Sekilas tentang Ikhlas 30
Rabu, 25 Nov '09 17:14
Ikhlas, kata yang akrab di telinga dan lidah, namun belum tentu dekat di hati. Ikhlas, kata yang simpel namun memiliki makna yang mengakar dalam hati, dalam jiwa, dari detik penciptaan dan perjalanan hidup kita. Ikhlas, mudah untuk diucapkan, namun seringkali manusia sulit untuk melakukannya, entah karena alasan apapun: ingin dan ego.
Dalam hidup, seringkali segala sesuatu tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita. Lumrah saja bila kita meneropong hidup dari kacamata yang lebih luas. Manusia hidup tidak sendiri. Hal ini bukan berarti pencapaian keinginan adalah hasil kompromi dengan manusia lain, namun berkaitan dengan rencana yang telah Kanjeng Gusti atur untuk kita, atau meminjam istilah dari sekolah kehidupan, garis besar kurikulum pengajaran. Tentunya tidaklah saklek bagi kita, tidak seperti robot. Manusia masih punya hak untuk memilih: menolak atau menjalani.
Misalnya seperti di sekolah, kita merasa sudah belajar mati-matian namun tahu-tahunya nilai kita masih merah. Apa yang terjadi? Seharusnya kita dapat nilai yang lebih bagus, seharusnya kerja keras kita berbuah hasil yang pantas.
Kita bisa saja menyalahkan guru kita, menuduh bahwa ia tidak adil, dan sebagainya. Lalu kita menolak untuk mengikuti kelasnya, menolak untuk belajar. Namun apakah hal itu dapat membuat kita jadi lebih pintar?
Jangan-jangan aksi protes kita alih-alih malah merugikan diri sendiri. Ternyata setelah dievaluasi, cara belajar kita yang salah. Misalnya, bagaimana pelajaran bisa dipahami dengan baik kalau cara belajar kita sistem kebut semalam? Bagaimana kita bisa konsentrasi belajar kalau sebentar-sebentar Blackberry berbunyi dan kita selalu gatal untuk menjawab?
Ketika hubungan saya dengan mantan kekasih berakhir, saya tidak rela. Bagaimana mungkin saya menerima akhir hubungan itu begitu saja? Sudah banyak yang telah saya investasikan dalam hubungan ini: harapan, impian, perasaan, dan pengorbanan.
Awal hubungan kami, dapat dikatakan, tidak berjalan dengan mulus, sandungan kekasih masa lalu masih membayangi hubungan kami. Ketika hubungan itu mulai memasuki tahap yang lebih serius, kami pun dibayangi dengan keraguan akan masa depan dan rasa tidak percaya diri. Namun karena kami saling menyayangi dan perasaan itu telah tumbuh begitu kuat, kami bertahan, meski saya tidak mengerti mengapa kedamaian tidak kami rasakan.
Saat bertemu dengannya, saya merasa bahagia namun saat kami tidak dapat bertemu, saya takut kehilangan. Ketika bertemu dengannya, saya pun sangat mengontrol diri saya karena saya takut berbuat "salah" sehingga momen bahagia yang jarang itu pun rusak. Begitupun ia. Dengan caranya sendiri, ia berusaha untuk membahagiakan saya meski ia sendiri merasakan kejanggalan. I love you but something doesn't feel right.
Putus sambung jadi makanan bulanan kami. Berkali-kali kata itu terucap, namun berkali-kali pula kami menarik keputusan itu karena perasaan rindu dan takut kehilangan.
Ketika putus itu benar-benar final, saya depresi. Bagaimana mungkin hubungan yang telah saya bangun dengan susah payah, dengan pengorbanan yang begitu besar, saya biarkan berakhir begitu saja? Saya menyalahkan awal perjumpaan kami, mengapa kami menjalin hubungan kalau hanya untuk hasil akhir yang sia-sia, menyalahkan sahabat yang senantiasa memberi saran pada saya untuk berani mengutarakan perasaan hati meski bertentangan dengan keinginan (mantan) kekasih saya, tak kurang juga menyalahkan Tuhan yang (waktu itu) saya vonis telah menyeret saya dalam hubungan yang menyedihkan sekaligus melelahkan ini.
Saya marah, saya sedih, saya tidak rela, saya kecewa. Semakin saya memikirkannya dan menyadari bahwa waktu tak bisa diputar kembali, saya putus asa. Saya menutup pintu hati saya, menyeret diri dalam kepahitan dan sarkasme akan kebahagiaan sejati. Saya pesimistis dan menertawakan setiap cerita bahagia orang lain sebab saat itu saya yakin bahwa kebahagiaan itu seperti sepuntung rokok yang dibakar. Lama-lama habis, berubah menjadi abu, ditinggalkan, dan dilupakan.
