sesusah itukah? 47
Senin, 28 Sep '09 11:27
2 tahun yang lalu, gue pacaran sama yg berbeda agama, tp di larang sama kedua orang tua gue, dan beberapa bulan setelah di larang itu, kita pegat.udah setahun lebih kita pegat, tp kenapa masih aja saling suka, sayang, dan cinta?walaupun di satu sisi udah mulai suka sama orang lain, nah saat itu tiba2 menjadi suka kembali pada mantan.apa yang harus di lakukan sama kita berdua? sampai kapan begini terus?
Tag: cinta
Terkait:
-
Cinta...oh...Cinta
Kamis, 2 Sep '10 09:17 -
Waiting
Selasa, 31 Agu '10 15:46 -
kamu yang tak pernah lelah :)
Selasa, 31 Agu '10 10:41
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
clingakclinguk: Nggemesin
-
Silly: Nggemesin
-
venus: Nggemesin

Komentar:
apa harus menjauhi mantan itu? udah di coba, tp tetep g bisa, selalu aja kangen
tapi gue punya satu jalan lagi sih...
tanya ama cowo kamu, mau pindah agama ga... ato sebaliknya tanya sama diri kamu sendiri, mau pindah agama ga? kalo iya, thats settle everything.
kalo ngga,
ya live with the consequences, minta pengertian sama kedua belah pihak, kalau cinta itu tidak mengenal perbedaan. semuanya sama dan semuanya bagus kalo cinta. tapi inget, belajar dari pengalaman, cinta itu juga berarti ujian. dan untuk lulus dari ujian, sangat terkorelasi dengan ajaran dan kepercayaan.
so, living a marriage life with 2 steering on it wouldnt be that simple. masing-masing harus punya pengertian dan kesabaran ekstra. ekstra bukan hanya 30% kaya di paketan minuman teh botol, tapi bisa meningkat hingga 20.000%.... jadi yaaa kalo kamu memang siap, ya ambil jalan yang ini....
atoooooo...
kawin dulu baru nikah...
*dikemplang warga ngerumpi beramai-ramai*
*duh, ga bisa komen serius secara utuh*
saya pernah posting di sini dan di blog saya, coba ke sini aja http://bukukenang…k-hidup.html
soalnya kalo di copas di sini lagi, kepanjangan
semoga membantu
goyathlay: udah di coba itu, tp g ada yg mau mengalah
*panggil suhu yohanes hans sama sabai sebagai saksi ahli*
hahahah masa gak tau semi kawin? do you know forplay?
candrakirana: to the rescue ya bu?!
membaca kembali tulisan di atas kok saya menangkap yang jadi masalah itu bukan perbedaan keyakinan, tapi masalah perasaan suitsuit yang ndak bisa, atau lbh tepatnya blom bisa berpindah ke lain hati ya?
knapa msh terus kepikiran sama mantan? ya karena kamu belum nemu seseorang yang bisa membuatmu kepikiran melebihi kepikiran sama mantanmu itu
sampai kapan? sampai kalian berdua menemukan pasangan hidup kalian masing2
dulu, dulu ya, saya sampai nyari referensi dr berbagai sumber yang kiranya bisa mendukung rasa egois sama melanjutkan hubungan seperti cerita di atas, dari sisi keyakinan msh dimungkinkan, dari sisi profesi, kayaknya ndak bisa karena saya tetap harus tunduk pada UU perkawinan, pernah kepikiran melangsungkan pernikahan di luar negeri, pokoknya intinya saat itu yang kepikir cuma urusan antara kami berdua.
tapi,
saya teringat keluarga saya, orangtua yang telah membesarkan saya, saya rasa mereka akan sangat sakit hati bila saya meneruskan ego saya, mungkin juga di pihak pasangan saya.
toh yang namanya pernikahan itu bukan cuma menyatukan 2 insan yang saling mencintai dan berkomitmen untuk bersama, tapi juga menyatukan 2 keluarga, malah kalau di jaman dulu pernikahan dipakai untuk menyatukan 2 kerajaan, 2 negara.
dan saya rasa, saat memulai hidup baru dimana masa-masa itu akan banyak yang namanya penyesuaian disana-sini, kemungkinan adanya konflik dgn pasangan itu sangatlah besar, dan di saat itu kita sangatlah membutuhkan dukungan dari sekitar untuk memperkuat ikatan pernikahan yang baru itu, dukungan dari keluarga terutama. kalau ndak ada dukungan, malah mungkin bisa dipanas-panasin sama mereka, mereka bilang itulah akibatnya kalau kalian berbeda namun tetep nekad untuk bersama.
