Pizza dan Pramunikmat, Sampah yang 'Berkelas' 30
Selasa, 13 Okt '09 11:52
Ya, Pizza. Siapa sih yang tak suka? Saya Pizza Lover!. Meski dibilang tak menyehatkan bagi raga, tapi penikmatnya *termasuk saya* justru makin banyak. Pizza terbilang cemilan murmer *baca = murah meriah*, tapi karena dikemas mewah, junk food macam ini di Indonesia malah dipandang mewah dan mahal.
Pernah disuatu waktu saya kencan berdua dengan suami selepas pulang bekerja. Penat dan lelah tentu saja membuat kami lapar. Kami buas dan sedang ingin sekali menyantap hangatnya Pizza tersaji diatas piring kami. Pizza dengan toping daging asap, paprika, keju parut dan saus sambal, merah nan menggairahkan, dilengkapi pinggiran pizza terisi lelehan keju gurih yang menggoda. Saya nikmati honey lemon tea dan suami menikmati pesanannya, segelas besar coca cola. Penawar dahaga kami di sore itu.
Tiba waktu menyantap nikmat dan hangatnya Pizza, saya malah bingung dihadapkan pada berderet-deret sendok dan garpu yang tersaji di atas meja kami.
"Ah..sekelas pizza ternyata bisa juga bikin penikmatnya jadi ribet ya?"
Lalu terbersit pertanyaan di benak saya,
"Apa karena resto Pizza ini begitu mewah dan istimewa jadi penyajian Pizza haruslah mengikuti standar table manner?"
Tak peduli table manner, kami lapar dan butuh dipuaskan dengan sepotong pizza dihadapan kami saat itu. Dobrak saja kungkungan itu. Meski kami penikmatnya sejati, tak perlulah Pizza diperlakukan istimewa. Makan saja sepotong lalu sepotong lagi, sampai perut benar-benar menolaknya. Tak perlu piring, apalagi garpu dan pisau. Tak perlu juga jijik, saus yang menempel di sela jari-jemari itu jilati saja *asal sudah mencuci tangan loh ya*. Menjilat makanan seperti ini justru di-sunnah-kan di agama saya.
Sambil menikmati sepotong demi sepotong Pizza yang siap tandas di dalam perut, saya berimaji, mengibaratkan Pizza yang saya nikmati ini layaknya seorang pramunikmat. Meski dianggap 'sampah masyarakat' keberadaannnya mampu menembus kalangan 'high class'. Tak menyehatkan jiwa sih, tapi bisa bikin bugar raga. Ia dikemas mewah dan 'mahal'. Jika ingin mencicipinya, perlulah merogoh kocek lebih dalam.
Saat akan menikmati raganya, ada semacam standar dan perlu pakai ribet yang harus dijalani. Penikmat mesti pakai kondom, dan penikmat tak boleh ejakulasi di mulutnya.
Kata si pramunikmat "it's disgusting!".
"Apa karena kamu merasa mahal dan istimewa, lalu kamu minta saya perlakukan sama?, Saya sudah bayar kamu mahal, saya berhak atas kamu, saya lapar dan butuh dipuaskan".
Tak peduli standar-standar itu, si penikmat tubuhnya lakukan apa saja sesuka yang dia mau pada si pramunikmat. Menyantap tubuh indahnya. Menikmati setiap jengkal demi jengkal tubuhnya seperti sedang menikmati sepotong pizza. Penawar lapar dan dahaga yang menggoda.
Dan di tengah resto yang mewah itu, di suatu senja beberapa waktu lalu, saya nikmati saja sepenuhnya dua 'sampah' yang sangat 'berkelas' itu, sepotong Pizza dan imaji saya tentang si pramunikmat ;)
Tag: pizza, pramu nikmat, mewah, berkelas


Komentar:
brarti mba termasuk golongan yg ga pake kondom dan ejakulasi di mulut dong?
btw, klo kaitannya dengan sampah, brarti penyebutannya ga pake yang pramu nikmat dunk..
saya ibaratkan pramu nikmat seperti 'sampah masyarakat', sama seperti pizza yang dianggap makanan sampah..meski sampah keduanya, tapi mereka mampu menembus kalangan 'high class'
mangsud e si pizza di saji oleh pramu yang nikmat
ngerti ngerti,
saya juga suka pizza, terutama hawaiian! nyaaam!! *jadi ingat jaman mahasiswa, menahan dingin dan lapar hanya dengan sepotong pizza*
dirimu kok paham kalo pramunikmat high class pantang ejakulasi di mulut?
tapi aku lebih seneng yang itali punya, biasanya masaknya dengan roti yang tipis dan krispi serta toping yang banyak... walah saya malah jadi lapar dan pengin pizza
varian apa saja saya suka..selama dinikmati tanpa table manner..riweh bener!
hahaha..saya ga bilang saya tau, lhah wong ini cuman imaji..ibaratnya makan pizza mesti pakek table manner (aturan makan) yang ribet itu, begitu juga si pramunikmat yang menetapkan aturan bagi penikmatnya..tak boleh ejakulasi di mulut, dan mesti pakek kondom..
mau nraktir saya Pizza?
eeehhh mbaca kondom dan tmen2nya naphsu makan saya langsung hilang..
hayo mbak maya.. tanggung jwb..wekekeke
habis makan jadi pengen cepet pulang
Anyway, menikmati pizza, mo direstoran mahal, maupun direstoran murah sekalipun, paling nikmat tuh kalo diangkat pake tangan, dimasukkan sebanyak dan sesanggupnya mulut memuat, lalu ditarik... sampai keju mozzarellanya jadi melar dan manjang... lalu lumer dalam mulut... Hmmmmmmm... sensasinya ituloh... luar biasaaaaa....
Dan sensasi itu ndak akan kita dapetin kalo makan pizza pake table manner segala... doh... apa enaknya makan pizza, mesti motong kecil2 pake piso ama garpu, trus ditusuk kecil2, masukin mulut dengan kemiringan garpu sekian derajat, kepala sekian derajat... dan mulut dibuka paling besar selebar 2 jari dewasa...
Ahhh, ndak nikmat... mbayanginnya aja dah males duluan,
pizza sbnernya gak terlalu junkfood juga sih, malahan sehat kok, asal isinya macem2 jangan cuma keju doangan, paprika mix daging, dll bikin gizinya cukup.
habis makan pengen cepet pulang.. ajak istri makan pizza di atas ranjang..*halah*
ah yaa..saya juga rakus..bisa ngabisin apa saja yang ada di hadapan dalam hitungan detik..*kurus tapi makannya banyak..kemaruk!*
burger?..boleh boleh..mau nraktir saya juga kah?
Pizza jadi sehat jika di buat dari roti whole grain, virgin oil, saus tomat, banyak bawang putih, herbal dan sayuran, daging kaya protein yang rendah lemak serta produk susu rendah lemak atau tanpa keju sama sekali.
kalo mau sedikit manis, bisa tambahin saus dark chocolate juga potongan buah segar sebagai kreasi
maklum, udah waktu makan siang neh..
giliran ada si eja.. di alinea selanjutnya..
lapernya ilang..
dodol ah si malaikat!
*riwil to the maxx..!*
Silahkan login untuk memberikan pendapat