Ilalang 3
Rabu, 9 Des '09 19:47
Hari ini rumput ilalang tanah ini sudah tinggi lagi. Coklat terbakar seperti enggan menempuh hidup. Tiap tahun aku pulang, rasanya padang ini tak pernah menyempit, atau habis karena sekedar terbakar. Satu dua orang iseng bermain api di musim kemarau seperti ini pasti sudah mampu membuat padang ini hitam lagi.
Ya, ada masanya padang ini terbakar habis dan cuma tertinggal abu dedaunan saja, ada masanya padang ini hijau menyejukkan mata. Terbakar, mati dan kemudian bangkit lagi dalam kehidupan baru pada musim penghujan.
Segaris getir muncul di senyumku. Teringat seorang kawan, yang datang buat berjuang mengubah nasib. Dia sama sepertiku, mungkin aku hanya lebih beruntung saja darinya. Sore sore di lapangan bola dekat kampus dia muncul dengan raut sedih. Tentu aku tak lagi perlu menanyakan apa sebabnya, dia jelas menenteng berbagai bungkusan barang, bersiap pulang. Awal semester itu dia tak lagi berada di bangku sebelahku.
Kadangkala nasib memang tak bersahabat dengan kita. Seperti ilalang tadi, sedikit saja orang bermain api disebelahnya, dia akan terbakar. Apakah salah ilalang itu tumbuh di dekat orang yang bermain api? Retoris tentu saja.
Ah, saat seperti ini aku benar - benar berharap ia ada di sini, supaya bisa aku tunjukkan perumpamaan dirinya. Seperti ilalang, dia akan tumbuh lagi, menghijau lagi, menuai harapan dengan jalan berbeda dengan yang aku tempuh.
Terkait:
-
berbeda kacamata..
Rabu, 28 Jul '10 05:50 -
Setitik Tinta diatas Kertas Putih
Minggu, 25 Jul '10 20:32 -
Cinta Itu bisa dikendalikan :p
Selasa, 13 Jul '10 10:26
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
l synyster l: Nggemesin
-
sugiman partodikromo: Nggemesin
-
Dreamer: Menggoda
-
ndableg: Nggemesin

Komentar:
bahkan jika beruntung...mungkin ada bunga disana...
ah analogi yg menarik..
Silahkan login untuk memberikan pendapat