Re-framing 34
Kamis, 10 Sep '09 04:50
(Repost dari blog saya, dan sudah diringkaskan)
Bisakah anda bersahabat baik dengan mantan pacar atau bahkan pasangan anda? Mungkin dulu putusnya baik-baik, atau mungkin kurang baik, tetapi saat ini persahabatan jalan terus, bahkan bersahabat baik. Dari pacar atau pasangan (ya, pasti dulu pernah anda sukai bahkan cintai) menjadi sahabat baik (saling menghormati dan menghargai sebagai sahabat, tetapi tidak lagi sebagai kekasih atau saling mencintai seperti dulu)?
Inilah yang disebut dengan re-framing. Mungkin buat sebagian orang hal ini bisa dilakukan dengan mudah, tetapi bisa jadi buat sebagian lagi ini teramat sulit dilakukan. Bahkan seringkali, kita bisa melakukannya pada konteks tertentu, sedangkan pada konteks lain, sulit sekali.
Intinya, re-framing itu adalah suatu upaya untuk menempatkan sesuatu hal di dalam ruang pikiran kita dalam bingkai (frame) yang berbeda dibanding sebelumnya.
Misalnya, si A dulu adalah pacar anda. Ini berarti anda menempatkan si A itu dalam bingkai pacar dalam ruang pikiran anda, maka tentu anda akan memperlakukannya sebagai pacar. Sekarang anda sudah putus dengan si A, artinya dia adalah mantan pacar anda, dan bersahabat baik dengan anda. Ini berarti anda sudah melakukan re-framing terhadap si A, di mana sekarang anda menempatkan si A itu dalam bingkai sahabat dalam ruang pikiran anda.
Orangnya tetap sama, tetapi anda sudah menaruhnya dalam frame yang berbeda dalam ruang pikiran anda. Berikutnya, tentu sikap dan perilaku anda akan menyesuaikan diri dengan frame yang baru tersebut.
Apakah itu frame ? Definisi yang menarik diberikan oleh changingminds.org :
A frame, or ‘frame of reference’ is a complex schema of unquestioned beliefs, values and so on that we use when inferring meaning. If any part of that frame is changed (hence ‘reframing’), then the meaning that is inferred may change.
Jadi bingkai atau frame itu dibangun oleh asumsi-asumsi atau persepsi terhadap nilai-nilai yang diyakini benar, kepercayaan, bahkan kata hati nurani. Pertanyaannya, apakah bingkai itu merupakan realitas? Atau sesuatu yang dipersepsikan sebagai realitas?
Anda tentu punya frame tentang pacar, kekasih, atau pasangan di dalam ruang pikiran anda, lengkap dengan definisi atau asumsi yang anda lekatkan kepada frame tersebut. Di sisi lain, tentu anda juga punya frame tentang sahabat atau teman. Intinya hanya memindahkan si A itu dari frame yang satu ke frame yang lain dalam pikiran. Simpel kan? ... hehehehe ... ya gue tahu, pada prakteknya tidak sesimpel itu ...
Changingminds.org mejelaskan :
To reframe, step back from what is being said and done and consider the frame, or ‘lens’ through which this reality is being created. Understand the unspoken assumptions, including beliefs and schema that are being used.
Ini berarti, anda berdebat dengan asumsi-asumsi yang anda buat sebelumnya. Sayangnya, asumsi-asumsi ini sering kita terima sebagai kebenaran. Kita perlu kritis terhadap pikiran kita sendiri, dan mendebat setiap asumsi yang kita bangun selama ini. Mengapa begini? Mengapa begitu? Apakah hal yang seperti yang saya inginkan? Bisakah saya bersikap berbeda terhadap dia? dan sebagainya …
Anthony Robbins, seorang ahli pengembangan diri mengungkapkan mengenai re-framing (Wikipedia) :
If we perceive something as a liability, that’s the message we deliver to our brain. Then the brain produces states that make it a reality. If we change our frame of reference by looking at the same situation from a different point of view, we can change the way we respond in life. We can change our representation or perception about anything and in a moment change our states and behaviors. This is what reframing is all about.
