Privasi Kita di Tengah Jejaring Sosial 40

Selasa, 17 Nov '09 18:07

Barangkali masih ada teman atau saudara Anda yang belum memakai internet -- apapun alasannya. Carilah nama mereka di Google. Jika nama lengkap mereka jarang ada kembarannya maka Anda akan lebih mudah menemukannya. Mungkin dalam sebuah situs yang memuat daftar peserta lokakarya. Suka atau tidak, siapa pun bisa tercatat oleh internet.

Boleh jadi Anda bukan pemakai aktif Facebook dan Twitter (atau malah sama sekali tidak memakainya). Tapi bisa saja dalan Twitter teman kita ada status, "Ngeliat @centilkemayu digandeng om2." Lantas dalam Facebook ada tag nama Anda dalam foto "Arisan Ganjen Ceria". Memang tag bisa Anda buang, tapi kalau nama dalam caption kayaknya sulit.

Nggak soal apakah lelaki dalam Twitter itu oom genit, oom beneran, atau teman yang tampangnya boros umur, baik karena gizi maupun herediter. Dalam Facebook juga bukan soal apakah Anda ikut arisan atau sekadar diculik sesaat buat foto bersama. Intinya Anda nggak nyaman. Merasa privasi terlanggar.

Oh, privasi? Ini masalah kita semua. Saya pernah dimarahi Bulik Silly karena memuat foto dia bersama Dik Wi di FB. Saat itu si bulik belum rela wajah dan sosoknya dikenal. Foto itu pun ngumpet dari publikasi. Hak si bulik untuk berkeberatan, terlepas dari penampilannya yang waktu itu okay yeyeye. Intinya adalah bukan niat si bulik untuk nampang dan beredar seperti brosur diskon mingguan.

Lalu? Di Twitter saya melihat ada saja orang yang kasmaran, meletupkan rindu di jalur publik, meneteskan embun pagi sisa kebahagiaan semalam di ranah maya.

Mungkin itu sekadar ekspresi diri. Boleh jadi itu cuma berbagi. Tetapi si pelontar status mestinya sadar bahwa mereka telah menyebar benih ghibah atau pergunjingan. Respon yang bermunculan, bahkan sampai di luar layanan jejaring sosial, akhirnya di luar kendali. Menjadi aneh jika bagi si pelontar itu dianggap menjengkelkan karena dia merasa privasinya teperkosa.

Sesungguhnya jejaring sosial di internet dan kehidupan nyata bukanlah dua dunia yang sangat berjarak, apalagi dalam kultur paguyuban orang Indonesia yang gemar kopdar. Maka lalu lintas ghibah komunal di milis, Twitter, Plurk, dan FB juga menyatu dalam kehidupan nyata. Bisikan gatal "...itu brondongnya. Brand new love affair..." akhirnya sampai di punggung si terghibah.

Salahkah teknologi, dalam hal ini internet dan layanan media sosial? Semuanya terpulang ke kita. Bisa saja Anda menulis gurauan di blog, "Nebeng Mazda anyar baru Mbak Siti Jerukpurut. Audionya wuihhhh... serasa Jason Mraz di jok belakang, embusan napas hidungnya kena tengkuk gue."

Tapi kalau Anda punya ratusan followers yang kebetulan doyan gunjing, lagi pula Anda influencer, maka tak sampai sehari semua orang tahu bahwa Mbak Siti Jerukpurut yang cantik sexy itu punya mobil baru. Dugaan dan opini dari mana dia dapatkan mobil, karena sebagai lajang dengan 11 tahun kerja juga masih karyawan biasa, sungguh di luar kendali Anda. Terlebih lagi di luar kendali Mbak Siti. Bahkan misalkan Mazda 3 itu pun hanya fiktif, gurauan semata...

Ketika Anda melontar kabar tentang diri sendiri, sudah pasti itu membuka kehidupan pribadi -- dan bersiaplah terhadap hama pergaulan karena "statusmu adalah harimaumu, dia akan mengerkah kepalamu". Ketika Anda membatasi pergaulan, tetapi Anda kadung dikenal, tetap saja privasi Anda akan terkikis karena ulah teman.

Jika cuek adalah bagian dari iman, barangkali Anda harus mempertebal iman. Jika larut dan ikut bermain atas nama pasal gaul adalah pilihan, sebaiknya Anda tidak mau menangnya sendiri.

Akhirnya privasi memang sebuah kemewahan. Dulu hanya milik tokoh dan seleb. Jejaring dan media sosial menjadikan setiap orang itu seleb, minimal di lingkungan kecil. Apa boleh bikin. Salah kita, bukan salah internet.

Salam.

