Insya Alloh...ini yang Terbaik buat Semuanya... (bagian 1) 5

Jumat, 26 Feb '10 12:33


Sabtu, 30 Januari 2010... Siang Hari

Hari Sabtu itu entah kenapa pikiran dan hatiku rasanya tak karuan tak menentu. Hari Sabtu itu sepulang aku bekerja, mama yang biasanya hampir tidak pernah menyuruhku, anaknya untuk menjenguk papa di Rumah Sakit tempat papa opname selama sepuluih hari berjalan ini, tiba - tiba mengirim pesan singkat di handphoneku.

"Vier... tolong kalau waktumu longgar sempatkanlah tengok papa di Rumah Sakit, barang sebentar, kalau tak bisa menginap, jenguklah sebentar, papa nyariin kamu terus dari tadi, katanya kangen pengen ketemu kamu...". "Dimas dan Bintang (nama dua adik laki - lakiku) juga sudah mama SMS supaya menengok papa hari ini juga".

Begitulah isi pesan singkat mama siang itu. Aku terhenyak, ada apa ini...?? Kenapa mama tiba - tiba meminta aku untuk datang ke Rumah Sakit?? Padahal kemarin - kemarin aku sudah cukup 'rajin' alias sering menengok papa, walau hanya sebentar, menanyakan kabar, ngobrol sebentar, lalu pamit pulang sehabis Sholat Magrib.

Entah... rasanya hari itu lain... aku yang biasanya hampir tak pernah malas makan, hari itu, rasanya berat sekali memenuhi panggilan jiwa untuk makan.

Entah... ada rasa berat sekali... yang aku tak tahu kenapa... makanan manis bernama arumanis yang terkadang kujadikan camilan ringan saat bekerja, siang itu serasa tak ingin kusentuh. Aku yang biasanya selalu antusias dengan lahap menghabiskan arumanis sampai kujilat - jilat lapisan plastik di dalamnya, sampai rasa manisnya hilang habis kukecap, rasanya Sabtu itu, aku sama sekali tak bernafsu menyentuhnya, apalagi memakannya. Rasanya hambar, dan semua rasa tak tentu lainnya.

Apalagi Sabtu itu aku bersama kekasihku memang sudah merencanakan acara Sabtu malam itu kita akan makan Bakmi Jawa ditemani teh manis panas, lalu duduk - duduk mengobrol di rumahku, batal sudah rencana itu. Mungkin aku sedikit kecewa karena rencana Sabtu malam bersama nanti akan gagal, tapi... aku merasa bukan cuma itu yang membuat hati dan pikiranku galau, resah, gelisah....

........................................................................................................................

Setelah aku menunaikan kewajiban Sholat Dhuhur, lalu berdiam diri, merenung lama, tiba - tiba musik dari soundtrack film Avatar yang mengalun lembut di handphone mengusik ketenanganku, menyadarkanku bahwa tak terasa sudah satu jam aku duduk sendiri di masjid dalam perjalanan menuju Rumah Sakit. Kubaca layar handphoneku... tampak sebuah nama... budhe Mien... kakak perempuan mama yang tinggal di Temanggung, aku tekan tombol hijau di handphoneku...

"Vier... kamu di mana?? Cepatlah ke Rumah Sakit... Budhe sudah di Rumah Sakit, tadi mamamu menelepon Budhe sambil nangis - nangis, makanya Budhe langsung dari Temanggung ke sini sendiri.... Bintang sama Dimas juga sudah aku telepon supaya segera ke Rumah Sakit...".

Aku hanya mengiyakan saja perkataan Budhe dengan membawa hati, pikiran dan perasaan galau kacau tak menentu.

Lalu aku bergegas berjalan secepat yang aku bisa menuju halte Trans Jogja di depan Kopma UGM. Lalu berhenti di halte SLTP N 5 Yogyakarta. Sebelum menginjakkan kaki di halaman Rumah Sakit, perutku 'meronta - ronta' minta diisi. Aku teringat warung mie ayam dekat Rumah Sakit. Kali ini aku menepiskan rasa hatiku yang sebenarnya tak mood makan demi memenuhi kebutuhan dasar manusia ini, karena feelingku mengatakan biasanya dalam keadaan genting seperti saat ini, mama ataupun anggota keluarga yang lain akan mengesampingkan urusan makan, kalau aku tidak makan siang ini, aku bakalan kelaparan sampai nanti malam dan aku tidak mau menambahi beban pikiran dengan tidak menuruti lambungku.

