Sang Pencela Agung 32

Rabu, 30 Sep '09 12:09

Ada rasa tak nyaman bagi Srintil setiap kali akan menghadiri acara yang dihadiri Dasamuka. Pernah saja dia hampir balik badan setibanya di venue karena tahu Dasamuka ada di sana. Baju baru kebanggan nyaris percuma.

Dasamuka tak pernah menganiaya secara fisik. Tapi mulutnya tajam. Doyan meledek. Suka mencerca. Ketagihan menghina. Celakanya dia punya pengikut. Yaitu mereka yang ikut tertawa, menikmati cercaannya untuk orang tertentu. Sebagian dari yang terpingkal itu adalah orang-orang yang merasa terselamatkan dari hinaan, lantas menikmati ketersediaan kelinci segar di tengah serigala.

Saya mencoba becermin. Jangan-jangan saya pun Dasamuka, yang dalam kegiatan komununal suka menghina atas nama humor. Jika ya, maafkanlah saya.

Semua orang tak suka ledekan, celaan, dan hinaan. Itu wajar. Hanya daya tahannya yang berbeda. Maka saya bisa memaklumi kenapa Holly Grogan, setelah Lebaran kemarin, bunuh diri karena tak tahan celaan di Facebook.

Mari kita kembalikan ke diri kita, lingkungan kita. Para pencela, atas nama kejenakaan, bisa bertahan karena dukungan kita. Apapun yang dia lakukan kita anggap lucu -- sepanjang bukan kita korbannya.

Yang paling konyol sekaligus aneh adalah kita mengundang, bahkan membayar orang, untuk mencela kita dan tetamu kita. Misalnya? Mengundang MC, termasuk pelawak, yang selera humornya aneh. Mereka mendapatkan kenikmatan dari mencela dan mempermalukan orang lain.

Sebagai pengendali acara, MC (kadang juga moderator) dan pelawak yang mentas bisa menjadi diktator. Mikrofon di tangan mereka. Seorang penanya yang suaranya cemeng ditirukan, bahkan secara berlebihan. Penerima door prize yang bertubuh tambun dibilang akan merontokkan panggung. Hadirin tertawa. Naluri sadistisnya tersalurkan. Padahal itu bukan acara terbatas sepuluh yang saling kenal, yang saling ledek secara akrab dianggap biasa.

Benar, tak semua orang bisa seaneh Tukul Arwana yang bisa meledek diri sendiri -- terlepas dari Anda suka atau nggak suka sama dia.

Sekarang lihatlah panggung pelawak di mana pun, tak hanya Srimulat. Sebagian kelucuan mereka adalah ledekan -- termasuk saling ledek di antara mereka sebagai bagian dari role play. Kita menikmatinya.

Dari stok ledekan mereka, yang paling laku adalah menghina kebodohan (misalnya: "Lu cuma wisuda SD sih!"), keudikan ("Dasar wong ndeso!"), kemiskinan ("Orang susah kayak lu mendadak kaya, kagak ada pantesnya!"), dan fisik ("Buruan gih ke ahli ortopedi buat top upgrede tinggi badan lu!").

Mungkin itulah sebabnya kita sulit mendapatkan komedian cerdas yang membuat nyaman semua orang. Selera humor kita, terutama saya, memang masih payah. Yang namanya lucu adalah mencela.

© Ilustrasi: snarfd.com


Tag: humor, srimulat, komedian, pelawak, hinaan, celaan, cercaan, ledekan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

clingakclinguk 0 0
humor kita maen banyakan fisik, makanya mana ada pelawak yang tampangnya kayak nicolas saputra? ndak ada toh? terlalu ngganteng untuk ditertawakan *pasti candrakirana setuju*

dan ya cela-mencela untuk mengundang tawa, kalau untuk kalangan terbatas sih mungkin tak masalah, saya dengan sahabat saya akrab dengan sebutan monyet, tapi kok rasanya beda kalau ada orang lain yang ikutan manggil saya monyet ya?
Goy Si Ababil 0 0
nggggg... ummmmmmm... sebagai orang paling banyak mem-fitnah di ranah ngerumpi ini (apalagi sama orang yang komennya diatas komen saya ini : D) saya manggut-manggut aja deh...

