They Are My Lovely "Babies"... 51
Senin, 26 Okt '09 13:08
Alert: Sumpaaahhh..panjang buaaanngggeettt...
Errrr...setelah menganalisa beberapa penggunaan nama pena di Ngerumpi sini, pasti ada di antara teman-teman di sini yang merupakan pencinta binatang. Binatang apapun, termasuk mungkin buaya darat ...wakakakka.
Saya salah satu pencinta binatang (*ga yakin juga termasuk pencinta buaya darat :p*). Tapi yang ingin saya bahas sekarang bukan binatang yang saya sebut di dalam kurung di atas.
Kebetulan satu rumah saya semuanya pencinta binatang. Dari dulu rumah saya tidak hanya dihuni manusia dan makhluk halus, tapi juga dihuni oleh hewan. Dari mulai anjing, kelinci, ikan hias, burung, kura-kura, tikus putih ampe tikus abu-abu (yang terpaksa dikejar-kejar untuk dibasmi karena sudah keterlaluan merusak barang-barang rumah, dan saya tidak pernah mau ikut melihat saat pembasmian itu berlangsung). Dan satu binatang yang tidak pernah absen ikut jadi penghuni rumah adalah anjing.
Bagi saya anjing ini tidak hanya sebagai sahabat, mereka sudah saya anggap sebagai "anak-anak" saya, selain mereka bertugas menjaga rumah saya.
Saat ini jumlah anjing saya di rumah ada 7. Saya yakin pasti banyak yang kaget mendengar jumlah itu. Saya pun kaget, karena itu jumlah yang bisa dikatakan banyak untuk keluarga saya memelihara mereka, walaupun pekarangan rumah kami cukup luas untuk memelihara semuanya. Tapi for your info, semua anjing yang ada di rumah saya itu adalah hasil penampungan, walaupun 4 di antara mereka adalah anjing ras. Jenis mereka adalah 1 ekor Golden Retriever, 2 ekor Miniatur Dachshund, 1 ekor mix antara German-Shepherd dan Chow-Chow, dan sisanya adalah local dog a.k.a anjing kampung.
Kenapa saya bilang mereka adalah hasil penampungan, karena memang mereka kami tampung, dari para tuan yang sudah tidak mau memelihara mereka, yang mau membuang mereka, ada yang saya ambil dari ujung jalan rumah saya, ada yang dibuang ke halaman depan rumah, ada 1 ekor yang Bapak saya beli di Latuharhari karena kasihan.
Si Molly adalah yang saya pungut dari ujung jalan rumah saya, adalah dulu penghuni yang kabur dari toko bangunan di depan kompleks, karena ditendang oleh tukang bangunan di sana. Saya mengetahuinya saat si pelaku melihat Molly di rumah saya, dan meminta Bapak saya untuk membawanya kembali, karena tuannya mencari Molly. Lalu Bapak saya mengatakan ini padanya "Wahh, itu sekarang sudah dipelihara anak saya, kalo mau tanya anak saya," dan si Molly pun menyeringai dengan galaknya saat melihat orang tadi.
Si Cricket a.k.a Krikot adalah anjing yang tadi dibuang ke dalam halaman depan rumah saya. Saat itu, ia masih bayi (puppy) dan ukuran tubuhnya saat saya angkat masih seukuran telapak tangan saya. Dibuang saat tengah malam kompleks rumah mati lampu dan ia pun menimbulkan kegaduhan dengan menangis kesakitan (kaing-kaing). Melihat tubuh lemah itu, langsung saya angkat, saya masukkan jari saya ke dalam mulutnya biar ia tenang seperti menemukan puting susu ibunya, lalu saya masukkan ke dalam kardus kecil bekas sepatu yang saya lapisi kain bekas, saya letakkan di bawah lampu belajar saya, dan malam itu saya tidak tidur hanya untuk memastikan ada cairan air putih atau susu yang masuk ke dalam tubuhnya. Ia pun tumbuh besar hingga sekarang, walau sempat membuat saya panik saat malam takbiran tahun 2005 ia terserang Parvo (penyakit muntaber anjing, dan penyakit ini mematikan), dan membuat saya harus melarikannya ke Klinik Hewan 24 Jam di daerah Sunter, agar ia segera mendapat cairan intravena. Saat ia diopname, saya menjenguknya sehari dua kali sambil memberinya semangat untuk tetap hidup.