jadi sanggup ndak menjalani itu smua? kalau kalian sanggup, saya salut, lanjutkan hubungan kalian, buktikan bahwa cinta kalian bisa melintasi semua batasan.
fiuh, capek ya nulis sepanjang ini
saya tidak bisa menyarankan kalian maunya apa. tapi saya pikir, membiarkan perasaan itu mengalir, pikiran mengalir, sadari dan tidak dilawan. coba lihat dari luar pikiran dan perasaan yang mengalir itu, analisa dengan tenang. kalau belum bisa ambil keputusan sekarang, ya ndak usah dipaksa. sebab, sekali lagi, memaksakan perasaan dan pikiran hanya akan bikin masalah makin ruwet. jalani dengan sadar maka kalian akan tahu apa yang sebenarnya kalian inginkan.
ikhlas itu bukan cuma konsep angan2 lagi, melainkan sebuah kenyataan yang kita amini, kita percayai dalam setiap sudut hati, pikir, dan jiwa kita.
it's called process.
prosesnya pasti butuh waktu ... okelah secara logika udah tau konsekuensinya, udah netapin pilihannya *saat ini pilihannya berpisah kan, jalan sendiri2* .. tapi kalau udah perasaan.. ya sudah, pasrah saja dengan sang waktu
semakin dipaksakan mungkin malah semakin gak bisa ... yah simalakama seh, krn kalau diturutin jg mungkin malah tambah cinta *halah*
Dek Goy: mau rusuh ndak tega, om, soalnya pernah ngalamin jg *ciah curhat*
ann: setuju, proses itu harus dijalani, bukan dipaksakan. namanya hubungan itu proses, perasaan itu proses. bukan bak 'mie instan', asal kasih air panas, tunggu beberapa menit, langsung jadi.
butuh keberanian yang besar untuk bersabar menjalani proses,
sedangkan hanya butuh nyali kecil untuk mengambil keputusan (secara instan)
Clingakclinguk: darimana nya yang buat binun? Perasaan nggak dech! Btw kalo membingungkan mu ya vivi ucapin met bingung z,
vivi: duh, maafin clingakclinguk yang ndak gawul itu ya, maklum udah berumur jadi ndak paham sama singkatan singkatan gawul macam z dan it
*edyaaan, gue jam segini belom makan siang. mana tadi sarapan diskip pulak. ada yang mau antar makanan ndak ke terminal pulogadung?
eh malak para pemudik yg baru balik aja, sapa tau ada yang bawa bontotan, lumayan kan?
*lupa mo komen apa sama posting ini*
Gyaaahahahahahahaha... mas goy ditanyain gituan?... *ngakak sambil pukul2 meja*
Aduh, mending jangan menikah beda agama deh. Pacaran beda agama, silahkan saja, nikmati rasa cinta yang hadir dihati kalian, tapi kalo untuk menikah, pikir seribu sampe beribu-ribu kali dulu deh.
As for you to know, menikah beda agama di Indonesia itu gak gampang, belum lagi masalah legalisasi untuk anak... ribet.
Pola asuh, juga berbeda jika cara pandang agama kita berbeda, dan ini akan menimbulkan konflik2 yang tajam dalam pernikahan kelak.
Trust me, been there done that... dan rasanya sumpah, melelahkan banget, jika kedua individu tidak mau SALING memahami.
Menikah gak cuma menyatukan dua orang, tapi dua keluarga besar. Kalo berasal dari dua keluarga yang teposelironya dan tenggangrasa antar agamanya tinggi, maka semua itu akan baik2 saja... tapi jika tidak...
Selamat menjalani kehidupan yang silly and so complicated deh...
dan tidak mau melanjutkan hubungan ke pernikahan karena beda agama itu bukan berarti ndak serius, bukan brarti ndak cinta, atau ndak mau repot dgn sgala konsekuensinya yang didapat nanti.
iyah.. kalau emang mau nikah beda agama, musti liat kadar saling memahaminya... juga yg paling penting kedua keluarga... bahkan gak cuma keluarga inti, tp sampe ke keluarga besar
kakakku nikah beda agama, nikahnya secara islam, tercatat di KUA .. tapi memang kedua keluarga udah saling ngerti dan emang keluarga besar beraneka ragam ... ada yg nikah beda agama juga, ada sodara yg emang muslim juga, pokoke seerti gak ada masalah deh...
eh tnyata, kakak iparku pernah di'pengaruhi' sama seorang sepupu untuk maksa kakakku pindah agama .. wuih.. hasilnya malah kita jd gak respect ama si sepupu
Imagine this... kalo kita saling memahami banget nget nget... Tiap perayaan agama itu akan kita sikapi dengan suka cita... lebaran datang, kita happy, nyiapin hari raya dsb, wuihhh pokoknya seneng banget.
