Coffee Giants 51
Minggu, 19 Jul '09 10:56
Kopi, siapa sih yang tidak kenal dengan minuman satu ini? Saya yang dulunya samasekali ga ngefans-ngefans amat sama minuman ini hanya karena efek yaang ditimbulkan bisa bikin saya melek u/mengerjakan hal-hal yang butuh konsentrasi akhirnya ya ngefans juga lama-lama.. tapi alhamdulillah sih ga sampe nyandu, cuma 1-2 cangkir sehari (kalaupun gak ada ya ga sampai nyandu).
*sambil nyeruput kopi anget-anget*
But anyway, saya bukan mau membahas tentang kesukaan saya minum kopi ya, tapi lebih ke pengamatan tentang Coffee Giants alias kedai kopi..
Starbucks, Cofee Bean, Cosi, AMT , siapa sih yang nggak kenal sama coffee giants lokal & internasional tadi? Tanpa bermaksud promosi, tanpa perlu membahas asal usul & kepemilikannya siapa kedai-kedai kopi tersebut, tapi.. pernah ga sih kita memperhatikan kenapa sih lokasi mereka mostly di mall atau daerah perkantoran? Atau kenapa sih mereka bisa mencharge harga segitu mahal hanya untuk segelas kopi? Apa iya karena kualitas kopinya, kelezatan kopinya, segmentasi pasar yang dibidik, atau karena apanya?
Beberapa alasan utama kenapa coffee giants bisa menge-charge harga segitu mahal untuk segelas kopi sebenarnya bukan karena kualitas kopinya. Memang menurut sebagian besar orang mengatakan memang rasa kopi mereka itu enak. Tapi apa iya enaknya itu pantas dihargai Rp 50.000,-/gelas?
Kalau kita lihat lebih cermat, maka kita akan tahu bahwa terjadi perubahan value. Contohnya begini, biji kopi yang sudah diolah melalui proses manufaktur dan diberi kemasan dengan label tertentu akan menjadi lebih tinggi nilainya dibanding dengan ketika dia masih dalam kondisi biji kopi mentah. Namun ketika proses membuatnya menjadi secangkir kopi yang cepat saji tentu kita dibantu oleh layanan coffee giants (kedai kopi) yang mengedepankan layanan praktis serba instan atau cepat saji, jadi tentu ada harga tambahan yang harus kita bayarkan untuk itu bukan? Lalu bagaimana dengan Starbucks yang dapat menjual dengan harga berkali lipat? Jawabannya sederhana, pertimbangannya adalah faktor branding & experience. Kebanyakan para customer salah satu alasannya mencari Experience. Kita akan dihadapkan pada faktor kenyamanan, gaya hidup/lifestyle dan bagian dari kelompok masyarakat yang ngetrend. Kita diajak untuk merasakan bahwa minum kopi bersama coffee giants macam mereka adalah sebuah pengalaman (experience). Intinya kita dibuat merasa berbeda. It's not just coffee. Begitulah kira-kira pesan yang ingin disampaikan.
Trus, kenapa lokasi coffee bar itu mostly ada di mall atau daerah perkantoran? kenapa ga dipinggir sawah atau empang misalnya? Nah itu karena ada pertimbangan pemilihan lokasi tadi. Para coffee giants itu berhasil me-repackage kopi menjadi kultur yang hip dengan penempatan lokasi yang tepat. Ya karena disini, orang-orang sibuk kaya kita (eh, kita orang sibuk ya? *bletak*) mayoritas tidak peduli masalah harga karena yang terpenting adalah fast served coffee to feed our caffeine addiction..
Hmm, kalau menurut saya sih ngupi di mall bukan hanya sebagai kebutuhan tapi sudah menjadi gaya hidup kaum urban.. Nah kalau saya sendiri malah lebih seneng ngupi-ngupi bikinan sendiri (beli product-product kemasan instant), nggak perlu keluar duit mahal-mahal hanya untuk secangkir kopi. Bisa bikin kapanpun saya mau & berapa cangkir yang saya pengen minum.. :D
Tag: gaya hidup, kopi, urban
Terkait:
-
Kopi, bir, rokok...