Terbiasa hidup dengan binatang terutama dengan anjing, saya sudah bisa mengetahui kondisi anjing-anjing saya jika mereka sakit atau ada sesuatu yang tidak beres terhadap mereka. Saya sudah bisa memahami "bahasa" mereka, dari gerak tubuh, tatapan mata, suara, napas dan tingkah laku mereka. Bahkan saat mereka menjelang ajal, saya pun sudah dapat memperkirakan berapa lama lagi sisa waktu saya bersama mereka, walau hal itu menyakitkan, menyedihkan dan sedikit traumatik.
Bozo, almarhum anjing saya yang ajalnya tiba 7 November 2007, sudah menemani saya selama 13 tahun, yang berarti jika diukur dengan usia manusia 7x13 tahun=91 tahun. Ia meninggal karena memang sudah tua. Dan beberapa hari sebelum ia meninggal, ia memang sudah menunjukkan tanda-tanda itu. Sudah tidak bisa menahan pipis, dan sudah pup darah. Tapi ia masih merasa risih dengan itu. Ia pun memberi tanda meminta tempatnya dibersihkan, dengan bersuara. Saat tempatnya dibersihkan, ia yang sudah renta tak malas untuk berpindah tempat sebentar, dan begitu tempatnya bersih, ia kembali ke sana. Terus begitu, karena ia terus mengompol dan pup.
Dua hari sebelum tanggal 7, ia sudah tidak mau makan, sambil sedih tapi harus tega saya mengajaknya bicara sambil menopang mulutnya dan mengelus kepalanya "Bozo ga mau bobokh aja ya? Mimi dah rela sayang kamu pergi, mimi ga tega liat kamu kayak gini terus. Kalo mau bobokh ga papa lo, mimi ga mau bobokh-in kamu ke dokter, tolong mimi ya," saya melihat tatapan matanya yang mengerti omongan saya. Besoknya, Bozo masih diberi umur, dan saya masih mencoba untuk memberinya makanan kesukaannya, menyuapinya, tapi tetap tubuhnya sudah tak bisa menerima, dan saya sudah meminta tolong kakak saya untuk menggali kuburan di halaman belakang rumah untuk Bozo.
Saya pun ingat Ibu saya masih di Magelang saat itu, dan saya yakin ia pasti masih menunggu Ibu saya pulang, karena harusnya tgl 5 November rencananya Ibu saya kembali ke Jakarta, tapi diundur. Saya pun kembali mengajaknya bicara, "Zo...kamu nungguin Nenek ya? Nenek masih di Magelang, Sayang, pulangnya diundur. Maaf ya. Kalo kamu ngga kuat Nenek ngga usah ditungguin, tadi malem Nenek tilpun nanya kamu," kembali tatapan mata indah itu yang saya dapatkan. Besok paginya, saat saya, Bapak saya dan Kakak saya bangun pagi, ia menggongong untuk terakhir kalinya dan kembali ke Penciptanya. Kami pun lega, karena kami tak tega, walaupun kami sedih setengah mati.
Kejadian serupa tidak hanya saya alami dengan Bozo, tapi juga dengan dua ekor anak burung yang jatuh dari sarangnya, yang sempat beberapa hari saya dan Ibu rawat dan beri makan, satu ekor kelelawar yang jatuh dari gendongan induknya, yang sudah sempat akhirnya berbulu karena kami rawat, tapi akhirnya ia pun kembali ke Pencipta, dan terakhir seekor kelinci yang dijual di Carrefour.
Ah, cerita yang terakhir ini juga mengenaskan. Saya yang sedang berbelanja di pusat perbelanjaan itu, melintasi gang yang menjual peralatan hewan, karena saya ingin membelikan daging kalengan untuk makhluk-makhluk lucu saya di rumah, ternyata di sana sedang menjual hewan hidup juga, salah satunya kelinci. Melihat sekilas, saya sudah tahu kelinci itu sakit. Saya langsung mendekatinya, mengelusnya dari luar kandang, dan saya ajak bicara "Kamu sakit ya, ciwan, ga mau bobokh aja? Daripada sakit di sini ga ada yang ngerawat." Dan setiap kali saya akan beranjak meninggalkannya, ia pun nampak protes seperti ingin melompat. Saya kemudian bicara dengan penjaganya, dan memang ternyata kelinci itu tiba-tiba sakit.
