Virginitas dan Saya 22
Sabtu, 3 Okt '09 13:34
PENGERTIAN UMUM VIRGINITAS
Sebagian besar masyarakat mendefinisikan virginitas secara biologis. Menurut mereka, virginitas adalah suatu kondisi dimana orang belum pernah melakukan hubungan seksual. Pada perempuan, virginitas ditandai dengan utuhnya selaput dara. Selaput dara yang utuh mengindikasikan bahwa perempuan pemiliknya adalah perawan. Selaput darah bisa sobek atau tidak ada karena berbagai macam penyebab, antara lain:
- Hubungan seksual
Penetrasi penis dan vagina menyebabkan sobeknya selaput dara. - Kecelakaan
Selaput dara bisa sobek karena kecelakaan seperti jatuh dari sepeda, jatuh dari kuda, dan seterusnya. - Bawaan sejak lahir
Jika seorang perempuan tidak mempunyai selaput dara sejak lahir, perempuan tersebut tetap dicap tidak perawan.
Sedangkan laki-laki tidak memiliki parameter secara biologis mengenai virginitas.
VIRGINITAS DALAM KULTUR INDONESIA
Kultur masyarakat Indonesia memandang seks sebagai suatu hal yang sakral, yaitu sebagai wujud cinta kasih dan untuk meneruskan keturunan. Keluarga adalah hal yang penting. Oleh karena itu, seks 'dilegalkan' ketika sepasang laki-laki dan perempuan telah mengikatkan diri dalam sebuah lembaga perkawinan. Dengan kata lain, virginitas hanya boleh 'dilepas' ketika sudah menikah. Atau bisa juga dikatakan bahwa seks pranikah dilarang.
Pandangan ini dipengaruhi banyak ataupun sedikit dari agama-agama yang ada di Indonesia. Indonesia memiliki lima agama resmi, antara lain Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Kelima agama ini melarang seks pranikah. Artinya kelima agama ini menganggap penting virginitas. Oleh karena pengaruh agama besar dalam masyarakat, nilai-nilainya juga melembaga dalam kultur masyarakat.
Laki-laki ataupun perempuan harus menjaga virginitasnya sebelum menikah. Namun isu virginitas seringkali dikaitkan dengan perempuan dan seakan-akan yang bertanggung jawab menjaga virginitasnya adalah perempuan. Hal itu disebabkan oleh ketiadaan penanda virginitas bagi laki-laki seperti selaput dara pada perempuan.
Seorang perempuan dinilai apakah ia pantas bagi seorang laki-laki, salah satunya, berdasarkan virginitasnya. Ketika seorang perempuan tidak dapat menjaga virginitasnya, ia dicap sebagai perempuan murahan. Ia cenderung dimusuhi oleh masyarakat dan bahkan dikucilkan. Betapa berat beban seorang hawa!
Laki-laki bisa melepaskan virginitasnya kapan saja ia mau dan tidak diketahui oleh masyarakat. Lama-kelamaan terjadi pergeseran nilai budaya dalam suatu kelompok masyarakat. Seorang pria dianggap jantan apabila ia mengambil virginitas banyak perempuan. Betapa menyedihkan.
Seiring dengan era globalisasi, banyak nilai-nilai budaya asing , terutama budaya barat, masuk ke dalam kebudayaan Indonesia. Dalam budaya barat, seks sudah bukan lagi suatu hal yang sakral. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menurut kultur Indonesia, virginitas mulai kehilangan kesakralannya.
VIRGINITAS DALAM PANDANGAN SAYA
PEREMPUAN: SELAPUT DARA, PRIA: ???
Melihat kenyataan yang demikian, saya bertanya-tanya. Mengapa Tuhan menciptakan perempuan dengan selaput dara yang mengindikasikan virginitas dirinya? Mengapa Tuhan tidak melakukan hal yang sama terhadap laki-laki? Betapa tidak adilnya Tuhan!
Akan tetapi setelah saya renungkan lebih lanjut, pertanyaan saya adalah pertanyaan yang tidak mungkin mampu dijawab manusia. Hanya Tuhan yang tahu jawabnya. Yang bisa saya katakan dari proses kontemplasi saya adalah bahwa sebenarnya yang memberikan nilai virginitas adalah manusia. Yang membuat selaput dara sebagai indikator virginitas perempuan adalah manusia.
Saya berkesimpulan bahwa manusia tidak adil. Manusia memilih selaput dara sebagai indikator virginitas seorang perempuan, sedangkan laki-laki tidak ditentukan indikatornya.
Jika alasannya secara biologis laki-laki memang ditakdirkan tidak diketahui kevirginitasannya, manusia tidak berhak menilai virginitas perempuan dari kondisi fisiknya pula. Lagipula selaput dara bisa saja hilang bukan karena hubungan seksual melainkan kecelakaan atau bawaan sejak lahir.
Kalau memang virginitas itu penting dan perlu dicari indikatornya, carilah indikator yang memperlakukan laki-laki dan perempuan secara adil. Dimulai dengan mengubah pengertian virginitas. Menurut saya pribadi, virginitas adalah suatu kondisi dimana seorang individu belum pernah benar-benar melakukan hubungan seksual. Hubungan seksual yang saya maksud di sini adalah hubungan seksual atas dasar kasih sayang (cinta) yang mendalam, bukan hubungan seksual dengan paksaan seperti pemerkosaan maupun hubungan seksual hanya karena kesenangan.
Kemudian dari penyataan saya di atas, mungkin akan timbul pertanyaan, "Bagaimana kita dapat mengetahui seseorang virgin atau tidak jika tidak ada indikator pasti yang bisa diukur seperti selaput dara?" Seperti yang saya singgung sebelumnya, virginitas lepas apabila seseorang telah melakukan hubungan seksual atas dasar cinta. Salah satu dasar dari cinta adalah kepercayaan. Apabila pasangan mengatakan bahwa ia belum melepaskan virginitasnya (tentunya dalam konteks yang telah saya kemukakan), percayalah bahwa ia masih virgin.
MAKNA VIRGINITAS
Setelah saya mencoba memberikan definisi dari perspektif pribadi saya terhadap virginitas, saya ingin mengemukakan pendapat saya tentang makna virginitas. Apa perbedaan definisi dengan makna? Definisi adalah penyataan yang mendeskripsikan suatu fenomena. Sedangkan makna adalah pentingnya fenomena itu.
Untuk saya pribadi, virginitas memang penting dan alangkah baiknya dijaga. Saya, sebagai seorang perempuan, ingin memberikan virginitas saya kepada orang yang benar-benar saya anggap tepat (baca: orang yang saya cintai).
Walaupun virginitas penting, saya juga sadar bahwa ada hal-hal lain yang lebih penting daripada hal itu. Masih ada loyalitas, kepercayaan, kejujuran, kemurahan hati, dan seterusnya yang posisinya berada di atas virginitas. Mengutip perkataan dari seorang kawan, "virginitas adanya di nomor 17". Tentunya teman saya tidak memaksudkannya secara harafiah. Ia ingin mengatakan bahwa virginitas bukan hal yang terpenting.
Andaikan anda mempunyai pasangan yang sangat cocok dengan anda dan sangat menyayangi anda. Ia sangat memahami anda, selalu berada di sisi anda saat suka ataupun duka, rela berkorban untuk anda tetapi ia tidak virgin. Apakah adil bagi ia dan anda jika anda ingin meninggalkannya hanya karena ia tidak virgin?
Menurut saya, orang-orang yang benar-benar mencari pasangan hidup pasti mengharapkan pendampingan dan berbagi suka dan duka. Hal inilah yang menjadi prioritas utama. Apakah virginitas dapat memenuhi harapan saya? Jawabnya tentu tidak. Untuk saya, virginitas hanyalah aksesori tambahan, bukan hal yang esensial. Boleh ada boleh tidak.
KESIMPULAN
Virginitas memang selalu menjadi isu yang menarik untuk dibahas karena mengundang banyak kontroversi, misalnya tentang definisinya. Masih belum ada definisi yang jelas mengenai virginitas. Apakah virginitas adalah keadaan dimana seseorang belum pernah melakukan hubungan seksual secara sadar, secara dipaksa, atau belum pernah melakukan hubungan seksual yang dilandasi oleh rasa cinta?
Juga terjadi perbedaan pendapat mengenai makna virginitas. Ada yang menganggap virginitas bukan hal yang terpenting. Ada juga yang menganggap virginitas hal yang sangat penting dan bahkan menentukan seseorang layak atau tidak.
Oleh karena belum ada batas yang jelas mengenai virginitas, kita diberikan kebebasan untuk menciptakan pemikiran kita sendiri. Anggaplah kebebasan ini sebagai makanan untuk wacana pikir kita. Kebebasan ini tentu akan melahirkan banyak perbedaan. Bukankah perbedaan mengakibatkan dunia kita semakin menarik.
Jakarta, 20 Februari 2005
Tag: keperawanan, virginitas, masyarakat, selaput dara
Terkait:
-
heboh alat pemalsu keperawanan
Sabtu, 17 Okt '09 10:20 -
Pssttt "pengalaman pertama" itu, ingat gak?