Senin, 2 Apr '12 21:53 -
It's just about 'Kopi Coklat'
Selasa, 20 Mar '12 00:21 -
Hujan dan Secangkir Kopi
Kamis, 8 Mar '12 14:47
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Silly: Inspiratif
-
dita-gigi: Megang banget
-
aubrey.ade: Menggoda
-
venus: Inspiratif
-
choro: Inspiratif
-
yohanes hans: Menggoda

Komentar:
doh saia jaman SMP sampe kuliah dulu pecandu kopi, tapi sekarang cuman bisa minum cappucino, gak bisa lagi minum espresso. deg-degan
Kedai kopi kayak gitu mahal karena "Packaging"-nya, jadi minum2 di kedai kopi gak cuma karena kopinya, tapi kita juga "beli" suasananya, dan kenyamanan tempatnya
Harganya tentu saja bervariasi, berdasarkan "value" dari tempat yang ditawarkan. Beli secangkir Hazelnut Coffee di Starbucks Plaza senayan, pasti beda harganya dengan segelas kopi yang sama di bandara.
Eh btw,... Starbucks juga banyak loh yang di ruko2 kecil dev,... di perumahan2 pinggir jakarta (jakarta coret, hihihihihi), krn biasanya mal-malnya gak banyak.
Bahkan sekarang di stop-an/persinggahan atau apa yah namanya, tempat istirahat sepanjang jalur tol luar kota juga udah ada. Kalo capek, mampir beli segelas kopi, ngatuk ilang, jalan algi deh, hehehehe.
Saya coffee addicted dev, tapi sehari tidak pernah lebih dari 3 gelas mengingat tubuh saya tidak sanggup mentolerir kafein yg berlebihan *tepok jidat*
gampang banget mulai dari kopi sachetan merk apa aja asal gag pake ampas (alias bukan kopi tubruk)
kalo soal kopi giant ndak terlalu menggemari kutubintang (starbucks) atau coffebean, dll soalnya mahal banget... emang sih cozy.. tapi saya lebih suka yg harganya menengah aja, seperti J.co, bengawan solo coffee... soal rasa sama aja ah... kalo dita malah kalo mahal, rasanya jadi gag enak, soalnya gag ikhlas bayar mahalnya...
Mereka pelajari selera konsumen & life style nya, makanya gak takut gak ada yang beli walopun harganya gak relevan dengan produknya
Kalo laku dengan harga 50ribu, ngapain jual seharga 30ribu ? walao 30ribu juga mrka dah untung.
Tapi saiah smsekali gak suka kopi, teh cuma pagi, biar anget ajah, saya pecinta aer putih
Kalo aku mulai minum kopi sejak kerja di callcentre, kan shifting tuh, kadang masuk subuh2 atau pulang malem. Nah keterusan sampe sekarang walau masih di callcentre tapi udah office hour tetep aja akhirnya butuh kafein biar konsen ngerjain laporan anak-anak quality assurance-nya, xixixi..
iya nih, aku juga lebih suka bikin kupi instan aja. Tar kapan-kapan kita ngupi bareng di mana gitu, tapi kita tar pesen air putih panas aja, tar kita bawa kupi dari rumah, trus kita bikin disitu. Biar keren aja, weehh.. ngupi di starbuck gituu, ga taunya nescafe2 juga, hiihihihihi...
*tepu-tepu*
*dikeplak sama yang suka ngupi-ngupi di starbak*
aku sih membatasi ga lebih dari 2 cangkir sehari. Jadi biar ga nyandu gitu.. Tapi kayanya sih sebenernya lebih ke sugesti aja. Toh ga ngopi juga benernya gapapa.. *tepok jidat*
Tapi ga enak aja ga ada yang di sruput smabil kerja gitu, xixixixi..
Saya juga doyan kopi. Ada yang udah pernah nyobain kopi aroma Bandung belum? 250 gramnya 14 rebuan (promosi). Dapet starbucks berapa dengan harga segitu?
Sebetulnya negri kita itu kaya kopi ya, cuma mungkin kurang cerdas aja dalam mengelola dan memasarkannya?
beli segelas, hotspotannya berjam-jam, wakakakak
*gak ngerti juga kenapa orang rela ngeluarin duit segitu banyak buat gaya... sementara kita dah bisa beli daging sprapat, sayur sop2an dan bumbu2 dapur buat nyambel. Manteppp*
tapi kalo ditraktir sih saya ga nolak
Ada lagi yang unik yaitu kopi Luwak, tahu & pernah denger kan? Kalau dari apa yang pernah aku baca disini : http://www.javako…iharaan.html , Kopi Luwak itu biji kopi yang diperoleh dari kotoran Luwak (sejenis kucing/ Musang). Luwak memakan buah kopi (Cherries). Pada buah kopi yang matang terdapat sejenis aroma yang sangat khas , wangi seperti buah anggur atau buah lechi sehingga disukai oleh Luwak. Secara naluri luwak hanya memakan buah kopi yang benar-benar matang dan punya aroma khusus.
