Berubahlah Babi.. 30

Senin, 5 Okt '09 15:08

Kenapa ya ketika kita diminta mengerjakan sesuatu yang baru, posisi yang baru, sesuatu yang berbeda, yang sedikit lebih sulit, sedikit lebih mengerahkan tenaga, atau apapunlah itu yang intinya mengusik zona nyaman, mengubah kebiasaan & cara pandang kok pasti ada penolakan & sentimen negatif lebih dahulu? Kalaupun nantinya di terima pasti dengan tidak ikhlas alias setengah hati. Tapi ketika hal baru itu sudah berjalan beberapa waktu & akhirnya menjadi kebiasaan baru kok kita jadi merasa nyaman dengan hal itu ya. Sering ga merasakan itu?

Hhhm, kok jadi teringat sebuah tulisan Putu Wijaya yang judulnya “Berubahlah.. BABI !!” ya. Yang menceritakan tentang sulitnya orang mengubah kebiasaannya. Kurang lebih ceritanya begini :

Tersebutlah seorang lelaki dengan kelainan unik yang dideritanya. Kelainan itu sangat mengganggu dan kini malah membahayakan kariernya. Setiap disuruh menuliskan nama, selalu saja tanpa sengaja dia menuliskan kata “BABI”. Entah darimana awalnya kebiasaan itu bermula, yang jelas kebiasaan itu kini telah lebih dari sekedar berurat akar, ia telah menjelma menjadi monster. Karena telah demikian frustasi, si pria akhirnya memutuskan untuk berkunjung ke psikiater. Berbagai analisa kejiwaan pun dilakukan. Kesimpulannya ? simple. “Tangan kanan Anda tampaknya iri dengan tangan kiri nya. Betapa tidak, jam tangan dan cincin berada ditangan kiri Anda, sedangkan tangan kanan hanya kebagian kerja”, ujar psikiater tenang. Mereka berdua sepakat memindahkan jam si pasien dari tangan kiri ke tangan kanan, sementara tangan kiri tetap kebagian cincin. Biar adil. Secarik kertas dan pulpen diberikan kepada si pasien, dan psikiater itu menyuruh nya menuliskan “namanya” disana. Pergulatan hebat terjadi. Tangan yang gemetar, keringat bercucuran, urat-urat birupun bermunculan, menandakan tidak mudah melakukan tugas sederhana itu. Singkat cerita setelah satu jam berlalu, akhirnya tertulislah kata “Prakoso” di kertas itu. Dia berhasil ! Si pasien telah sembuh, dan psikiaterpun merasa terharu dan bangga. “Nah Anda sudah sembuh” , ujar psikiater bersemangat, “Nih..lihat…"Pra-ko-so"..nama Anda. Coba baca tulisan ini”. Si pasien tertawa.. mengangguk-angguk.. kemudian membaca tulisannya sendiri… ”B A B I” ujarnya kalem..

Ketika ada hal yang mengharuskan untuk mengubah kebiasaan & cara pandang kita terhadap hal tertentu kenapa kita selalu ada kecenderungan apriori dulu? Wong padahal ya belum dijalani. Memangnya sudah pasti kalau hal/kebijakan/kebiasaan baru itu pasti nantinya akan memberatkan? Pasti akan merugikan? Pasti memberikan dampak yang kurang baik buat kita? Belum tentu juga kan? Ok, saya pribadi sepakat dan percaya bahwa tidak ada shortcut untuk berubah. Tapi bukan berarti bahwa setiap perubahan itu sangat sulit, cenderung mustahil atau selalu memerlukan waktu yang lama (meskipun kadang bener juga sih, apalagi kalau sudah yang menyangkut namanya mengubah kebiasaan/mindset yang sudah tertanam sejak kecil, mengubahnya pasti sulit. Hanya orang itu & Tuhan yang tahu kapan bisa berubah :-D ). Tetapi yang ingin saya garis bawahi disini adalah untuk berubah utamanya memang memerlukan niat yang bulat, kesungguhan dan keikhlasan.