: p
Silly 0 0
clingakclinguk: coba yahhhh, jangan bawa2 NIKOLAS SAPUTRA disini... cihhh : )) : )) : ))

anyway mas paman, kayaknya yang lucu intelek tuh cuma miing dkk dulu... sekarang kemana mereka yah : D
Goy Si Ababil 0 0
clingakclinguk: hahahhahahahah.. nah loooo.. ada yang buas tuh kalo de' nico disebut2.. : )) : )) : ))
maspaman 0 0
Silly: Miing cerdas, tapi juga suka pake jurus lama (meledek), minimal dalam role play pentas Bagito : )
clingakclinguk 0 0
Goy Si Ababil: nah kan, bisa diliat sendiri toh? kalau dek niko yang dijadikan bahan lawakan malah ada yang jadi buas, beda kalo yang dijadikan bahan lawakan si sule sama si azis gagap.

dan ngomong2 soal humor intelek, hmmm...selain mungkin karena para pelawak/komedian itu ndak bisa, bisa juga disebabkan karena penikmat lawakan kita yang tidak bisa menangkap kelucuan dari humor cerdas itu.

dan satu lagi, hmmm...apa lawakan2 yang digunakan untuk "menyentil" penguasa itu yang disebut humor cerdas?
maspaman 0 0
Silly: Eh nambah, Miing jadi anggota DPR hasil pemilu barusan. Yang saya salut dari Bagito, di luar soal ledekan, adalah kemauan belajar. Mereka dulu sampai manggil tutor untuk menggarap topik uo to date dari koran. : )
perempuan api 0 0
Goy Si Ababil: de' nico?
terima kasih tuhan, dia menyadari usianya...

*ikut melucu dengan cara mencela*
Goy Si Ababil 0 0
clingakclinguk: ah... lagi-lagi tanggapan yang brilian... emang pantes masuk dalam daftar penulis jenius di ngerumpi sampeyan itu.. sayang, perlu kacamata pengganti : )) : ))

setuju, di Indonesia memang lebih banyak lawakan slapstick atau lawakan ledek2an, karena, ya crowdnya sendiri belum mampu untuk mencerna lawakan cerdas... yang ada, kasian pelawaknya, karena orang tidak bereaksi atas lawakannya, dan televisi yang menayangkannya, karena dimarahin sponsor, ratingnya turun drastis! : ))
Goy Si Ababil 0 0
perempuan api: sialll.. : )) eh, emang saya boleh manggil de' nico.. wong saya setahun lebih tua dari dia kok.. : p

*nah nah bingung kan?* : p
perempuan api 0 0
Goy Si Ababil: setahun lebih tua sejak berapa puluh tahun lalu, mas? ;p

*bingung juga kan?*
maspaman 0 0
clingakclinguk: Menarik! Menyentil penguasa dianggap cerdas. Hahahahahaha!
clingakclinguk 0 0
Goy Si Ababil: ndak mau, saya tetep mau jadi perusuh : D

nah itu juga, para pelawak itu kan dibayar oleh orang yang nanggap mereka, lha kalau para pelawak cerdas itu tampil, tapi sama skali ndak ada yang ketawa karena ndak ngerti maksud lawakannya, yang ada dibilang ih mereka pelawak garing, ndak usah ditanggap lagi deh, dgn alasan mereka ndak menghasilkan pundi-pundi berlian, lha ujung2nya ke duit.

jadi belum ada lawakan yang tujuannya untuk mencerdaskan penikmatnya selain untuk membuat mereka kepingkal jungkir balik sampe bugil seperti yohanes hans?

berdasarkan pemahaman cetek saya, humor biasa hasilnya adalah ngakak, sementara humor cerdas hasilnya senyum2 miris, tragis, gitu ya?

