pekerjaan: ibu rumah tangga 37
Selasa, 14 Jul '09 22:41
Semenjak menikah dan memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan di sebuah hotel bintang lima di Surabaya, setiap kali harus mengisi kolom 'pekerjaan' entah itu pada saat harus mengurus KTP dan surat-surat penting lainnya --dan kemudian saat mendaftarkan anak-anak masuk sekolah-- jujur saja, ada sedikit perasaan gimanaaaa gitu. Di kolom isian, karena tidak lagi bekerja di luar rumah dan berstatus karyawan, saya selalu mengisinya dengan 'ibu rumah tangga'.
Ada yang aneh sebenarnya. Menurut hemat saya (halah halah), ibu rumah tangga bukan termasuk jenis pekerjaan. Bukan profesi yang membutuhkan level pendidikan dan ketrampilan tertentu. Lha saya kan pengangguran total, kenapa saya harus nulis ibu rumah tangga sebagai profesi saya, ya?
Butuh bertaun-taun sebelum saya akhirnya mengerti bahwa saya berhak menuliskan profesi saya itu dengan bangga. Sebuah jenis pekerjaan paling berat, dengan job description paling ribet, tanpa standar gaji yang jelas pula. Dan jangan lupakan kontrak kerja yang tidak dengan jelas menyebutkan berapa jam kita harus bekerja setiap hari. Saya berani bilang, jam kerja para ibu adalah 24 x 7 = 168 jam seminggu. Bayang pun itu. Bayang pun!
Oh, kurang lebih setaun yang lalu, seorang kawan menulis sesuatu tentang pekerjaan swasta. Saya yang pada saat itu telah bertransformasi menjadi seorang ibu yang tidak lagi setengah hati menyebut profesi yang gak ada sekolahnya itu, terpancing untuk berkomentar: fulltime mom? boy, I’m telling ya, it is indeed the toughest job on the planet. Dan si kawan menjawab sekaligus memberi link ke satu artikel di sebuah situs, yang menceritakan seorang ibu yang dengan bangga mendeskripsikan pekerjaannnya sebagai Research Associate in the field of Child Development and Human Relations.
Hmm...interesting.
Lantas saya jawab lagi, ‘Research Associate in the field of Child Development and Human Relations’ sounds cool, considering I always use ‘Domestic Manager’ everytime somebody pops up the very question. ah, now I’m thinking of getting myself a new business card, ahoy!!
Semenjak itu, jeung, saya semakin yakin bahwa profesi saya memang ibu rumah tangga. Dan saya bangga karenanya.
Ps: tadi pagi, untuk pertama kali, saya mengisi kolom pekerjaan di bawah nama saya di formulir daftar ulang precil-precil. Pekerjaan: penulis. Dan anak saya, yang menyarankan saya untuk mencantumkan 'penulis' di kolom isian itu, dia terlihat senang sekali bahwa ibunya tidak lagi hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Tanya kenapa?
Tag: anak, pekerjaan, curhat, ibu, profesi
Terkait:
-
Kaulah Busur...
Senin, 26 Jul '10 09:40 -
Ibu.... Ibu.... Ibu....
Jumat, 30 Apr '10 12:12 -
Mom’s Life
Jumat, 16 Apr '10 12:53
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
ririsatria: Inspiratif
-
dita-gigi: Inspiratif
-
ateta: Inspiratif
-
kucingsapi: Inspiratif
-
aubrey.ade: Inspiratif
-
enriqueza: Inspiratif
-
Rainbeau Mars: Inspiratif
-
Chic: Inspiratif
-
liez: Inspiratif
-
Lele: Inspiratif
-
Juminten: Inspiratif
-
pha: Inspiratif
-
takodok: Inspiratif
-
Faniez: Megang banget
-
Silly: Inspiratif
-
KiMi: Inspiratif
-
Sari Ajah: Inspiratif
-
rini bee: Inspiratif
-
langit paramesthi: Inspiratif


Komentar:
nasib bangsa negara kedepan ada di tangan para ibu rumah tangga (maksudnya melahirkan dan membesar kan calon2 penerus bangsa)
ndak ada yg salah dengan menjadi ibu rumah tangga... lha malah cita2 saya pengen jadi ibu rumah tangga...
tapi jadi penulis juga keren kok... yang penting hati senang dan riang... mau jadi penulis, ataupun ibu rumah tangga ya ndak masalah..
salam buat precil nya simbok venus, rafi udah sembuh belom mbok?
aku juga pengen jadi fulltime researcher Child Development and Human Relation nantinya
dan memang bener jeunk..amazing deh jadi IRT ituhh
sangat bisa merasakan 'ketidakpedean' mereka yg berprofesi sbg ibu rumah tangga. beberapa teman pun begitu. mungkin karena merasa tidak menghasilkan uang ya...padahal kan outputnya keren banget lohhh....
*keluarga yg harmonis dan mendukung pertumbuhkembangan anak shg si anak tumbuh maksimal mengaktualisasikan segala potensinya, dan mendukung siapapun yg jadi anggota keluarga utk mengaktualisasikan potensinya, ke arah yg lebih baik, demi menjadi bagian masyarakat dan juga warga negara yg lebih baik juga*
dan soal ketidakpedean ini, beneran, aku baca di koran, artikel serius ttg gender dan perempuan gt. jd artikel itu mencoba meyakinkan utk menghargai / mengapresiasi profesi Ibu Rumah Tangga.
semoga di masyarakat yg matre ini, masih bisa mengapresiasi profesi ini ga hanya berdasar outputnya aja....
Sebetulnya yang membuat kita tidak pede adalah opini masyarakat yang mengatakan prempuan yang tidak bekerja, aka IRT, itu bukan profesi.
