Aib atau Prestasi?... 18
Minggu, 4 Okt '09 01:26
Numpang Copas dari blog sendiri...
Hmm...mungkin topik tentang pre-marital sex sudah cukup basi sepertinya untuk dibahas. Ada yang pro dan ada pula yang kontra.
Dinamika kehidupan kota besar, apalagi Ibukota seperti kota Jakarta ini memang sangat-sangat cepat. Bisa jadi perubahan terjadi dalam hitungan detik saja, termasuk dinamika dan perubahan pikiran manusianya. Salah satunya, pemikiran tentang seks pra nikah dan/atau seks bebas.
Kalau zaman dulu nih, membicarakan seks saja sudah dianggap suatu hal tabu, dan saru. Beda 'kan ya dengan sekarang? Pelajaran tentang anatomi tubuh manusia yang membedakan antara perempuan dan laki-laki sudah mulai diperkenalkan sejak sekolah dasar, sex education juga sudah diperkenalkan ke sekolah-sekolah. Dulu, waktu masih zaman saya sekolah, sex education ini sudah diberikan saat saya duduk di bangku SMP, dan diulangi serta ditambahkan materinya saat saya duduk di bangku SMA (*Duuuhh jadi inget tuch film tentang aborsi berjudul Silent Scream*).
Contoh lainnya nih, ya pemikiran tentang seks sebelum menikah. Ini topik memang terdengar basi, tapi mengapa selalu menyebabkan pro dan kontra? Dan hai, kita 'kan hidup di Ibukota, yang mendapat julukan kota yang tidak ada matinya. Pasti ada kehidupan malam, ada segala kemudahan fasilitas privasi, dari kamar motel, hotel, karaoke plus plus, dan bukannya seharusnya kita satu pemikiran bahwa pre-marital sex atau mungkin malahan free-sex ini adalah hal wajar menjadi salah satu potret kota besar, apalagi dengan segala kemudahan fasilitas tersebut? (*Yang kontra mulai sungut-sungut?*).
Jangan marah dulu, bukan berarti saya pro, atau kontra juga, saya berusaha netral (*Nyari aman hahahahha*).
Mungkin pernah dengar debat atau pendapat seperti di bawah ini, saat topik pre-marital sex atau free-sex ini dilontarkan ke forum...
"Enak ajah, yang laki bisa gitu main colok seenaknya tanpa bekas, trus ngarepin nikah nanti dapet cewek virgin? Dari mana perempuan tau kalo tuh laki masih perjaka?"
"Duuuhhh, anak perempuan kalo dah keilangan mahkota yang satu itu, berarti dia dah keilangan semuanya. Dah sampah."
"Eh pre-marital sex itu testing dulu kale sebelum nikah. Hahahaha."
"Kalo hamil gimana? Kan bikin pusing. Belom lagi kalo kena penyakit."
Dan gong-nya adalah...
"Kan dilarang agama," (*Daaarrr...skak mat*), walaupun saya lebih setuju jika dikatakan, sebagai sesuatu yang sebaiknya sangat dihindari, karena Tuhan memberikan kepada kita pilihan bebas sepenuhnya. Tinggal saat akhir hari kita nanti, Dia yang menentukan apakah pilihan kita itu benar atau salah menurut "SOP"-Nya.
Saya pribadi, tidak hanya mendengar satu dua kali dari beberapa kenalan saya yang bercerita tentang hubungan mereka dengan kekasihnya (*Hehehe, kekasih resmi maupun kekasih "minjem"/ngembat punya orang lain*), tentu sampai dengan cerita-cerita seputar hubungan fisik mereka.
Seru, aneh-aneh, ajaib (*Apalagi urusan gaya-gaya yang dipakai dan tempat mencari sensasi, wakakakakak*). Semakin hari semakin banyak. Semakin hari semakin diceritakan tanpa malu, tanpa ditutup-tutupi, dan dengan nada ringan tanpa ragu.
