Anak dan Kecerdasan 23

Rabu, 8 Jul '09 22:21

(Tulisan yang sama saya posting di blog saya)

Dalam berbagai kesempatan, saya sering menyampaikan pendapat saya bahwa saya tidak setuju dengan sistem ranking di kelas untuk SD sampai SMU. Makanya anak saya sekolah sekarang di SD yang tidak mengenal sistem ranking. Banyak yang bertanya-tanya dengan sikap atau pandangan saya ini. Entahlah, apakah saya bertentangan dengan mainstream pemikiran yang ada, atau bagaimana, tetapi tentunya saya bersikap demikian bukan tanpa argumen.

Argumennya begini, jika di dalam kelas tersebut ada 4 orang anak, yang satu jago matematika dan fisika sehingga mewakili sekolahnya untuk lomba matematika dan fisika, yang satu jago bikin puisi atau prosa sehingga karyanya banyak dimuat di majalah atau media lainnya, sementara yang satu lagi jago main musik sehingga sudah manggung berkali-kali dalam festival band antar sekolah dan bahkan sudah rekaman walaupun underground, dan yang terakhir jago olah raga, katakanlah bulutangkis, sehingga sudah mewakili sekolah dalam berbagai turnamen dan masuk seleksi atlet berbakat.

Nah, siapakah yang pantas jadi juara kelas dari ke-4 anak di atas ? Bingung kan ?

Keempat anak di atas pantas jadi juara, di bidang masing-masing. Kita tidak bisa membandingkan mana yang lebih hebat diantara mereka. Mereka tidak bisa dibandingkan, karena bukan apple to apple. Masing-masing mereka memiliki keunggulan kecerdasan.

Jika kita mendalami teori multiple intelligence yang diungkapkan oleh Howard Gardner, maka kita akan memahami bahwa ada beberapa potensi kecerdasan yang terdapat di dalam diri seseorang. yaitu : Bodily-Kinesthetic, Interpersonal, Verbal-Linguistic, Logical-Mathematical, Naturalistic, Intrapersonal, Visual-Spatial, serta Musical. Perkembangan terakhir dari riset Howard Gardner menunjukkan ada kecerdasan lainnya, yaitu : existential, serta moral intelligence.

Pada prinsipnya setiap manusia memiliki kecerdasan yang berkembang, yang pasti tidak sama kadarnya. Bisa jadi ada satu yang sangat dominan, bisa jadi ada beberapa yang dominan, tetapi dalam kadar yang lebih rendah. Jika ternyata kecerdasan yang berkembang dominan pada si anak adalah kecerdasan verbal, dan dia agak kurang di logika-matematika, lalu anda paksakan dia belajar IPA supaya masuk fakultas teknik, padahal si anak ingin masuk fakultas sastra atau ilmu budaya, maka tentu akan terjadi "tabrakan kepentingan" di sini. Anda bisa sewot sama si anak, dan si anak bisa stress. Artinya, pendidikan yang ideal sifatnya harus personal, mengeksploitasi kecerdasan si anak dengan sebaik-baiknya, memfasilitasinya dengan terarah, mengarahkannya, dan tentu saja memberikan dia skill untuk kehidupan.

Jika memang dia lemah dalam belajar matematika, maka bimbinglah dengan perlahan-lahan, jangan sekali-kali membandingkan dia dengan temannya, karena bisa jadi, dia sebenarnya kuat dalam kecerdasan visual, bukan matematika. Bukan berarti kalau dia kuat di kecerdasan visual lalu tidak perlu belajar matematika, bukan begitu. Tetapi kita harus lebih sabar dan telaten dalam membimbingnya dalam matematika, tetapi bisa jadi dia hanya butuh bimbingan yang minimal untuk kecerdasan visual, seperti seni rupa, melukis, atau bahkan desain.

Juga bukan berarti anak yang kuat kecerdasan logika-matematika tidak perlu belajar bahasa. Tetap perlu, tetapi sekali lagi, tentu kita membimbingnya lebih telaten dan sabar dibanding anak yang memang lebih cerdas verbal. Sistem pendidikan yang berlaku saat ini secara umum (tidak berarti semua lho), menempatkan kecerdasan logika-matematika sebagai acuan utama untuk menilai "seseorang itu cerdas".

