Single mum or married unhappy? 36
Rabu, 1 Jul '09 19:25
kring... kringg... bunyi HP di dalam tas. Dede mengangkatnya, disebrangnya terdengar suara yang sangat dikenalnya, ini suara Rike.
Rike: De, lo ada waktu ntar? ada yg mau gw omongin. Ntar kita bisa ketemu?
Suara sahabatnya tersebut terdengar agak gemetar dan kalut. Dede melihat jam tangannya.
Dede: Bisa rik, tapi ntar sore aja yah, soalnya gw siang ini ada meeting.
Rike: Ok. di tempat biasa ya.
Dede: Sipp..
Jam demi jam berlalu, dan sampailah Dede di 'tempat biasa' mereka. Dan terpanalah ia melihat seorang wanita yang sangat ia kenal duduk dengan perut sedikit membuncit. Dia berusaha positif thinking aja.
HAMIL! Ah gak mungkin, paling rike gemukan.
Tapi kalo gemukan, kok pipinya tirus begitu.
Ah, mungkin dia sembelit kali. ah udah De, jangan nebak2.
"Rik." sambil menepuk lembut bahu sahabatnya itu.
"De." Rike tersenyum.
"Kamu kemana ajaaa... lama gak kelihatan?" tanyaku setengah penasaran.
Dilihat dari dekat kok ya, emang kayak orang hamil.
"Adalah, membereskan beberapa urusan ini itu." "kamu sehat De? gimana si kecil?"
"Makin pinter dia." "Sering nanyain kamu tuh, kok tante Rike jarang dateng lagi?"
Senyum Rike makin lebar "Iya, gw juga kangen sama dia. ntar deh kalo sempet gw main ke rumah lo."
"Rik, lo ada masalah? lo tau gw khan, lo bisa cerita kapan aja, kalo gag bisa ketemu langsung kan bisa lewat telepon"
"gw tau De, cuman belom nemu waktu yg tepat aja buat cerita, kemaren-maren banyak gw sibuk banget ngurus ini itu..." Lalu sambil mengelus lembut perutnya, Rike berkata "bisa lo lihat sendiri khan gimana gw."
Yakin sudahlah Dede kalo Rike emang HAMIL.
"Kok lo merit gag undang-undang gw sih... Sekarang gitu nih, gag temenan lagi..."
"Siapa bilang gw merit De." Ujar Rike sambil tersenyum sinis.
Dede terkejut mendengar ucapan sahabatnya. "Lho tapi...?"
"Emang kalo hamil harus kawin yah?" tanya Rike menantang.
Setelah itu kedua sahabat itu larut dalam acara kangen-kangenan, sekaligus membahas apa yang terjadi sama Rike dan mengapa ia sampai memutuskan untuk tidak menikah.
Rike dan lelaki itu, hanya bertemu beberapa kali, dan mereka terlibat hubungan yang lebih intim. Sang wanita tidak menyesali itu, termasuk dengan Hamilnya dirinya. Tapi ketika ditanya mengapa dia tidak mau menikah, hanya dijawab,
"Siapa sih yang gak kepingin nikah?"
"Tapi aku gag cinta dia, begitu juga sebaliknya"
"Nikah itu perlu cinta De, bukan karena gw hamil, maka gw harus nikah sama bapaknya nih anak."
Dede terconclang mendengar jawaban sohibnya tersebut. Bagi Dede yang dibesarkan dilingkungan keluarga yang agamis, memiliki suami yag sayang padanya dan seorang anak yg manis, tentu saja tidak mengerti jalan pikiran sahabatnya.
"Tapi Rik, anak lo kan juga butuh bapak.." ujar Dede perlahan.
"Siapa bilang?"
"Anak gw butuh orang tua yang bisa memberikan dia kasih sayang. dan gw rasa gw bisa memberikan semua itu buat dia."
"Buat apa dia punya orang tua 2, tapi orang tuanya gag saling cinta!"
"Lalu gimana pendapat orang tua lo?"
"Ya gw disuruh kawin lah pasti."
"Trus lo bilang apa?"
"Kurang lebih sama lah ama yg gw bilang sama lo" jawab Rike tenang.
"Dan orang tua lo biarin aja gituh"
"Ya gak! tapi pendirian gw udah kuat, gw bisa menafkahi diri gw sendiri"
"Screw Them!!"
"Gw gag butuh, suami, gw gag butuh diceramahin mereka, dan kalo lo juga emang mau nyeramahin gw, gw juga gag perlu nerima itu, lebih baik gw pergi."
"Gak Rik, lo tau gw khan. Gw selalu bisa ngertiin lo." Jawab Dede sambil menahan bahu temannya yang udah beranjak berdiri.
Setelah itu Rike melanjutkan curahan hatinya, Jadi ternyata, ketika dia mengetahui dirinya hamil, dia sudah berfikir masak-masak, apakah dia akan meminta pertanggung jawaban dari sang lelaki, atau tidak. Setelah itupun dia telah menghubungi si Lelaki untuk ngasih tau kalo dia hamil. dan dia tidak meminta pertanggung jawaban, hanya mengabari saja, karena bagaimanapun si Lelaki punya hak atas anak itu. Seperti juga perkiraannya, si Lelaki tidak punya itikad baik untuk mengawini sang wanita (kecuali mungkin kalau dipaksa).
Dede tidak sabar dan memotong pembicaraan temannya, "Tapi lo tau kan resikonya Rik, kalo lo bisa hamil?
"Ya iyalah De, emangnya gw anak TK apa? Gw sadar banget kok"
"Gw berhubungan dengan bertanggung jawab, buktinya adalah gw gag minta di kawinin dan gw gag menggugurkan anak ini"
"I know, It just for fun, what do you expect? a gentleman? nope... I had fun, he had fun, ya udah, selesai"
"mungkin menurut lo itu gag bertanggung jawab, tapi bagi gw itu bertanggung jawab. Kalau gw gugurin itu gag bertanggung jawab, NAMBAH2in Dosa yang udah gw buat. Kalo gw paksa dia kawinin gw, gw juga nambah dosa, sebab gw yakin 100% kalo gw dan dia gag bakalan langgeng, dari pada ntar juga harus cerai, ngabisin biaya, buat kawinnya, buat cerainya, mending gw tabung buat ni anak kelak"
"Kawin itu buat apa sih? demi gengsi? dosa yg udah gw buat juga gag ilang kan, kalo gw kawin sama bapaknya nih anak? jadi nikah bukan jawaban khan?"
"Eh gw gag bermaksud yaaah... Gw juga pengen suatu saat menemukan pria yang bener2 cinta ke gw seperti suami mu itu Tapiii... itu nanti-nanti lah... sekarang nikmati aja dulu..."
"Apalah artinya hidup kita kalo hanya mendengarkan kata orang tapi kita gag bahagia..."
Akhirnya hari sudah semakin malam, dan mereka beranjak dari obrolan soal nikah-nikah itu... kembali membahas hal-hal ringan dan lain-lain. ketika akhirnya tak terasa restorannya sudah mau tutup, Dede mengajak Rike nginep di rumah nya, sekalian temu kangen sama sang buah hati, yang kerap bertanya kemana tante Rike nya...
Pertanyaannya, Kalau anda...
Mending jadi Single Mum sambil mencari cinta yang lain. Tanpa memperdulikan perkataan orang sekitar anda?
Atau,
Menikah dengan sang lelaki walaupun anda tidak cinta dia (atau sebaliknya) dan Menikah Terpaksa hanya karena anda Hamil, tanpa jaminan kebahagiaan maupun kelanggengan dimasa depan?
Tag: MBA, merrid unhappy, Single mum
Terkait:
-
Tolong ya,,,sayah bukan JUBIR nya...!!! :D
Selasa, 24 Nov '09 15:45
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
venus: Megang banget
-
Silly: Megang banget
-
takodok: Megang banget
-
kakilangit: Megang banget
-
Giant: Megang banget
-
clementine1110: Megang banget
-
The Niningss of The Sutrisnaningsih: Megang banget
-
ntieholic: Megang banget
-
Chic: Nggemesin
-
choro: Megang banget
-
kepikcantik: Megang banget
-
suprie: Megang banget
-
perempuan api: Megang banget
-
fleur: Inspiratif
-
gigides: Megang banget
-
Juminten: Megang banget
-
arcenciel: Megang banget


Komentar:
kalo dita gmn?
Masalahnya, yg meributkan status kita pasti keluarga kita. sebel sih, tapi gak nemu juga solusinya
mungkin gini kali ya... zaman kan udah gag terlalu kolot kayak dulu. toh selama tau sama tau, tuh anak, anaknya siapa, masalah yg laki mau jadi bapak resmi (ngawinin ibu nya) ato cuman sekedar tau doank, "Oh, ini anak gw yah..." ya cuman masalahnya kalo gag kawin, ndak bisa diiket (dimintai uang secara berkala, di tulis di akte kelahiran, dll) kalo mau yg jelas, ya mungkin kawin kontrak aja kali yaaahhh...
*macem artis-artis jaman sekarang* hihihi
*sebenernya ini adalah salah satu perdebatan saya sama mama selama ini* pengen tau aja kalo pendapat orang banyak gimana...
*nyungsep*
yg terpenting adalah apa yg diri kita rasakan, mau diomongin orang dibelakang, gag ngaruh.. emang kalo kita terus2an ngikutin omongan orang, hidup kita bisa bahagia?? orang tua kita aja BELOM TENTU TAHU apa yang terbaik buat anaknya... lha pilihan sendiri aja bisa salah... apa lagi ngikut kata orang... (okok)
so... lakukan segala sesuatu dengan bertanggung jawab dan sadari segala akibat dibelakangnya.
eitss... tapi saya single n available loh... dan tentu saja tanpa anaaakk...
kita mungkin tidak terlalu agamis, sok sucinya juga tidak kebangetan, tapi kita masih masyarakat komunal di mana infotainment tumbuh subur dan gosip adalah budaya, kita mungkin saja kuat dengan konsekuensi atas pilihan yang diambil, tapi orangtua kita? teman-teman kita? anak kita?
it's still though choice here
*golongan labil*
persoalan akta lahir sekarang sepertinya lebih friendly untuk single parent.terus kawin kontrak? hem, kalo dengan perjanjian pra-nikah hanya untuk menyelamatkan 'muka keluarga besar' bisa jd alternatif, tapi kl kawin kontrak yang kecenderungannya malah men-subordinasi si perempuan, single mum itu pilihan terbaik
just having fun !
saat lagi butuh tinggal bilang: hey man, just fuck me !
ga bisa milih....
golput juga bareng ma ina
dulu jawaban ku "setelah menikah".. kalau sekarang.. ya.. "after married or maybe when im ready"... karena to give my virginity itu berarti aku harus siap untuk bertanggung jawab pada konsekwensi nya... dan sekarang saya belum siap...
artikel bagus mbak.. saya sealiran sama si Rike itu....
omongan orang ?? kapan seeeh orang disekitar kita gag ikut campur , peduli setan selama kita juga gag ngganggu kehidupan mereka..
menikah dengan saling cinta aja gag jaminan RT langgeng kok...
yang perlu dipertimbangkan juga bahwa jadi seorang single mom ituh gag gampang. gag cuman butuh materi.
ok laah kita merasa bisa, tapi kita pasti tetep dukungan moral dari kelurga ...
gampangnya, anak butuh tumbuh berkembang dilingkungan yang bisa nerima keberadaannya..
