Bocah-bocah tertidur di pelukan hangat para ibu. Wajah-wajah kelelahan tersenyum dalam tidur lelapnya. Bahkan di sepertiga malam Tuhan sengaja turun untuk menyambut mereka yang bermunajat padanya dengan sungguh-sungguh.
Bukankah malam menutup hari dengan begitu sempurna?
***
Pagi yang indah, siang yang penuh berkah, sore yang hangat, malam yang menutup hari dengan sempurna. Betapa sesungguhnya terlalu banyak hal yang seharusnya membuat kita mengucap syukur sepanjang waktu. Betapa sesungguhnya begitu sulitnya kita mencari alasan untuk mengeluh.
Tapi bukankah kodrat manusia yang cenderung lebih senang menyulitkan dirinya sendiri? Bukankah kita lebih senang mencari celah untuk mengeluhkan yang tak kita punya daripada mensyukuri apa yang ada di depan mata?
Maka jika saat ini kau masih mengeluh, cobalah kau lihat sekelilingmu sekali lagi. Masih kurangkah nikmat Tuhan yang dihamparkan-Nya untuk kau syukuri?
Ps: ditulis dalam rangka mengingatkan diri sendiri untuk lebih bersyukur :)
Tag: bersyukur
Terkait:
-
Bahagia Itu Sederhana
Kamis, 24 Jun '10 09:37 -
What A Life :)
Selasa, 22 Jun '10 22:36 -
(lagi-lagi) Ga Ada Judul
Selasa, 22 Jun '10 09:09
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
tiieee: Megang banget
-
Titiw : Inspiratif
-
NuigeL: Megang banget
-
Dreamer: Inspiratif
-
Nyonya Kusut: Inspiratif
-
unguholic: Inspiratif
-
dpooh: Inspiratif
-
sugiman partodikromo: Inspiratif


Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat