sesusah itukah? 47

Senin, 28 Sep '09 11:27

2 tahun yang lalu, gue pacaran sama yg berbeda agama, tp di larang sama kedua orang tua gue, dan beberapa bulan setelah di larang itu, kita pegat.udah setahun lebih kita pegat, tp kenapa masih aja saling suka, sayang, dan cinta?walaupun di satu sisi udah mulai suka sama orang lain, nah saat itu tiba2 menjadi suka kembali pada mantan.apa yang harus di lakukan sama kita berdua? sampai kapan begini terus?


Tag: cinta

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

clingakclinguk 0 0
pilihan sepenuhnya ada di tanganmu, di tangan kalian berdua, mau terus menjalin hubungan meski beda keyakinan dgn konsekuensi mungkin bakal dijauhi keluarga, atau demi keluarga kalian pisah
suitsuit 0 0
nah itu yg jadi permasalahanya.
apa harus menjauhi mantan itu? udah di coba, tp tetep g bisa, selalu aja kangen
Dek Goy 0 0
clingakclinguk: indeed.

tapi gue punya satu jalan lagi sih...

tanya ama cowo kamu, mau pindah agama ga... ato sebaliknya tanya sama diri kamu sendiri, mau pindah agama ga? kalo iya, thats settle everything.

kalo ngga,

ya live with the consequences, minta pengertian sama kedua belah pihak, kalau cinta itu tidak mengenal perbedaan. semuanya sama dan semuanya bagus kalo cinta. tapi inget, belajar dari pengalaman, cinta itu juga berarti ujian. dan untuk lulus dari ujian, sangat terkorelasi dengan ajaran dan kepercayaan.

so, living a marriage life with 2 steering on it wouldnt be that simple. masing-masing harus punya pengertian dan kesabaran ekstra. ekstra bukan hanya 30% kaya di paketan minuman teh botol, tapi bisa meningkat hingga 20.000%.... jadi yaaa kalo kamu memang siap, ya ambil jalan yang ini....

atoooooo...

kawin dulu baru nikah...

*dikemplang warga ngerumpi beramai-ramai*

*duh, ga bisa komen serius secara utuh* : )) : ))
candrakirana 0 0
saya tidak bisa memberikan saran, karena saya tidak tahu persis kondisi kalian, perasaan kalian, situasinya seperti apa. tapi saya bisa bagikan pengalaman teman saya, yang mungkin bisa dijadikan wacana, untuk direfleksikan. tidak harus mengikuti jalan cerita teman saya (karena toh situasi yang dialami biarpun kelihatan mirip, pasti berbeda), yang penting adalah mengambil inti pelajaran dan menerapkan sesuai dengan situasi dan kondisi.

saya pernah posting di sini dan di blog saya, coba ke sini aja http://bukukenang…k-hidup.html

soalnya kalo di copas di sini lagi, kepanjangan : )

semoga membantu
suitsuit 0 0
sip sip makasih.

goyathlay: udah di coba itu, tp g ada yg mau mengalah
Dek Goy 0 0
suitsuit: kan masih ada 3 pilihan lagi?! : D
suitsuit 0 0
statement yg ketiga g banget deh. g berani kalau kawin dulu mah, cuma berani semi kawin aja. hahahahah ngaco sekali
Dek Goy 0 0
suitsuit: "semi-kawin"? nah... istilah baru tuh? apa saja kegiatannya? : D

*panggil suhu yohanes hans sama sabai sebagai saksi ahli* : ))
suitsuit 0 0
ahli apa mksdnya?

hahahah masa gak tau semi kawin? do you know forplay?
Dek Goy 0 0
suitsuit: SUMPAH GA TAU!!! yang saya tau fourplay: grup musik instrumental jazz yang terdiri dari para dewa2 gitar, bas, kibor dan drum. tapi mereka kurang menggigit si setelah ditinggal Lee Ritenour di 1998. itu maksudnya? : D
suitsuit 0 0
payah banget. emang belom pernah bercumbu dengan pasangan?
pelangi 0 0
: )) : )) : )) saya ga tahan liat penjelasan Mas Dek Goy diatas soal forplay *maksudnya fourplay : p
pelangi 0 0
: )) : )) : )) saya ga tahan liat penjelasan Mas Dek Goy diatas soal forplay *maksudnya fourplay : p
suitsuit 0 0
mksdnya tuh foreplay
candrakirana 1 suka | 0
suitsuit: talking about foreplay is bound to be FOULplay.
Dek Goy 0 0
suitsuit: OOOOOOHH.. foreplay tokh? : D

candrakirana: to the rescue ya bu?! : ))
clingakclinguk 0 0
lha kalian kok ya bisanya pada merusuh di masalah sekrusial ini?

membaca kembali tulisan di atas kok saya menangkap yang jadi masalah itu bukan perbedaan keyakinan, tapi masalah perasaan suitsuit yang ndak bisa, atau lbh tepatnya blom bisa berpindah ke lain hati ya?

knapa msh terus kepikiran sama mantan? ya karena kamu belum nemu seseorang yang bisa membuatmu kepikiran melebihi kepikiran sama mantanmu itu : D
sampai kapan? sampai kalian berdua menemukan pasangan hidup kalian masing2 : D

dulu, dulu ya, saya sampai nyari referensi dr berbagai sumber yang kiranya bisa mendukung rasa egois sama melanjutkan hubungan seperti cerita di atas, dari sisi keyakinan msh dimungkinkan, dari sisi profesi, kayaknya ndak bisa karena saya tetap harus tunduk pada UU perkawinan, pernah kepikiran melangsungkan pernikahan di luar negeri, pokoknya intinya saat itu yang kepikir cuma urusan antara kami berdua.

tapi,

saya teringat keluarga saya, orangtua yang telah membesarkan saya, saya rasa mereka akan sangat sakit hati bila saya meneruskan ego saya, mungkin juga di pihak pasangan saya.
toh yang namanya pernikahan itu bukan cuma menyatukan 2 insan yang saling mencintai dan berkomitmen untuk bersama, tapi juga menyatukan 2 keluarga, malah kalau di jaman dulu pernikahan dipakai untuk menyatukan 2 kerajaan, 2 negara.

dan saya rasa, saat memulai hidup baru dimana masa-masa itu akan banyak yang namanya penyesuaian disana-sini, kemungkinan adanya konflik dgn pasangan itu sangatlah besar, dan di saat itu kita sangatlah membutuhkan dukungan dari sekitar untuk memperkuat ikatan pernikahan yang baru itu, dukungan dari keluarga terutama. kalau ndak ada dukungan, malah mungkin bisa dipanas-panasin sama mereka, mereka bilang itulah akibatnya kalau kalian berbeda namun tetep nekad untuk bersama.

jadi sanggup ndak menjalani itu smua? kalau kalian sanggup, saya salut, lanjutkan hubungan kalian, buktikan bahwa cinta kalian bisa melintasi semua batasan.

fiuh, capek ya nulis sepanjang ini : D

clingakclinguk 0 0
astaga, ini komen terpanjang saya sepanjang gabung di ngerumpi.com, kalau tiap ngerusuh saya harus ngetik sepanjang ini jari2 saya pasti sudah kribo : )) : ))
Dek Goy 0 0
clingakclinguk: nguk... tumben komen bener! : ))
candrakirana 0 0
kunci dalam menghadapi setiap masalah adalah menjalani hidup dengan sadar, mengambil keputusan dan menjalankannya dengan sadar. sadar bahwa perasaan itu tidak bisa dilawan, pikiran susah dikandangi. semakin melawan dan berusaha menyangkal, perasaan itu semakin kuat, semakin 'nempel' ke dalam.

saya tidak bisa menyarankan kalian maunya apa. tapi saya pikir, membiarkan perasaan itu mengalir, pikiran mengalir, sadari dan tidak dilawan. coba lihat dari luar pikiran dan perasaan yang mengalir itu, analisa dengan tenang. kalau belum bisa ambil keputusan sekarang, ya ndak usah dipaksa. sebab, sekali lagi, memaksakan perasaan dan pikiran hanya akan bikin masalah makin ruwet. jalani dengan sadar maka kalian akan tahu apa yang sebenarnya kalian inginkan.
candrakirana 0 0
setelah menjalani semuanya dengan sadar, tanpa melawan perasaan pikiran, tanpa sangkalan,

ikhlas itu bukan cuma konsep angan2 lagi, melainkan sebuah kenyataan yang kita amini, kita percayai dalam setiap sudut hati, pikir, dan jiwa kita.