Dengan demikian, sahabat saya, seorang sutradara film terkenal dan salah satu film-nya mendapatkan pujian luar biasa, tidak termasuk ke dalam kategori "cerdas" di SMA dulu. Sistem yang ada membuat dia tidak termasuk ke dalam kategori "cerdas". Dia memang tidak jago matematika, tetapi dia memiliki kecerdasan tersendiri, yang tidak diakomodasi sebagai suatu kecerdasan oleh sistem yang berlaku saat itu.

Saya yakin, banyak anak-anak yang sebenarnya cerdas (di bidangnya tentunya) tetapi tidak muncul atau tidak terfasilitasi dengan baik, karena sistem yang ada tidak membuat dia masuk kategori cerdas. Bukankah Tuhan itu menciptakan semua manusia itu cerdas ? (kecuali yang memiliki kelainan sejak lahir). Menurut saya, yang paling gawat adalah, karena kita tidak memahami makna kecerdasan ini, maka akhirnya kita tidak mamfasilitasi suatu potensi kecerdasan seorang anak, dan akibatnya hanya tetap tersimpan sebagai potensi, tidak terasah.

Jika kondisi ini terjadi, maka alangkah "berdosanya" kita sebagai guru atau orang tua, karena justru "mematikan" suatu potensi kecerdasan yang dahsyat .... Buat saya, karena anak itu memiliki kecerdasan tersebdiri, maka tugas kita sebagai orang tua adalah mengarahkan dan memfasilitasi semampunya, dan jangan sekali-kali memaksakan sesuatu.

Kita harus memahami kelebihan dan kekurangannya, dan menyesuaikan strategi kita dalam membimbingnya ... itulah tugas kita sebagai orang tua .... mulai dari memahami si anak itu sendiri ... :) ... well, sekali lagi, this is my humble opinion lho ...

NB : Ini ringkasan multiple intelligence yang saya cuplik dari sini . Sekedar panduan untuk mengenai anak berkaitan dengan multiple intelligence, bisa dilihat di sini.

 


Tag: pendidikan, anak, kecerdasan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

venus 0 0
wew...artikel serius dan berat, huehehehe...

tapi iya, tiap anak beda2. gak bisa kita bilang si A yang jago di matematika lebih pinter atau lebih cerdas daripada si B yang lebih kuat di bahasa, misalnya. sistem pendidikan kita masih kyk gitu sih, mas. susah juga...
ririsatria 0 0
wadoh ... serius dan berat ... sorry bo ... hehehe ... ntar aku posting yg lebih santai deh ... hehehe ... anyway, saya bakal banyak sharing tentang pendidikan dan perkembangan anak sebenarnya ... tq lho ...
Pitra 0 0
pertanyaannya, kondisi SD yg ada (terutama negeri) masih seperti itu. Lalu, akan ke mana nanti anak kita disekolahkan, sementara dana kita pun terbatas? Home schooling?
venus 0 0
lhoh, gpp. masuk kategory family/parenting/pendidikan anak, kan? bagus kok : D
ririsatria 0 0
megan palsu, .. hehehe ... saya juga gak setuju dengan home schooling, karena akan memberi keterbatasan buat si anak untuk perkembangan kemampuan interaksi sosialnya ... jadi proses bersekolah bersama-sama itu tetap penting, karena ada proses pembelajaran interaksi sosial di sana ...

kalo memang sekolah yang dimasuki sekarang kurang memperhatikan aspek tsb, maka tugas kita lah sebagai orang tua untuk memberikan "pembelajaran tambahan" di rumah seperlunya untuk mengimbangi hal itu ... tetapi memang menuntut ketersediaan waktu or-tu ... trade off memang sih : (
dita-gigi 0 0
Pitra: iya pit home schooling... inget gag percakapan itu harii....

ririsatria: bagi saya pribadi sudah prihatin sejak sekarang, masalahnya anak kecil itu harus nya dipacu, ditambah sama dikap orang tua yang justru semakin memojokkan anak, seperti "kamu harus dapet ranking yaah..."

