Siapakah yang Paling Berbudi? (Penggalan Kisah Sitti Nurbaya) 67
Rabu, 26 Agu '09 15:36
Mohon pendapat para Ngerumpi-ers .... sepotong kisah dari cerita masa lalu ... bagaimana ya kita memotret situasi ini ?
Datuak Maringgih adalah seorang pengusaha sukses, berusia 55 tahun, dan dia ingin menjadikan Sitti Nurbaya sebagai isteri muda (entah isteri ke berapa). Dia menjerat orang tua Siti Nurbaya dengan hutang, sehingga mereka tidak punya pilihan lain, hanya merelakan Sitti Nurbaya dijadikan isteri muda oleh Datuak Maringgih.
Di sisi lain, Sitti Nurbaya sudah punya kekasih, namanya Samsul, seorang pemuda baik-baik di kampung itu, dan pernah kuliah di STOVIA, di kota Batavia. Cinta Sitti Nurbaya dan Samsul akhirnya kandas di tengah jalan. Tentang Samsul, dia adalah pemuda yang cerdas dan taat beribadah, dan terlibat banyak dalam pendidikan di kampung tersebut.
Akhirnya Samsul yang frustrasi melamar kerja ke pemerintahan penjajah Belanda, dan diangkat menjadi prajurit. Karena Samsul pernah kuliah dan berpendidikan tinggi, maka dia diberi pangkat letnan, dan ditempatkan di Batavia.
Akibat tekanan penjajah Belanda yang demikian keras kepada rakyat di ranah Minang saat itu, maka sekelompok pengusaha pribumi melakukan pemberontakan terhadap penjajah, dan menolak untuk membayar pajak. Pemberontakan semakin memanas dan menjadi perlawanan bersenjata. Datuak Maringgih memimpin perlawanan bersenjata tersebut dan dengan heroik bertempur dengan tentara penjajahan Belanda.
Pemerintahan penjajah Belanda mengirimkan pasukan besar dari Batavia untuk mematahkan perlawanan tersebut, dan salah satu pasukan itu dipimpin oleh Letnan Samsul. Akhirnya bertemulah Samsul dan Datuak Maringgih dalam pertempuran, dengan membawa bendera yang berbeda. Singkat cerita, Datuak Maringgih tewas dalam pertempuran ditembak Letnan Samsul.
Dari dua laki-laki dalam cerita ini, siapakah yang paling berbudi ? Samsul atau Datuak Maringgih ? kenapa ya ? kasih pendapat dong ... hehehehe :)) .. terima kasih ..
Terkait:
-
Tentang Persimpangan-Persimpangan
9 jam yang lalu -
Di Persimpangan
13 jam yang lalu -
Sakit..
Senin, 19 Jul '10 05:05
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
enriqueza: Inspiratif
-
Mbah Ngasmuni: Menggoda
-
Silly: Inspiratif
-
mbakDos: Nggemesin
-
venus: Nggemesin


Komentar:
Sekali jahat, jahaaaaaaaaaaaat banget (dan agak menor pasti penampilannya).
Padahal, lewat tulisan pak ririsatria ini, terbukti, bahkan pada roman zaman pujangga baru ini pun, sudah ada "blending" antara kebaikan dan kejahatan, sehingga kita tidak bisa dengan mudahnya menuding ini lebih baik dari yang itu...
Btw, stok inspirasi dan referensi dalam diri pak ririsatria pasti begitu optimalnya, sehingga "koreksi" kecilnya terhadap sebuah posting pun, (tampaknya) bisa memicu sebuah tulisan yg tidak saja inspiratif, tp juga reflektif.
(mencoba komen ala politikana di ngerumpi)
*tersipu*
(ops, Bung, nanti kita dimarahi sama si Mbok dan si Tante krn banding2in dua kampung itu lagi) ...
Simbah rodo tersindir le...
ririsatria : Samsul Budiman apa Samsul Bahri bang ? Yang pertama lebih berbudi daripada yang kedua.
Sebelum mengawur lebih lanjut berbudi itu relatif terhadap negara, bangsa dan siti nurbaya apa ndak ?
~rusak dah lapak orang~
datuk
menjerat pake utang = -1
memimpin pemberontakan = 1
total = 0
samsul
melawan bangsa sendiri = -1
total = -1
kesimpulan : lebih berbudi si datuk maringgih
datuk udah tua = -1
samsul masih muda = +1
ya tetep menang samsul tho...
Kalo soal ini, izinkan saya memberi interpretasi, syamsul menang...
(komen ala arrahmah.com)
huaaa, kangen tontonan P. Ramlee sama cerita Pak Belalang
FYI, ada yg menarik, umumnya peserta perempuan gak bisa memberikan jawaban (memilih utk tidak menjawab) ... sementara peserta laki-laki umumnya menjawab, apapunlah jawabannya (Samsul atau Datuak) ...