Padahal untuk bisa menjadi ibu yang baik, harus pandai. Dalam hal keuangan misalnya, kudu pinter2 ngatur keuangan, Harus pandai mendidik anak. Seorang ibu yang sarjana pernah bilang begini sama saya... ketika saya tanya, "Ih, sayang banget dong ijasah insinyur lo"
Dia bilang, "Gue khan jadi insinyur untuk menciptakan Insinyur-insinyur baru yang lebih berkualitas dari gue"
See.. Masih banyak contoh. Gue juga sedang mendidik diri sendiri, bahwa menjadi full time mom itu pekerjaan yang sangat mulia
Btw, selamat atas profesi barunya sebagai penulis ya mbok... *ditendang dipantat*
Luv u mom
salut buat ibuku!!! (worship)
Love mbak venus ...muach..muach...hidup IRT !
christin: pinter banget, ini profesi yang ndak ada sekolahnya, tapi isinya ujiaaaannn melulu
tapi kabar baiknya, kalau kita menikmati ujiannya, lulus gak lulus, we will grow older beautifully
Jadi 'seger' lagi baca artikel ini, setelah hari2 yang melelahkan ...Thanks mbak venus
Silly: setuju 100%, jadi ibu jaman sekarang emang harus pinter, akademik juga,lho,karena cara berfikir itu hasil proses, selain pengaruh lingkungan & latar belakang keluarga. Anak2 sukses bukan DILAHIRKAN tapi DICIPTAKAN, bukan berarti kita men-drive anak kita sedemikian rupa, tapi kita harus jadi 'pendidik' yang cerdas khan, untuk meluluskan 'murid2' yg berkualitas. Makanya mnrt aku sdh saatnya IRT 'disadarkan' bahwa itu memang sebuah profesi, jd gak bisa asal2an
**Percaya,kalo ibunya mbak Silly,bisa deh,mencetak insinyur
permasalahan yang sering timbul sekarang adalah condong ke arah materi, apakah dengan single fighter suami dapat memenuhi kebutuhan dapur keluarganya?
ketika masalah materi juga tidak begitu signifikan, kadang si perempuan juga memaksa untuk mengaktualisasikan dirinya dengan karir.
dengan semua keadaan di atas, saya sebagai suami kadang tidak mempunyai pilihan lain selain memberi kesempatan untuk istri berkarir, hanya memang ada waktu dan batasnya, hingga pada saatnya nanti pun dia akan cukup berbangga dengan titel IRT.
intinya saya salut, semoga ke depannya memang kita mempunyai IRT-IRT yang hebat seperti Silly dan venus
hidup IRT eh full time mother
ibu rumah tangga itu profesi menurutku, dan paling berat , perlu pertimbangan yang serius untuk menjalani profesi ini. dan yang perlu digarisbawahi menurut saya adalah: profesi itu pilihan bukan keterpaksaan
Tapi dia ga pernah mau. Katanya, "Kalau saya malaikat, Bapak dong setannya?"
tapi saya juga akan lebih bangga kalo disitu ditulis Ibu Rumah Tangga. keren, formulirnya ditandatangani sendiri sama ibunya, bukan pengasuh
Anyway, sama. Menurut saya IRT itu seharusnya dianggap sebagai profesi. Saya juga lebih memilih menjadi penulis, berkhayal, tapi dapet duit, dan yang paling penting, saya dirumah, dan menyaksikan buah hati saya bertumbuh menjadi besar dalam kasih sayang saya, what ever happen, saya harus selalu memastikan dia merasa bangga memiliki saya menjadi ibunya. Saya yakin, ketika besar nanti, anak saya akan bersyukur mamanya lebih memilih berhenti bekerja, ketimbang mengejar karir yang sepertinya tidak pernah berhenti berlari.
Mbok Venus, you should be proud to be a full-time-mom, sekaligus penulis!
Rainbeau Mars: penulis memang salah satu 'profesi sampingan' yang aman dikerjakan full time mother,ya sepertinya ? makanya saya lagi 'hot2nya' belajar
Lho,kok,jadi banyakan sayah komennya dari yg bikin artikelnya
**buru2 kaburr sebelum mbak venus dataaang**
*hugs jeng venus*
Rainbeau Mars: anu e... tapi saya bukan penulis
enriqueza: waaaaaaaw....situ manis sekali sama istriiiiiiii
makasih komentar2 yang manis dan menyemangati. love you all *hugs satu-satu*
tapi kata orang di seberang itu, ngapain kamu sekolah tinggi-tinggi dan mahal-mahal kalo akhirnya cuma jadi ibu rumah tangga....
jd pingin nggaploki orang itu lagi,,ibu rumah tangga tu bukan 'cuma' taukkkk! (nottalking)
mba venus.. tetep semangat ya jadi seorang IRT.. mungkin anakna masi terlalu dini untuk mengerti kehebatan seorg IRT.. tapi yakin deh, anakna pasti bangga bgt punya ma2 kya mba venus
ehemm...
aku kasih komentar yg lain yak...
btw, aku punya tetangga yg ibu nya jg ndak kerja. tp jg kayaknya ga cocok kalo profesinya disebut sbg "Ibu Rumah Tangga". mau tau kenapa? karena kerjaannya keluyuran mulu sama temen2nya dan rumahnya diurus sama pembantu.
*hugs*
side job= R&D KF
wew wew, cita2 yang tinggi
liez: hihihi...thx, jeung
pha: eh? itu status ym-ku kalo aku lg sibuk *keplak oelpha*
klo gak lo tulis aja
Half time writer, full time mom
Silahkan login untuk memberikan pendapat