Cita-cita itu Selalu Berubah 29
Kamis, 9 Jul '09 21:21
Saya termasuk orang yang tidak tahu apa yang saya cita-citakan sejak kecil. Bahkan hingga kuliah pun masih ragu akan pilihan profesi apa yang akan saya pilih.
Sewaktu SD di era beredarnya video sewaan Voltus V, God Sigma, Mazingga Z, dll *kalau nggak tau, coba cari-cari di buku sejarah Indonesia*, selalu ada tokoh pencipta robot yang bergelar Profesor. Saking kagumnya dengan mobil/pesawat yang bergabung menjadi robot besar, saya pun bercita-cita menjadi seorang Profesor. Saya bahkan sempat tanyakan ke Bapak saya, "Pak, kalau mau jadi Profesor, biar bisa bikin robot-robot kayak gitu, nanti itu masuk apa ya?" :))
Saya sendiri sudah doyan menulis dan menggambar sejak kecil. Di buku tulis AA yang entah sudah terbuang di mana, saya sempat menulis kisah fan-fiction saat robot-robot di atas bersatu padu melawan musuh besar. *maklum, imajinasi berlebihan*
Di SD juga suka beredar buku kenangan, dimana setiap teman diminta untuk mengisi nama, alamat, telpon, cita-cita, dan kata kenangan. Huahaha, biar gak malu, saya selalu menulis kolom cita-cita sebagai seorang insinyur *meski nggak ngerti juga insinyur itu apa*.
Bapak saya dulu lulusan Sipil UGM. Ini sedikit menginspirasi saya saat meninggalkan SMA. Setelah lulus SMA saya masih bingung sebetulnya, mau jadi apa saya nanti. Namun, pilihan harus diambil, jadi jurusan Arsitekturlah yang saya ambil. Setidaknya dekat dengan Sipil, dan bisa menyalurkan hobi coret-coret saya.
Saat kuliah, nilai saya biasa-biasa saja. Sambil sesekali berpikir, apa benar saya ingin menjadi seorang arsitek? Karena toh tugas-tugas studio saya nggak bagus-bagus amat. Jawaban pun muncul saat saya Kerja Praktek. Saat latihan magang di salah satu biro konsultan di Bandung, saya langsung tahu. Saya nggak suka pekerjaan seperti ini. Kok nggak fun ya? Mungkin saya yang salah tempat magang, tapi apapun itu, akhirnya membuat saya ragu untuk berprofesi sebagai arsitek.
Ajakan teman-teman sehobi dalam membuat komik menjadi cikal bakal pemilihan profesi. Kami membangun studio kecil dan membuat cukup banyak komik. Bahkan sempat pula berita tentang kami muncul di Kompas halaman tengah besar-besar. Saya berpikir, inilah cita-cita yang saya senangi. Namun ternyata ada hambatan lain. Uang. Di negeri ini, membuat komik tidak bisa membuat seseorang jadi kaya. Serius.
Saat itu pula saya dan teman-teman dalam studio kembali bimbang. Dua orang dari kami pun akhirnya mundur dan kantor kami pun setengah bubar jalan. Ibu saya menyarankan saya untuk mendaftar saat tes Pertamina (kebetulan Ibu saya pensiunan Pertamina). Duh, malas besar. Prinsip saya, saya lebih memilih pekerjaan yang menyenangkan terlebih dahulu, pendapatan menyusul. Prinsip itu memang berbuah kegagalan (dalam hal komik). Namun bukan berarti saya lalu tertarik masuk menjadi seorang pegawai di BUMN yang jelas-jelas akan membuat kehidupan saya lebih terjamin.
Saat ibu saya pensiun, ia diajak bergabung membentuk perusahaan dengan temannya. Si Direktur perusahaan itu sempat mengajak saya untuk bergabung. Ia ingin agar saya terlibat di dalamnya. Sekali lagi, saya menolak. Terus terang, saya nggak suka bidang yang mereka kerjakan, yaitu dunia geologi dan perminyakan. Saya lebih tertarik akan dunia kreatif. *bandel banget ya, dikasih kesempatan ditolak terus*
Saya beserta 2 orang teman yang tersisa mencoba tetap melanjutkan usaha yang kami bentuk. Tanggung, kami sudah 3 tahun hidup kere. Kami memutuskan untuk mencoba satu tahun lagi, Kalau gagal, ya sudah. Namun, kini kami lebih berfokus pada multimedia, dengan sedikit mengesampingkan idealisme. Ternyata arahan ini yang benar.
