He Loves Me…He Loves Me Not… 20

Jumat, 10 Jul '09 02:17

 

Masih ingat kasus kekerasan dalam rumah tangga Cici Paramida? Yang menurut media, Si Cici ditabrak oleh suaminya sendiri, yang sebelumnya dirinya sudah dibohongi oleh suaminya. Dan kabar gosipnya kemudian Si Cici akan menuntut untuk bercerai, meski nikahnya bisa dikatakan masih seumur jagung (umur jagung itu berapa bulan sih?).

Weeitss, tunggu dulu, kita tidak akan bicara soal omongan matrealistisnya si Cici, atau salahnya ngawinin duda, atau gossip lainnya. Yang menjadi perhatian saya disini lebih pada keputusan Cici untuk bercerai meski pernikahannya baru berumur beberapa bulan.

Iya, keputusan bercerai ketika mendapati suaminya melakukan kekerasan baik sifatnya fisik maupun psikis bagi perempuan adalah pilihan yang berat. Tak jarang saya menemui korban kekerasan dalam rumah tangga yang jelas-jelas suaminya/pasangannya melakukan kekerasan fisik, psikis dan ekonomi, masih ragu untuk memutuskan bercerai. Seakan menghitung kepingan bunga daisy, 'cinta...enggak..cinta..enggak...' , harapan masih dibangun oleh perempuan korban kekerasan, bahwa pasangannya masih mencintainya (kekerasan yang dilakukan hanya kekhilafan), harapan yang membawa dirinya masuk dalam lingkar kekerasan. Satu tahun...dua tahun..tiga tahun...?

Selain persoalan anak , ketergantungan ekonomi juga menjadi salah satu penghambat perempuan korban kekerasan untuk memutuskan berpisah, bercerai dan keluar dari lingkar kekerasan yang dialami. Untuk itu tulisan mbak @chic , menurut saya mengingatkan pada tetaplah menjadi 'saya', meskipun telah menjadi 'kami', hindari ketergantungan, toh hidup berpasangan adalah saling melengkapi, bukan saling bergantung. Bagaimana menurut anda?

Selain ketergantungan ekonomi, perasaan ingin memberi kesempatan sekali lagi, macam: ' Ah, mungkin seiring dengan waktu dia akan berubah' , ' Mungkin saya yang salah, kurang ini...kurang itu', 'Gak papa mungkin sedang capek, besok pasti gak kasar lagi' , dan masih banyak lagi 'pengingkaran' terhadap kekerasan yang dialaminya.

Saya ingat, Myra Diarsi-salah satu pegiat di gerakan perempuan mengatakan dalam diskusi beberapa tahun yang lalu mengenai bagaimana memutus mata rantai kekerasan terhadap perempuan Bahwa memang ada siklus yang ditemui pada perempuan korban kekerasan, sampai pada titik si korban (perempuan) berani untuk konseling dan memulai langkah hukum untuk bercerai, siklus tersebut kira-kira sampai 5-7 tahun (dengan pertimbangan seperti yang disebutkan diatas).   

Jadi, sampai titik mana (waktu dan toleransi) anda berani mengatakan kata berpisah, ketika mengalami kekerasan? 

Sumber gambar disini


Tag: Perempuan, korban, stop violence against women

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

memethmeong 0 0
anu jeng....fenomena perempuan yg masih enggan lepas dr suami yg telah menyakitinya itu, battered woman bukan?

kalo dalihnya adalah cinta, dlm pandangan saya, itu bukan cinta. tp justru didorong oleh rasa takut. takut gimana ya, nasibnya kalo musti hidup sendiri, dll.

lbh jauh lagi, relationship yang driven by fear, udah ga sehat. apapun itu. bentuk ekstrimnya emang KDRT. tp bentuk KDRT paling halus bisa berbentuk pengekangan kan? memasung hak-hak pasangan untuk bertumbuh dan berkembang sesuai potensinya.

*baca ulang celestine prophecy buku pertama*
eh disitu ada ulasan bagus ttg relationship.
sofiakartika 0 0
memethmeong
iya, lebih didorong rasa takut tapi dalam kemasan 'masih cinta' , takut, khawatir itu jika ketemu sama korban KDRT misalnya alasan awal pasti dia masih bilang, cinta..sampai kemudian muncul (korbannya mengakui) bahwa iya saya takut..khawatir..

KDRT: memasung hak pasangan, justru yang paling berat, menurutku, karena tingkat traumanya lebih tinggi daripada yang fisik.
dita-gigi 0 0
wah berat ini pertanyaannya... : D

kalau saya pribadi mungkin tidak dapat mentolerir sama sekali KDRT yang berbentuk fisik soalnya kedua oran tua saya aja, yang melahirkan dan membesarkan saya, sampai saat ini belom pernah memukul... siapa dia, suami, orang yang ditemuai belakangan punya hak untuk menyakiti kita [saya]

tapi saya bisa bicara kayak gini, karena saya belom menikah... mungkin kalau sudah akan lain lagi pernyataannya...

satu lagi karena orang bilang saya itu tipe orang yang bertindak dulu baru berfikir... sehingga kalau saya pikir2 sekarang, mungkin saat saya di KDRT suami, ada kemungkinan bahwa saya juga akan membalas perlakuan yang sama... ada pepatah "mata dibalas mata" (kayaknya ngaco itu ya... mungkin saya salah ingat pepatah) ya semacam itu lah kira2

bukan kah dalam islam sendiri (agama saya islam) dikatakan bahwa suami baru boleh memukul istri bila sang istri berbuat salah dan sudah dibilangin 3 kali, tapi ndak mau nurut juga. dan memukulnya pun, bukan ditempat yang merusak penampilan a.k.a. BUKAN NAMPAR.

kalo saya di KDRT verbal masih bisa tahan kali ya... pokoknya jangan sampai fisik aja... baru nikah sebulan juga sama mau deh cerai : |

disambung ntar ya komennya... dipikir dulu... ; ))
suprie 0 0
dita-gigi: lebih tepatnya suami cuman boleh mukul yang tidak menyakitkan ... CMIIW, nanti di lihat lagi deh hadis atau suratnya ...
Chika Nadya 0 0
dita-gigi: yup, bener banget. tapi entah kenapa ayat-ayat dalam surat itu sering dilencengkan sehingga jadi alasan kenapa suami boleh mukul istri. : D

*eh bektutopik*

biasanya nih, biasanya yaaa, bakal KDRT itu terlihat dari masa pacaran. kalau pas masa pacaran aja udah plak-plak, gimana pas setelah menikah? eh ini biasanya lho ya. tapi ada juga yang pas masa pacaran adem ayem, pas sudah menikah, gahar bagaikan naga.

sekarang balik lagi ke pepatah, "teliti sebelum membeli." ; ))
venus 0 0
ugh..susah juga. kebanyakan memang perempuan takut minta cerai karena ya itu tadi, banyak faktor yg harus dipikirin: anak, ketergantungan ekonomi dan sebagainya.

lho kok komenku ngglambyar? : ))

btw, cici faramida keren lah berani minta cerai, gak nunggu bertaun2 dan keburu babak belur.
Chic 0 0
dita-gigi: ya ayat itu BENAR, selama emang ISTRI yang salah.

lah ini kebanyakan sebenernya si SUAMI yang SALAH, tapi begitu diklarifikasi, ISTRI malah dipukuli. : ))

kayaknya perempuan modern sekarang sudah ga takut kawin cerai, buktinya - waktu jaman saya masih kerja di Law Firm - pengadilan agama ga pernah sepi. Dan kebanyakan penggugat (sekitar 85 %) adalah perempuan, dan dari pengamatan saya, ya mereka-mereka perempuan bekerja.
Silly 0 0
sofiakartika: setuju banget sama yang ini...

"KDRT: memasung hak pasangan, justru yang paling berat, menurutku, karena tingkat traumanya lebih tinggi daripada yang fisik."

Tapi bagaimana cara menuntutnya karena tidak ada bukti kekerasan fisiknya... Kekerasan mental, adakah hukum yang bisa dipakai untuk itu?

venus: nyindir neeeeehhhh *tendang2 meja* : ))
memethmeong 0 0
bah. paling males kalo ada ayat2 yg jadi pembenaran suami boleh melakukan penertiban thd istri. sorry, call me ireligius or what. tp aku mo mengkritisi aja ayat2 kek gt.
kenapa istri ga boleh menertibkan suaminya, coba???


FYI, kekerasan verbal ato yg bersifat psikologis, malah akibat kerusakannya jauh lebih besar drpd fisik. kenapa? hal tsb bisa berefek ke self-image-nya, perempuan ybs merasa rendah diri dan ga pantes dicintai. perempuan2 yg merasa dirinya ga pantes dicintai, dia sulit utk beraktualisasi diri.
suprie 0 0
memethmeong:
ayat ayat itu yang hebat adalah penafsirannya ... orang bisa memakai ayat tersebut buat melakukan KDRT, bukan karena ayat nya salah, tapi karena penafsirannya dia salah.

bukannya di Islam sendiri, suami harus memperlakukan istrinya dengan lembut yah ? Gak boleh pake suara tinggi, tapi lagi lagi aku gak bisa bilang itu benar atau salah, karena keterbatasan pengetahuan agama ku. nanti dirumah buka - buka buku nyokap deh yang mengenai perempuan.
Silly 0 0
Chic: ..."kayaknya perempuan modern sekarang sudah ga takut kawin cerai, buktinya - waktu jaman saya masih kerja di Law Firm - pengadilan agama ga pernah sepi. Dan kebanyakan penggugat (sekitar 85 %) adalah perempuan, dan dari pengamatan saya, ya mereka-mereka perempuan bekerja. "...

Ehhh, kok gue berasa ini seperti prestasi buat perempuan2 bekerja ya Chic??? : p

Aku mungkin salah satu perempuan kuno yang masih selalu berfikir,... kalo masih bisa diselamatkan, diselamatkan dulu... kesian anak2nya donggg...

Biar gimana juga, anak2 umumnya yang menjadi korban loh. Mereka kalo boleh milih, mana mau sih lahir dari keluarga yang brantakan kayak gitu. Tapi khan gak bisa milih...

