Mudik 33
Minggu, 13 Sep '09 09:55
Pastinya sekarang sudah pada mulai sibuk berkemas-kemas, pilah-pilih baju mana yang mau dibawa dan dipakai untuk berlebaran di kampung nanti. Sibuk mengatur posisi barang bawaan di dalam ransel supaya bisa muat banyak. Atau malah sudah dalam perjalanan mudik ke kampung halaman.
Saya ndak tau sejak kapan budaya mudik ini dimulai, apalagi siapa pelopornya.
Saya ndak begitu ngerti kenapa orang-orang pada rela tiap tahun "dikerjain" sama PT KAI. Rela berbaris dalam antrian yang amat sangat panjang, bahkan tak jarang harus bermalam di emperan stasiun, demi selembar tiket kereta. Dan itu pun harus dilakukan jauh-jauh hari (30 hari) sebelum hari keberangkatan, dan ndak ada jaminan pasti dapat tiketnya. Saya juga ndak ngerti kenapa ada juga yang nekad pulang ke kampung halaman menggunakan sepeda motor sekeluarga, padahal jarak tempuhnya jauh, ditambah dengan barang bawaan yang menggantung disana-sini. Yang tak punya ongkos, rela menggadaikan barang berharganya dengan harapan kelak dapat menebusnya kembali. Mudik, oh mudik. Kenapa semua orang seakan-akan rela berbuat apapun juga untuk mudik? Bahkan saya masih ingat, bapak saya pernah menitikkan air mata saat mendengarkan kumandang takbir bersahutan, akhirnya kami sekeluarga pun langsung mudik sore harinya di hari pertama lebaran.
Saya masih tidak begitu paham kenapa lebaran harus mudik, tapi sejak tinggal di Jakarta, saya sudah terkena virus mudik, ada rasa takut ndak bisa mudik di saat lebaran. Saat ini saya masih belum rela berlebaran sendirian tanpa orangtua dan sanak saudara di tengah sepinya ibukota (melirik perempuanapi).
Saya pun berusaha untuk mencoba memahami makna dibalik mudik. Kampung halaman tempat dimana kita dilahirkan, tempat orangtua kita dan sanak saudara tinggal memiliki sifat seperti seorang ibu yang penuh kehangatan, itu yang menyebabkan anak (para pemudik) ingin selalu pulang pada pelukan ibu.Sementara Jakarta sama sekali tak punya sifat keibuan, kota ini terlalu kejam, terlalu dingin. Tapi Jakarta ini seperti seorang ayah, di saat anak-anak kehabisan uang sakunya, maka mereka pun akan berlarian mengejar sang ayah, saling berebut meminta uang saku lagi.
Tanpa peduli betapa susahnya perjuangan untuk bisa mudik, meski uang hanya cukup untuk ongkos tiket, pokoknya mudik must go on. Seperti kata pitutur Jawa yang berbunyi : "MANGAN ORA MANGAN ANGGERE KUMPUL." Yang secara harfiah berarti makan tidak makan asal kumpul. Tidak bisa makan tidaklah masalah, yang penting bisa berkumpul bersama keluarga. Lebih dalam lagi ungkapan ini ingin menegaskan adanya nilai persahabatan, persaudaraan, dan kebersamaan. Dalam berkumpul orang menjadi lebih bermakna manakala diterima oleh sesamanya. Bayangkan orang yang tak punya sahabat atau saudara. Dia akan kesepian, merana, hidupnya kosong, sepi dan dingin. Karena tak menginginkan demikian, maka mudik yang merepotkan pun rela dilakukannya. Karena, di saat berkumpul dengan sanak saudara, dengan para handai taulan, meskipun tak ada makanan yang dapat dimakan bersama, toh masih ada makanan lain yang bisa 'dimakan', yaitu kegembiraan, keceriaan,kehangatan di tengah keluarga dan saudara.
Menemukan makna mudik ini kok ya bikin saya jadi tambah pengen cepet-cepet mudik. Padahal tiket belum di tangan, cuti pun masih dalam tahap negosiasi, sementara lebaran sudah sebntar lagi. Apakah kalian juga pengen segera mudik? Ati-ati di jalan ya, biar selamat sampai tujuan, dan salam untuk sanak saudara di kampung halaman.
Terkait:
-
Kartu Lebaran
Sabtu, 3 Sep '11 23:32 -
Mudik
Senin, 29 Agu '11 15:43 -
pulang kampung
Sabtu, 27 Agu '11 04:55
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
perempuan api: Nggemesin
-
Penonton kerusuhan: Menggoda
-
kucingsapi: Nggemesin
-
Silly: Nggemesin
-
Mat Koplo: Nggemesin

Komentar:
*sakit hari karena gak mudik..*
Penonton kerusuhan: masih untung yang sakit "hari" mas....saya sih sakit hati
*ngakak guling2 sampe monas*
slain pengen mudik, jadi penasaran kenapa orang2 itu begitu antusiasnya dgn acara mudik, makanya skalian aja nulis artikel ini
itu maksudnya sakit hati karena ndak mudik ya? kenapa? sibuk jual nasi goreng? emang ada yang mau beli nasi goreng di saat lebaran? kan pada makan ketupat dan opor ayam *niat bikin Penonton kerusuhan nangis sejadi-jadinya*
baru tau salah tulis... *malu di pojokan*
rusuhkan..
rusuhkan..
*saya juga sakit hari eh hati gara2 gak mudik nih*
ah, sebel. pesen bu retno kemarin udah lupa. ga bisa 'bergembira' kalo gini
hohohoho....ngasih rating menggoda, menggoda untuk melempar gerobak, hahahaha...
perempuan api: coba deh pesen ke bu joko, barangkali masih punya termos es
* gaya banget..*
clingakclinguk: sampeyan ngerti aja. wakakaka
*bernasib sama*
dulu pas saya di sby 6 tahun saya beberapa kali mudik malah ke jakarta
skarang lbh baik foto dulu, abis itu nanti foto lagi sehabis lebaran, kita liat apakah makan mie skardus bisa berefek pada keritingnya rambut
kucingsapi: iya, ternyata kecanggihan teknologi masih terasa kurang afdol, slama msh bisa mudik, maka akan dibela2in mudik dah.
sabaiX: silungkang teh dimana?untung di denpasar, saya ndak punya keponakan
kalian semua posting tentang mudik, gak tahu yah disini sedih taukkkk ditinggalin, huuhuhu.
Nasib orang yang kebanyakan campuran darah jadinya gini deh, malah gak punya kampung yang tetap sama sekali... dohhh... *tepok jidat*
ahhh, gue juga posting tentang pulang kampuang ahhhh
perempuan api: hati2 cacingan.. *loh*
Silly: iya mpok, mereka itu menyebalkan... cih..
*peluk mpok Silly: ditendang*
aaahhh jadi pengen cepetan mudiiikkkkkk masih 6 hari lagi
*packing*
ada yang mudik 17 malem naik motor mabur ? kali aja bisa kopdar singkat di cgk.
mau mudik ke arah mana? saya juga mau mudik pake motor mabur, tp blom tau kapan, blom pasti jg dink, huhuhuhu....
ndak ada yang mau buat artikel tips menikmati lebaran di jakarta ya
Silahkan login untuk memberikan pendapat