Bukan Kata Maaf, Tapi Senyummu Yang Ku Pinta Bunda 15
Senin, 15 Feb '10 01:02
Mungkin ini pertama kali saya menulis sekelumit kisah perjalanan hidup saya yang bisa dikatakan "sedih", melow. Tak apalah, sesekali berbagi tentang sisi lain dari sosok seorang Zulhaq Sinting. Bukankah di dunia ini Tuhan menciptakan beragam hal secara berpasangan, termasuk suka dan duka? Terdengar aneh memang. Tapi itulah kenyataannya. Berhubung masih ada suasana valentine, sekalian aja. Tulisan ini saya persembahkan buat bunda saya, dan orang-orang yang mengalami kisah serupa, yaitu single parent.
Yah, walaupun saya gak merayakan valentine. Namun saya pengen merasakan suasana itu, selayaknya kebanyakan orang. Memang sih, cinta dan kasih sayang tak sebatas pada hari valentine. Lebih dari itu. Cinta dan kasih sayang meliputi segala ruang dan waktu. Melibatkan segala keadaan lahir dan bathin.
Kurang lebih 20 tahun yang lalu, saya dan kedua saudara saya (1 kakak, 1 adik) harus dihadapkan pada kondisi yang sangat berat. 3 bersaudara yang notabene cowok semua itu, tak punya pilihan lagi selain menerima dan menghadapi keadaan yang pahit.
Saat itu, kedua orang tua saya memustuskan untuk pisah atau bercerai. Semenjak saat itu, kami harus belajar mandiri. Sementara umur saya baru menginjak 6 tahun. Sedangkan Kakak saya berumur 8 tahun. Yang paling memprihatinkan adalah adik saya. Dia masih menyusui. Umurnya belum genap 1 tahun. Masih membutuhkan kasih sayang dari orang tua yang komplit. Namun, keadaan berkata lain. Miris memang.
Adik dan kakak saya dibawa oleh bapak. Padahal adik saya masih harus merasakan nikmatnya air susu ibu. Keegoisan orang tua menjauhkannya dari hal itu. Saya ngotot, untuk ikut dengan Bunda. Terlalu perih kalo harus membiarkan bunda seorang diri. Saya sadar, saya gak bisa berbuat apa-apa untuk bunda. Saya gak akan bisa membantunya saat itu. Tapi saya yakin, dengan cita-cita saya untuk membahagiakan sang bunda kelak nanti.
Umur segitu, masih gak begitu paham dengan warna-warni kehidupan. Warna warni yang terkadang terlalu buram untuk ditangkap oleh mata. Akan tetapi, Keributan, pertengkaran yang terjadi sebelum proses akhir yakni perceraian yang saat itu menjadi santapan hari hari, mengajarkan saya akan bentuk kehilangan, wujud keterpurukan, pentingnya kebahagiaan, perlunya kasih sayang. Dunia bak neraka. Penuh dengan bising pertikaian, panas pertengkaran, bara ego.
Selang berapa lama setelah perceraian. Ungkapan haru sang bunda dalam peluk tangisnya. Ungkapan yang memaksa saya untuk meneteskan airmata pengiring tetesan serta luapan air mata sang bunda.
"Maafkan bunda nak. Maafkan bunda yang tak bisa mempertahankan kebahagiaan. Maafkan bunda yang harus memisahkan kalian dengan kehangatan keluarga. Maafkan bunda yang menjauhkan kalian dari kasih sayang. Bunda rindu si kecil. Bunda kangen abangmu. Bunda rindu kelengkapan kalian"
Saya hanya bisa mengikuti tangisan bunda. Saya belum mampu merespon ungkapan itu. Masih terlalu kecil untuk memaknainya.
Seiring berjalannya waktu yang terus mengajarkan saya tentang ketegaran menghadapi keadaan itu, didikan serta pengertian yang senantiasa diberikan oleh sang bunda, saya akhirnya memaklumi kenapa perceraian itu harus terjadi. Hingga pada satu ketika, dimana saya dan bunda berbagi cerita lagi tentang masa-masa awal perceraian. Yang sukses, mencucurkan airmata lagi. Momen yang mengulang kembali ungkapan maaf dari bunda. Dan saya pun akhirnya memberikan ungkapan balik pada bunda.
"Bunda tak perlu minta maaf. Apalagi merasa bersalah dengan keadaan ini. Aku hanya ingin melihat bunda tersenyum. Bukankah bunda mengajarkanku ketegaran? Rasa syukur? Bukankah bunda yang bilang, perpisahan adalah satu-satunya jalan yang terbaik"
Waktu terus berganti. Semakin lama semakin bisa saya memakluminya. Yah, kalo memang perpisahan adalah satu-satunya jalan yang terbaik. Yaudah, keputusan itu harus diambil. Daripada dipaksa untuk mempertahankannya, dengan pertengkaran yang tak pernah berujung. Dengan ketidakcocokan atas ego diri yang tak pernah usai. Apakah penderitaan dari ketidakhangatan rumah tangga harus dijalani sepanjang perjalanan hidup? Hidup itu pilihan. Semua sisi kehidupan memiliki kekurangan dan kelebihan. Hanya sikap positif dan rasa syukur yang mampu menyempurnakannya.