Giliran mo natalan, happy2 lagi, nyiapin pohon natal bareng2, buka kado bareng2... ketemuan lagi sama keluarga besar pihak pasangan kita... and it's fun a lot, jika kedua keluarga besar mau berbaur dan mau saling memahami.
Tapiiii... ibaratnya komputer, itu cuma screensavernya doang, begitu melek, kita kembali kekehidupan nyata....
Untuk budaya spt di Indonesia... masing2 pihak saling menunggu, siapa yang bakal lelah dan mengalah, lalu pindah agama... demi supaya hidupnya enak, dan gak ribet... bukan karena dia percaya dan hatinya terpanggil.
Akibatnya, justru malah tambah tertekan, dan hidup jadi tidak sejahtera. Hidup kayak begini, tinggal nunggu matinya aja kalo kata gue mah... you have no life in that kind of life my dear, trust me.
eh, bukannya nakutin loh ya, kalo masih awal2 jatuh cinta semua emang indah, tapi coba nonton film "Lisence to Wed"... Robin william bilang, ketika kamu sudah melangkah kedalamnya, dalam beberapa tahun saja kamu akan mencari cara untuk segera angkat kaki dari sana. BUTUH KEDEWASAAN untuk bisa terus bertahan dalam pernikahan beda agama. Kalo gak yakin, mending jangan main api... wokehhh?
Nikmati saja, indahnya kehilangan itu, the beauty of losing, the beauty of pain, karena setelah itu akan datang lagi cinta yang baru buat kamu...
beda kalo apa mbak?
Beda kalo kedua individu saling bisa menyikapi hubungan secara dewasa, dan keluarganya mendukung..
Maka, everything will gonna be just fine
dari komen mbak, tergambar kalau kehidupan yang mbak jalani itu sulit banget yah... saya kira happy2 aja...
*peluk-peluk*
Selama kita masih hidup didunia, gak ada yang namanya KEBAHAGIAAN kekal, gak ada juga KEMALANGAN kekal.
Bisa panjang nih kalo gue terusin, posting aja yah
yah siapa juga yg mau nikah sama beda agama? pacara aja udah ribet dan susah banget. tp ada enaknya juga pacaran sama yg beda agama
*halah, malah curcol
Nah balik lagi, ke masalah pacaran beda agama, kalo pengalaman saya dulu, pacaran beda agama itu gak ada bedanya sama pacaran satu agama, karena belum ada penyatuan (red; Pernikahan), hidup juga masih individual, dia ya dia, kita ya kita.. kalo saya, dan mungkin bagi sebagian orang, tujuan akhir dari pacaran itu cuma 2 ; menikah dan putus. Akan ada pada suatu waktu dimana kita akan menginginkan tujuan dari pacaran, salah satunya pernikahan, pada saat itulah, sebenernya semua egoisme bermain, baik dari pihak keluarga dan yang menjalani pacaran itu sendiri. Disitu akan terasa beban, antara menjadi anak yg berbakti pada keluarga, menjadi anak yg sholeh pada Tuhannya atau ingin bahagia bersama sang kekasih, suka ato gak suka, cepat ato lambat pilihan tsb akan muncul, pilih salah satu dan terima konsekuensinya, life is a gamble, put your bet and manage the risks..
Terus, untuk tips, bagaimana untuk melepas si mantan? kalo pengalaman saya, saya gak putus, saya tetap jalani selama 3 tahun, sampai dimana kita ketemu persimpangan menikah dengan pindah agama ato putus, saya sampai pada tahap sudah fed up, sudah capek dengan hubungan yang gak tau akhirnya, akhirnya kita putus baik-baik. Sekarang masing-masing dari kami sudah punya pacar, however, we still keep in touch dan menjadi teman baik, tanpa embel-embel cinta, namun lebih ke rasa sayang karena kita punya history and we've been through a lot..
Silahkan login untuk memberikan pendapat