Ngerumpi: Tempat Interaksi, bukan Kelas, tapi Kita Bisa Belajar 24
Kamis, 29 Okt '09 06:26
Menarik. Mas Stein bikin Tips Menulis. Lantas Donyariya menulis Fenomena Ngerumpi. Sebelumnya, tulisan Donyariya, Dulu Lebay Sekarang Alay, layak masuk Pilihan Moderator (PilMod). Begitu pula tulisan Yohanes Han's, The Prophet Muhammad Way. Menarik? Karena saya suka. Lho? Subjektif dong? Memang.
Kesukaan saya mungkin berbeda dari Anda. Artinya memang ada keragaman di antara kita. Juga keragaman di Ngerumpi. Namun dalam keragaman ada saja satu-dua-tiga (lebih) soal yang sama bagi banyak orang. Maka tulisan Enriqueza, Jangan Memeluk Terlalu Erat, yang layak PilMod, saya rasa (dan harapkan) disukai semua orang. Saya pun menyukainya.
Ya beginilah rumah Ngerumpi. Bukan asrama, bukan tangsi, tetapi tempat singgah yang boleh sering disatroni bahkan diinapi. Sebagai rumah, pengikat kita mungkin bukan hanya topik, dan cara menyampaikan topik, tetapi orang. Tepatnya kawan. Bahkan sahabat.
Di sini semua orang belajar menulis. Termasuk saya. Tip Mas Stein tepat. Renungan Donyariya pas. Saling asah, saling dukung. Saya sepakat.
Meskipun begitu, Ngerumpi bukan (sekadar) kelas menulis jarak jauh antarkota antarprovinsi -- kayak bus. Sebagai rumah sudah wajar jika ada diskusi. Sebagai diskusi, layak saja jika orang butuh kenyamanan, merasa ditanggapi, dihargai.
Barangkali ketika beberapa blog mulai menyepi karena dipepet Facebook dan Twitter, maka dalam wadah semacam Ngerumpi orang mendapatkan kenikmatan pengganti. Bentuk nyatanya: ada semacam jaminan bahwa posting langsung dibaca orang. Syukur jika dikomentari -- meski hanya "pertamax", yang barangkali sama ekspresifnya dengan "wow!" dan "speechless", pokoknya apresiatif gitu deh. Apa boleh bikin. Tanggapan adalah satu hal, dan tukar gagasan adalah hal lain.
Yeah, yang namanya tanggapan itu nggak harus berupa ajakan debat atau dukungan kan? Bertukar salam dan ledekan, meskipun melenceng dari topik, barangkali merupakan bukti keakraban. Kalau mau argumentatif memang seminarlah tempatnya. Atau menulis di jurnal. :P
Nggak rugi nulisnya. Itulah salah satu unsur pembetah di wadah semacam Ngerumpi bila dibandingkan blog yang surut dan menghabiskan waktu. Bukankah sebagian alasan orang ngeblog adalah ingin didenggar (eh dibaca)? Jika ya, itu manusiawi. Apalagi Ngerumpi punya fitur "cross-posting". Satu tulisan di sini bisa muncuk di (beberapa) blog -- kalau mau.
Banyak sudah macam topik di Ngerumpi. Yang menarik bagi saya adalah pendekatan pribadi penulisnya dalam melihat masalah. Misalnya Malaikatpendosa yang menulis Masturbasi? Keren!. Masturbasi, sebagai kegiatan pribadi, tanpa pandang jenis kelamin, adalah sarana pengenalan seksualitas diri. Tentu orang lain boleh dan berhak tak sependapat.
Lantas di mana lagi menariknya Ngerumpi? Inilah new media. Ada interaksi. Konten dibangun oleh anggota. Koran online pun akhirnya terbawa: menyediakan ruang respon dan reaksi langsung untuk setiap beritanya. Itu hal yang tak mungkin dalam versi cetak. Tak ada lagi otoritas, kata sebagian orang.
Benarkah? Mungkin. Tapi pada suatu titik orang butuh semacam otoritas juga. Otoritas yang diciptakan sendiri, dengan harapan ada kemandirian dalam menilai. Suara terbanyak belum tentu suara dewa. Orang butuh pembanding apakah suara khalayak juga senada dengan suara otoritas. Di situlah perannya PilMod sebagai pengimbang dan pembanding. Antara yang subjektif kolektif dengan yang subjektif perorangan.
Salam.
© Ilustrasi: House Shelter, advocacy.britannica.com
Tag: belajar, pilihan moderator, dukungan, otokritik
Terkait:
-
Belajar
Kamis, 12 Agu '10 07:12 -
Belajar Jadi Ibu Rumah Tangga ^^
Senin, 9 Agu '10 11:11 -
Apapun yang terjadi...