Saya gak menyesali menjalani keadaan tersebut. Karena saya yakin, Tuhan punya skenario untuk saya beserta keluarga. Dibalik keterpurukan, pasti ada hikmah yang tersirat. Dan dari keterpurukan jualah, terbentuknya sosok diri yang jauh lebih kuat dalam menghadapi kerasnya proses hidup. Dan mungkin, kalo bukan karena keadaan itu, saya gak akan pernah menjadi sosok yang seperti saat ini. Mungkin saya akan menjadi anak manja, brutal, tak punya rasa syukur, tak menghargai cinta dan kasih sayang, yang bahkan selalu menyusahkan orang tua.
Buat siapapun yang memiliki kisah serupa, tak usah menyalahakan diri, tak perlu menyalahkan keadaan. Hadapilah dengan senyuman. Mungkin bagi seorang ibu ataupun bapak, merasa dipersalah oleh anak-anaknya seperti yang pernah dialami oleh bunda saya. Buktinya, saya gak menyalahkan beliau. Saya menyayangi belaiau dengan sepenuh hati. Apapun kondisinya, siapapin beliau, bagaimanapun masa lalunya, mereka tetaplah orang tau saya yang mengantarkan saya pada dunia ini.
Yang paling penting adalah, bagaimana memberikan penjelasan serta pemahaman terhadap anak itu sendiri. Memberikan mereka pemahaman tentang pilihan. Pilihan akan jalan yang terbaik dari sebuah rumah tangga yang mengalami sedikit banyak masalah. Dan kalo perceraian adalah jalannya, berikan pemahaman tersebut hingga anak-anaknya mengerti dengan sepenuhnya.
Buat adik dan kakak saya, kalian tak perlu menatap terpaku pada masa lalu. Kita harus yakin, bahwa masih terlampau banyak kebahagiaan dan masa depan yang lebih baik yang akan kita nikmati. Tetaplah tersenyum walau dalam kesederhanaan.
Buat papa, semoga bahagia dengan pilihan hidup yang papa pilih dan putuskan. Jangan pernah menyesali apa yang telah lalu. Nasi telah menjadi bubur. Apa mau dikata, bubur tak akan pernah menjadi nasi kembali.
Buat sang bunda yang telah saya tinggal jauh dari rantauan semenjak hampir 11 tahun yang lalu, tetaplah menjadi sosok wanita yang tegar, bijak, kuat dibalik senyum tulusmu menghapi kehidupan yang teramat pahit. Jagoan-jagoanmu teramat sayang ma bunda. Melebihi apa yang kami miliki. Takkan pernah cukup segala kata untuk mengungkapkannya. Sayang kami sama bunda tak pernah terbatas oleh ruang dan waktu serta keadaan. Mohon do'a restumu agar supaya anak-anakmu ini menjadi "orang" yang bisa bunda banggakan. Yang bisa memberikan kebahagiaan hingga kelak.
Ah, ternyata saya terlalu lemah untuk menuliskan kisah ini. Rasa haru, tetap meneteskan butiran airmata. Bukan karena sedih sebenarnya. Tapi saya rindu sama bunda yang jauh disana. Love u mom :)
Di Tulis Oleh
Zulhaq
PS: Gambar dari sini
Tag: keluarga, perceraian, single parent, bunda, kisah, perjalanan hidup
Terkait:
-
Resensi buku Indahnya Jadi Ibu www.myvamily.com
Rabu, 9 Mei '12 18:28 -
Ibu, Kalian .. kita saling memiliki
Minggu, 29 Mei '11 03:38 -
BALADA 3 SAUDARA
Senin, 1 Mar '10 15:52
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
enriqueza: Inspiratif
-
sabishigaru: Inspiratif
-
Sudonim: Inspiratif
-
sugiman partodikromo: Inspiratif
-
miayam: Inspiratif
-
warm: Nggemesin
-
nivita: Inspiratif
-
kwacii: Inspiratif
-
NuigeL Mama Macan: Megang banget
-
fayyyyy: Megang banget
-
tomomi: Inspiratif
-
Siu thok: Megang banget
-
dwarf: Inspiratif
-
Zhafira: Megang banget
-
Silly: Inspiratif
-
sweetdonath: Megang banget
-
rinibee: Inspiratif
-
Gemintang: Megang banget
-
putrimeneng: Megang banget
-
dd hidayanti: Inspiratif

Komentar:
Saya suka sekali kutipan ini :
Semua sisi kehidupan memiliki kekurangan dan kelebihan. Hanya sikap positif dan rasa syukur yang mampu menyempurnakannya.
Air mata saya juga menetes membacanya ....
* menjura
Silahkan login untuk memberikan pendapat