Buah kopi yang dimakan oleh Luwak, diproses melalui sistem pencernaan dan kemudian dikeluarkan dalam bentuk kotoran berupa gumpalan memanjang biji kopi yang bercampur lendir. Kotoran tersebut kemudian diambil biji kopinya, dibersihkan dengan dengan cara mencuci sehingga tersisa biji kopi yang masih utuh. Proses selanjutnya adalah dikeringkan dengan sinar matahari (full sun drying) sehingga menjadi Biji Kopi Luwak. Kopi termahal & terunik proses pembuatannya yang jadi kebanggan negara kita ..
yang bisa wipian lama yah, xixixixi. Ga ngupipun benernya juga tetep bisa wipian..
*yang ngomong adalah yang selalu mengakses internet gretongan*
Ya kan belum tau reaksinya di perut tar kaya gimana gituh..
Nanti kita bawa termos sendiri aja jeung kalo perlu, sambil gelar tiker gitu di depannya Starbuck, dibawah pu'un rindang.. enak kayanya..
- emang kita mo kemana sih? rekreasi bukan ya? -
*dikeplak baki sama waitresnya Starbuck *
Yak jadinya semua berapa bang?
*sambil ngangsurin duit*
*toss dulu ah..*
*lebayatun*
tapi jugaaa... kalo gag minum kopi sehari ajaa... dita langsung pusing-pusing... apa lagi kalo 2 hari gag minum....
sehari juga minimal 2 gelas...
Oh iya mbak! jangan lupa beli kangkung
lah sekarang ga minum kok malah pusing? lah itu namanya nyandu.. ya udah gini aja say, kalo kamu ga bisa bobo malem, justru minumlah kopi.. biar cepet merem matanya.. (iyalah mosok merem kakinya)..
Kangkung? oh iya.. catet, buat cemilan sambil ngopi..
- aku ini manusia apa kelinci sih? -
dulu sayah pun suka banget nongkrong di starbucks. sampe barista-baristanya di penjuru jakarta mungkin udah kenal, saking sayah begitu seringnya berkunjung ke starbucks manapun.
dua tahun belakangan, sayah nyaris nggak pernah ke sana lagi. mungkin mulai menyadari kalo kopi yang dijual sebenernya nggak segitu istimewanya sih ya.. memang ada beberapa yang sayah suka banget, tapi yaaa nggak segitunya sampe harus selalu dikunjungi setiap lewat.
ah, anyway..
kalo yang suka kopi, coba deh torabika brown coffee. itu nendang banget rasanya. *promosi.. yang nggak dibayar*
beda ya antara torabika dan kopiko
eh ada satu yg blm saya coba sampe sekarang. kata temen2 sesama penggila kopi sih, ini kopi jahaaaaat banget. judulnya kopi singa arabica yg kemasan warna ijo. *promosi gak dibayar juga*
btw, kopi starbaks kok dari dulu aku gak suka ya? bener, mereka cuma jual lifestyle dan atmosphere yang membuat orang2 yg nongkrong di situ jadi keliatan berduit padahal blm tentu jg
btw mbok, bukan TORABIKA, tapi KOPIKO
LHAAAAH, KAN SAYA GAK BILANG KOPIKOOOO...SAYA BILANG TORABIKA KOPI BRAOOOOONNN...
mbok mbok, maksudku itu, yang bener adalah KOPIKO BROWN COFFEE *lirik dita-gigi*
sayah yg ngeralat tadi di komen atas...
ah sami mawon lah...
venus: ngg nganu mbok, itu ngg.. permen kok.. ya kan dit, ya???
cih!!
nah gini aja deh... simbok liyat dulu aja ke supermarket...
mbakDos : errr.. kelinci ya, nng.. kalo saya yang jadi kelincinya sih doyan ngopi juga.. eh emang ga ketemu ada kelinci barusan lewat di Starbuck nenteng kangkung?
*di kepruk gelas*
@mimosamimosa : pas di sby dulu tante ma papaku suka minum kopi luwak. Gantian deng sama kopi Singa. Kalo temenku nagih banget sama kopi Toraja..
*iklan lewat, gak di bayar*
Kalo yang pake ampas gitu atau yang kelas berat ga gitu suka nih jeng, suka yang imut-imut gitulah, ringan kadar kopinya..
*sambil bawa termos air panas ke starbuck, nyeduh kopi sachetan*
saya penggila kopi, sehari bisa 4 gelas....
dr pd 50rb 1 cangkir, mending beli indocafe yg rasanya mak nyusss......
aneh.. kopi buat saya gak bikin efek melek ... adanya efek pupi ... huahuahauhaua
makanya mendingan kalo mo ngupi-ngupi kita bawa kopi sachet aja, nanti minta air panas ke Starbuck ajah..
Silahkan login untuk memberikan pendapat