sedang anak kan terlahir dengan bakat dan kemampuan yang berbeda-beda, dengan adanya pemukul-rataan seperti sistem sekolah dulu-sekarang-dan masih akan kedepannya sepertinya, yang ada, kalo anak gag dapet ranking dimarahi, lalu dia belajar mati2an (padahal anak kecil itu masih butuh waktu bermain yang seimbang dengan belajar) atau malah sebaliknya, dia akan jadi enggan belajar.
dita-gigi 0 0
kalau di home schooling apa lagi yang kurikulumnya bagus, anak akan dibimbing sesuai dengan bakat dan kemampuannya masing2 (tapi bukan berarti boleh meninggalkan pelajaran yang lain) jadi bakatnya di tonjolkan gitu... anak kecil kan seneng dipuji...

dan satu lagi, sistem sekolah yang DIAJARI, membuat guru tampak berkuasa dan segala-galanya sedang anak hanya nerima jadi disuapi dan dia tidak punya kemampuan untuk belajar sendiri dan ada beberapa sekolah, yang kalau si anak kebanyakan nanya sama gurunya, malah dimarahi dan dibilang cerewet.
dita-gigi 0 0
ririsatria: maaf, kalau saya termasuk yang SETUJU sama home schooling, tapi bukan home schooling yang gurunya datang kerumah lalu si anak diam saja duduk dan belajar dirumah... kalau itu bisa2 si anak nanti menjadi anti sosial.

home schooling yang saya maksud disini, adalah sekolah yang menyatu dengan alam... (ada beberapa home schooling yang saya tau, metoda pembelajarannya seperti ini, saat belajar agama, ya belajarnya di mesjid / gereja / rumah ibadah lainnya (disesuaikan dengan agama masing) dan muridnya bukan hanya 1orang melainkan 5-15 orangan..

jadi mereka tidak dikurung dikelas, dengan guru mengajar didepan, dan murid mendengrakan, disana si anak diajar untuk kreatif dan berinteraksi secara aktif dengan pengajarnya... dan karena anak tidak merasa terkungkung dalam kelas, maka dia akan menjadi lebih rileks dan gampang menerima pelajaran...

eh, maap ya kalo komen saya panjang bangeeett,,, : D
venus 0 0
eh jadi inget. pas ngambil rapor anak saya yang masih SD kemaren, ibu gurunya bilang, "bu, rafi rankingnya turun taun ini. biasanya ranking 1, sekarang ranking 4. mulai bandel, di kelas gak bisa diem, becanda mulu sama temen2nya, lari2an blablabla..."

saya jawab sambil senyum2, " bagus dong bu. saya justru kuatir kalo anak saya terlalu pendiem dan terlalu tertib. dan kebetulan saya gak pernah ngepush dia untuk jadi ranking2an di kelas. biarin aja, anak segitu memang harusnya lagi seneng2nya main" : ))
Lele 0 0
Kayaknya saya perlu ngasih ini ke papa saya supaya saya dikasih restu masuk fakultas bahasa.... : D

Makasih mas sharingnya... : ) ini berharga sekali buat saya yang diuber-uber harus belajar bisnis... : )

*padahal sebelnya setengah mati sama yang namanya ekonomi... : ))*
ririsatria 0 0
hohoho ... kalau itu definisi home schooling-nya, saya tentu setuju dengan Mbak Dita dengan beberapa kondisi tentunya ... intinya adalah, kita tidak mengisolasi anak dari perkembangan sosialnya ... terima kasih atas komentarnya Mbak Dita .. nice to discuss with you ..
ririsatria 0 0
venus : itu berarti, menurut teori Howard Gardner, sang anak memiliki kecerdasan interpersonal skill yang lebih ... makanya dia senang bersosialisasi, tetapi wujudnya memang dalam bentuk itu di masa kanak-kanak ... hehehehe
dita-gigi 0 0
ririsatria: sama-sama... : D
ririsatria 0 0
lele : wadoh, hareee gene ... masih ada pemaksaan kuliah ke mana ... hehehehe ... saran saya, pilihlah sekolah yang sesuai dengan keinginan dan kemampuan kita, bukan tuntutan orang tua ...

saya sendiri, walaupun sekolah sampai S3, kerja sebagai dosen, dan juga punya bisnis, gak bakal memaksa anak-anak saya masuk ke sekolah tertentu ... bahkan, kalo ada anak saya yang mau sekolah musik, ya silakan saja ... tapi yang saya tekankan, try to be the best di bidang yg kamu pilih!!
dita-gigi 0 0
betooolll... itulah yang selalu ditekankan mama saya...