© Ilustrasi: geekologie.com


Tag: internet, privasi, facebook, gosip, twitter, plurk, media sosial, jejaring sosial, ghibah, ngerasani

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Mayor Nuning 0 0
petromaxxxx!!!
Mat Koplo 0 0
Privasi yang dibuka berlebihan, berlanjut ke cyber bullying : ( Ngenes apa lagi kalo korbannya anak-anak abg yang belum ngerti konsekuensi keterbukaan privasi ini. Apa perlu jadi bagian kurikulum di sekolah ?
Severus 0 0
fb ? so yesterday! *halah alesan* sekarnag mah jamannya ngerumpi.com maspaman. hahahahaha
yochrisngapain 0 0
Mat Koplo: perlu banget mas... aku adalah korban jaringan sosial... haha
Dreamer 0 0
"statusmu adalah harimaumu, dia akan mengerkah kepalamu"

like this : )
sisca Fransisca 0 0
bener maspaman,skrg mlh jd ajang buat mengumpat teman dn akhirnya mlh jd k bawa ampe sekolah tu masalah..ckck..
yochrisngapain 0 0
Dreamer: itu bukan mengerkah kayanya... hehehe, seperti dimakan *kayanya ga nyambung gw*
aubrey.ade 0 0
iya,ya...kadang dulu,waktu baru2 buka FB, cuek bebek aja mau nulis apa, skrg...hehehe,cuma mertua doang kali,yg gag punya akun fb : ))

Tapi masih ada sih,pelarian saya, di plurk dan di blog , dan untungnya lagi, sy gag ngetop : D : D : D

*duh,kapan sih,bisa nulis kyk paman gini, megang banget!*
Boneth 0 0
statusmu adalah harimaumu

no no
say no to ngapdet status.. : D : D hehehe

dan tengs Gat, saya blm jadi korban seperti yochrisngapain : )) : ))

saya pernah "bo'ong" mbikin status di fb (jaman lagi heboh2nya ngefbe nih) "yang, masakanmu membuatku semakin jatuh cinta"

haiyaaah... kontan semua pada protes (terutama sodara2 suami saya), ktnya saya istri nggak bener ngebiarin suami masak, dah gt pake pamer di fb.
addooohhh... kapookk..
mau sok2 mesra malah diinterogasi satu keluarga besar : )) P))
Dreamer 0 0
yochrisngapain: mari kita tanya ke yang punya lapak maspaman : )
yochrisngapain 0 0
Dreamer: iyo tuh bener...
maspaman: mas... itu menerkah atau yang lain ya?
chiil 1 suka | 0
Boneth: yaolooohhh.. segitunya banget yaa?ck ck ck


saya malah hobi ngliatin wall-to-wall temen saya sama pacarnya
isinya donk.. sekali nulis bisa mencakup :
-pembukaan, salam dan ucapan syukur pada tuhan yme
-mengumbar panggilan mesra macamnya sayang,darling,sweetheart,hunny,bunny (halah)
*serius, semuanya ada!*
-reportase kejadian hari ini yang mereka lakukan bersama (tadi asik ya sayang, kita masak udang goreng tepung with mayones, trus belanja sama ibu)
-penutup, disertai wejangan singkat supaya berhati2 di jalan

: )) : )) : ))
itu ada template-nya kayaknya
: )) : )) : ))
si muda berkualitas 0 0
ADA APA INI SEBENARNYA....
Matt Zammy 0 0
apalagi kalo si bos atau ortu ada di frenlist. hwakakak..
Itik dan Induknya 0 0
nice info...
capella 1 suka | 0
saking serunya bales2an coment di fb....ada temen saya ( cowo ) yang keceplosan nyebutin status pernikahan teman yang lain nya....padahal temen saya mati2an ngumpetin status nya itu......
TalkToJono 0 0
jarang update status.. : D
warm 0 0
resiko jejaring sosial,
gak bisa dihindari, tapi soal privasi ya tergantung filter itu tadi.. : )
rinibee 0 0
hehehe.. tulisannya megang banget maspaman.. : D
venus 1 suka | 0
aaaaaahhh saya sepertinya juga korban dari kebegoan saya sendiri : D

tapi biarin aja lah...
ChieKebvo 0 0
wahh..gw banget iNi...: ))
*sok ngaRtiss..* : p

tpi emaNk bneR katachiil: templatex teman2 saia rata2 kaya gtu...makax..ga usaH keseringan update status..tapi skali update..lgsg hebohh...: ))
*dohh...sok ngartiss bgt sey gw..maaphh yakzz..* : p
fla 0 0
memang bahaya ya, mau narsis harus mau terima konsekuensinya
maspaman 0 0
Dreamer: Itu peribahasa. Mengerkah dari kata "kerkah". Bahasa Jawanya mungkin "nglethak". Menurut KBBI:

ker•kah v, me•nger•kah v memakan (mengunyah, menggigit barang yg keras atau liat): harimau ~ kepala kambing;
di·ker·kah v digigit;
~ dia menampar pipi, dibakar dia melilit puntung, pb selalu hendak membalas kpd orang yg berbuat jahat
balholic 0 0
I've been there...sighhhh
Goy Si Ababil 0 0
Hekehekehekeh... Bedakan selalu dunia nyata dan dunia maya ya paman? : D
Goy Si Ababil 0 0
Hekehekehekeh... Bedakan selalu dunia nyata dan dunia maya ya paman? : D