Penjaga itu kemudian mengambil kardus kecil, meletakkan kelinci itu di dalamnya dan ingin menutup rapat kardus itu, dan langsung saya protes "Mas jangan ditutup dulu, kelincinya belom mati gituh. Bawa sini aja kardusnya," ia pun memberikan kardus itu pada saya. Saya pun kemudian meletakkan kelinci itu di atas telapak tangan saya, sambil mengelus-ngelusnya dan kembali bicara padanya "Dah ya bobokh aja dounks, daripada kamu sengsara di sini ya. Sedih ya temennya dibeli orang tadi? Terus sekarang sendirian," sambil juga berdoa pada yang Punya Semesta agar nyawanya diambil. Kembali saya berniat meninggalkan kelinci itu, kembali ia protes dengan melompat kembali ke tengah telapak tangan saya, "Duh, duh, ga mau ditinggal ya?" dan ia pun bersuara untuk kemudian kembali ke Penciptanya..."Ma kasih ya dah mau bobokh. Thank God for hearing my prayer," saya pun kemudian menyodorkan kardus itu ke si penjaga tadi "Nih, Mas, udah selese kelincinya."
Molly, Krikot dan teman-teman yang tertampung di rumah saya dan tertampung di Penampungan Hewan (Non Killed) di mana pun, adalah makhluk-makluk yang cukup beruntung, tapi coba teman-teman bayangkan berapa ekor yang masih berkeliaran di luar sana. Tidak hanya anjing, ratusan ekor kucing juga terlantar. Memang masih banyak yang menganggap kasta mereka jauh di bawah kita, atau menganggap bahwa membantu manusia lain jauh lebih berharga. Tapi mereka sama-sama makhluk ciptaan Tuhan, yang juga mempunyai hak hidup. Hidup mereka di luar sana sudah cukup sengsara, dan kita, manusia yang katanya makhluk paling berbudi, penyayang makhluk lain, tolong jangan menambah sengsara hidup mereka, dengan tindakan-tindakan yang menyakiti mereka. Terus terang tidak hanya anjing liar yang saya temui dijalanan dengan luka-luka parah. Kucing dengan bekas luka siraman air panas, atau bekas bacokan benda tajam pun sering saya temui, dan andaikan di rumah bukan "markas" anjing, mereka pun sudah saya bawa dan angkut ke rumah.
Dengan tulisan saya yang sangat panjang kali ini, saya hanya ingin mengingatkan teman-teman untuk tetap menghargai hidup para hewan di luar sana. Mereka juga makhluk yang diciptakan untuk membantu manusia,menyeimbangkan ekosistem dan rantai kehidupan seutuhnya. Perlakukan mereka dengan baik atau setidaknya jangan lebih menyiksa mereka adalah salah satu tindakan nyata.
Jika teman-teman ingin mengadopsi hewan peliharaan, sebelum mampir dan membeli ke Toko Hewan, coba cari ke Tempat Penampungan Hewan, tak jarang ada hewan ras di sana. Untuk tautan ke tempat-tempat penampungan hewan di Jakarta (AdopsiAnjing, yang juga menyediakan kucing-kucing yang siap diadopsi, Jakarta Animal Aid Network, Pondok Pengayom Satwa dan Pak Tri, seorang sukarelawan yang memungut anjing-anjing dan kucing-kucing jalanan, yang tidak ada tautannya tapi ada di artikel saya), teman-teman bisa mampir di blog saya, di sisi kanan halaman blog, tautan itu sudah saya sediakan, artikel tentang hewan (dokter hewan, rumah sakit hewan, klinik, Toko Hewan, grooming, penyakit, pengalaman saya merawat hewan) juga bisa dicari di tag Informasi (Hewan).
Selain adopsi, mereka juga menyalurkan bantuan teman-teman, baik berupa uang tunai, makanan kering, beras dan makanan basah (daging/ikan), dan bantuan menjadi sukarelawan untuk mengurus tempat penampuangan itu di hari-hari tertentu (dog walking, memberi makan dan membersihkan kandang). Mereka juga ada program-program khusus penyelamatan hewan (misalnya program untuk perawatan kuda bekas dokar yang dilakukan oleh Jakarta Animal Aid Network, penyelamatan hewan yang disiksa oleh tuan-tuan mereka, misalnya dikandangi tapi tak diberi makan berbulan-bulan, vaksinasi masal, sterilisasi masal untuk kucing dan anjing liar, agar populasi mereka tidak bertambah banyak, dan lain-lain).