it's called process. : )
ann 0 0
candrakirana: aku padamu ..
prosesnya pasti butuh waktu ... okelah secara logika udah tau konsekuensinya, udah netapin pilihannya *saat ini pilihannya berpisah kan, jalan sendiri2* .. tapi kalau udah perasaan.. ya sudah, pasrah saja dengan sang waktu : )

semakin dipaksakan mungkin malah semakin gak bisa ... yah simalakama seh, krn kalau diturutin jg mungkin malah tambah cinta *halah*
clingakclinguk 0 0
candrakirana: jadi meski cinta itu sering memabukkan, berusahalah untuk tetap sadar wahai anak muda, begitu ya can? : D

Dek Goy: mau rusuh ndak tega, om, soalnya pernah ngalamin jg *ciah curhat*
candrakirana 0 0
clingakclinguk: betul : )

ann: setuju, proses itu harus dijalani, bukan dipaksakan. namanya hubungan itu proses, perasaan itu proses. bukan bak 'mie instan', asal kasih air panas, tunggu beberapa menit, langsung jadi.
candrakirana 0 0
nambah lagi:
butuh keberanian yang besar untuk bersabar menjalani proses,
sedangkan hanya butuh nyali kecil untuk mengambil keputusan (secara instan)
vivi 0 0
@hfm: kalo menurut gw sich, jalanin z kalo kalian mash ngerasa enjoy dengan perasaan it, cinta menyatukan perbedaan tapi terkadang juga cinta tak bisa menyatukan perbedaan it, aku pernah ngalamin kayak gitu, kami menjalani z sampai pada akhirnya kami sadar kalo kami ga bsa dipersatukan antara cinta dan perbedaan, intinya karena kami ber2 sama2 lelah, *nyambung ga hfm? Kalo ga nyambung, salaman minta maaf*
mas stein 0 0
suitsuit: sampeyan ndak salah nulis nama kan? soale saya taunya FHM : D *mlipir*
clingakclinguk 0 0
vivi: z ini apa? it itu apa? *komentarmu membingungkan*
vivi 0 0
Mas stein: : ) salah ketik, maaf maaf, maklum udah tuir, piss
Clingakclinguk: darimana nya yang buat binun? Perasaan nggak dech! Btw kalo membingungkan mu ya vivi ucapin met bingung z, : )., eh yang mana yang buat bingung?. Clingakclinguk: ada yang nanya tuch,
kucing_usil 0 0
clingakclinguk: aduh, si cling ini masa ndak paham sih. z = aja, nah kalo it = itu : D

vivi: duh, maafin clingakclinguk yang ndak gawul itu ya, maklum udah berumur jadi ndak paham sama singkatan singkatan gawul macam z dan it ; ))

*edyaaan, gue jam segini belom makan siang. mana tadi sarapan diskip pulak. ada yang mau antar makanan ndak ke terminal pulogadung? : ((
Dek Goy 0 0
kucing_usil: TJIEEEHH..!! yang minta maaf untuk dan atas nama terkasih... : )) : )) : ))
clingakclinguk 0 0
kucing_usil: terharu, begitu pengertiannya pada saya, tapi maap saya ndak bisa kirim makanan ke terminal pulogadung : ))

eh malak para pemudik yg baru balik aja, sapa tau ada yang bawa bontotan, lumayan kan? : D
Silly 0 0
clingakclinguk: kucing_usil: cieeeehhhh cieeehhhh, ada yang mewakili... ampe ikutan terharu sayahhh...

*lupa mo komen apa sama posting ini* : ))
Silly 0 0
suitsuit: .... "payah banget. emang belom pernah bercumbu dengan pasangan?"...

Gyaaahahahahahahaha... mas goy ditanyain gituan?... *ngakak sambil pukul2 meja*
Silly 0 0
Okay, ini komen serius nih.

Aduh, mending jangan menikah beda agama deh. Pacaran beda agama, silahkan saja, nikmati rasa cinta yang hadir dihati kalian, tapi kalo untuk menikah, pikir seribu sampe beribu-ribu kali dulu deh.