Saya pribadi menyimpulkan, hmmm...sepertinya sudah bukan hal yang sangat tabu ya urusan yang satu ini, dan di atas pemikiran itu adalah pemikiran apakah virginitas sudah tidak terlalu penting bagi perempuan ataupun pria yang belum menikah? Kalau dilihat dari cerita-cerita yang sempat mampir di telinga saya, sepertinya hal itu bukan hal yang paten untuk didapatkan dari pasangan. Mungkin semua yang penting di atas segalanya adalah masalah hati dan cinta.
Dan jika saya ditanya, apakah hal itu sangat penting untuk saya, mendapatkan pria perjaka untuk dijadikan suami? Saya akan jawab, hahahaha...berhubung manusia seperti itu adanya hanya satu di antara sejuta, maka saya akan katakan saya tidak akan terlalu ambil pusing, as long as dirinya tidak membawa penyakit terhadap saya, dan stop playing around after we married.
Lalu pernah dengar juga kan ya, julukan si perawan tua, bagi perempuan yang sudah dianggap berumur tapi belum juga menikah? Dan bagi sebagian orang, ini merupakan suatu hal yang memalukan. Bahkan cerita yang juga sampai ke telinga saya, ada seseorang yang lebih memilih menjadi janda, daripada perawan tua.
Ada dua pikiran saat saya mendengar julukan perawan tua itu, yaitu: Hmmm...yakin dia masih perawan? Hahahaha (*Kidding*). Dan pikiran ke dua adalah, kalau perempuan itu masih tetap perawan hingga umur tertentu, apalagi usia yang dianggap banyak orang sebagai usia tua/telat menikah, wah bukankah itu sebuah prestasi yang membanggakan dan bukanlah sebuah aib yang memalukan? Karena menjaga diri untuk tetap perawan hingga tiba saatnya nanti resmi menikah, saya yakin sangat sulit untuk dilakukan di zaman seperti sekarang ini. Bukan begitu bukan?
Tag: perawan tua, Fun Fearless Female, Telat Menikah, Free Sex, Pre-Marital Sex
Terkait:
-
Remaja Sekarang 32% Pernah Make Love
Jumat, 21 Mei '10 22:09 -
STOP FREE SEX
Sabtu, 31 Okt '09 19:54 -
Hubungan kedewasaan dan pernikahan.Gimana?
Rabu, 22 Jul '09 08:13
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
maspaman: Lucu
-
sabai: Nggemesin
-
Aku hanya seseorang: Megang banget
-
Pasang: Biasa
-
candrakirana: Nggemesin
-
enriqueza: Megang banget
-
Mbah Ngasmuni: Nggemesin
-
mas stein: Megang banget

Komentar:
ah, gak abis2 kalo soal pre marital sex ya?
*rusak*
nah, ini berpotensi meresahkan masyarakat
orang yg ndak punya kerjaan rasanya yang meneliti cara berjalan dikaitkan dengan keperawanan
sampe2 jalan aja di perhatiin..
sampe2 jalan aja di perhatiin..
kucingsapi: aih... hahahahahhaha.... biar gak oon2 banget ya dalam pergulatan
gimana saya mau menuntut pasangan saya harus tetap perawan, lha wong saya sendiri aja ndak
clingakclinguk: termasuk situ ga orang iseng ituh yang suka merhatiin gaya jalan?
kucingsapi: hahahahaha..test drive dulu gih cing...wakakakkakak
@yohaneshan's kalo situ masih perjaka..tetep nuntut cewek virgin? hahaha
kalaupun saya masih perjaka, saya tetep gak akan menuntut cewek saya utk masih virgin.
om saya aja pernah bilang saya ini laki2 bego, krn dalam mencari pasangan saya tidak perduli bebet, bobot maupun brebet brobot
yg terpenting bagi saya pribadi adalah "saat ini" dan kerinduan utk menjadi semakin baik kedepannya. gitu...
phallus: lloohh tumben di edit sekarang tulisannya? wakakakka becandddaaa...
hanya kita yang bisa memberi harga kepada diri kita, dan hanya kita sendiri pula yang tau seberapa berharganya kita.
hidup dgn mendasarkan pada apa kata orang, kekna cuma buat capede.
malaikatpendosa: errr...toosss...sama pikiran kita ternyatah...
Silahkan login untuk memberikan pendapat