Minggu, 8 Agu '10 00:01
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
l kakak syn l: Lucu
-
Silly: Inspiratif
-
perempuan api: Megang banget
-
ndableg: Lucu
-
donyariya: Inspiratif
-
nivita: Megang banget
-
Guardian Angel: Megang banget
-
clingakclinguk: Inspiratif
-
MasIs: Megang banget
-
dewira: Megang banget
-
lala_lili: Inspiratif
-
malaikatpendosa: Inspiratif
-
Mbah Ngasmuni: Megang banget
-
rielearning: Inspiratif
-
tiyok: Inspiratif
-
Bellavita: Megang banget
-
TalkToJono: Megang banget


Komentar:
Warna warni yg ada menghibur, slain bisa sambil sama2 belajar tentunya, blajar nulis dan menata tulisan.
Ah, makasih atas tulisan bagus ini
Apalagi setelah semakin banyak ragam penghuni yang singgah di rumah ini, batas toleransi mungkin perlu dinaikkan. Tiap orang membawa pesona dan personanya sendiri-sendiri, gaya yang khas, yang mungkin kurang 'megang' bagi selera penghuni lain. Biarlah, selama perbedaan itu memperkaya dan bukannya membuat sekat
*saya komen apa ini? efek berhenti ngopi pagi hari*
jelasnya semenjak ngerumpi disini, emosi saya jadi lebih terkontrol. begitu emosi dikit, langsung saja baca komen2 rusuh itu, atau nambah pemahaman soal cara pandang orang lain, semuanya memperkaya keterampilan interaksi saya di dunia nyata. kapan ya ngerumpi nyaingi fb?
Anyway, iya... disinilah letak keberagaman, dan disini pula tempat kita saling berbagi, saling melengkapi, dan barangkali saling mengingatkan. Namanya juga manusia, khilaf is our middle name right?.. Dan sahabat terbaik adalah sahabat yang berani mengoreksi sahabat yang lain, demi kebaikan sahabatnya sendiri. On the other hand, si sahabat, sejatinya menerima koreksi dengan legowo dan percaya, bahwa sahabatnya ngasih masukan atau kritik yang mungkin terkadang pedas melalui tulisan2 ataupun komennya, untuk kebaikannya sendiri...
Ah, ngomong apa sih gue?... Cubung seri dua keknya, hahahahahaha...
Intinya, kita semua mungkin tidak sama seleranya, ada yang suka, ada yang tidak suka... mari terbuka untuk segala bentuk perbedaan, dan menganggap ini kekayaan untuk kita miliki bersama.
bukan begitu mas paman???...
rasanya percuma dan membuang energi saja, jika kita hanya berkonsentrasi membuat itu menjadi sama, saya lebih suka menyatukan yang beda-beda itu menjadi satu tanpa pemaksaan keseragaman.
salah satu alasan saya lebih betah menulis di sini karena respon user dan keinginan untuk di dengar maspaman, entahlah saya kurang beruntung sepertinya, blog saya sudah mulai ditinggalkan (tepatnya jarang ada yang baca) hehehe
sip, sekali lagi maspaman membuktikan sebagai begawan blogger *menjura*
sabai: meninggikan tolerasi, itu yang perlu kita lakukan
Kalo donyariya begawan solo!! *jiiiah.. maksa!*
@plukz: iya nih, sejak usaha melepaskan diri dari adiksi kopi saya rada insap!
one day in the future, one says in his/her speech:
...thanks to ngerumpi.com yang 'mengajari' saya menulis sehingga kemampuan menulis saya terasah dan akhirnya novel bestseller ini bisa ada....
*dreaming session continues...*
hwah, ini versi mobile ga bisa jempol, ga bisa komen di profile. :'(
kl saya siy cm satu kata "Ngerumpi is the Best"
*weks itu siyy satu kalimat
dan tulisan saya tentang masturbasi itu memanglah bentuk pendekatan saya untuk membuka diri..membuka buku tentang sesuatu yang saya anggap aneh, bermasturbasi..karena saya yakin Ngerumpi aman bagi saya berbagi rahasia..
yang jelas nulis di sini memang ndak mengecewakan, sambutannya hampir selalu hangat
uniknya.... seringan apapun postingan yg pernah ada dingerumpi, saya bisa menemui hal yg menggelitik baik dari isi artikel itu sendiri maupun dari koment2 yang ada
Setiap kali online, ngerumpi gak ketinggalan dibuka kok
Trims Paman, sudah mengingatkan.
Silahkan login untuk memberikan pendapat