As for you to know, menikah beda agama di Indonesia itu gak gampang, belum lagi masalah legalisasi untuk anak... ribet.

Pola asuh, juga berbeda jika cara pandang agama kita berbeda, dan ini akan menimbulkan konflik2 yang tajam dalam pernikahan kelak.

Trust me, been there done that... dan rasanya sumpah, melelahkan banget, jika kedua individu tidak mau SALING memahami.

Menikah gak cuma menyatukan dua orang, tapi dua keluarga besar. Kalo berasal dari dua keluarga yang teposelironya dan tenggangrasa antar agamanya tinggi, maka semua itu akan baik2 saja... tapi jika tidak...

Selamat menjalani kehidupan yang silly and so complicated deh... : D
clingakclinguk 0 0
Silly: wah, pikiran kita sama yah : D
dan tidak mau melanjutkan hubungan ke pernikahan karena beda agama itu bukan berarti ndak serius, bukan brarti ndak cinta, atau ndak mau repot dgn sgala konsekuensinya yang didapat nanti.
Dek Goy 0 0
Silly: gila! pemahaman akan marriage lifenya dalem banget kayanya... : D
ann 0 0
: )

iyah.. kalau emang mau nikah beda agama, musti liat kadar saling memahaminya... juga yg paling penting kedua keluarga... bahkan gak cuma keluarga inti, tp sampe ke keluarga besar : D

kakakku nikah beda agama, nikahnya secara islam, tercatat di KUA .. tapi memang kedua keluarga udah saling ngerti dan emang keluarga besar beraneka ragam ... ada yg nikah beda agama juga, ada sodara yg emang muslim juga, pokoke seerti gak ada masalah deh...

eh tnyata, kakak iparku pernah di'pengaruhi' sama seorang sepupu untuk maksa kakakku pindah agama .. wuih.. hasilnya malah kita jd gak respect ama si sepupu : D
Silly 1 suka | 0
ann: iya, emang susah mbak kalo beda agama, : D

Imagine this... kalo kita saling memahami banget nget nget... Tiap perayaan agama itu akan kita sikapi dengan suka cita... lebaran datang, kita happy, nyiapin hari raya dsb, wuihhh pokoknya seneng banget.

Giliran mo natalan, happy2 lagi, nyiapin pohon natal bareng2, buka kado bareng2... ketemuan lagi sama keluarga besar pihak pasangan kita... and it's fun a lot, jika kedua keluarga besar mau berbaur dan mau saling memahami.

Tapiiii... ibaratnya komputer, itu cuma screensavernya doang, begitu melek, kita kembali kekehidupan nyata....

Untuk budaya spt di Indonesia... masing2 pihak saling menunggu, siapa yang bakal lelah dan mengalah, lalu pindah agama... demi supaya hidupnya enak, dan gak ribet... bukan karena dia percaya dan hatinya terpanggil.

Akibatnya, justru malah tambah tertekan, dan hidup jadi tidak sejahtera. Hidup kayak begini, tinggal nunggu matinya aja kalo kata gue mah... you have no life in that kind of life my dear, trust me. : D

eh, bukannya nakutin loh ya, kalo masih awal2 jatuh cinta semua emang indah, tapi coba nonton film "Lisence to Wed"... Robin william bilang, ketika kamu sudah melangkah kedalamnya, dalam beberapa tahun saja kamu akan mencari cara untuk segera angkat kaki dari sana. BUTUH KEDEWASAAN untuk bisa terus bertahan dalam pernikahan beda agama. Kalo gak yakin, mending jangan main api... wokehhh?

Nikmati saja, indahnya kehilangan itu, the beauty of losing, the beauty of pain, karena setelah itu akan datang lagi cinta yang baru buat kamu... : )

clingakclinguk 0 0
Silly: ketika kamu sudah melangkah kedalamnya, dalam beberapa tahun saja kamu akan mencari cara untuk segera angkat kaki dari sana >>> kok serem ya? : D

beda kalo apa mbak?
Silly 0 0
clingakclinguk: itu khan kata robin william yang di film "license to wed"... bukan kata gue loh ya.

Beda kalo kedua individu saling bisa menyikapi hubungan secara dewasa, dan keluarganya mendukung..