saya malah jadi makin penasaran sebetulnya humor cerdas itu seperti apa sih, maspaman?
maspaman 0 0
clingakclinguk: Komedian cerdas, salah satunya, bisa membuat kita menertawakan diri sendiri dan menertawakan kepahitan hidup : ))
mas stein 0 0
dan kadang yang parah ada orang suka guyon dengan mencela orang tapi waktu balik dicela ngambek! : p
maspaman 0 0
mas stein: Ini sih default : ))
clingakclinguk 0 0
mas stein: bukan ada mas, tapi kabeh : ))
embun 0 0
Keren Mas artikelnya.....
candrakirana 0 0
clingakclinguk: setuju sekali, mas nico emang terlalu ganteng.

maspaman: setuju. komedian harusnya menyentil kita untuk berkaca pada diri sendiri, berkaca pada hidup, bukan untuk mencari kepuasan dengan merendahkan orang lain.
Goy Si Ababil 0 0
candrakirana: tapi, kita harus mengerti, bahwa dengan tidak mengikuti arus, sang komedian pasti akan tenggelam.

arusnya, ya sebagian besar orang Indonesia yang belum "ngeh" dengan guyonan cerdas.
maspaman 0 0
Goy Si Ababil: Dulu, waktu mewawancarai Doyok, saya meneruskan titipan teman tentang "lawakan cerdas". Jawaban Doyok sip banget: "Mau ngelawak cerdas gimana kalo pas pentas dangdut orangnya pada goyang sambil mabuk, Mas?" : ))
clingakclinguk 0 0
atau mungkin ada yang komentar gini : duh mau ketawa aja kudu mikir, pusing ah : ))

kebo culun 0 0
Artikelnya keren mas

lawakan yg cerdas menurut sy seeh, lawakan seperti Mr. Bean
kucing_usil 0 0
sekarang banyak orang yang mau jadi pusat perhatian, pengen dapat predikat paling lucu sedunia atau sekedar menghidupkan suasana dengan cara yang kejam. menjadikan kekurangan orang lain untuk bahan tertawaan, ledek-ledekan seperti itu yang namanya humor ndak cerdas.

bisa-bisa korban bahan tertawaan malah kehilangan rasa percaya diri lantaran keseringan jadi bulan-bulanan orang sekitar : (
maspaman 0 0
kucing_usil: Dulu banget, ketika masih bekerja, saya membuat daftar "tidak" untuk MC dari luar buat acara kami. Terutama mereka, para presenter/host, yang kejam, suka meledek tamu. Saya nggak rela tamu yang mau capek datang cuma buat dipermalukan.

BTW, dulu juga, ketika masih suka tipi, saya senang host luar negeri yang mendatangkan rasa nyaman. Orang yang maju dipuji, misalnya bajunya, bahkan tatonya. Eperibodi hepi jadinya. : )
Penonton kerusuhan 0 0
humor yang cerdas buat saya masih dipegang andy noya sama caknun *entahlah, mereka bukan pelawak, tapi selalu membuat saya harus menertawakan diri sendiri* : D

artikelnya megang banget paman.. : )
kucing_usil 0 0
yang saya tanggap dari artikelnya maspaman justru bukan untuk dunia per-MC-an atau dunia lawak profesional.

justru di kehidupan sehari-hari, sadar atau ndak sadar, ada sebagian orang yang pengen jadi pelawak kejam demi menghidupkan suasana dengan meledek kekurangan orang.

ledekan [yang dianggap lucu oleh orang lain] kalau dilakukan dalam jangka waktu panjang itu yang berpotensi jadi pembunuh rasa percaya diri korban, contohnya Holly Grogan ini : )

jadi lebih baik untuk memikirkan dulu lawakan kita daripada ada perasaan yang terluka, bukan begitu?