Sekali lagi ini bukan iklan, tapi saya ingin menggugah hati teman-teman untuk lebih menghargai kehidupan lain sekitar kita, walaupun mereka hanya binatang.
Against Animal Testing
Stop Animal Cruelty
Stop Animal Abuse
Are you with me, Friends?...
Oh ya, karena ini situs tentang seluk beluk perempuan, saya akan mengaitkan artikel ini dengan makhluk yang bernama perempuan...
Ada pepatah yang mengatakan jika kamu ingin melihat seorang perempuan merawat anak, beri ia seekor anjing, dan lihat bagaimana ia merawat anjing itu...
Dan menurut pengalaman saya, merawat binatang itu kurang lebih sama saja merawat bayi, awalnya bahasa mereka tidak kita pahami, karena hanya bahasa isyarat, tapi lama-lama akan kita pahami pula, karena kedekatan cinta, mereka perlu diajak bicara dan bisa memahami apa yang kita bicarakan. Hewan peliharaan juga perlu vaksinasi, perlu dibawa ke dokter jika sakit, dan pemilik akan bingung dan tak bisa tidur kalau mereka sakit. Jangankan anak sendiri, saya yang ikut membantu merawat keponakan saya dari ia lahir hingga sekarang, merasakan suka-dukanya kok, yang kurang lebih sama saat saya merawat anjing-anjing dan hewan peliharaan saya (dan sialnya, sekolah anjing juga mahal jek).
Ssttt...almarhum kura-kura saya dulu juga pernah ke dokter looo... :D
*Sill...Mbok...maap banget ya kalo super OOT, jiwa CALON dokter hewan gue dulu banget lagi keluar inih..hahahah...saking gue ga bakal tega kalo disuruh eutanasia hewan...hix...*
Tag: Hewan, Pencinta Binatang
Terkait:
-
Kalo Hewan punya FACEBOOK....
Sabtu, 21 Nov '09 22:39
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Silly: Nggemesin
-
candrakirana: Inspiratif
-
Guardian Angel: Nggemesin
-
dewira: Inspiratif
-
Baby Panda: Nggemesin
-
ndableg: Nggemesin


Komentar:
Si molly gue anjing chow-chow, yang nyeleweng sama golden redriver, jadinya bodynya aneh, tapi bulunya lebat buanget...
And yes, PET IS NOT A TOY... jadi perlakukanlah binatang piaraan anda sama seperti anak sendiri
A.N.J.I.N.G. ??!!!
*ankat kaki, tunggang langgang dari pekarangan Introverto ...
saya kebetulan sama sekali bukan penyuka, apalagi penyayang anjing, binatang menakutkan itu
*duduk manis menunggu tanggapan Introverto*
yang bener:
"i dont know if i ever love my cat then you express you love to your pets!"
maapkeun atas kesalahan tense yang (lumayan) fatal ini!
http://myaffectio…a-pet-lover/
*getok Silly pake buku when silly met venus*
*getok donyariya pake SLR*
emang dasar bahasa linggis ga gabluk!
gapapa, restu bunda mengikuti... *serasa restoran padang banget gak sih?*
baca artikel ini langsung mengingatkan saya pada film Marley and Me, film yang mengharukan, hiks
soal pengamalan dengan anjing, saya pernah digigit sekali di betis, ndak sakit waktu melihat taring2nya melubangi betis saya, sakitnya pas dia melepas gigitan, untungnya ndak rabies, dan masalahnya cuma misunderstanding, mungkin saya dikira tulang *doenk*
eh marley n me? gue ga nonton...eight below gue juga ndak nonton...bisa2 sesenggukkan gue nontonnya...