Perubahan itu larinya ke masing-masing pribadi kita juga kok. Mengubah cara pandang. Mengubah sesuatu yang dalam pandangan kita negatif, apriori, berubah jadi positif & lebih optimis. Kalau selama ini kita merasa terbebani ketika kita harus melakukan sebuah perubahan yang “mengusik zona nyaman” kita, coba deh ambil sisi positifnya aja dulu. Contoh nih ya, ketika oleh pihak management kita diberikan tugas & tanggung jawab yang lebih besar daripada sebelumnya ya itu berarti management percaya bahwa kita capable, kita mampu. Jadi, sudah saatnya kita juga percaya akan apa yang kita punya, pada kemampuan diri sendiri.

Perubahan kebiasaan, perubahan ritme kerja, perubahan apapun itu yang sifatnya positif & harus dilakukan memang di awal akan terasa berat dan memerlukan niat yang bulat. Soal jangka waktunya mau berapa lama ya tergantung kita sendiri. Tapi yang pasti tidak ada sesuatu yang tidak akan kita peroleh dari perubahan itu. Apapun hasilnya anggaplah itu sebagai sebuah achievement buat kita. Selama perubahan itu untuk sesuatu yang positif ya why not tho? ;)


Tag: renungan, mikir

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

mas stein 0 0
yang paling berat memang langkah pertama
clingakclinguk 0 0
jujur, awalnya saya pikir artikel ini ada hubungannya dengan ilmu klenik, eh ternyata salah.

berubah itu sudah merupakan kodrat, karena konon ndak ada yang kekal di dunia kecuali Tuhan dan perubahan itu sendiri.
masalahnya kita yang sering menolaknya, berusaha melawan takdir, ndak mau berubah, mungkin karena sdh terlalu menikmati zona nyamannya, dan memang sih seringkali perubahan itu akhirnya terasa tak nyaman karena hal itu.

soal kerjaan, saya kok malah seneng kalau dpt jenis kerjaan baru, entah itu berat atau ringan, ada semangat untuk mempelajari hal-hal baru, tapi begitu bosen, mulai kendor lagi.
devieriana 0 0
mas stein: padahal kalo udah dijalani akhirnya jadi biasa yah..
devieriana 0 0
clingakclinguk: iya artikeel ini benernya ada hubungan dengan pekerjaan kok.. Kalo kita udah di zona nyaman suka lupa, bahkan udaah keenakan, akhirnya kalau disuruh susah dikit nggak mau.. Padahal namanya ilmu pengetahuan itu kan bisa didapet dari mana aja ya..
enriqueza 0 0
sayangnya, tuh babi udah terlanjur suka denger lagu yg sdg populer... "jangan pernah kau coba untuk berubah..."
Tukang Nasgor 0 0
judulnya menipu saya.. : ))

keluar dari zona nyaman, sulit memang kalo hanya dipikirkan...
clingakclinguk 0 0
Tukang Nasgor: pasti udah siap2 aja jaga lilin ya? hahahaha... : ))
devieriana 0 0
enriqueza: itu lagunya siapa yah? Mansyur S yah?
*ngupdate MP3*
devieriana 0 0
Tukang Nasgor: aslinya pengen tak kasih judul yang nggak nyambung sama artikelnya.. trus mau tak kash gambar yang. nganu.. mmh.. nggak jadi wis.. Nanti diganti gambar J-Co sama simbok : ))
devieriana 0 0
clingakclinguk: susah kalo sudah ngomong sama dukun pesugihan gini..
*njagain lilin sampe ketiduran*
Tukang Nasgor 0 0
clingakclinguk: lah si penetek tuyulnya masih belum on fire... *nyuruh clingakclinguk: minum vitamin, biar fit* : )) : )) : ))
Tukang Nasgor 0 0
devieriana: bagus kok judulnya.. ; ))
devieriana 0 0
Tukang Nasgor: hyahahahahaha.. ini kenapa jadi tuyul sih? kitaa beda pesugihan woy.. : ))
*ngikut nyi blorong*
devieriana 0 0
Tukang Nasgor: judulnya thok ya? ; ))
Tukang Nasgor 0 0
devieriana: artikelnya juga bagus.. ; ))

*mesti nyambung lagi, artikelnya thok ya.., ujung2nya pengen muji si penulis.. ogah..* : )) : ))
devieriana 0 0
Tukang Nasgor: *mutung, mlipir mainan pasir di pojokan karena pertanyaan berikutnya udah ketauan*