*menunggu, adzab apa gerangan yg akan menimpamu, mas*
*khayalanterbangjauhentahkemana
"identitas" pahlawan atau pengkhianat, seringkali masalah sudut pandang aja...
bagi tahta inggris raya, si braveheart itu adalah kerikil yg mengganggu, dan oleh karenanya harus dilumat...
tapi untuk skotlandia?
[_ sulit menentukan pilihan jadi pada milih ndak komen _]
hehehehe .. kayak di kelas ... gak komen juga ...
*kabur sebelum ditimpuk*
*berpikir keras
*tiba2 saia jadi merasa bersalah karena sedang bekerja untuk kumpeni*
*ngakak dalam keadaan kurang kalori*
ririsatria: Kalo mau respon dari ibu-ibu, detail Samsul mau bunuh diri sebelum jadi tentara, setelah dengar Siti Nurbaya diracun sama Datuak jangan dihilangkan
Pasti jelas pilihan siapa yg lebih berbudi
*keplak bang enriqueza
*siap-siap daftar pinjaman buku
mas stein: cinta fitri sekarang sampe mana, mas? *dihajar*
*ngawur [dot] com
pantesan Siti Nurbaya dilema
Hahaha
kalau dari samsul, saya bisa ngerti kenapa. dia kecewa dengan 'adat' kampungnya yang membolehkan pacarnya 'dicaplok' sama Datuk Maringgi. jual perempuan, secara politis ini juga udah bertentangan dengan hak asasi. pada poin ini, buat Samsul akhirnya mengecewakan. dan bisa dimengerti kenapa dia akhirnya pindah ke sisi yang berseberangan: Belanda. apalagi pada saat itu Belanda memberikan penghargaan pada dia. soalnya dia di kampung halamannya, walaupun pintar dan rajin beribadah, sistem tetap memenangkan datuk maringgih yang kaya. akhirnya datang kesempatan untuk 'membalas dendam', yang sebenarnya mungkin bukan murni balas dendam, tapi ingin melenyapkan sistem jual anak perempuan buat nutup utang itu. makanya dia keluar dari ketentaraan Belanda setelah itu berakhir.
datuk maringgih, sebagai orang yang kaya dan berkuasa, pengen praktekin kekuasaannya di situ. tradisinya memungkinkan untuk punya banyak istri dan saat itu sistem jual anak buat nutup utang ya ada. buat dia ya wajar untuk melakukan hal seperti itu. intinya apa yang dia lakukan pada siti nurbaya adalah wajar di mata dia dan masyarakat umum pada saat itu.
ketika dia mau memimpin perlawanan, itu karena dia punya kebanggaan sebagai orang minang. dia punya hubungan yang kuat dengan tanah minang. seperti seorang raja yang ingin melindungi tanahnya, ya dia akan menyerang siapa yang hendak merebut.
pada akhirnya, siapa yang lebih berbudi itu tergantung dari siapa yang menilai. subjektif. makanya dilematis. LOL.
akhirnya gak menjawab pertanyaan ya?
lebih senang berbalas-balas pantunnya..
*membayangkan samsul dan siti sedang di sawah sambil mengobral kata-kata cinta,lalu datuk maringgih datang trus mengeluarkan sindiran2 tajam,trus dibalas lg sama samsul trus lama2 bukan silat lidah lagi, tapi silat beneran*
*diiringi musik daerah*
gak jawab tegas siapa yang lebih berbudi, soalnya bingung. gara2 ini sekarang jadi paham kenapa jadi Tuhan itu susah. hahaha.
kalau secara objektif, saya ga mihak siapa2. tapi kalo subjektif, saya pilih Samsul karena saya mendukung kebebasan cinta dan sangat tidak mendukung alias menentang penjualan perempuan. jadi manusia emang susah objektif. hahahaha.
saya pernah nulis ttg hal ini :
http://politikana…ektif-no-way
jadi, damai-damai sajalah kita, ya gak ... karena semua itu relatif ...
*ketika batas antara fiksi, ilusi, dan realitas semakin kabur*
Kalau baca keseluruhan, buat saya lebih berbudi Syamsul. Dia cuma "kepleset" sekali dengan menjadi tentara Belanda, dan dalam cerita itu juga tidak diceritakan sepak terjang berlebihan dari seorang Syamsul saat menjadi tentara Belanda.
hehee, itu pendapat saya tapi siapapun sah-sah saja berpendapat beda. Saya cuma meluruskan sedikit *ttp maksa
*kok jadi oot gini,
Silahkan login untuk memberikan pendapat