Namun semakin saya tenggelam dalam kepedihan, semakin saya marah, saya merasa suatu suara jauh dalam hati saya, memanggil saya, mengusap hati saya yang dirundung kegelapan, berbisik pada saya untuk bangkit, berjalan kembali menuju Cahaya.
Saat itu saya teringat ucapan sahabat saya,
"Ketika kamu merasa sepi, rasakanlah. Ketika kamu sedih, rasakanlah. Ketika kamu menyesal, rasakanlah. Jangan kau tolak, sebab dengan begitu, akan kamu rasakan indahnya sepi, sedih, dan sesal."
Waktu ia mengatakan hal itu pada saya, saya hanya mengangguk-ngangguk pada nasehat yang terdengar idealis dan tidak masuk akal. Namun ketika Tuhan memanggil, siapa yang bisa menolak? Kita adalah bagian dari zat-Nya, kita yang pergi, akhirnya pun akan kembali pada-Nya dengan cara-cara yang misterius dan tidak terduga oleh akal manusia.
Ia berbisik, "Jadilah ikhlas, anak-Ku." Bukan dengan kepasrahan pasif, melainkan menerima dengan sepenuh hati dan rasa syukur. Menikmati aliran hidup dan ayunannya.
Perlahan seiring waktu, saya mulai melihat, meninjau, dan mengevaluasi kembali dengan ikhlas hati. Saya dan dia, dalam perjalanan hidup kami, dipertemukan, diijinkan untuk beriring bersama, saling mengenal, dan membuka rahasia hati masing-masing. Dalam proses itu, ada kasih, ada pembelajaran, baik mengenai pasangan maupun tentang diri sendiri. Ia bercerita pada saya tentang dunianya dan begitupun saya, berbagi pemikiran, berbagi perasaan. Indah rasa bahagia itu, indah pula rasa rindu, sepi, sedih, dan sesal.
Saya pun sadar bahwa saya tidak mungkin berada di tempat saya sekarang tanpa ia pernah hadir dalam hidup saya. Contoh kecil, saya tidak mungkin berani bermimpi menjadi penulis kalau bukan ia yang mendorong saya terus-menerus. Saya tidak mungkin bekerja di industri saya sekarang jika ia tidak mengenalkan dunia ini pada saya. Contoh besarnya, saya tidak mungkin mengenal diri saya dengan lebih baik seperti sekarang jika tidak melalui hubungan dengannya. Mengutip Paulo Coelho, "kesulitan" (difficulty) adalah "alat" yang teruji "turun-temurun" bagi manusia untuk mengenal dirinya. Saya pun bersyukur atas segala hal yang telah Tuhan ijinkan untuk saya alami.
Tentunya ikhlas tidak terjadi dalam semalam. Butuh proses. Bukan waktu yang paling dibutuhkan, melainkan sikap hati dan kesadaran, bahwa kita adalah bagian dari-Nya, jatuh bangun kita selalu disertai oleh-Nya, dan di balik kekelaman sekalipun, berkat menunggu untuk kita singkap.
Jakarta, 25 November 2009
Tag: marah, sepi, indah, ikhlas, kecewa, menerima
Terkait:
-
suratku untuk seorang sahabat
Senin, 28 Sep '09 09:31 -
Begitu Mahalkah?
Jumat, 5 Feb '10 10:17 -
benci
Jumat, 29 Jan '10 11:11
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
tiieee: Megang banget
-
clark kent: Inspiratif
-
Penonton Kerusuhan: Megang banget
-
kucingsapi: Megang banget
-
queeny o: Inspiratif
-
Lele: Megang banget
-
devieriana: Megang banget
-
donyariya: Megang banget
-
Silly: Megang banget
-
NuigeL: Megang banget
-
TalkToJono: Megang banget
-
sugiman partodikromo: Megang banget
-
ndableg: Megang banget
-
Mbah Ngasmuni: Megang banget
-
rini bee: Megang banget
-
dewira: Megang banget
-
treeyani: Inspiratif
-
mas stein: Megang banget
-
malaikatpendosa: Megang banget
-
chiil: Megang banget
-
paper plane: Megang banget
-
sari: Megang banget
-
warm: Megang banget
-
Bunda: Megang banget


Komentar:
saya jadi teringat sinetron di tv beberapa waktu lalu tentang pencarian ilmu ikhlas. sulit memang dan sejauh ini saya fluktuatif tentang kejadian yang membutuhan keikhlasan, apalagi jika saya merasa bahwa itu tidak adil *menurut saya lho*
eh.. tumben otak saya nyandak sama tulisanmu..
ini yang selalu saya lakukan
on "nyandak" thingy: I'll take that as a compliment
clark kent: selamat belajar
lah ditahan sama sakitnya kan? mending dirasakan saja
*halah, ngomong gampang ngelakuin susaah*
*nginget nginget kalimatnya mbakDos*
ketika hal yang sudah terjadi ndak bisa kita ubah lagi, mungkin kita masih bisa memberi makna yang berbeda untuk hal yang sama.
