Menghakimi Penampilan Orang 18
Rabu, 30 Sep '09 15:09
"Saya mau ngeblog. Enaknya apa ya isinya, Mas?" kata teman saya yang gemulai itu. Karena saya tahu dia pria fashionista -- fotonya di Facebook "aneh-aneh", tapi belum seberani Diaz di The Jakarta Post -- maka saya pun menganjurkan dia bikin blog fashion. Tepatnya: fashion critics.
Misalnya? Bikin judgement tentang fashion yang bagus. Bukan dari seleb tapi dari ordinary people. Bahannya dari fashion on the steet. Asal jepret saja, asal wajah ngggak muncul. Banyak bloggers yang punya bakat paparazzi, justru karena cuma berbekal kamera saku; jadi mestinya bisa ngajarin dia.
Misalnya kayak di Glamour itu (apalagi yang kategori "nggak banget"). Penampilan orang dihakimi. Kalau mau "serius" ya kayak almarhum Richard Blackwell, yang nyinyir mengadili siapa saja bintang hiburan berbusana terburuk. Jadi, berbeda dari Suzy Menkez yang membuat kritik adibusana di The International Herald Tribune dan dirujuk banyak orang.
Huh, riwil ya? Penampilan orang kok dihakimi. Majalah Time juga ikutan: menghakimi busana pemimpin dunia. Kekurangan orang lain adalah hiburan.
Memang ada alasan pembenarnya. Jika menyangkut bintang hiburan, maka itu bagian dari risiko mereka, yaitu disorot dan dicela. Jika menyangkut pejabat publik, juga layak disorot karena gaji mereka untuk belanja pakaian didapat dari pajak yang disetor rakyat.
Tapi nanti dulu. Hari ini saya menimbang usul untuk teman saya itu. Untung dia belum melakukannya. Saya merenung. Apa alasan kita menghakimi penampilan orang, yang bagus (dupuji) dan terutama yang buruk (dicela)?
Apa iya sebuah penampilan seseorang itu merugikan kita? Ini menyangkut konsep dalam berbahasa, menyangkut nuansa. "Tidak menguntungkan" belum tentu sama dengan "merugikan", kan?
Kalau penampilan seseorang itu menyebarkan bau tak sedap, menularkan penyakit, bikin pusing, mungkin perlu dikritik. Yang gimana misalnya? Saya nggak tahu. Asal bikin contoh saja -- dan ternyata nggak siap dengan argumentasi.
Fashion adalah personal statement. Ketika Langsat punya gawe di kafe, seorang pria blogger tenar datang dengan kuku jari kanan dicat hitam dan kuku jari kiri dicat silver (atau sebaliknya, saya lupa). Demi sopan santun, saya tak menujukkan atensi. Baru ikutan berkomentar dengan nada membela ketika sobat saya, blogger dambaan umat yang Anda tahulah, menanyakan cat kuku kepada yang bersangkutan -- dengan nada heran campur geli.
Artinya, sebagai personal statement, penampilan seseorang sebetulnya boleh dikomentari. Secara personal. Tapi ketika kita membuat blog yang isinya vonis terhadap orang-orang yang tak kita kenal, kok kayaknya gimana gitu. Bukan cuma riwil dan nyinyir, tapi kok kejam gitu ya. Memangnya cara berbusana kita sudah "bener"? Dalam bahasa Jawa, "Kok kaya ayu-ayua dhéwé. Mbok coba ngilo." (Kayak paling cantik aja. Cobalah becermin.)
Memang sih kalau blog gituan betul-betul ada, dan updating-nya rutin, kayaknya bakal bagus trafiknya. Apalagi kalau kolaboratif, setiap orang bisa memasukkan entri.
Tapi maukah kita jadi sasaran bidik? Manusia cenderung egoistis. Mau menangnya sendiri.
Tag: fashion, kritik, blog, blogger, richard blackwell, suzy menkez
Terkait:
-
Blogging
Rabu, 27 Apr '11 00:10 -
Menkominfo (Menteri Kontroversi dan Miskomunikasi)
Kamis, 18 Feb '10 21:25 -
Tanggapan APJII Terhadap Polemik RPM Konten
Rabu, 17 Feb '10 21:32
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
simplyshiji: Menggoda
-
sabaiX: Nggemesin
-
dee: Inspiratif
-
Lele doang: Nggemesin
-
dita-gigi: Nggemesin

Komentar:
paling adik saya yg perempuan yg kebakaran jenggot mengkritik, sedangkan saya nya senyum2 mau
setuju sama pernyataan terakhir. kebanyakan orang maunya mengkritik tapi gak banyak yang siap dikritik..
mnurut saya sah-sah aja sih mas paman klo mau buat blog fashion.. isinya tentu saja apdet fashion2 masa kini.. mau shot from the street jg blh aja.. tp yg layak aja.. eh tp yg layak yg gmn yeah?? ah binun
saya terakhir baca th 2005-2006, dan sumpah hillarious banget! dua orang yg super nyinyir jd fashion police para seleb indonesia... hihihi...
kalo ada yg bikin lagi macam itu, pasti saya follow
eh kok malah jd ngomongin orang sih?
apa jangan2 seleraku yang aneh yah
Saya rasa yang begini malah bisa lebih laku lagi... habis cewek kalau liat majalah fashion kan pengen tau, "baju ini kalau badannya gini cocok nggak ya?", "ini lucu, tapi ireng gini, pantes gak ya?", dlsb. Jadi kan kira2 ada pegangan dan rujukan yang pantas...
Ah, tapi ini cuma usulan yang pas nongol di kepala aja kog
(ninja)
Silahkan login untuk memberikan pendapat