Sensualisme dan erotika itu karunia 6

Senin, 3 Agu '09 07:33

 

Mata kita dan indera lain menyerapnya. Di dalamnya tentu juga indera pria, kaum saya keturunan Adam. Tiada yang salah, tiada yang sesat, karena itulah cara yang ditanam oleh Kehidupan agar kehidupan takkan punah.

Pagi ini tampak seperti meniupkan angin perselisihan jika saya postingkan ini, namun percayalah yang ada hanya niat berbagi untuk bercermin bersama. Kemudian saya langsung menghembuskan perbincangan ke pokok persoalan yakni wilayah leher, bahu, dan dada wanita.

Tiada yang baru karena kita semua tahu. Manakala hawa mengangkat lengan maka pesonaya pun kian bersinar. Ketika bahu pun terbuka, sementara lengan kencang tampakkan kehalusan kulit, dan oh ketiak halus tampak, tetapi boleh juga dengan rumput karena tergantung yang menyerap, keindahan pun kian tertampakkan. Mengangkat lengan membuat, oh maaf, payudara pun terangkat, apalagi jika bersedikit penutup atau malah tidak sama sekali.

Saya lelaki, saya pejantan, saya sang penjahat kelamin. Akankah dorongan setani serta merta merampas akal saya, sehingga saya lepas kendali, memanjakan dorongan alami tanpa peduli akal budi?

Jawaban saya tidak, namun dapat juga ya. Meskipun begitu secara umum saya akui ada rasa senang melihat keindahan, tanpa harus diikuti gejolak yang akan tampak dalam pacu adrenalin, tanpa harus diikuti desir di dada, tanpa harus risih oleh sesuatu yang menggeliat dari sebuah titik tersembunyi.

Bahkan ketika jumlah peraga pemandangan itu banyak, misalkan di kolam renang dan pesta, semuanya tampak biasa. Adam hanya perhatikan satu dua yang menurut inderanya tampaklah istimewa. Itu pun sekilas saja...

Dalam situasi normal, ketika yang dilihat sering hadir dan tampak, maka itu semua mengarah kepada rasa biasa. Lelaki bahkan seorang penjahat kelamin sekalipun tak selamanya busuk, tak selamanya mengancam, karena ketika lelah dan kantuk tiba berada di tengah lautan lengan terangkat dan ketiak bersih dan payudara kencang, tetap saja pejam mata menuju ketidaksadaran dan ketidakberdayaan justru lebih nikmat.

Menjadi lain persoalannya jika Adam sang penjahat kelamin berada di tengah samudera tanpa hawa, mendekam di penjara tanpa perempuan, terasing di mercusuar pulau karang hanya berteman angan, maka yang tiada indah dalam alam sehari-hari pun mungkin akan indah, mungkin akan meletupkan dorongan, dan hanya akal budi yang akan mengeremnya. Namun hendaklah diingat bahwa kapal, penjara dan mecusuar juga ada dalam kehidupan ramai karena kondisi yang jauh dari kewajaran.

Apa yang saya bicarakan pada pagi awal pekan ini wahai kawan-kawan? Inilah sensualisme dan erotika. Bukan sesuatu yang berbahaya. Wajar adanya dalam kehidupan. Hanyalah soal keindahan. Seperti halnya ketika saya memotret model, benak dan perasaan saya lebih berkutat pada keindahan, dan hampir bersamaan jemari saya, dan mungkin asisten saya, juga perias, bekerja otomatis secara intuitif dalam urusan teknis. Tiada percabulan yang bamnal di sana.

Sensualisme hanyalah soal kekayaaan rasa akan erotika dan seni pengelolaannya. Erotika adalah dorongan purba perihal nikmat perkelaminan yang dikelola secara dewasa, kalaupun membabibuta (adakah bedanya dengan babi yang melek?) bahkan banal hanya dilakukan dalam ruang yang mempribadi.

Akan panjang penjabarannya tetapi jika ingin langsung ke contoh nata lihatlah foto-foto iklan terutama di majalah wanita modern, lihatlah foto-foto relief candi, lihatlah lustrasi wayang kulit... Itulah sensualisme dan erotika. Tidak terbukti hanya karena itu maka setiap Adam (sekali lagi, setiap...) akan menjadi iblis pemerkosa.

Dunia ini kaya dan perbedaan pendapat adalah rahmat. Saya tiada hendak paksakan pendapat bahwa di mana-mana haruslah Hawa terbuka, karena semuanya bergantung pada suasana dan kepantasan. Dalam bahasa lain saya tentunyalah bertakzim kepada Hawa yang tertutup rapat, namun saya tiada bersepakat manakala itu menjadi wajib bagi segenap warga semesta.

Pada wanita pun sama. Rasa senang dan mungkin nikmat melihat si gagah tegap berdada enam kantong, dalam kilau peluh, belum tentu langsung mendorongkan dorongan purba untuk lakukan apa yang selama ini hanya disimpan dalam imajinasi dan impian.

Kehidupan ini kaya dikarenakan adanya keragaman, termasuk di dalamnya sensualisme dan erotika. Dalam keragaman terdapat juga tingkat kematangan dan kekayaan manusia tentang seni dan keindahan. Naluri dan akal sehat manusia dewasa dapat memilah-milahnya, termasuk mana dan kapan yang aman dan kapan yang tidak untuk membuka bahu, mengangkat lengan, tampakkan ketiak, biarkan payudara terangkat, dan... ekspresi yang mungkin sengaja mungkin alami.

Sensualisme dan erotika muncul dalam seni rupa, sastra, teater, film, dan ekspresi seni lainnya.

Selamat hari Senin

 


Tag: seni, sensual, erotis, syahwat, keindahan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Komentar:

imy 0 0
dada enam kantong??
itu laki atau kucing betina?
cecil 0 0
maksutnya perut kotak2 tuh...

*ngikik*
Penjahat Kelamin 0 0
@imy: semacam kucing mungkin
@cecil: perut kotak-kotak, ya itulah
riuusa 0 0
ooooooooooo.......
klo liat cowok berkantong sih suka (duit banyak) wakakaka

klo liat cowok berbadan tegap dan perut kotak2 ni kepala langsung berujar "inilah fungsi mereka, pemandangan indah" hmmmm tapi sayang sekali dikepala saya hanya suka menikmati tubuh indah para adam yg tegap itu....
tak terkecuali dengan body dan muka cewek klo liat cewek cantik langsung deh "ni baru yang namanya cantik dan pantas jadi pemandangan"....hohoh klo liat body cewek... aku biasanya lebih suka liat yg langsing ....

hahahaa......liat pemandangan2 manusia cantik ituh menyenangkan....
*saya masih wanita normal*
pelangi 0 0
Mas PK : dduhh, saya termasuk hobi angkat-angkat tangan, bukan apa-apa tapi sering pegel kebanyakan duduk.... : D

Mbak riuusa : iya ya, rasanya lebih gimana gitu klo lihat perempuan cantik dengan bentuk tubuh yang pas. dan saya juga masih normal : p
Dewi Pinatih 0 0
" Seperti halnya ketika saya memotret model " mau dung dipoto *langsung pose nunggu mas penjahat kelamin nyiapin kamera : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat