Super Mom!!! (untuk wanita) 23

Selasa, 9 Feb '10 11:08

FAKTA : 80% wanita mengatakan, pengutamaan paling penting (baca: prioritas) bagi mereka adalah keluarga mereka. Oleh karena itu : JIKA SEORANG WANITA TIDAK BERBAHAGIA dalam hubungan dengan keluarganya, dalam hal ini sebagai istri dan ibu rumah tangga, dia tidak akan dapat berkonsentrasi pada pekerjaannya.

Berawal dari tulisan nafamaytha, yang menceritakan tentang kakak perempuannya, yang lulusan S2 dan berambisi menjadi wanita karier, tapi akhirnya malah memilih untuk hidup di rumah dan mengurus anak.
Sebagai seorang wanita yang belum menikah, hal ini memang terlihat aneh dan tidak masuk akal. 'Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya hanya di rumah, merawat suami dan mengurus anak?' Begitu kata teman saya di status facebooknya. Saya kasih komentar, "ya biar lebih pintar dan cerdas dalam urusan rumah tangga, daripada ibu-ibu lain yang hanya lulus SMA. Jadi lebih bijak dalam memberi pendidikan buat si kecil dan bisa ngasih masukan buat masalah suami di tempat kerja. Tetap berguna kok sekolah tinggi-tinggi, kan bisa digunakan untuk berbagai macam aplikasi dan situasi".

Buat beberapa wanita yang sekolah sampai perguruan tinggi, saat mereka menyadari hal ini, mereka akhirnya memilih untuk menunda pernikahan. Mereka memilih untuk lebih mengejar karir daripada menikah dan mempunyai anak. Gairah ingin menikah, yang saya percaya ada di dalam diri setiap wanita, sudah tidak dipedulikannya. Tapi, karena itu sebenarnya adalah kodrat wanita, yang berusaha diingkarinya, hasilnya adalah sikap yang "menyimpang" yang sering disalah artikan oleh orang-orang di sekitarnya. Banyak kan contohnya?

Boss wanita sering dijuluki "mak lampir" atau "nenek sihir". Karena hidup single dan gak happy, tapi selalu meyakinkan dirinya baik-baik saja walaupun tanpa pria di sisinya, dia kemudian beranomali terhadap lingkungan di sekitarnya. Mencoba mengingkari diri saat melihat anak buahnya, yang juga seorang wanita, diantar-jemput ke kantor oleh pacarnya, dibawain hadiah ulang tahun ke kantor oleh suaminya, dipeluk anak-anaknya sehabis bekerja, juga bisa menghabiskan waktu makan siang dengan menelpon kekasihnya. Wanita "super" ini akhirnya tidak jarang bersikap over reakting, misal, menegur karyawannya yang sedang menelpon klien tapi dikira nelpon pacar, atau tidak memaklumi karyawan yang ijin karena anak atau suaminya sakit. Hingga akhirnya, boss wanita ini malah tidak disukai oleh anak buahnya, dan selalu digunjing sebagai perawan tua dan lain sebagainya.
Tapi, adakah yang mengerti isi hatinya, saat ia sendirian di ruangannya, menangis, setelah memarahi karyawannya yang terlambat masuk kerja karena mengantar sekolah anaknya, mencoba memahami situasi yang dihadapi anak buahnya tadi. Atau saat hatinya menjadi iri, saat dia diam-diam mengintip dari jendela kantornya, melihat anak buahnya dijemput suaminya sepulang bekerja. Wanita seperti ini yang harusnya dikasihani, karena ia tidak bisa membawa diri dalam situasi yang tidak pernah dia mengerti, keadaan yang tidak pernah dia rasakan.
Apakah wanita seperti ini tidak pernah merasakan cinta dari pria? Saya kira tidak. Saat dia menjadi orang "biasa", saya yakin wanita itu pernah dicintai. Tapi karena dia selalu mengingkari diri, tetap mengejar mimpi menjadi wanita karir, dan dia tahu, kalau pernikahan bisa menghambat laju jalannya, dia akhirnya memilih tidak menikah. Dan disaat dia mulai menyadari hal ini, pria yang dulu mencintainya sudah meninggalkannya bersama wanita lain yang sudah dinikahinya. Berharap akan cinta pada lelaki "biasa", rasa gengsi sebagai atasan biasanya dipakainya. Juga apakah ada pria yang mau mencinta wanita yang dirasa di luar "jangkauan"nya? Karena wanita itu adalah atasannya.

Sebagai wanita memang tidak salah kalau memilih menunda menikah. Tapi, kodrat wanita sebagai istri dan ibu rumah tangga, juga tidak bisa diingkari. Pintar-pintar lah dalam bersikap, seperti cerita kakaknya nafamaytha yang tetap menjadi ibu rumah tangga tapi tetap bekerja dengan cara yang berbeda.

Kakak saya seorang dokter umum, pintar karena lulusan cum laude dari perguruan tingginya. Awalnya dia bercita-cita ingin melanjutkan studi S2nya. Tapi saat anaknya lahir, si Billy yang jadi avatar saya, ambisi kakak saya langsung hilang untuk melanjutkan sekolahnya. Meskipun masih ada niat, tapi saya kira hasrat ke'ibu'annya lebih banyak berbicara. Sekolah bisa nanti, tapi meninggalkan anak bayi seorang diri, bisa jadi itu adalah kesalahan seumur hidup yang kesempatannya gak bisa terulang kembali. Saya juga pernah mendengar cerita, tentang seorang wanita, yang memilih berhenti dari pekerjaannya, karena anaknya sudah dua. "Mencari pekerjaan lagi itu gampang, walaupun terkadang susah. Tapi kehilangan momen saat anak beranjak besar, itu gak mudah. Biarpun menyesal, toh momen itu gak akan terulang. Jadi ya saya menikmati saja peran saya sekarang, sebagai super mom. Suami juga mendukung. Dengan begini saya juga merasa menjadi wanita seutuhnya." kira-kira begitu katanya pada temannya.

Tuhan sudah menciptakan masing-masing individu untuk menjalani perannya di dunia. Walaupun semua tak sama, tapi saat perasaan nyaman dan bahagia yang dirasa, apalagi yang bisa diucapkan selain : saya bahagia menjalankan peran saya sebagai ibu rumah tangga. Mungkin beberapa wanita masih belum mengerti soal ini, tapi tunggulah pada saatnya nanti. Sebuah kodrat memang tidak bisa dipungkiri. Kalau diingkari, bisa jadi malah membuat diri berano(r)mali.

*) tulisan ini didedikasikan untuk kakak saya, dan semua super mom di seluruh dunia.

 


Tag: wanita, menikah, komitmen

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

warm 0 0
bahasan yg panjang lebar
tapi ya bener kau, supermom is superhuman : )

oh itu namanya Billy toh ? : D
Victor 0 0
warm: iya, namanya Billy David Punanggar. Lucu ya? Kata orang sih mirip saya : D
pu3ku 0 0
jujur,,sampai saat ini saya takut akan tanggung jawab suami,,
saya marah apabila saya harus minta padahal saya sudah mengatakan bagaimana keadaan saya sekarang,,
Apa perempuan harus minta padahal jelas dia sudah bilang apa yang dibutuhkan nya?
Capella 0 0
ibu rumah tangga adalah peran yang sangat luar biasa....

dan katanya...seseorang akan cepat sekali berubah ketika telah menikah ; ))
pu3ku 0 0
Capella: ciee,,kamu tuh,,

: )) : ))

jadi pgen cepet2 nikah,,
tapi sama siapa,, : (( : ((
sweetdonath 0 0
cita2 saya pengen jadi ibu rumah tangga.. : )

engga pengen 'kehilangan momen saat anak beranjak besar'..

*hihi nikah aja blum, udah ngomongin anak* : D
Victor 0 0
pu3ku: menurutku, sebagai pria, istri meminta itu wajar. Asal ada pertanggung jawabannya ; )

Capella: yup, menikah itu memang mengubah segalanya. Makanya disebut "selamat menempuh hidup baru" ; )

sweetdonath: hehe, wajar lagi sebagai seorang wanita bermimpi menimang anak... teman saya udah banyak yang mulai seperti kamu ; ))
Capella 0 0
pu3ku: ko sama siapa...sama si ntu tuh ; ))

ehm ehm : D

*perlu saya sebut nama disini : )): )): ))*
NuigeL 0 0
Saya ingin sekali jadi ibu....

*jadi sedih* : (
synyster 0 0
NuigeL:

mama.... minta balon : ((
Capella 0 0
peluk peluk NuigeL: : )

synyster 0 0
hmm jadi ingin juga mendedikasikan tulisan ini: D
pu3ku 0 0
Capella: ah kamu,,saya baru liat komen mu,,
ga usa d sebut dlu,,saya sedang libur menyebut namanya,, : )) : ))
pu3ku 0 0
Capella: ah kamu,,saya baru liat komen mu,,
ga usa d sebut dlu,,saya sedang libur menyebut namanya,, : )) : ))
pu3ku 0 0
Victor: ttep koq saya ga suka kata2 "minta",
kan saya udah bilang lagi butuh "ini" atau "itu"

: (( : ((
Victor 0 0
pu3ku: ya silahkan didiskusikan sama calon suaminya gimana baiknya : )
pu3ku 0 0
Victor: kamu bijak sekali,, : D
queeny o corner 0 0
ahhhh saya gak kebratan sampe gelar Phd lalu ngurus anak dirumah

gak ada yang salah dengan berPendidikan tinggi and stay at home

setujuh sama kau Victor

: )
dewira 0 0
Victor: sebelumnya saya ralat panggilan Lae hehehe..pan saya cewe ya? kok panggil lae. Kalo ito gimana (ah ketauan deh batak gadungannya)

DUlu saat masih muda dan baru kerja. Semangat belajar saya begitu menyala2. Saya punya mimpi satu saat akan mendapat S2 dari pemerintah. Keinginan saya itu benar 2 saya usahakan dengan sungguh2. Dan saat saya memikirkan pernikahan saya jadi takut kalo menikah cepat akan memupuskan cita2.

Akhirnya sampai saya menikah cita2 saya itu masih sebatas mimpi,, malah sangat jauh dari target.

Setelah menikah walau belum punya anak orientasi saya benar2 berubah. keinginan saya mengurus rumah tangga dengan baik mengalahkan keinginan saya untuk sekolah lagi.

Bahkan saya sengaja tidak melanjutkan ext ke S1 spt tmn2 seangkatan saya, ingin sih tapi rasanya kok ga penting lagi yah : )

Bahkan saya punya target 10 tahun ke depan saya ingin punya karir lain yang tidak mwngharuskan ke luar rumah. Obsesi saya sekarang malah pengen jadi ibu RT full time. Tapi untuk saat ini sikon belum memungkinkan : )

Bagi saya tugas seorag ibu itu sangat mulia, di tangannya lah masa depan penerus bangsa..

yahh.. panjang bgt yah?
thethreeofus 0 0
hu um setujuuu banget


pengen banget nunjukin artikel ini ke mama : ((
guitarman 0 0
*inget ibu* : ((

Wanita karir sekaligus ibu yg cekatan.
Victor 0 0
pu3ku: bijak? hehe, kok bisa? makasih : )

queeny o corner: ya bukankah memang gitu ya kodrat wanita? ; )

dewira: "ito" ya? "Vic" aja deh. Biarpun saya orang batak, gak ngerti juga hal-hal macam itu.
Betul... jika semua wanita di Indonesia ini bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya, negara ini gak akan menjadi seperti ini.

thethreeofus & guitarman: makasih udah baca tulisan saya : )
Saya malah ingetnya kakak saya saat saya menulis ini, makanya saya pasang fotonya sama si Billy, avatar saya ; ))
desty 0 0
saya juga punya kakak sepupu yang berpikiran sama dengan kakaknya mas Victor.

hasilnya anak2nya cerdas, kreatif karena didikan ibunya

Silahkan login untuk memberikan pendapat