Mengelola Hahahihi 25

Selasa, 27 Okt '09 13:52

Pada masa jayanya, akhir abad lalu, grup lawak Bagito adalah contoh sebuah company -- serupa dengan dance company, theater company, dan mime company. Mereka menerapkan manajemen profesional, padahal umumnya pelawak saat itu masih pakai manajemen suka-suka: kalau order dan komitmen di white board terhapus, atau buku agenda kecemplung kali, bisa berantakan semuanya. Bagito meneruskan dan memperbaiki yang dilakukan oleh Warkop, seniornya.

Apanya yang profesional? Pertama: pembagian tugas, mana yang menjadi pekerjaan inti trio Miing-Didin-Unang, dan mana yang menjadi urusan staf. Kedua: pengelolaan soal konten. Selain punya guru les bahasa Inggris, Bagito juga punya mentor (mahasiswa) untuk memberikan pencerahan dan penajaman seputar isu sosial-ekonomi-politik.

Halah, serius amat? Ngelawak kan urusan hahahihi? Iya, hahahihi bisa bagus kalau penampilnya mau belajar. Tanpa itu hanya bisa mengulang-ulang banyolan, ledekan, dan slapstick.

Bagi Bagito, itu adalah cara untuk selalu dekat dengan segmentasi yang mereka patok: kelas menengah. Maklum, sebagian penanggap Bagito adalah perusahaan. Khusus untuk Miing saat itu, penanggapnya adalah panitia seminar. Meski hanya untuk penyegar, Miing sebisanya belajar terus.

Selalu bermutukah lawakan Bagito? Kadang nggak juga sih. Rumus dagelan Mataram dan Srimulat -- role play meledek orang kampung, orang miskin, orang rendah pendidikan -- kadang masih mereka tampilkan.

Bagito juga berusaha sebisanya terkemas sebagai kelompok lawak kelas menengah. Itulah sebabnya mereka dulu, pada masa jayanya, masing-masing mengendarai BMW. Selain karena mampu, itu juga sesuai pencitraan di pasar. Bahkan Miing pun membeli Yamaha Virago agar bisa bergabung dengan klub motor besar yang antara lain dimotori bankir Robby Djohan -- suatu hal yang dengan legawa diakui oleh Miing.

Selalu berhasilkah penampilan Bagito, misalnya di TV? Itu soal selera dan keyakinan diri. Mereka nyaman saja pakai jas berkancing emas (saya lupa apakah ada yang double breasted), dengan bawahan jins. Lumrahnya sih, setahu saya, cukup jeans and jacket -- blazer kata sebagian orang. Bukan jas dari sebuah setelan halus yang cuma diambil jasnya. CMIIW.

Kita boleh suka dan tak suka Bagito. Tapi melihat cara mereka mengemas cengengesan pada zamannya, saya salut. Ada upaya di sana untuk menampilkan yang bagus -- meski "hanya" lawakan. Komedian yang baik bisa melawak secara impromptu -- tapi tidak ngawur, dan tidak menyakiti orang lain. Sebab itu menyangkut reputasi dan citra diri seperti yang diinginkan. Lain halnya kalau niatnya pengin dikenal sebagai pelawak paling wagu dan kacau. :D

PS: Salah satu bahan lengkap tentang Bagito dapat Anda simak dari Bagito: Trio Pengusaha Tawa (Herry Gendut Janarto, Grasindo, Jakarta 1995). Kritik terhadap Bagito lihat catatan blogger Bambang Haryanto.

© Ilustrasi: paraorkut.com


Tag: humor, Manajemen, komedi, bagito, konten, reputasi

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Matt Zammy 0 0
saya merasa Bagito itu lawakannya "cerdas", tidak seperti grup lawak sekarang yg cuma main fisik. Cagur menurutku juga "kreatif". melawak dengan kata itu susah daripada melawak pake penampilan (pakai pakain banci, dsb). sekarang Cagur menurutku udah gak se-"kreatif" dulu lawakannya.. : D
donyariya 0 0
maspaman gimana pendapatnya tentang patrio, terutama tentang sepak terjang Eko DJ, yang bukan saja berusaha memanage hahahihi tapi sudah lebih luas ke industri hiburan lainnya
l kakak syn l 0 0
sial... : (
Silly 0 0
Serius... saya juga suka trio miing, bagito dan unang jaman2 dulu itu... mereka bisa berbagi tugas dengan baik, cerdas tapi tetap lucu...

Jaman sekarang dah jarang nih, yang cerdas tapi lucu... tidak slapstick...

*jadi teringat lagi tawaran talkshow JustSilly dari salah satu stasion TV, hehehe* : ))
maspaman 0 0
l kakak syn l: Maaf, kenapa ya? Ada yang gak beres di tulisan saya?
Silly 0 0
maspaman: HAHAHAHAHAHAHHAHAHAHAHAHA

dia cuma kesel paman kalo dak bisa merebut jatah PERTAMAXX : )) : )) : ))

*keplak l kakak syn l* : ))
Silly 0 0
l kakak syn l: sana... keplak mas Matt Zammy: kalo berani...

*ngakak2 dikolong meja* : ))
maspaman 0 0
donyariya: Gak masalah.Pelawak kan kayak profesi lainnya. Bisa saja investasi ke usaha lain, dari bengkel sampai kedai. : )
l kakak syn l 1 suka | 0
ah keren ni postingan
jadi pengen kembali ke jaman warkop...
: )

ijin nebeng komen juragaannn...