Menurut kalian... jaman sekarang prempuan2 mudah sekali menggugat cerai jika ada salah dikit ajah dalam rumah tangga mereka.. ini kemajuan atau kemunduran yahhh???

Banyak yang gak berusaha survive dulu.... Jadi dikit2 cere... dikit2 cere... Masalah Anak? gampang... wong gue bisa cari duit sendiri kok...

Ahhh... Dilema banget yah kehidupan modern itu.. Mana dong yang benar kalo gitu? *ditendang* : ))
Chic 0 0
terlalu mandiri mungkin Mbak?

*kok kalimat itu menohok diriku sendiri*

: )) : )) : ))
Juminten 0 0
*dem, kecolongan komentar lg* : ))

iya, alasan2 yg di atas itu rasanya udh bener. : D

eh tp bisa jg karena emang si istrinya bener2 masih sayang sama suaminya. ada loh yg kayak gitu. biar udh dibikin babak belur jg sama suaminya, tetep aja ngakunya masih sayang sama suaminya itu. duh, kasian deh liat perempuan2 yg spt itu... : ( di 1 sisi salut sih, tp di sisi lain kok ya kasian?
memethmeong 0 0
suprie
gw justru ragu kl hadist itu bener2 ada... : p


Juminten
bukan sayang namanya. itu emosi yg driven by fear. kl jujur sama diri sendiri, dan udah dijawab mba sofie di atas, kebanyakan krn kekawatira, rasa takut shg milih utk tetap berada di 'zona nyaman'nya mereka.

kucingsapi 0 0
memethmeong dan suprie : setuju sama suprie ayat2 itu ibarat undang2 yang kalo pasalnya gak jelas penafsirannya akan macam2. bisa salah dan bisa bener..

makannya biasanya kalo dah merujuk sama ayat di rujuk juga sama hadist (bila dlm islam) 2-2nya itu harus jadi pegangan gak boleh cuma salah satunya, karena hadist itu ya kayak pasal2 penambahan itu deh....

ih gw ngomong apa sih? tapi serius gw merasa gak berkompeten ngomong itu lah gw gak se-religius itu kok, cuma denger dari nyokap ajah : p
kudalumping 0 0
kalo soal anak saya bisa paham. tapi kalo cuma alasan ketergantungan ekonomi saya gak paham. ada saja kasus belum punya anak kok takut pisah dengan alasan kenyamanan ekonomis berkurang. aneh. katanya zaman keseteraan.
christin 0 0
kalo uda kekerasan fisik saya ndak mau berpikir dua kali. i'm sorry, goodbye : ))
sofiakartika 0 0
soal hadist: setuju tu sama mbak Chic , la wong suaminya yang salah kok istrinya yang dikaplok?
kucingsapi biasanya hadist tergantung siapa penafsirannya, kalo sudah berperspektif perempuan, hal-hal yang kayak hadist yang begini ini biasanya banyak yang dipotong-terputus untuk melindungi kepentingan pelaku kekerasan : )

hihihi dita-gigi suprie kalau dalam menjalin hubungan kamu tidak perlu perlu melakukan kekerasan, ngapain berpikiran untuk minimal 3 kali mukul istri? , nah itu pernyataan @christin cukup jelas : D

pertanyaan mbak Silly soal kawin cerai, justru saya melihat sebuah kemajuan dalam konteks pilihan perempuan keluar dari lingkar kekerasan, pun kemunduran dalam konteks bagaimana merawat hubungan-terkait relasi yang setara dan tidak ada kekerasan-komunikasi dua arah dan lain sebagainya (yang ini berlaku bagi laki-laki dan perempuan). kayaknya ini jadi postingan selanjutnya mbak : D

Chika , dalam pacaran meski kelihatan 'adem ayem' sebenarnya ada sinyal-sinyal yang harus diperhatikan, bahwa potensi kekerasan itu ada, sayangnya kita suka abai karena sedang dibuai cinta asmarah : D

Juminten, waduh kok malah salut?

venus . ya mbok, pilihan berani daripada babak belur, dia malah kehilangan modal utamanya, kehilangan waktunya untuk hal yang lebih berharga: nyanyi misalnya : D

kudalumping , soal ekonomi biasanya laki-laki suka mendesak istrinya untuk berhenti bekerja, ngurusi anak aja, gak punya 'me time', gak dikasi ruang berekspresi, nah ini yang bikin ketergantungan secara ekonomi. kalo dibalik, katanya zaman kesetaraan, kok suami gak mau berbagi peran merawat anak, sih? : D
sofiakartika 0 0
kucingsapi , duh, salah bikin kalimat. hadist tergantung penafsiran, kalau penafsiranya sudah berperspektif perempuan, biasanya mereka menemukan hal-hal yang sengaja dipotong (oleh penafsir yang berperspektif patriarki) , padahal maksud hadistnya gak begitu , gitu..semoga gak bikin tambah runyem, intinya stop kekerasan : D
biyung nana 0 0
ho ho.. jangankan mukul.. berucap kasar aja bikin saya mundur : )

Silahkan login untuk memberikan pendapat