Kini kami tinggal berdua, karena 1 teman mengundurkan diri karena ingin menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik. Kami berdua yang tersisa memutuskan untuk tetap maju. Saat itu pertumbuhan internet mulai menanjak, blog mulai dikenal. Saat saya memulai blog saya 4 tahun lalu itulah perlahan-lahan saya mulai mendapatkan jalan yang benar. Jalan yang tidak menghalangi prinsip saya dalam bekerja, dengan tetap memberikan penghasilan. Uang? Alhamdulillah, itu tidak (belum) lagi menjadi masalah.
Sekarang saya ingin menemukan cita-cita saya selanjutnya. Saya belum tahu apa. Saya hanya akan mencoba mengikuti arah hidup ini berjalan saja (seperti biasanya).
Kalau kalian, apa cita-cita kalian sejak kecil? Apakah kini cita-cita kalian sudah tersampaikan? Apakah cita-cita kalian juga selalu berubah seperti saya?
Tag: pekerjaan, cita-cita, pengalaman
Terkait:
-
Kejar mimpimu !!!!
Minggu, 4 Jul '10 15:07 -
Takdir
Rabu, 9 Jun '10 11:48 -
Emansipasi (BUKAN) Berarti Persamaan
Minggu, 6 Jun '10 00:42
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
dita-gigi: Megang banget
-
Lele: Menggoda
-
memethmeong: Inspiratif
-
kucingsapi: Megang banget
-
Chic: Nggemesin
-
venus: Inspiratif
-
aubrey.ade: Inspiratif
-
Juminten: Inspiratif
-
Silly: Inspiratif


Komentar:
coba saya itung dari kecil pengen jadi apa aja...
jadi dokter, jadi guru, jadi astronom (bukan astronot) jadi arkeolog, jadi pembalap (tampaknya jiwa suka ngebut saya sudah dimulai bahkan sebelom saya bisa nyetir), fashion designer, lalu terakhir jadi arsitek, sebelom akhirnya berubah jadi dokter gigi dan masuklah saya ke fakultas kedokteran gigi...
semua cita2 saya yang saya sebutkan diatas, dipatahkan orang tua saya dengan kata2:
"di indonesia itu semua ndak menghasilkan uang"
berhubung saya anak satu-satunya, jadi lah saya manut nunut mencari cita-cita yang kelak bisa menghasilkan uang...
sampai sekarang juga masih berubah kok (bertambah kali ya maksudnya)
*guilty pleasure setelah belanja _ _" untung gak perlu keluar duit!
tapi memang nggak jodohnya, terus maunya jadi arsitek tapi malah gak masuk SPMB, ending-endingnya masuk Desain Interior, memper sih, tapi ternyata baru ketauan kalo pesaingnya buaayaaakk ... ah entahlah saya ingin jadi apa, saya cuma mau belajar terus aja deh
mungkin cita-cita saya selanjutnya jadi dosen aja, terus kalau beruntung bikin usaha sendiri, jadi membuka pekerjaan untuk orang lain
Vote PITRA for 2014!
Di Indonesia memang banyak pekerjaan yg susah jadi duit meskipun pekerjaan itu menyenangkan buat kita. Salah satunya yang terjadi utk para teman yang terlibat di bisnis penerbitan dan penulisan buku, termasuk komikus. Namun bukan berarti nggak ada kesempatan. Hihi, tentu saja nasib dan keberuntungan diperlukan pula untuk membantu kesuksesan.
fenty lovegood: ayo buka usaha sendiri. Pasti jauh lebih menyenangkan diri, cuma ya juga lebih jauh menyiksa diri pula
Lele: saya suka pula dunia tulis menulis. Makanya cita2 saya beberapa tahun lalu adalah untuk bisa menulis dan menerbitkan buku. Dan ini sudah terwujud Juni kemarin. Sekarang mikir target lainnya lagi.