ahahhahaahha *ati2 yah*
sebelum ngasih dia juga wanti-wanti klo kucing ini gak akan dikasihkan ke orang yang cuman sekedar melihara, tapi harus di rawat bener-bener dan itu butuh biaya yang nggak sedikit. bahkan dia bilang makanan sekelas whiskas aja itu ndak layak di kasihkan, karena bisa bikin bulunya rontok, gw kurang tahu mungkin masalah cocok atau tidak klo soal makanan. singkatnya dia akan ngasih tuh kucing kalo bener-bener di rawat, di kasih makanan terbaik, di bawa ke dokter klo sakit, di sediain tempat pup yang rutin di ganti dll...
trus ada yang nyeletuk, 'eh, sayang banget duit segitu buat melihara kucing karena kasihan, apa ndak lebih baik disumbangkan aja ?? ke panti asuhan, ke yayasan sosial, dll. insyaAllah lebih bermanfaat. Uang segitu lumayan berarti loh buat yg kurang beruntung.'
gw pikir masuk akal juga, gw jadi keinget binatang piaraan sosialita yang biaya miaranya aja ngalahin gaji gw sebulan! tp semoga dia/mereka gak cuman peduli sama binatang tapi lebih peduli sama sesamanya.
just my two rupiahs.
saya jg setuju klo binatang peliaharaan itu harus dicintai..
tapiii... manusia sangat layak utk dihormati..
uh bahasa saya aneh yak??
sori nihh yee.. kebetulan saya lagi "panas bgt" nih sm temen saya yg "Pencinta Anjing" tingkat tinggi.
ceritanya dia pernah nemu anjing yg ditinggal sm pemiliknya pulang ke eropa sana (saya lupa deh dimana). ya saya sih bisa paham, pemilik ndak bawa bisa aja saking sibuk, ato ribet ngurus ini itunya nantinya dibandara.. nahhh temen saya malah nyebut pemilik ini J**ANAM..
wuah saya protes dong..
iya anjing layak dicintai, tp bukan berarti manusia bisa direndahkan demi mereka (anjing)
ahh... saya jg suka anjing.. tp sebatas sebagai teman. saya ndak mau memperlakukan anjing saya seperti permaisuri.. yg tidur di tmpt empuk, makan enak-enak de el el
aduuuhhhh saya aja ndak bisa makan enak.. masaq anjing saya makannya enak2..
heran kalo dipikir-pikir, kok bisa binatang membuat kita mewek ketika mereka mati?
Introverto: kamu orang yang "jujur" ternyata. postinganmu dowo tenan iki
setidaknya usaha untuk seimbang itu ada...
dan jangan sampai menyakiti hewan2 itu...dengan menimpuki...nendang...nyiram air panas..dll..
Introverto: waaa 7 !!! sekalinya peliharaanku sampe 7-8 tuh cuma pas ada yang beranak (anaknya doank kan 4-5 ekor hihihi) .. abis anaknya gedean pasti langsung disebar2.
Sekarang udah nggak pelihara anjing lagi... pengen sih, tp suami gak tega kalau asisten kebagian tugas ngurus anjing, lah kita pulang sampe rmh aja malem melulu..
btw gimana kalau kita membuat semacam advokasi untuk hewan peliharaan, seperti anjing misalnya?
Goy: loh, kok monyet sih, hahahahaha, khan gue merestui
*sebar2 granat*
Goy: loh, kok monyet sih, hahahahaha, khan gue merestui
*sebar2 granat*
How could they do that
Silly: gue tau sill elo harus sebar granat kemana lagi
mungkin harus pada belajar sama Anya...eh aku mau dounks belajar inggris lagi ama Anya...
Bahwa, ketika kita memutuskan untuk memilih miara binatang... ya perlakukanlah mereka dengan selayaknya... jangan cuma dijadiin mainan doang, begitu sakit atau mati, ndak mo diurus... waktu masih cakep ajah, dijadiin hiasan rumah, tapi giliran dah sakit, dah terkapar, ndak diapa-apain.
Kalo ndak merasa sanggup memperlakukan mereka dengan kasih sayang yang selayaknya, mending jangan miara... tapi jangan juga menelantarkan... pokoknya ndak boleh... kesian taukkk....
eh, kok jadi gue yang sedih yaaa... ngebayangin anjing2 dan kucing yang terlantar dijalan...
Guardian Angel: *pentung2*
*setelah ini kayanya kapok pake bahasa linggis, pake bahasa jawa ajah!*
*summon mas stein utk ngajarin bahasa jawa*
Silahkan login untuk memberikan pendapat