*doh, saya juga harus refleksi diri. sering melawak kejam juga ternyata : )
maspaman 0 0
kucing_usil: Terima kasih. Memang itu mangsud saya : )
sabaiX 0 0
maspaman: saya punya sebuah komunitas yang isinya cela-celaan melulu... misalnya kita lagi ngumpul, pasti adaaa aja yang dicela.

kami saling mencela. tapi saking terbiasanya dg cela-an ini, setelah sekian tahun kami merasa, kami mencela tanda kita sayang. tapi tentunya ini komunitas terbatas, teman jalan jauh, teman kerja rodi.

kalau saya pikir, kami jadi dekat berkat celaan. dan bagi kami yang kalo jalan jauh artinya melewatkan waktu bersama selama 24 jam, kadang sampai 2 minggu, dengan saling mencela kami udah nggak punya rasa sungkan dan rikuh satu sama lain...
that's my two pence : )
dee 0 0
maspaman: saya setuju dengan artikel ini : )

Goy Si Ababil & clingakclinguk: saya pikir terlalu menyalahkan penonton indonesia, sebagai masyarakat yang kurang cerdas dalam mencerna humor selain ejek mengejek, bukan alasan yang baik.
Humor yang baik atau "cerdas" tidak selalu harus berkesan berat dan sulit dimengerti. Humor itu bisa saja berkaitan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat sehingga temanya riangan dan mudah dipahami...

Saya memang tidak berbakat sebagai pelawak yang baik untuk memberikan contohnya..., tapi lawakan yang muncul sesekali di sinetron karya Deddy Mizwar adalah lawakan cerdas.. dan kalo dulu isi pidato Zainudin MZ dan AA gym juga membuat orang tertawa (meski mereka bukan pelawak)..

saya kira yang harus dikritisi jangan selalu tingkat "kecerdasan" masyarakat, tapi seharusnya bagaiman hal itu dijadikan tantangan bagi para kreativitas pelawak untuk memberikan hiburan sekaligus aktualisasi yang baik kepada orang banyak (itupun kalau memang mereka masih ingin dikatakan kreatif...)
Sudonim 0 0
Wah, aku punya pengalaman pahit ttg yang beginian..

Dulu di kosan saya ada penghuni dan seorang pendatang ( ga ngekos tp sering nginap), sering ngatai2n saya orang aneh, sambil ketawa ma teman2nya.

Jika kumpul dimeja makan sayalah paling sering jadi guyonan mereka. Saya cmua bisa tersenyum pahit saja. ga pernah bales.

Yang paling ga enak kejadian pada satu malam, sya sekamar dengan salah seorang dari mereka, dan suatu malam (sering sih) teman2nya ikut tidur di kamar kami (kamar kosanku luas), di tengah malam saya terbangun dengan pembicaraan mereka, ternyata yang mereka bicarakan adalah kejelekan saya. Saya dengerin pembicaraan mereka sambil terus pura2 tidur. Sebenarnya ada keinginan melabrak mereka tapi niat itu saya urungkan. Setelah selesai mereka tertidur, sayapun keluar kamar sambil menangis. Merka ga kenal saya, masa lalu saya, begitu cepat mereka menghakimi saya.

Setiap mo pulang dari kantor mo ke kos rasanya berat sekali, ga mau ketemu mereka dirumah. Pengennya pindah ajah dari kosan itu tapi dah bayar setahun, lagian kosannya enak terlepas dari orang2nya. Saya suka nangis sendiri di kamar.

Kadang terlintas dalam hati saya, ingin ketemu ma mereka2 yg sangat suka mengolok2 saya dulu dan mengatakan kalo saya benar2 terluka oleh guyonan mereka... (Curcol nih).
Matt Zammy 0 0
aku suka humornya Cagur. walau kadang fisik, tapi kebanyakan humornya bermain di kata. cerdas. mungkin karena mereka lulusan guru..

Bagito juga lucu. humor "cerdas" kadang dianggap "kurang lucu" oleh sebagian orang..

Silahkan login untuk memberikan pendapat