Selesai makan cukup kenyang, setengah berlari aku menginjakkan kaki menuju halaman Rumah Sakit, lalu mencari kamar inap papa di Ruang Perwira nomor sepuluh, kamar paling ujung dekat Kamar Mandi. Kulihat mama dengan wajah tak menentu, adikku yang paling kecil, Dimas sudah sampai lebih dahulu di Rumah Sakit. Tak lama kemudian Bintang, adikku yang ke dua sampai di Rumah Sakit diiringi Bulik Wanah, adik bungsu papa yang bekerja di Nganjuk dan kebetulan hari itu hari Sabtu jadi pas hari Bulikku selalu pulang ke Ngawi, berangkat dari Ngawi ditemani Rohman, sepupuku, anak bungsu Pakdeku di Ngawi. Lalu, Budhe Mien muncul katanya sehabis membeli kompres perut untuk papa.

Aku menyalami papa, mencium kening dan tangan papa yang lemah dan semakin kurus saja, memijit kaki - kakinya yang kurus dan ringkih, mengolesinya dengan minyak gosok tawon, lalu aku berbicara kepadanya, aku meminta maaf kepada papa, papa juga meminta maaf kepadaku, beliau mengucapkan itu dengan jelas walau terbata - bata. Sakit kanker nasofaring yang diderita sejak dua tahun yang lalu itu telah menggerogoti papa, dampak kemoterapi, radiasi, dan pengobatan intensif lainnya entah itu herbal atau kimiawi, ‘sukses' membuat kondisi badan papa semakin lemah. Walaupun dokter telah memberitahukan kabar baik bahwa kanker nasofaring papa sudah semakin mengecil, namun dampak macam - macam pengobatan tersebut, yang dialami papa tak sebanding dengan berita baik itu. Tenggorokan kering, lidah mati rasa, susah menelan makanan, sering terkena sariawan, selalu muntah - muntah, perut keras dan terasa penuh, bahkan ‘kemajuan' yang diceritakan dokter, lambung papa sudah tak bisa berfungsi normal. Oleh karena itu papa hanya mampu makan sedikit sekali, mungkin hanya satu atau dua sendok makan setiap kali makan pagi, siang dan sore, minum sedikit dan selalu dimuntahkan lagi. Jadi nutrisi yang masuk ke tubuh papa otomatis hanya mengandalkan cairan dari selang infus. Sungguh miris sekali. Aku tak tega setiap kali melihat papa kesakitan sejak opname papa yang terakhir ini. Sabtu itu sepertinya merupakan puncaknya kondisi kritis papa.

Sabtu, 30 Januari 2010... Malam Hari

Selesai Sholat Isya, kira - kira jam delapan malam, mama memanggil aku dan dua adikku untuk berbicara berempat di teras Rumah Sakit. Entah apa yang akan dibicarakan mama, sepertinya serius dan tidak main - main. Benar saja, sambil menahan tangis agar tidak tumpah meruah, mama menceritakan dengan nada suara yang berat bahwa dokter sudah menyerah, pasrah, terhadap kondisi papa yang semakin menurun. Semua pengobatan sudah dijalani, obat - obat yang diberikan pun juga obat yang terbaik, semua yang dilakukan sudah maksimal, hanya Tuhan yang berhak menentukan panjang pendeknya hidup manusia. Dokter juga sudah meminta keluarga untuk pasrah dan menyerahkan semua kepada Yang Maha Kuasa sembari terus berdoa agar diberikan jalan keluar yang terbaik dari semua ini.

Deg... deg... deg... plash... hatiku hancur... pecah... aku menangis dalam hati, aku tak mau menampakkan air mataku di depan dua adikku, walau hatiku pilu sekali.... seperti dihantam badai sebesar tsunami....

Aku hanya mampu menenangkan hati Dimas, adikku yang paling kecil agar tabah dan siap menerima apa pun keputusan Tuhan, sambil mengingatkan dia untuk selalu berdoa agar ditunjukkan jalan keluar yang terbaik menurut Alloh. Dimas yang masih kelas satu SMA itu pun tak kuasa menahan air matanya. Sedangkan aku, aku berusaha tabah menahan air mataku, menggigit bibirku agar tak ikut menangis di depannya. Pedih... aku hanya bisa berdoa dan menuntun papa agar dalam kondisi kritisnya papa masih selalu mengingatNya.

Sabtu malam itu pun aku, dua adikku, Bulik Wanah, dan Rohman menginap di Rumah Sakit. Budhe Mien pulang ke Temanggung, hendak mengabari Pakde Djat tentang kondisi papa saat itu, lalu akan kembali lagi ke Rumah Sakit esok Minggunya. Walau aku sudah tahu kondisi papa, tapi hatiku masih galau, risau, entah mengapa....

 


Tag: sakit, sedih

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Komentar:

chiil 0 0
: (
jadi ingat sama budhe saya yang koma selama 2 bulan
*peluk2 mbak bella_purple*
: )
warm 0 0
smoga tabah ya : |
madhatter 0 0
peluk peluk bella_purple
sabishigaru 0 0
tetap tabah ya sayang : )
sugiman partodikromo 0 0
Tetap tabah dan kuat ya...: )

Silahkan login untuk memberikan pendapat