Robbins menjelaskan bahwa kita harus membangun suatu kerangka baru, yang berbeda dengan kerangka sebelumnya. Membangun kerangka baru ini berarti meruntuhkan kerangka lama, atau dengan kata lain, meruntuhkan asumsi lama yang kita lekatkan kepada obyek tersebut. Robbins ingin menyampaikan bahwa realitas itu adalah persepsi apa yang kita bangun dalam ruang pikiran kita. Itu berarti kita sebenarnya bisa membangun realitas yang menyenangkan, atau bahkan yang menyedihkan.
Bagaimana tahap-tahap melakukan re-framing? Nah, anda bisa mengikuti 6 langkah saran dari Laura Interval atau trans4mind.com yang diambil dari pendekatan NLP (neuro linguistic programming).
Memang melakukan re-framing itu tidak mudah, tetapi sebenarnya juga tidak sulit-sulit amat. Menurut saya, tahap yang tersulit adalam mengalahkan ego diri kita bahwa kita memang harus melakukan re-framing. Sering kita menolak menerima kenyataan dalam hidup. Padahal bisa jadi, hidup akan lebih indah jika kita melakukan re-framing atas kejadian-kejadian (terutama yang tidak menyenangkan) dalam perjalanan hidup kita ini …
(hehehe ... mohon maap kalo posting ini agak bikin mumet)
UPDATE :
Seorang sahabat mengirimkan pesan setelah membaca tulisan ini. "Bukankah yang sejati itu tidak pernah hilang? itu akan ada selamanya?" ... Well, sahabat, bukankah yang sejati itu ibarat hukum kekekalan energi dalam ilmu fisika? Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, dia hanya bisa berubah bentuk. Berubah bentuk inilah yang dimaksud dalam reframing, kita mengubah maknanya menjadi bingkai persahabatan .. we have known each other by chance, become friends by choice, still friends by decision, and when we say friend forever, that's definitely a lifetime promise ...
Tag: reframing, mengendalikan pikiran
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Mbah Ngasmuni: Inspiratif
-
Penonton Kerusuhan: Inspiratif
-
tukang odong-odong: Inspiratif
-
kucing_usil: Inspiratif
-
Silly: Inspiratif
-
kucingsapi: Inspiratif
-
happylife: Inspiratif
-
Guardian Angel: Inspiratif
-
imy: Inspiratif
-
clingakclinguk: Inspiratif
-
sari: Inspiratif
-
kopiholic: Inspiratif
-
Geminians: Inspiratif
-
mas stein: Inspiratif
-
venus: Megang banget
-
nonanovi: Megang banget
-
starrysie: Inspiratif
-
mimosamimosa: Inspiratif


Komentar:
Contoh yg ada di link six steps itu re-framing untuk mengubah persepsi dalam memperbaiki kebiasaan buruk atau mengubah cara menghadapi situasi tertentu. Re-framingnya personal.
Masalahnya waktu re-framing dipakai untuk kasus mantan pacar ini, harus mutual. Kalo sini sudah re-framing sana masih memandang seperti jaman dulu, bisa berabe. (Semoga mbah putri tidak baca ini
clingakclinguk: tenang ... saya pernah melakukan reframing ini .. butuh waktu dalam hitungan tahun kok
Yang repot adalah bila ketika kita sudah berusaha melakukan re-framing, sang mantan pacar masih tetap menyimpan "bingkai" lama di hatinya dan tidak melakukan aksi serupa. "Masih Cinta", begitu kata lirik lagunya grup band Kotak.
Kalo gini caranya, nyanyi lagu D'Masiv aja kali yee bang Riri : "Lupakan akuuuu...kembali padanyaa...aku bukan siapa-siapa untukmuuu....
*megangin mbah Ngasmuni, melupakan simbah putri yg mungkin baca tret ini*
bisa-bisa nanti malah salah paham, mungkin si mantan yang berpikir saia kasi harapan buat rujuk balik, mungkin pasangan baru dari saia atau pun si mantan yang ndak senang
tapi metode re-framing nya berguna banget buat masalah-masalah personal
*menjura dapat posting segar pagi hari
*senyum2 sambil nglanjutin baca lagi*
ririsatria: ternyata mengubah persepsi dari pacar jadi temen, temen jadi demen, demen jadi pacar, pacar balik lagi jadi temen itu bisa jadi mbulet kalo diomongin laki2 yah, hahaha...
Kalo saya sih mikirnya gini. When it comes to me, I will enjoy it till the last drop... but it goes away, then I'll let my self fly up to the sky... forget the past, and face forward.
Gak ada yang bisa nolongin kita kecuali diri kita sendiri... Kalo dah sepakat bubaran, ya udah bubar aja... mo nantinya bakal jadi temenan atau enggak, biar waktu aja yang menentukan, gak usah maksain juga jadi temen kalo emang susah, malah nyakitin diri sendiri khan?...
Tapi kalo bisa jadi temenan lagi, alangkah baiknya... jadi gak ada permusuhan atau dendam kesumat karena putus/diputusin... cerai/diceraiin... (yang terakhir agak sulit reframingnya, secara dah pernah jadi temen tidur bertahun2, kalo harus pisah, trus jadi temen, agak susah biasanya sih... apalagi kalo masing2 dah punya pasangan sendiri2)
*belajar bikin bom lagi*
misal dakunya bisa berhubungan baek ama mantan, tapi pasangan skrg ndak suka .. ya mendingan dikeluarin lagi dari frame
atau misalnya belom bisa masukin si mantan ke frame, tp punya komunitas yg sama ... yah.. kagok kagok laaah... belom lagi goda2 dari teman2 ... hihihi.. kadang yg kaya gini malesin jg seh ...
tp bisa jg selaen si mantan masuk frame, keluarganya jg masuk frame jg ... hehehe.. benernya ini yg paling asyik seh ... tp bener kata jeng silly, biar waktu aja deh yg mbantu reframing nya
Saya sering kok seperti ini. lebih suka menghapus kata mantan pacar dan merubahnya jadi sahabat, tapi gak semua mantan mau diperlakukan sebagai sahabat. Ada yang bilang butuh proses, ada yang bilang masih cinta, ada yang bilang kalo dah bubar ya bubar aja kalo perlu putus hubungan silaturahmi...
yaoloh yang terakhir dah jadi mantan kok masih aja nyolot *setrum*
ririsatria: susah ternyata. kalo dari pacar ke istri sih gampang (padahal belum pernah!), tp kalo dari pacar ke sahabat, needs longer time keknya...
dan sayah selalu sukses
semua mantan sekarang jadi sahabat.
Gak tau kenapa kok akhirnya saya dengan mudahnya re-framing mereka dari status pasangan jadi temen, mungkin karena pas putus udah ada serepnya kali ya.
*minta digampar kanan kiri*
kucing_usil: memang diperlukan kekuatan hati terlebih dahulu ... kita berdebat dengan diri sendiri ... fase itu memang harus dilewati memang
Silly: hahaha
ann: aha! itu juga proses reframing, tetapi banyak menyerahkan kendalinya sama waktu ketimbang diri sendiri ...
kucingsapi: yup, kalo mudah, tentu tidak akan teori yang njelimet kayak gini ... justru karena dia sulit itulah, maka para ahli mencoba untuk menjelaskan dengan komprehensif .. hehehehe
haryan: kalau sudah bisa mengeluarkan dari frame lama (sebagai pacar) itu sudah oke, pindahkan ke frame baru (misalnya penjahat, hahahahaha)
happylife: malaikatpendosa: imy: really? why don't you share the story? pasti bermanfaat deh ..
kopiholic: jangan2 ente yang di-reframe orang lain hehehehe
sari: setuju, memaafkan adalah bagian dari proses reframing ... itu termasuk fase yang paling sulit
saya contohnya...ehhmmm, saya pernah pacaran sama cowo di satu divisi, kita pacaran diam2 alias gak ada satu teman pun di kantor yg tahu...dan berakhir dengan putus yg lumayan kacau balau...namun karena tuntutan pekerjaan kita pun bisa jg untuk reframing..hehhe....yaa walopun agak sulit di awal, tapi lama kelamaan kita bisa jg tuuh...
**butuh waktu kurleb 2 taon utk bisa netral bgt...
*standing berjinjit pake sau kaki buat om ririsatria
Tapi yah, saya sepakat re-framing yang baik tentunya dari pacar menjadi sahabat...
venus: queeny o corner: hihihi ... memang tulisan ini untuk orang2 tertentu saja ... hahahahahah
clingakclinguk: dee: yup, itu juga reframing
Silahkan login untuk memberikan pendapat