: D

muley..

saya selalu memandang dunia tawa adalah dunia super serius...

makanya kadang insan komedi ga selucu di panggung klo pada kehidupan sehari2nya..

dan itu yang kadang membuat saya kecewa...
yah namanya juga fans (kipas angin :jamak)
kita kan pengennya ngeliat sang komedian pujaan selalu bisa lucu luar dalem...

manajemen haha hihi, sebenernya serupa dengan pekerjaan lainnya, apapun kalo dikelola secara profesional dan proporsional...
gak akan jauh dari sukses kok

yahh nyrempet2 dikit lahh : ))

my fave comedian...saat ini si lagi doyan trio sule - azis - andre

dulu saya doyan banget desta n vincent di mtv bujang..klo dari luar...saya demen russel peters..

kadang penonton, penyimak hanya ingin tertawa, tanpa ada pesan moral yang berat diselipkan dalam materi becandaannya...

ya saya...
penikmat seperti itu...

*bilang aja males mikir syn!! : D*
maspaman 0 0
Silly: Walah, maap, sense of humor saya parah je, kadang gak ngerti apa maksudnya komen pertamax, dari siapa pun, di beberapa posting tulisan siapa pun. Atau gaya Ngerumpi kali ya? : p
sabai 0 0
aaaah... tahun 90an Bagito Show di RCTI adalah acara yg saya nantikan! pakai jas rapih meski warnanya nggak matching... berhubung pelawak ya tampak pantes aja.

nah, sudah ditulis resep sukses mereka, lalu, apa yg terjadi sekarang ya? kenapa pamor mereka pudar?
Wanita bergaun Merah 0 0
Matt Zammy: saya penyuka caguurrr....

Bagito..
sekarang dah ndak pernah nongol lagi sih ya..
mala seringan sendiri-sendiri mereka malah : (
pdhl lawakan mereka pinter dan lucu..
ahh jd pengen liat aksi mereka lagi

*buru2 buka yutub
sabai 0 0
maspaman: sense of humor paman baik2 saja rasanya... cuma perlu lbh banyak ngerumpi! : )): ))
maspaman 0 0
sabai: Wajar dalam dunia hiburan kalau pamor pudar. Pasar butuh yang baru dan segar. Masalahnya ketika peluang masih di tangan, sanggup nggak mengelolanya termasuk soal citra diri? Namaya juga bisnis, self image itu perlu. ; )
donyariya 0 0
maspaman: mengelola self image itu yang kadang kita lupakan yah ... saya jadi inget para aRTis yang maen di twitter, mereka malah lupa kalau sebenernya twitter adalah cara murah dan mudah untuk mengelola image dan branding mereka *kelu*
Silly 1 suka | 0
maspaman: didunia blogging khan udah sering banget tuh maspaman, kalo ada posting dari orang2 ngetop, ditungguin tuh, kalo dah posting, berebut deh komen, yang penting pertama dulu, baca belakangan, hahahahhahaa

disini, yang paling demen pertamax tuh l kakak syn l ama sabai, kalo dah ngerebut pertamaxx bisa joget2 pisang : )) : )) : ))

m e i s a 0 0

maspaman: gambar kucingnya lucuuuuu banget jd pingin belai2 ^_^

btw itu bukan gambarnya salah satu duo kucing ngerumpi.com kan??? : D
malaikatpendosa 0 0
tulisan paman ini menginspirasiku bikin tulisan tentang gup warung kopi hehehe.

yohanes hans 0 0
kalo tidak salah ingat, dulu Bagito grup pernah tersandung masalah karena menjadikan Gus Dur sebagai bahan lawakan waktu beliau jadi presiden.

dan dalam lawakan mereka, mereka sering menyindir para pejabat diatas.

tapi sekarang kalo tidak salah lagi, si Miing berkarir didunia politik
warm 0 0
humor yg cerdas, maunya smua begitu
tapi, ya segmen penonton di negeri ini, masih terlampau luas untuk sekedar membedakan slapstick atau bukan,
dan ok, saya masih penyuka OVJ dan tawasutra, paman : )
kucingsapi 0 0
mas kucingnya lucuuu : ))

eh saya ini penyuka Patrio dan Cagur, jaman dulu juga saya suka Bagito heheh tapi karena pencitraannya yang eksklusuif seperti itu saya kadang males nontonnya : p

saya lebih suka yang membumi, dan bisa jadi apa saja, kayak Patrio dan Cagur itu. sekarang saya malah ngefans sama OVJ hahaha selalu ketawa nonton itu : D
Mbah Ngasmuni 0 0
Di Indonesia belum ada comedian yg model Jon Stewart dari daily show ya ? Awal-awalnya lucu-lucuan doang, lama-lama kayanya malah lebih dipercaya daripada berita dari fox news.
clingakclinguk 0 0
saya membaca artikel ini kok yang kepikir mengelola tertawa, bukan hanya dianggap sebagai sesuatu yang spontan, sehingga lawakannya pun benar2 terkonsep, bukan mengandalkan improvisasi dan spontanitas pelawak di panggung seperti yang banyak terjadi di pentas-pentas lawak.

dan bagi saya itu sulit, bagaimana mungkin mengatur kapan orang tertawa, dan kapan tidak, itu perlu persiapan yang matang namun tanpa menghilangkan sisi pemancing tawanya.

mungkin memang iya, selama ini yang contoh pelawak yang bener2 terorganisir itu mungkin baru Bagito.
Guardian Angel 0 0
masih nendang wonokairun lan bunali... : ))
mbakDos 0 0
pastinya salah ya kalo dipikir ngelawak itu ya sekedar bikin orang tertawa. sama sekali bukan SEKEDAR. bikin orang ketawa itu nggak gampang. beneran *mulai curcol* : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat