Berdaya dari Selembar Kain 8
Sabtu, 3 Okt '09 01:52
Hari ini semua orang berbicara tentang batik, mulai dari sensasi ketika mengenakannya, motifnya, kebanggaan dan lain sebagainya. Saya ingin berbagi tapi bukan tentang batik, tapi salah satu kekayaan tradisional kita juga, tenun ikat. Lebih tepatnya tentang perajin kain tradisional.
Jadi kita mulai ceritanya ya? :D
Membeli tenun ikat adalah salah satu agenda wajib ketika melakukan perjalanan ke daerah, wajib hukumnya pokoknya :D. Dan satu saat berkesempatan ke Palu, saya juga tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mencari tenun ikat khas Donggala , begitu yang seringkali disebut.
Maka diantarkanlah saya langsung ke rumah perajinnya, namanya Ibu Ratmawaty yang konon kabarnya hasil tenunnya tersohor. Menuju rumahnya di gang sempit di daerah Watusampu, bingunglah saya! Bingung memilih kain tentunya, karena warrna yang beragam dan memang cantik. Seperti biasa sambil memilih, pastinya ada obrolan tentang proses menenun, pemasaran, siapa pelanggan setia dan lain sebagainya.
Sampailah pada obrolan, " Ibu dari mana? ", tanya Ibu Ratmawaty. " Dari Jakarta, bu,", jawab saya. Mulailah si ibu bercerita tentang seorang tamunya dari Jakarta yang katanya menginap sekitar satu bulan di rumahnya. Kabarnya si tamu ini adalah desainer yang sudah tak asing namanya ini, magang di tumah Ibu Ratmawaty, untuk mengetahui tekhnik tenun tradisional dan motif-motifnya. Wah, keren juga ya. " Si desainer pulang bawa apa bu?" tanya saya. Si ibu menjawabnya, " bawa berbagai macam hasil tenunan dengan beragam motif".
Waktu saya tanya, apa yang didapat si ibu dari desainer, si ibu menjawab tidak ada. Tidak pelatihan mengembangkan motif atau kualitas kain, pun berbagi informasi pasar atau apapun itu bentuknya. Mendengar jawaban si ibu, saya dan teman saya merasa tidak adil saja, ketika si desainer mengambil ilmu si ibu tentang tekhnik tenun, yang berarti menambah pengetahuan si desainer. Tapi di sisi lain, si ibu tidak mendapatkan pengetahuan yang baru.
Setelah mendapatkan kain tenun pilihan, kami pun mencoba untuk berbagi dengan Ibu Ratmawaty, lain kali kalau ada yang ingin belajar, jangan ragu untuk melakukan barter pengetahuan yang lainnya, sehingga usaha dan kelestarian tenun ikat Donggala bisa berkelanjutan.
Jadi kira-kira begitulah, refleksi yang saya dapati seharian di tengah-tengah hingar-bingar, keriaan menggunakan batik, bahwa poinnya bukan hanya pada motif dan citra di mata internasional (yang juga penting), tapi yang lebih penting lagi adalah berbagi akses apapun itu bentuknya entah pengetahuan tentang kualitas kain, motif sampai pada informasi pasar, mengelola keuangan bagi perajin kain-kain tradisional, baik itu batik maupun tenun ikat. Satu hal yang penting, tapi sering terlupa. Bahwa akses adalah salah satu yang membuat mereka lebih berdaya.
Tag: Perempuan, perajin, berdaya, akses
Terkait:
-
Ladies, Go and get Your Orgasm
Selasa, 31 Agu '10 14:54 -
Perempuan Penjaga Laut
Kamis, 19 Agu '10 20:51 -
Eh, Ada yang Nangis
Jumat, 6 Agu '10 14:44
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
kucing_usil: Megang banget
-
dita-gigi: Megang banget
-
Tukang Nasgor: Megang banget
-
sabai: Inspiratif
-
desty: Inspiratif
-
tiyok: Megang banget
-
malaikatpendosa: Inspiratif
-
queeny o corner: Inspiratif
-
aubrey.ade: Megang banget


Komentar:
mungkin akan dianggap menbela diri kalo saya katakan saya tidak kerja dikantoran yg sifatnya terikat dalam hal berpakaian. karena sayapun kemana-mana lebih suka pakai kaos. atau mungkin dikategorikan tidak punya jiwa nasionalis
soal seni membatik, saya selalu terkesan dengan cara membuat batik tulis. begitu artistik dan seperti melibatkan soul mereka saat membuatnya. seperti para pengrajin batik di pekalongan misalnya
pada dasarnya, bangsa kita adalah bangsa yg ramah dan senang berbagi...
tapi jadinya, segala pengetahuan yg krusial dan milik pribadi bangsa, dengan mudah nya diketahui oleh bangsa lain...
pada dasarnya, orang indonesia itu suka berbaik sangka, tidak terfikir olehnya, mungkin kebaikkannya itu dapat disalah gunakan oleh org lain...
eh, kok ya jadi ngelantur, udah ah...
yohanes hans: "selalu terkesan dengan cara membuat batik tulis. begitu artistik dan seperti melibatkan soul mereka saat membuatnya." ditto
Mesti lebih hati-hati nih dalam menjaga apa yang kita miliki.
tapi g jadi pergi,, hikzzzzzzzzz. naseeeeebbb pengangguran kelas kakap. beuhhh
malah nyampah disini kan,,
muup ea mba e, muah dah
saya juga pas tanggalnya kebetulan ndak pakai batik
dita-gigi desty tiyok dee
iya dit, saking prasangkanya baik terus, sampe lupa kalau dunia terus berputar dan perlu
inovasi, jadi ketinggalan terus deh
the queen
hehe, padahal batik tu gaul lho, gak mesti beli baru, daur ulang saja koleksi nenek atau ibu
Silahkan login untuk memberikan pendapat