"Kamu boleh jadi apa aja nak, asal jadilah yang terbaik..."

: )
suprie 0 0
untung nya nyokap membebaskan saya jadi apa saja yang saya mau.

Dan setuju klo anak harus di biarkan berkembang menurut bidang yang di gemari nya, jangan dipaksakan
suprie 0 0
jadi inget sama Einstein, Einstein waktu SD pernah di anggap bodoh kan, tapi sekarang siapa yang gak tau einstein
Silly 0 0
Saya termasuk yang suka banget sama program multiple inteligent ini, karena menurut saya semua anak terlahir cerdas ~ sama seperti semua perempuan pada dasarnya cantik : D ~ dan tugas kitalah org tua untuk mengembangkan potensi dan kecerdasan yang dia miliki

Saya heran anak sekarang dicekoki dengan pengetahuan yang agak penting banget, misalnya masih TK udah diajarin bujur timur, bujur barat... saya umur segitu cuma tahu bujurnya ayam... soalnya tetangga saya yg betawi kalo latar suka bilang, "bujurrrr" : D

But again, kalau kita menyadari core competence yang dimiliki si anak, lalu kita kembangin semaksimal mungkin, maka saya yakin anak akan jadi orang yang sukses dikemudian hari, sesuai dengan basic skillnya.

Jadi gak harus buang2 waktu belajar hal yang dia gak minati. Ada anak yang cerdas dalam bidang linguistik, kalau ada nilai 10+ mungkin dia akan dapat angka segitu, tapi karena dia gak minat matematik, nilainya selalu merah, dan akhirnya tinggal kelas.

Kasihan sekali anak itu, padahal kemampuan bahasanya luar biasa. : (

Kendalanya memang krn sistem pendidikan kita di Indonesia belum banyak yang mengadaptasi sistem ini sih. Too bad : (
ririsatria 0 0
suprie : yup, begitulah ... Einstein n Niels Bohr adalah 2 contoh pemenang hadiah nobel fisika yang dianggap bloon oleh gurunya sewaktu sekolah ... bahkan Bohr dianggap gak berprestasi oleh dosennya sewaktu kuliah ... so, setiap manusia itu cerdas ...

silly : yup, saya juga setuju ... tetapi ya itu, kondisi di negara kita belum sepenuhnya memungkinkan, dan yang lebih parah, belum semua guru atau pendidik kita memahami konsep multiple intelligence ini, apalagi mengaplikasikannya ke dalam proses belajar-mengajar ... tetapi dengan gerakan masif dari berbagai pihak, termasuk orang tua, kita secara perlahan bisa memperbaiki keadaan ini kok ... semoga ..
Nemo 0 0
memang sebagian besar sekolah konvensional masih terjebak sistem lama..dan beberapa sekolah plus sudah mulai melihat dan hanya konsentrasi pada minat dan keunggulan anak..
ririsatria 0 0
Mas Nemo, bener, saya setuju ... dan itulah salah satu pe-er besar kalangan pendidikan di Indonesia saat ini .. (eh Boz, sampeyan yg ketua pesta blogger tahun ini bukan ya?)
Geminians 0 0
pemikiran ttg ranking inilah yang menjebak ortu gue sehingga melakukan pemerkosaan atas hobi anaknya...alias gue sendiri...

hehhehe...gpp...yang jelas kedepannya gue gak akan membiarkan anak gue terjebak dalam budaya serupa yang telah menghantarkan mamanya menuju gerbang stress...

yaa...gue jujurnya jg gak nyalahin ortu gue...tp kalo gue boleh milih gue pengen balik ke masa lalu dan nyodorin mereka artikel ini.....yaa...pastinya itu akan berpengaruh sama hidup yang terjadi pada diri gue skrg...

hmm..tp yang real-nya aja..bwt saat ini, gue akan memfokuskan keinginan dan minat anak gue, dengan gak maksain keinginan gue pribadi..(amien)......

ijin co-pas yaa....tnx
dita-gigi 0 0
aku juga izin kopas yaaa....

Silahkan login untuk memberikan pendapat