Lapis 8 kalo perlu : )) : ))
maspaman 1 suka | 0
Goy Si Ababil: Masalahnya, jejaring sosial itu menjadi ekstensi dari kehidupan nyata. Ini beda dengan intrenet zaman lawas. Orang masuk ke FB karena mau ketemu kawan lama (dan nyari kawan baru). Mau tidak mau dia pakai identitas yang rada jelas. Nama boleh nama julukan, tapi semua teman tahu nama aslinya, fotonya, dan latar kehidupannya. D Tweeter juga sama. Di Ngerumpi jadi si alias, tapi ikut kopdar. : D Ya sama saja. Lapis 8 atau 80, bergantung pada kematangan komunal tampaknya. ; )

Kematangan bisa tumbuh kalau kita sendiri memulainya dan semoga itu menular. Gitu kali ya, Bos? : ))
sabaiX 2 suka | 0
Situs jejaring sosial ini serupa dg baju dalam, semua soal pilihan.
Kita mau nulis status update macam apa ya tgt sikon, ibarat mau pake baju dalam model brief, thong atau g-string.
Ada juga orang yg nuansa satus updatenya satu macam, misalnya serius melulu, ibarat orang yg baju dalamnya boxer putih semua.

Kalaupun kita memilih gak memakai situs jejaring sosial, ya spt tidur tanpa baju dalam, malah nyaman toh?
Nah, trus kenapa kita juga ikut di situs jejaring sosial, juga mirip kenapa kita pakai baju dalam. Because everyone else is doing it... Heheheh.. (Coba semua orang terbiasa kemana-mana tanpa baju dalam, pasti kita juga gak risih keluar rumah tanpa baju dalam! : )) )
donyariya 1 suka | 0
secara sadar tidak ada privasi ketika kita register di jejaring sosial.

nah menjadi suatu kelucuan, ketika kita ribut masalah privasi sesudahnya : p

terlepas apapun status yang kita pampang, baik atau buruk, begitu masuk ke ruang publik, seketika juga menjadi persepsi atau mungkin penghakiman dari publik

: )
mas stein 1 suka | 0
untung saya ini ndak ngetop : ))

mungkin sama saja di dunia nyata paman, orang harus hati-hati bertindak, berbicara, apalagi kalo punya posisi strategis. semakin tinggi pohon semakin kelihatan, semakin orang gatel untuk nggoyang : D
desty 0 0
mas stein : ah...sampai dibikinin kuis segala masih ngaku gak ngetop : ))
Sudonim 0 0
duh bahasannya dalam dan tajam. pengen buat tulisan kaya gini satu waktu nanti
ann 0 0
banyak tuh iklan2nya... bagus ... ngena banget ..
makanya aku -akhirnya- setuju ama mas iy di salah satu komentnya.. kalau pas ada masalah, jgn nulis2 deh : D hihihihi...

pdhl dulu kayanya gak afdoooll kalau gak numpahin uneg2 ke blog - misalnya-

oiya, ati2 jg kalau pasang foto : )
Ceritaeka 1 suka | 0
Ah artikel ini inspiratif banget!
Pernah lihat temen sendiri, suami istri berantem perang status di FB.. maaaak urusan ranjang juga masuk internet. Parah.

It's the human who kill not the weapon... so bener banget mas.. semua media teknologi itu gimana kita menyikapinya.

salam, EKA
NuigeL Mama Macan 0 0
Mat Koplo:

Setuju mbah. Saya ngeliat sendiri itu dialami keponakan saya yg bener2 masih ABG usia belasan tahun. Buat mereka eksis itu harus, walaupun dengan cara (yang menurut kita) gak wajar. Akhirnya, niat eksis malah jadi krisis : (
kolangkaling 0 0
kayaknya tadi ngeliat headline di salah satu koran .. tamara marah di facebook ..

kira kira urusan apa ya ??
secara nebeng liat ..
belum baca isinya sih ..
mas stein 0 0
desty: kuis? kuis opo?
Siti 0 0
Siti naek CRV .... : ))
kucingsapi 1 suka | 0
setujuh.... : )) : ))

gak komentar macem2lah karena komentarmu harimaumu : p hehehe
malaikatpendosa 1 suka | 0
berhubung saya sudah terlanjur basah masuk jejaring sosial ini, maka mau tak mau privasi saya terekspose..dari status yang saya share di fesbuk sampai macam cerita yang saya tulis di ngerumpi..

mungkin hanya saya perlu berhati-hati saja, karena dunia maya penuh kejutan..jangan sampai terbuai..intinya harus tetap waspada : )

Silahkan login untuk memberikan pendapat