Senin, 17 Agu '09 16:05 -
Virginitas dan standar ganda pria
Jumat, 10 Jul '09 14:49
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
clingakclinguk: Megang banget
-
Tukang Nasgor: Inspiratif
-
maspaman: Megang banget
-
christie: Megang banget
-
aubrey.ade: Inspiratif
-
queeny o corner: Inspiratif
-
kucingsapi: Megang banget
-
Mbah Ngasmuni: Megang banget
-
Teena: Inspiratif
-
pelangi: Megang banget


Komentar:
kalo diukur sejak pertama kali berhubungan seks (sampai penetrasi), ini lebih masuk akal. tapi perlu kejujuran dari cowok dan ini yang gw sangsi. tp gw lebih setuju definisi kehilangan keperjakaan adalah sampai penetrasi itu.
dan semisal ada cowok yang blm pernah berhubungan seks terus mendamba pasangan (cewek) yang belum pernah juga, apa terlalu berlebihan ? menurutku sih tidak.
"...virginitas lepas apabila seseorang telah melakukan hubungan seksual atas dasar cinta. Salah satu dasar dari cinta adalah kepercayaan." Ini soal kesadaran.
Tapi lebih dari itu, bagi saya, yang lebih penting adalah setiap orang dewasa (dalam hal ini perempuan) punya kuasa atas tubuhnya sendiri. Setiap orang adalah nobody's property.
ini saya copy-kan:
"karena kita punya hak sepenuhnya atas tubuh kita"
saya sering bertanya-tanya, benarkah kata-kata itu? karena untuk sebagian orang semua yang kita miliki hanyalah titipan, yang seharusnya kita jaga dan pergunakan sesuai petunjuk Yang Menitipkan.
salah satu yang perlu diingat oleh kita semua (termasuk saya) sebagai manusia adalah kita memiliki kewajiban untuk mempertanggungjawabkan titipan yang Dia berikan...
namanya juga pertanggungjawaban, bagi saya itu hal itu berat sekali..
candrakirana:antara definisi dan makna, penting sekali utk memisahkannya. Dan saya pribadi lebih menekankan kepada makna nya.
Sudah berhubungan jalur belakang tapi masih merasa virgin karena indikatornya utuh. Konyol karena ini indikator yg dipuja dan kehilangan makna.
venus: wiw sudah apa belum yak saya,, jadi pengen lupaaaaa...
queeny o corner: halah queen
kuq lewat pintu belakang yak mbah,, ckckckcck
*jenturin jidat ke bantal
venus:
seandainya semua laki-laki, eh, orang memandang virginitas seperti komen2 para rumpiers, standar ganda virginitas tentu tidak perlu ada...
walaupun hanya untuk kesenangan, ga mungkin dia sembarangan milih cowok..
pasti kan cowok yg Ok ( ganteng dan sebagainya )..
berarti kan itu berasaskan suka sama suka juga..
Dan mengenai selaput dara..
apabila memang sobek karena kecelakaan, ya si wanita nya harus jujur, dan bisa menunjukkan surat keterangan dokter mengenai itu.
Opini saya :
Wanita yg sudah tidak virgin, adalah wanita yang tidak baik.
maspaman: "Tapi lebih dari itu, bagi saya, yang lebih penting adalah setiap orang dewasa (dalam hal ini perempuan) punya kuasa atas tubuhnya sendiri. Setiap orang adalah nobody's property."
saya setuju sekali dengan pernyataan ini
Yg saya sayangkan, seringkali isu virginitas scr makna hati menjadi alibi dan pembenaran untuk tindakan2 pribadi yg kurang bertanggung jawab. Eksperimen seks (yg kebablasan) di masa muda diceritakan sbg kecelakaan atau paksaan atau kekhilafan pada pasangan (yg akan dinikahi) dgn alibi bahwa scr hati dia masih virgin. Buat saya, alasan seperti ini sangat absurd!
virginitas adalah bentuk rasa hormat istri kpd suami, kalau suaminya nakal, tetaplah kita jadi pihak yg hormat kpd suami...pertahankan.
maka dari itu di indonesia di sebut dgn kehormatan,...saya punya teman yg sering merenggut keperawanan gadis. sedih dengernya karena itu di jadikan suatu kebanggan oleh teman teman pria. Dalam kasus saya, (maaf) saya 'kehilangan' karena kesalahan yg seumur hidup akan saya sesalkan, dan akan saya bayar dgn menjaga anak saya dgn aqidah2 agama yg benar, walaupun dunia luar sangat liar tapi mudah mudahan dgn bekal yg cukup dari kami anak kami tidak akan mengalami hal yg sama.
Dan mbak candrakirana, keperawanan adalah selalu bentuk "fisik" bukan melulu selaput dara, lepas dari karena kecelakaan atau anomali sejak lahir, sensasi sex terhebat adalah ketiga otot vagina masih rapat , bukan jika sudah satu kali dan malah berkali kali...jadi banyak pria yg mencari kenikmatan sex pertama ini, so keep it tight.
Silahkan login untuk memberikan pendapat