; ))
clingakclinguk 0 0
Tukang Nasgor: ndak apa2, bilang aja judulnya menarik perhatian, isi artikelnya juga bagus, trus foto penulisnya jga mirip aura kasih, opo meneh hayo? : D
Tukang Nasgor 0 0
clingakclinguk: aura kasih...? ; )) : ))
clingakclinguk 0 0
devieriana: mbak dev, tuh malah Tukang Nasgor ngetawain sampeyan

*nah...lo nah lo...anaknya nangis, bapaknya potong kumis, baunya amis-amis*
Silly 0 0
Tukang Nasgor: & clingakclinguk: heiii, you two, bubar dehhh... tulisan bagus2 kok malah dirusak sama komen2 rusuhhh : )) : ))

btw, devieriana: aku suka banget paragraf ini...

"Perubahan itu larinya ke masing-masing pribadi kita juga kok. Mengubah cara pandang. Mengubah sesuatu yang dalam pandangan kita negatif, apriori, berubah jadi positif & lebih optimis. Kalau selama ini kita merasa terbebani ketika kita harus melakukan sebuah perubahan yang “mengusik zona nyaman” kita, coba deh ambil sisi positifnya aja dulu."...

semoga semua orang belajar untuk berfikir positif dulu ketimbang apriori : D
clingakclinguk 0 0
Silly: mbak kayaknya di desktop kepala setiap orang lbh banyak shortcut ke pemikiran yang negatif dan apriori, jadi lebih mudah diakses, beda dengan pikiran positif, perlu usaha, perlu kemauan, kayak kita perlu buka2 folder dalam komputer baru deh tuh ketemu yang namanya pemikiran positif
Tukang Nasgor 0 0
Silly: mam, saya itu komen serius lho di awal, dirusuhi clingakclinguk, saya kan jadi terpengaruh..
*lempar batu sembunyi sejauh2nya* : ))

clingakclinguk: hei you, ojo jadi provokator *puk puk mbak devieriana, ditendang ke arab* : D
devieriana 0 0
clingakclinguk: jangan membawa nama aura kasih, dina mariana, sherina, & mpok nori di mari yah.. : ))

tak beliin kacamata kuda semua lho tar..
*pas ngomong "kuda" nolehnya ke clingakclinguk * ; ))
devieriana 0 0
Tukang Nasgor: iyo itu clingakclinguk yang ngasih nama , biarin aja.. terobsesi sama Aura Kasih yang ga kesampaian makanya semua-semua dibilang Aura Kasih : ))
*ngiket kuda.. lumping*
devieriana 0 0
clingakclinguk: hwahahahahaha.. kompor : ))
devieriana 0 0
Silly: iya padahal kalo udah dijalani ternyata ya nggak gitu-gitu amat. Kaya misalnya pas dapet kerjaan & tanggung jawab baru, kita cenderung "aduh, tambah berat nih kerjaan gue..". Padahal bisa jadi ada hal positif lainnya yang bakal kita dapet dari perubahan posisi & jabatan itu.. : )
Tengkyu mam.. : )
devieriana 0 0
clingakclinguk: ya emang.. kayanya default settingnya begitu ya.. makanya agak susah kalo udah dibenturin sama sesuatu yang baru & sulit dikit aja.. Kadang aku juga masih gitu juga denk : D
*ngaku*
devieriana 0 0
Tukang Nasgor: : )) : )) : ))
*diumpankan ke unta*
dita-gigi 0 0
ya babi?? *saya ke summon, soalnya genk saya namanya genk babi* : ))

emang untuk memulai itu yg susah, padahal kalo udah dimulai, ya semua akan mengalir ajah gitu... : D
malaikatpendosa 0 0
mba Dev emang cocok jadi motivator deh ; )

seharusnya dengan penuh keyakinan dan niat dalam hati bahwa segala perubahan yang terjadi itu akan membawa ke arah kebaikan..lakukan saja meski itu berat di awal. seperti juga melepaskan yang buruk untuk menggenggam erat yang terbaik untuk dibawa pulang : )

Silahkan login untuk memberikan pendapat