christin: saya mau jadi muridnya hehehe.. Ngajar apa chris? Kimia?
cita2 saya dari kecil di direct sama ortu terutama bapak buat jadi dokter. karena katanya dokter itu bla..bla..bla.. (yang baik2 dan positif) gak tahu ajah nih si bapak kalo kemampuan saya buat jadi dokter kurang mumpuni. masuk IPA ajah sampe menggeh-menggeh...
tapi sedari kecil saya suka gambar, persis kayak kamu pit, gambar2 di buku tulis AA, bikin komik ala saya dan di baca teman2 sekelas (dulu saya punya penggemar loh). dan komik2 itu masih tersimpan rapi.
smp saya kesampaian bikin studio komik juga
spmb saya coba2 ikut masih dengan paksaan pilihan ortu saya, sudah dapat diduga saya gak lolos
tapi saya berhasil masuk institut negeri di surabaya dan itu di kelas DKV (seangkatan sama fenty) haha saya menemukan jalan saya, sampe akhirnya saya bekerja di tempat yg saya idamkan dari dulu, penerbitan
tinggal menunggu kapan saya akan buka katering/bakery shop, serius ini cita2 saya ke dua
apa terlalu banyak atau sedikit,yang pasti banyak yang saya mau
dan alhamdulillahnya saya punya kekuasaan penuh akan hidup saya sendiri, dimulai dari apa yang saya suka atau tidak, memilih jurusan kulian, memilih pasangan hidup, bekerja
kalau masih bisa dibilang cita-cita sih saya ingin ketika 40 sudah mempunyai perusahaan sendiri
bukannya sekarang kamu jadi planet?
menggantung...
mengambang...
(halah)
mengambang 5 cm yah giant...
eh arinda apa kabar ? salam yah
*mulai berpikir untuk malakin donny dhirgantoro karena sudah mempromosikan bukunya sedemikian rupa sehingga*
huh kamu yang inget yang seksi seksi doang...
ROFL
saya kenal dia.. (CMIIW) ...kita minta traktir bareng yuks
siapa yang gak inget sama andrea corrs versi indonesia...
eh jayen seneng sama 5cm juga toh
Tapi berhubung itu cita2 aneh banget ya udah jelas ndak mungkin laaah...
Tapi lucu kalo diinget2... Gara2 pengen jadi ninja... Saya pernah lari2 di atap pake sarung (yg dijadiin kostum ninja) termasuk atap tetangga...
Untung gag ketauan nyokap... Dan untung gag jatuh...
donyariya: bersyurlah kalau begitu..
Chic: mau jadi bintang legally black ya?
kucingsapi: wah sempat bikin studio komik juga? Ada scan-annya gak? Saya dulu pakai nama Studio Bajing Loncat (Studio Balon) dan thn 1999-2001 masih getol ikutan pameran komik di mana-mana..
err dimana yanh komiknya? sek mungkin ada di rumah, musti nyari dulu hihih
dulunya selalu nulis "insinyur" di kolom cita-cita. tapi karena i'm bad with numbers, jadilah sekarang diriku seorang SH di antara para insinyur yang melakukan pekerjaan jurnalistik. agak absurd memang.. but i enjoy it anyway...
kucingsapi: hihi, mungkin kali ya..
choro: kenapa harus jadi istri milinuer? kenapa tidak jadi istri biliuner? kan lebih banyak duitnya.
@oelpha: membayangkan dirimu ngomong gaya itali pake logat jawa
...heeemmmm........
mal u menyebutnya.........
POLWAN!
iya, iya, tauuuu..... kamu pasti sedang mempersiapkan bahan ledekan baru buatku kan, mas??? *ngambek*
*memberikan kesempatan kepada orang lain saja, hitung2 bagi rejeki*
ehhh, itu tadi lagi nyeritain tentang nenek moyang gue deng... gue mah, cita2nya alhamdulilah masih pengen hidup
*kabur sebelum dipentung*
Silahkan login untuk memberikan pendapat