*nice posting*
Tapi susah juga sih, karena seperti mendapat kucing dalam karung, belum tentu sekarang cinta besok udah ngga, dan juga sebaliknya...
soalnya, aku bukan orang yang senang have fun dengan orang yang ga aku suka
The Niningss of The Sutrisnaningsih: setuju sama nining...
ntieholic: suprie: Chic: di negara kita sekarang kaloa mengambil pilihan seperti rike, tampaknya bakal sulit hidup. tapi ya hidup itu sendiri pilihan
kalo belom siap ya mending menodong sang lelaki buat minta dikawinin tho... soal ntar udah gag cinta lagi, atau bla bla bla, ya liat nanti lagi...
choro: ya bagus kalo begitu...
Jadi diri sendiri itu lebih baik.
menjadi single parent bukan berhenti pada kesiapan menerima segala cercaan dan opini masyarakat, tetapi juga harus memikirkan biaya hidup dan kebutuhan psikologis si anak. mungkin jika masih bayi, hal itu tidak terlalu terasa, tetapi menginjak usia sekolah, beban biaya semakin tinggi dan daya pikir anakpun semakin kritis. selama si ibu sudah mempersiapkan semuanya, maka itu bukan sebuah masalah.
tapi jika tidak, apa sebaiknya menikah saja?
lagi - lagi harus dipikirkan, apakah bisa membesarkan anak dalam keluarga yang tidak ada cinta? keputusan untuk menikah harus disadari pada keikhlasan menerima pernikahan dan pasangan bukan sebagai paksaan, melainkan sebuah konsekuensi dan tanggung jawab.
kita tak bisa mengambil dua sisi mata uang. karena segala pilihan sepaket dengan konsekuensi.
Mungkin gampang keliatannya , tapi realitasnya lebih susah
Manta: ya saya tahu ini terlihat lebih mudah karena masih teori, tapi bisa saya mengalami hal yg sama tentu saja saya memilih single but hepi, mungkin dari dulu saya sudah terlihat sedikit rebel dalam hal2 seperti ini (menyebabkan banyaknya babak yg dilalui dengan berdebat dengan ortu saya)
kalau soal biaya, apakah ditanggung 2 orang akan lebih meringankan? mungkin saja, tapi bagi saya pribadi bila disuruh menikah tanpa cinta dan hanya karena keterpaksaan dan tanpa jaminan akan bahagia, saya ogah. biar aja apa kata orang, selama saya merasa senang, maka saya bahagia.
mungkin terdengar sangat egois, tapi apa semua org yg berbicara macam2 itu bisa mengerti kita? ndak juga khan, kalo takut dengan sindiran dan cibiran, bisa juga dengan pergi "melarikan diri" ke luar kota atau bahkan keluar negri sampai si anak cukup besar buat dibawa pulang.
teman saya ada, yg punya suami, punya anak, dan sekarang anaknya sudah masuk TK, semua teman saya yg ongkosin, si suami bahlan gag mau tau (dalam urusan bayar2 segala macam) nah kalo contohnya yg kayak begini, lalu apa gunanya punya suami???
cuman biar terlihat baik dimata orang?? makasih banyak... hehehe
tapi kalau belom sanggup hidup dalam cacian tetangga dan terpaan gosip, ya pilih aman aja... jangan bermain api kalau gag mau terbakar...
Dan sebaiknya memang mencari lelaki yang kita cintai dan bisa beri rasa nyaman.
Tp kalo cowo nya mau tanggung jawab mah biarin aja.
Nambah2 biaya utk anaknya jg barang kali...
Tp ga harus dgn cara menikahi seh menurutku.
Kalo dia ga sayang jg ngapain?
Udah rugi dibikin hamil, malah rugi jg dinikahin tanpa cinta.
dan setahu saya, hingga detik ini, mereka happy-happy saja ...
Silahkan login untuk memberikan pendapat