Maka, everything will gonna be just fine : D : D

clingakclinguk 0 0
Silly: stuju saya, mbak, krn untuk menikah beda agama itu berat, saat keduanya sudah berpikiran dewasa ditambah dukungankeluarga tentu itu akan sangat membantu pasangan itu menjalani pernikahan mereka : D
dee 0 0
Silly: gak nyangka mbak Sil bakal punya pendapat itu.. dikirain mbak Sil bakal bilang nikah beda agama itu gak seseram bayangan kok, saya pun bisa menjalaninya... and.. bla.. bla...

dari komen mbak, tergambar kalau kehidupan yang mbak jalani itu sulit banget yah... saya kira happy2 aja...

*peluk-peluk*
Silly 0 0
dee: Aduh dear, tidak ada yang namanya hidup yang happy all the time... gak ada juga hidup yang susaah all the time,

Selama kita masih hidup didunia, gak ada yang namanya KEBAHAGIAAN kekal, gak ada juga KEMALANGAN kekal.

Bisa panjang nih kalo gue terusin, posting aja yah : )
suitsuit 0 0
bercumbu dengan pasangan? g mungkin deh yg udah pacaran belom pernah bercumbu. di jamin itu mah

yah siapa juga yg mau nikah sama beda agama? pacara aja udah ribet dan susah banget. tp ada enaknya juga pacaran sama yg beda agama
tiyok 0 0
Hehe, saya juga pernah menjalani hubungan serupa. Masalahnya justru bukan di pasangannya, yang bisa saling menerima, tapi justru di keluarga. Keluarga si cewek saya dulu yang dengan keras melarang, sampai akhirnya hubungan dijalani secara underground (bukan backstreet lagi malah). Akhirnya pegat juga, setelah berpikir ulang bahwa kisah lanjutannya di masa depan mungkin tidak semulus yang kami kira dahulu.

*halah, malah curcol
Mita 0 0
Saya mo berbagi cerita sedikit, saya pernah pacaran beda agama 2 kali, sebenernya, bener kata Mbak Silly, kalo cuma pacaran aja, silahkan, tapi kalo pernikahan, jangan sampe beda agama, tapi ya balik lagi, itu pilihan masing2 individu, mungkin sebagai bahan pertimbangan, ada pernikahan campur yang bahagia, ada juga yang gak bahagia, coba dibandingkan dengan survey kecil2 an, banyakan mana, dan apa aja kendalanya, kalo merasa bisa mengatasi kendala2 tersebut ya go ahead, tp tetap harus bisa menerima segala konsekuensinya.

Nah balik lagi, ke masalah pacaran beda agama, kalo pengalaman saya dulu, pacaran beda agama itu gak ada bedanya sama pacaran satu agama, karena belum ada penyatuan (red; Pernikahan), hidup juga masih individual, dia ya dia, kita ya kita.. kalo saya, dan mungkin bagi sebagian orang, tujuan akhir dari pacaran itu cuma 2 ; menikah dan putus. Akan ada pada suatu waktu dimana kita akan menginginkan tujuan dari pacaran, salah satunya pernikahan, pada saat itulah, sebenernya semua egoisme bermain, baik dari pihak keluarga dan yang menjalani pacaran itu sendiri. Disitu akan terasa beban, antara menjadi anak yg berbakti pada keluarga, menjadi anak yg sholeh pada Tuhannya atau ingin bahagia bersama sang kekasih, suka ato gak suka, cepat ato lambat pilihan tsb akan muncul, pilih salah satu dan terima konsekuensinya, life is a gamble, put your bet and manage the risks.. ; )
Terus, untuk tips, bagaimana untuk melepas si mantan? kalo pengalaman saya, saya gak putus, saya tetap jalani selama 3 tahun, sampai dimana kita ketemu persimpangan menikah dengan pindah agama ato putus, saya sampai pada tahap sudah fed up, sudah capek dengan hubungan yang gak tau akhirnya, akhirnya kita putus baik-baik. Sekarang masing-masing dari kami sudah punya pacar, however, we still keep in touch dan menjadi teman baik, tanpa embel-embel cinta, namun lebih ke rasa sayang karena kita punya history and we've been through a lot..

Silahkan login untuk memberikan pendapat