Kalo menurut gue, yang namanya ikhlas itu adalah mengusahakan apa yang kita inginkan atau kita cita-citakan, dengan sekuat tenaga kita! (Yaaah, itu sih namanya Ikhtiar, Oon!!) *disambit pake sendal bakiak!*
Ada 2 hal, yang selalu gue pegang dalam hidup ini berkaitan dengan ikhlas.
1. Kewajiban kita di dunia ini hanyalah berusaha, berdoa, dan bertawakal! Sedangkan yang menentukan hasil dari usaha dan doa kita, itu sepenuhnya hak Allah.
2. Allah tidak akan memberikan beban kepada manusia, kecuali apa yang bisa ditanggung oleh manusia itu sendiri. Jadi, ketika kita diterpa beban atau cobaan, itu semata-mata karena Allah yakin bahwa kita bisa melewati beban/cobaan itu.
3. (tadi katanya cuma 2???) Oh iya, 2 aja deh cukup.
kucingsapi: saya seringnya pasti mencari obat, atau paling tidak buat menutup lukanya. kalo ditahan2 bisa tambah parah..
*ini ngomongin jari yang keiris pisau bukan..?*
Btw, kapan ngeteh-ngeteh lagi?
keren
selain menuliskannya yang keren, saya melihat kalau memang kita bukan hanya sekadar mengamini kata-kata itu tetapi juga benar-benar melaksanakannya hmmmmphh keren banget dah
*nyari rating keren*
queeny o: setuju. ketika kita ikhlas, sudut pandang kita pun akan menjadi lebih luas, tidak terbatas pada ingin dan ego diri saja.
hilman: ketika Allah memberi cobaan, Ia bukan hanya ingin menguji manusia melainkan ingin agar manusia belajar dari cobaanNya itu.
devieriana: yes indeed. it's hard to do, it might be the lesson in life that we can "master" if we experience it.
on ngeteh: yuuuk, mariii.
donyariya: ini hasil kontemplasi pengalaman pribadi yang di-trigger dari curhat temen kemarin. ehehehehe.
saya baru ngecek twitter Paulo Coelho, ternyata dia juga membicarakan hal yang berkaitan dengan keikhlasan.
RT @paulocoelho 25/11 Every end marks a new beginning. Every “goodbye” means a new “hello”.
wad a life yah mbak ... saya kadang sadar, semua ada maksud dan hikmahnya, tapi balik lagi ke humanisme saya, fokus ke yang buruk melupakan yang baik menanti di depan
btw saya juga follow mas @paulocoelho tweetnya dalem-dalem hehehehe
Gusti Allah itu benar-benar luar biasa ya....
saya suka sekali bagian ini, tadi malah sempat berkaca2 pas kata2 ini...
"Ia berbisik, "Jadilah ikhlas, anak-Ku." Bukan dengan kepasrahan pasif, melainkan menerima dengan sepenuh hati dan rasa syukur. Menikmati aliran hidup dan ayunannya."
Thanks for sharing this candrakirana... And yes, I want to meet you in person too, wahai perempuan berkulit putih susu...
padahal bisa aja apa yang kita anggap bencana ternyata sebenarnya anugerah.
wah sesama follower @paulocoelho. hehehe. walaupun saya belum pernah ngobrol sama dia langsung, saya menganggap dia sebagai salah satu guru saya, karena saya belajar banyak juga dari tulisan-tulisannya.
aduh, saya mungkin agak gaptek kali yah, tapi saya ndak gitu banyak beredar di twitter. Abisnya mesti refresh melulu, baru bisa updated. Ribetttt...
Ia tidak membutuhkan medium. Ia berada di mana saja, termasuk di hati kita.
Silly: your welcome dear.
hmh putih susu, bentar2... ini maksud e susu kambing?
*asli beneran di timpuk netbuk*
"Saat bertemu dengannya, saya merasa bahagia namun saat kami tidak dapat bertemu, saya takut kehilangan. Ketika bertemu dengannya, saya pun sangat mengontrol diri saya karena saya takut berbuat "salah" sehingga momen bahagia yang jarang itu pun rusak. Begitupun ia. Dengan caranya sendiri, ia berusaha untuk membahagiakan saya meski ia sendiri merasakan kejanggalan. I love you but something doesn't feel right."
pernah ngerasain hal yang sama mba.. hingga akhirnya harus belajar mengikhlaskan..
kucingsapi: setuju juga.. pernah ngerasain hal yang sama..
rini bee: keikhlasan adalah kebijaksanaan yang hanya dapat dipelajari dengan mengalami dan menjalani.
alasan untuk menjalani hidup ini
..
Silahkan login untuk memberikan pendapat